Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, April 2, 2014

Racauan Part 4


Menikmati kesendirian, diantara barisan luka yang menyumpahi tawa kebahagiyaan. Sedang kebahagiyaan sendiri menjadi begitu pelit membagi miliknya denganku. Sehingga menyisakan kesendirian nan akut pada diriku.

Apalagi yang tersisa ketika putus asa telah merenggut semua yang bernyawa dalam diri, yang ada hanya mati, bahkan lebih buruk lagi semua seakan ada dalam ketiadaan yang semu. Ada namun tak benar-benar berarti, berada dalam batas. Bias-bias yang semu tak nyata.

Aku teringat jika aku adalah pemuja kebahagiyaan sintetis, yaitu kebahagiyaan yang tak pernah kutunggu kedatangannya namun kebahagiyaan yang kucipta sendiri. Namun kini kenapa semua itu tak lagi kujumpai, aku sudah bukan lagi sang pemilik semangat untuk mencipta kebahagiyaan. Tidak ada daya lagi!

Dalam keredupan pandanganku yang semakin sayu, tak lagi berpercik api ceria ataupun semangat seperti yang sering dikatakan oleh teman-temanku. “Kamu itu hidup kaya gak ada bebannya ya” suatu ketika setalah rapat, temanku mengatakan itu padaku. Hanya kubalas dengan senyum, senyum getir sesungguhnya. Jauh di dalam aku begitu banyak masalah, banyak beban bahkan mungkin aku adalah beban itu sendiri. Namun prinsipku tetap sama tidak akan membagi duka dengan teman, cukup suka saja.

Kembali pedih mengingat segala penolakan atas penolakan dalam kisah yang kemarin berlalu. Sungguh menyisakan pilu berkepanjangan. Ingin aku selesaikan tandas dalam sekali hitungan, tapi ternyata ingin hanya menyentuh udara kosong yang bernama angan. Hanya angan-angan yang entah kapan akan mewujud.

Aku sesapi seluruh sepi sendiri, dalam sudut yang meringkuk membentuk kekosongan. Kusenyumi, senyum pahit. Mungkin senyum yang tergulai dengan tumbukan serpih empedu. Bahkan aku sendiri tak mampu melukiskan empedu itu seperti apa. Inilah senyum dengan bibir bergincu palsu dariku.

Kisah tak pernah berakhir, tak berujung, hanya semakin mengambil daya kekuatan pada aku. Semuanya berjalan kaku, namun tak kokoh, aku tak lagi seberani dulu bahkan mungkin aku tak pernah seberani itu. Aku sadar hidup cuma sekali,  namun kenapa harus seperti ini?

Kuamati lagi bayangku dalam kesendirian, sungguh selama ini aku memang hidup dalam kepura-puraan. Kebahagiyaan yang kucipta sendiri, kebahagiyaan sintetisku kapan bisa kugapai lagi. Tetap kutunggu dan mungkin diantara barisan keputus-asaan ini ada secuil harap akan bahagiya, akan senyum ceria yang tulus. Entah!



No comments:

Post a Comment