Terasa mati dalam cengkraman hiruk-pikuk gemerlap malam
yang mengukungku untuk mendekapnya. Handuk kecil kumal berbau keringatku, yang
setiap malam menyeka tiap tetes air dari kerja kerasku. Lampu-lampu gemerlap
merah, biru, kuning sampai entah warna yang tak begitu bernama saling
bergantian berputar. Memberikan semarak pada wahana permainan dimana tempatku
mengais rupiah demi rupiah. Mereka menyebutnya Ombak Banyu, aku sendiri tidak
begitu paham bagaimana menjelaskannya. Salah satu wahana permainan yang mengisi
Pasar Malam ini tergolong masih tradisional. Karena tanpa bantuan mesin
bermotor, hanya dengan bertenaga manusia dalam menggerakkan permainan ini. Kami
bersama-sama mendorong memutar agar Ombak
Banyu dapat berputar, dengan
banyaknya orang-orang yang menaikinya sudah jelas dibutuhkan tenaga ekstra.
Sudah sekitar pukul dua pagi, pasar malam sudah semakin
sepi. Beberapa teman yang juga bekerja pada pasar malam ini sudah terlelap
terbuai mimpi dalam rumah-rumahan triplek sekali jadi yang mereka buat sendiri.
Pasti sudah sangat lelah hingga tidur mereka begitu lelap. Berbagai suara ruih
yang sudah sejak sore terdengar tak lagi ada seperti tiba-tiba ditelan oleh
samudra dasar laut atau masuk pada ruang kedap suara.
Kurebahkan badanku pada kursi panjang, kursi dari kayu
ini biasanya dipakai duduk oleh orang tua yang menunggu anak mereka. Sambil
tersenyum melambaikan tangan pada anak-anak mereka yang tertawa menaiki Ombak
Banyu. Dari kejauhan kulihat bosku menggenggam sebilah kapak yang biasanya dia
gunakan untuk membantu membangun rumah-rumahan tripleknya. Kulihat ada yang
aneh dari wajahnya, sambil mengahampiriku hampir saja dia melayangkan kapaknya
pada kepalaku, dengan marah ia berkata “Kowe karo cah omah setan wingi bar
mabuk terus merkosa bojoku tho? Ngakuo!!!” Lalu tiba-tiba gelap.
Pagi nan dingin kutemukan diriku sendiri basah dalam
sebuah sumur yang sudah kering, gelap dan kotor, sempit aku meringkuk tak dapat
bergerak. Kenapa aku tiba-tiba berpindah tempat? Itu yang ada dalam pikiranku,
ingin aku berteriak minta tolong siapapun yang ada di atas, tapi suara seakan
tercekat dalam tenggorokanku. Tak ada satupun suara yang mampu aku keluarkan.
Kulihat kesamping, tubuh dan kepalaku sudah tak lagi bersatu.
NB: Maaf, aku masih belum mampu
mengejutkan dengan sebuah ending yang bagus. Saat sebuah cerita yang harusnya mampu
bertahan dalam beberapa halaman malah kuaborsi, dan beginilah hasilnya. Karya prematur karena lahir belum pada waktunya mungkin. Silahkan dilanjutkan bagi
yang terusik imajinasinya :)

No comments:
Post a Comment