Menikmati kesendirian, diantara barisan luka yang menyumpahi tawa kebahagiyaan. Sedang kebahagiyaan sendiri menjadi begitu pelit membagi miliknya denganku. Sehingga menyisakan kesendirian nan akut pada diriku.
Apalagi yang
tersisa ketika putus asa telah merenggut semua yang bernyawa dalam diri, yang
ada hanya mati, bahkan lebih buruk lagi semua seakan ada dalam ketiadaan yang
semu. Ada namun tak benar-benar berarti, berada dalam batas. Bias-bias yang
semu tak nyata.
Aku teringat
jika aku adalah pemuja kebahagiyaan sintetis, yaitu kebahagiyaan yang tak
pernah kutunggu kedatangannya namun kebahagiyaan yang kucipta sendiri. Namun
kini kenapa semua itu tak lagi kujumpai, aku sudah bukan lagi sang pemilik
semangat untuk mencipta kebahagiyaan. Tidak ada daya lagi!
Dalam keredupan
pandanganku yang semakin sayu, tak lagi berpercik api ceria ataupun semangat
seperti yang sering dikatakan oleh teman-temanku. “Kamu itu hidup kaya gak ada
bebannya ya” suatu ketika setalah rapat, temanku mengatakan itu padaku. Hanya
kubalas dengan senyum, senyum getir sesungguhnya. Jauh di dalam aku begitu
banyak masalah, banyak beban bahkan mungkin aku adalah beban itu sendiri. Namun
prinsipku tetap sama tidak akan membagi duka dengan teman, cukup suka saja.
Kembali pedih
mengingat segala penolakan atas penolakan dalam kisah yang kemarin berlalu.
Sungguh menyisakan pilu berkepanjangan. Ingin aku selesaikan tandas dalam
sekali hitungan, tapi ternyata ingin hanya menyentuh udara kosong yang bernama
angan. Hanya angan-angan yang entah kapan akan mewujud.
Aku sesapi
seluruh sepi sendiri, dalam sudut yang meringkuk membentuk kekosongan.
Kusenyumi, senyum pahit. Mungkin senyum yang tergulai dengan tumbukan serpih
empedu. Bahkan aku sendiri tak mampu melukiskan empedu itu seperti apa. Inilah
senyum dengan bibir bergincu palsu dariku.
Kisah tak pernah
berakhir, tak berujung, hanya semakin mengambil daya kekuatan pada aku.
Semuanya berjalan kaku, namun tak kokoh, aku tak lagi seberani dulu bahkan
mungkin aku tak pernah seberani itu. Aku sadar hidup cuma sekali, namun kenapa harus seperti ini?
Kuamati lagi
bayangku dalam kesendirian, sungguh selama ini aku memang hidup dalam
kepura-puraan. Kebahagiyaan yang kucipta sendiri, kebahagiyaan sintetisku kapan
bisa kugapai lagi. Tetap kutunggu dan mungkin diantara barisan keputus-asaan
ini ada secuil harap akan bahagiya, akan senyum ceria yang tulus. Entah!
No comments:
Post a Comment