Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, April 23, 2014

Aku dan Dua Kelelawar

Sebuah kesepian sengit, ketika kesendirian melebarkan sayapnya dan memelukku begitu mesra. Tak tergambarkan dalam kekosongan, hanya kebisuan yang menikam dari sela-sela sayap tersebut. Seperti pada masa itu, ketika hanya dengan memandangi senja saja sudah mampu membawaku mengingat semua keterpurukan masa lalu.

Hingga sekarang kekosongan itu kembali merenggutku, membawaku pada kepingan masa lalu yang sama. Jejeran angin nan dingin yang berbentuk sebilah belati menusuki hati. Sakit!


Melangkah dengan tatapan tanpa makna, seolah hidup tanpa warna. Hanya abu-abu. Di persimpanganpun, tak menyediakan sebuah kebingungan yang berarti. Cukup dilewati dengan langkah yang tak mantap tapi tak juga goyah, hanya melangkah, langkah hampa. Mengayunkan kaki entah kemana.

Hingga senja berganti malam, berganti dengan gelap. Lampu-lampu jalan sekarang yang menggantikan tugas matahari, meski tak cukup menyinari seluruhnya, banyak sisi gelap yang tak mendapatkan sinar termasuk dalam hatiku.

Kaki tetap melangkah tanpa lelah, dan sudah entah sampai sejauh mana tak juga berpengaruh pada kesadaranku. Menghabiskan seluruh energiku sendiri, hingga aku berada pada keadaan yang berbeda. Dingin pagi dua dini hari, menidurkanku pada teras rumah seorang dokter praktek. Meringkuk dalam pelukan rasa sakit yang aku sendiri sampai sekarang masih belum mampu menjelaskannya seperti apa.

Teras yang begitu dingin namun bersih, hanya sedikit terdapat sisa-sisa remah rokok, kugulung saja dengan sekali tiup. Aku ingin merebahkan seluruh lelah batin yang baru pertama ini kurasakan, masih asing buatku. Dalam tidur aku tetap terjaga, di depanku jalan raya masih dilalui kendaraan satu-satu. Derunya membuat riuh namun cukup membantu rasa was-was yang sekarang mulai timbul kembali. Pertanda sedikit kesadaranku sudah mulai kembali.

Kehidupan buta sang pagi ternyata juga menghadirkanku pada dua kelelawar yang dikedua kakinya terdapat rantai koyak. Menghampiriku dengan sejuta pertanyaan yang kujawab dengan kalimat-kalimat palsu dari setiap cerita di buku cerpenku. Jawaban palsu yang kucuri sendiri tanpa sadar.

Namun dari sini aku sadar, aku tak lagi menghirup embun dini hari sendiri. Kesadaran akan dinginnya pagi pinggir jalan raya membuat kabut yang gigil pada diri. Kesadaran yang juga membuatku mengajukan keinginan untuk ikut terbang bersama kedua kelelawar tersebut. Satu kelelawar yang cerewet dan satunya kelelawar yang pendiam.

Bersama menyusuri pinggir jalan dimana pintu-pintu pertokoan masih rapat bergembok keangkuhan. Kulihat kedua kelelawar tersebut selalu tertunduk, padahal menurutku mereka adalah sebuah kebebasan yang mampu melihat langit jauh lebih luas dari siapapun. Dengan kaki yang tersoek mereka akan merendah memunguti setiap puntung rokok yang masih lumayan untuk mereka hisap. Menekurinya atau mengasis-ngaisnya dengan kaki, seperti ayam yang mencari beras yang tercecer di tanah.

Masih di pinggir jalan raya, kedua kelelawar tersebut mengajakku berhenti disebuah pohon rindang. Membuatku teringat akan pelajaran sekolahku saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar dulu. Ketika hari masih gelap karena belum mendapat sinar matahari, sebaiknya jangan berada di bawah pohon karena pohon mengeluarkan karbondioksida yang tidak baik bagi tubuh. Begitu yang selalu aku anuti tapi saat ini persetanlah dengan yang seperti itu, aku sendiri bahkan telah meninggalkan kewarasanku jauh di belakang sana.

Kelelawar yang pendiam membeli dua cangir kopi setelah menawariku secangkir juga namun kutolak, aku masih peduli dengan perut kosong yang hanya dihuni dengan penyakit magh ini. Kulihat dia membayar dengan tumpukan receh yang dia hitung dengan penuh ketelitian agar tak ada satu recehpun kekeliruan. Receh-receh yang begitu berharga bagi mereka. Dan satu kelelawar yang lainnya mengajakku bercerita tentang gelap kehidupan, tentang kelam matahari yang tak pernah mereka jenguk dan memilih malam sebagai satu-satunya waktu yang mereka datangi. Memilih gelap hitam sebagai warna kehidupan berteman penderitaan namun begitu mesra dengan kebebasan.

Sepertinya pohon yang rindang ini juga menjadi tempat parkir bagi deretan taksi-taksi dengan sopirnya yang terlelap dikursi belakang setir. Juga pedagang-pedagang kaki lima, salah satunya yang sedang dihinggapi kelelawar tersebut. Disudut lain terdapat genangan, yang kata kelelawar itu adalah genangan tangis para pengemis dan gelandangan yang ditusuki nasib. Jadi itu adalah air mata??? Sebanyak itu dan lanjutnya lagi, air mata itu tak pernah kering meskipun diminum oleh trilyunan koruptor yang memang setiap harinya meminum air tangis tersebut dengan rakus.

Terlihat ada beberapa kelelawar lain yang menepi dan kedua kelalawar tadi menyapa mereka. Ada kelalawar kecil yang masih baru belajar terbang dan kelalawar yang terlihat begitu bersih namun sedang mendekap seekor kupu-kupu yang basah dengan sumpah serapah. Kupu-kupu cantik bergincu birahi, berbau anggur dan sayapnya yang tipis kecil berwarna merah darah mengundang gairah. Gairah untuk para lintah, ular, cacing tanah, vampir bahkan tak terkecuali untuk para kelalawar ini. Banyak yang ingin mendekap kupu-kupu liar ini seliar apapun iya menggigit dan menyalak tak ubahnya anjing peliharaan tetanggaku.

Aku hanya mengamati tingkah polah mereka, di sudut akar pohon rindang tersebut. Sedikit kubentangkan jarak yang bernama kewaspadaan. Meski logikaku tak juga menjeritkan kata takut.

Kupu-kupu tersebut menawariku madu yang berbungkus es krim, dingin pagi pemberi gigil membuatku mengatakan tidak usah. Dan penolakanku membuat kupu-kupu yang berada di depanku dengan nafas anggur ini begitu marah. Ia lemparkan madu kesemak-semak berduri. Aku terdiam kaget, begitu liarnya ia hingga tiada lagi anggun yang tersisa.

Beruntung tak berapa lama keliaran tingkah polah kupu-kupu tersebut tak lagi terlihat olehku karena diusir oleh seekor babi berseragam, ternyata saat seperti ini babi seperti itu berguna juga. Babi berperut gendut yang biasanya hanya baris-berbaris memintai isi dompet para pengguna jalan raya. Meskipun begitu tak juga mengubah ketidak-sukaanku pada para babi berperut gendut dan berseragam rapi, aku tetap mengutuki mereka satu persatu.

Aku dan kedua kelelawar kembali menyusuri jalan raya. Dikejauhan sayup terdengar suara Adzan Subuh yang bergema membelah semesta pagi. Yang kupikir akan membuyarkanku dan menyadarkanku bahwa aku sedang berada ditempat tidur, namun tidak, aku tetap berada di pinggir jalan raya. Ini bukan mimpi, Nam!



Melewati pinggiran pasar yang sudah riuh ramai dengan tumpukan sayur-mayur berlebel harapan. Dengan manusia-manusia yang beraneka melakukan transaksi jual-beli. Kelelawar yang cerewet tersebut menyapa dengan begitu ramahnya pada setiap penjual sayuran di pasar. Padahal tak satupun yang ia kenal, namun ia berharap dalam setiap sapaan yang ia berikan tersebut akan mendapat sepotong senyuman.

Menelusuri jalan hingga terhenti disebuah perempatan lampu merah dan disinilah mereka mengajakku menumpang pada mobil yang lewat. Namun sebelum memperoleh tumpangan tersebut aku berdiri menunggu sambil bersandar pada tembok. Tak terasa dalam berdiriku aku bisa begitu mengantuk dan sebentar-sebentar tertidur dalam beberapa detik, sambil tetap berdiri. Saking mengantuknya inilah aku yang tertidur sambil berdiri menunggui salah satu kelelawar yang sedang mencari tumpangan.

Begitu mendapat tumpangan mobil bak terbuka, segera kunaiki bersama kedua kelelawar tersebut. Kelelawar yang cerewet tetap saja bercerita mengenai kehidupannya sedangkan kelelawar yang pendiam hanya bernyanyi memainkan alat musik kentrung yang selalu ia bawa kamanapun ia pergi. Karena itulah harta berharga yang ia miliki begitu katanya. Lagu-lagu yang dinyanyikan tak terdengar asing buatku, lagu milik Marjinal dan akhirnya aku ikut bernyanyi juga.

Kerudung biru dongker yang kukenakan tertiup angin kerena mobil berjalan begitu kencang. Beliung anggun yang mengibarkannya membuatku takut kalo-kalo kerudungku akan ikut terbang, kupegangi begitu eret. Kencangnya kecepatan mobil juga membuatku susah melihat, namun aku tetap ingin melihat, pemandangan sepanjang jalan raya yang mulai terang oleh matahari.

Hingga mobil bak terbuka tumpangan suka rela menurunkanku dan kedua kelelawar tersebut pada perempatan lampu merah depan swalayan yang masih belum buka. Kedua kelelawar itu menyuruhku menunggui mereka di pinggir jalan, sedangkan mereka di bawah lampu lalu lintas memainkan berbagai lagu Marjinal agar memperoleh receh-receh yang mereka sukai. Aku menurut saja, badan yang lelah membuatku tertidur di pos ojek yang sepagi ini masih juga sepi. Namun tetap sama aku tertidur sambil terjaga!

Aku tak lagi berharap akan bermimpi karena perjalanan dengan kedua kelelawar tersebut memberikanku pengalaman yang jauh lebih berwarna daripada mimpi. Terbangung dengan sebungkus nasi telur dan sayur, mereka juga menyodoriku sekotak air mineral gelas. Tergelitik dengan penolakan karena rasa malu yang mengusikku, namun mereka tetap memaksa agar kuterima semua makanan tersebut.

Tidak lapar begitu tiba-tiba yang kurasa, namun tidak kuasa juga kalau tetap kutolak pemberian yang benar-benar tulus dari mereka. Selesai menghabiskan sebungkus nasi mereka kembali mengumpulkan receh sedangkan aku tetap mengamati mereka dari pinggir. Sambil sibuk berpikir tentang banyak hal.

Terhenti ketika matahari mulai meninggi, kedua kelelawar tersebut berubah pucat menghampiriku. Kelalawar yang selalu cerewet mengeryipkan mata tanda mengantuk, yang satunya batuk-batuk. Aku diajak naik angkot dan kembali kulihat kelelawar yang pendiam menyiapkan recehnya dengan hitungan yang begitu teliti untuk membayar angkot.

Berhenti disebuah pertigaan besar, mereka turun dan aku mengikutinya, mereka tak lagi terbang, melangkah perlahan sempoyongan padahal tidak mabuk. Mereka bilang mereka bisa mati kepanasan, akupun melihat mereka semakin pucat. Disepanjang jalan yang terlewati sudah ramai orang-orang dengan kemonotonan aktivitas mereka. Setiap dari kedua belah mata mereka melihatku yang tersoek berjalan dengan dua ekor kelelawar. Ada yang melihat secara langsung lalu bergumam entah apa, ada yang hanya melihat secuil dari ekor mata mereka. Namun aku tahu mereka pasti jejali dengan pikiran yang tak mampu kuterka, begitupun dengan kedua kelelawar ini, mereka pasti juga menyadarinya. Namun aku sudah sangat tidak peduli akan pikiran siapapun, aku sendiri sedang tidak ingin berpikir.

Masuk pada sebuah gang dimana rumah-rumah minimalis berderet berdempet-dempet. Lalu berhenti pada sebuah rumah dengan lorong kecil dimana terdapat sofa butut di terasnya. Kedua kelelawar tersebut masuk, aku hanya duduk di sofa penghuni teras. Dari dalam keluar si pemilik rumah, yaitu sepasang lebah hitam yang begitu penasaran padaku. Kelelawar yang cerewet keluar bersama kepulan asap putih diikuti dengan kelalawar yang satunya, mereka semua mempersilahkanku masuk pada sebuah ruangan yang terbuat dari triplek. Padahal sebelumnya aku pikir ini akan seperti rumah lebah.

Terdapat banyak gambar rajah beserta peralatan rajah murahan yang menghuni rumah lebah tersebut. Serakan bungkus obat juga tertimbun disudut ruangan, beberapa masih terdapat pil putih. Sepasang lebah yang lain juga menghuni ruangan tersebut, lalu ada anak-anak juga nenek-nenek. Aku berpikir tentang lingkungan yang mereka huni, tentang masa depan dan masa lalu yang mereka miliki. Benyak hal yang berkerumun diotakku, kali ini aku berpikir dan mengarang sendiri jawabannya. Aku berada di dunia dongengkah? Dongeng yang sering masuk TV, dalam acara berita kriminal mungkin. Entah!



Aku terkaget, lebah yang sedang tertidur karena minum obat tersebut ternyata bisa bicara atau lebih tepatnya berdengung, sedangkan lebah cantik pasangannya sedang menatap cermin, dari kotak ajaibnya dia mampu menyulap dirinya berubah menjadi kupu-kupu mempesona. Aku akui sungguh cantik paras kupu-kupu yang satu ini, namun ternyata berbahaya! Dia memiliki bisa disela-sela sayapnya yang menakjubkan. Lalu dia terbang keluar dalam sekejap, bukannya ingin mengitari taman beraneka bunga seperti layaknya kupu-kupu lain, namun dia terbang di restoran mewah yang bahkan aku belum pernah masuk kedalamnya.

Aku kembali membentangkan jarak yang bernama kewaspadaan dan kali ini kutambahi dengan pagar pembatas. Kukurung diriku sendiri, sehingga aku hanya mampu melihat mereka dari dalam kurungan dan mengamati tingkah polah mereka tanpa mampu mereka usik.

Ketika matahari sudah benar-benar dipucuk ubun-ubun sedangkan aku sudah begitu bosan sekaligus canggung dalam keadaan diam, kuputuskan untuk pergi. Aku datang tanpa nama, aku pergi juga tanpa nama. Biar menghilang diingatan mereka, kupamiti kedua kelalawar tersebut. Berterima kasih atas recehan pengalaman yang mereka bagi kepadaku. Kupakai kembali sepatuku yang berada di luar ruangan, namun ternyata sepatuku sudah terendam air, genangan tangis, sepatuku basah oleh air mata tangis! Sepertinya tadi ada anak jalanan yang lewat. Aku tidak marah, hanya ingin pergi, melangkahkan kaki dengan sepatu yang kucangking menuju jalan raya lagi. Berjalan dipanasnya aspal jalanan tengah hari. Rasanya tak akan perlu waktu lama agar telapak kaliku melepuh. Sebentar lagi saat aku sudah sepenuhnya sadar pasti akan terasa sakit.

Kedua kelelawar tersebut ternyara juga ikut pergi namun kearah yang berlawanan denganku. Dari pinggir jalan raya kulihat mereka terbang kelangit hingga ditelan oleh gumpalan awan. Apakah mereka akan terbakar oleh matahari? Sudah aku tidak peduli.

Disisi lain aku kembali dijemput oleh kenyataan, oleh dunia nyata yang harus kulewati dengan sewaras-warasnya. Mengobati luka hati dengan guliran waktu yang terus merangkak pelan. Menyadarkanku bahwa luka lain juga ada, ditelapak kakiku! 

Jika luka lamaku terasa seperti menelan kalajengking hidup-hidup, begitu sakitnya dalam mulut, maka luka yang baru ini seperti berjalan menginjaki kayu bakar yang menyala-nyala panas. Hingga aku tertatih dalam melangkahkan kaki, namun aku tetap harus berjalan melewatinya.



Diujung langkah, kudapati sebuah kotak dan saat kutengok di dalamnya, di sana terdapat kedua kelelawar tersebut beserta dengan seluruh hal yang kutemui bersama mereka. Kotak tersebut lalu kusimpan rapi dalam kepalaku, disisi luarnya kutemukan sebuah tulisan ; Kotak Pengalaman.



No comments:

Post a Comment