Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Monday, April 28, 2014

Ombak Banyu



Terasa mati dalam cengkraman hiruk-pikuk gemerlap malam yang mengukungku untuk mendekapnya. Handuk kecil kumal berbau keringatku, yang setiap malam menyeka tiap tetes air dari kerja kerasku. Lampu-lampu gemerlap merah, biru, kuning sampai entah warna yang tak begitu bernama saling bergantian berputar. Memberikan semarak pada wahana permainan dimana tempatku mengais rupiah demi rupiah. Mereka menyebutnya Ombak Banyu, aku sendiri tidak begitu paham bagaimana menjelaskannya. Salah satu wahana permainan yang mengisi Pasar Malam ini tergolong masih tradisional. Karena tanpa bantuan mesin bermotor, hanya dengan bertenaga manusia dalam menggerakkan permainan ini. Kami bersama-sama mendorong memutar agar Ombak Banyu dapat berputar, dengan banyaknya orang-orang yang menaikinya sudah jelas dibutuhkan tenaga ekstra.


Sudah sekitar pukul dua pagi, pasar malam sudah semakin sepi. Beberapa teman yang juga bekerja pada pasar malam ini sudah terlelap terbuai mimpi dalam rumah-rumahan triplek sekali jadi yang mereka buat sendiri. Pasti sudah sangat lelah hingga tidur mereka begitu lelap. Berbagai suara ruih yang sudah sejak sore terdengar tak lagi ada seperti tiba-tiba ditelan oleh samudra dasar laut atau masuk pada ruang kedap suara.


Kurebahkan badanku pada kursi panjang, kursi dari kayu ini biasanya dipakai duduk oleh orang tua yang menunggu anak mereka. Sambil tersenyum melambaikan tangan pada anak-anak mereka yang tertawa menaiki Ombak Banyu. Dari kejauhan kulihat bosku menggenggam sebilah kapak yang biasanya dia gunakan untuk membantu membangun rumah-rumahan tripleknya. Kulihat ada yang aneh dari wajahnya, sambil mengahampiriku hampir saja dia melayangkan kapaknya pada kepalaku, dengan marah ia berkata “Kowe karo cah omah setan wingi bar mabuk terus merkosa bojoku tho? Ngakuo!!!” Lalu tiba-tiba gelap.


Pagi nan dingin kutemukan diriku sendiri basah dalam sebuah sumur yang sudah kering, gelap dan kotor, sempit aku meringkuk tak dapat bergerak. Kenapa aku tiba-tiba berpindah tempat? Itu yang ada dalam pikiranku, ingin aku berteriak minta tolong siapapun yang ada di atas, tapi suara seakan tercekat dalam tenggorokanku. Tak ada satupun suara yang mampu aku keluarkan. Kulihat kesamping, tubuh dan kepalaku sudah tak lagi bersatu.





NB: Maaf, aku masih belum mampu mengejutkan dengan sebuah ending yang bagus. Saat sebuah cerita yang harusnya mampu bertahan dalam beberapa halaman malah kuaborsi, dan beginilah hasilnya. Karya prematur karena lahir belum pada waktunya mungkin. Silahkan dilanjutkan bagi yang terusik imajinasinya :)




No comments:

Post a Comment