Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Monday, April 28, 2014

Ekstrimnya Dieng Wonosobo


Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo, keindahan yang begitu menakjubkan namun juga memberikan pengalaman yang tak mudah untuk ku lupakan.
Karena untuk mencapai tempat tersebut harus melewati berbagai tantangan.


Diawali dengan kumpul di depan PKM FIS UNNES, karena tujuan kita ke Dieng adalah untuk Pelantikan Exsara Angkatan ke-5
Naik motor dengan berboncengan menembus panas yang berganti hujan saat motor memasuki Temanggung.


Setelah sesaat berhenti di Masjid Agung Temanggung yang berada di sisi Alun-alun Kota Temanggung, untuk melaksanakan sholat dan inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota kelahiran idolaku, Obiet :*


Dan tujuan awal alias yang pertama kita kunjungi adalah Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung. Sebuah situs yang katanya luasnya melebihi Candi Borobudur.
Situs yang masih juga belum selesai tuntas digali alias masih dalam proses.



Dengan berselimut kabut yang cukup tebal, namun ternyata kabut dalam hatiku jauh lebih tebal. Memberikan efek gigil pada diri, membuatku malas untuk mengeksplore diri, teringat kala itu memang hatiku sedang tidak karuan, proses membelakangi apa yang selama ini hatiku selalu tatap.


Tidak banyak poto tentang aku, benar-benar tidak sedang mood berpoto.
Keadaan diperjalanan sekaligus kondisi perasaan yang cukup mematikan semangat dan menyurutkan setiap hasrat narsis.
Ekstrimnya cuaca saat akan mencapai Dieng, dengan hujan yang turun sepanjang waktu.
Mantel pun tak cukup membuat untuk membuat tubuh tetap kering, karena motor yang harus dipacu kencang menembus lebat hujan.
Ditambah dengan jalan yang naik turun berkelok-kelok ala pegunungan.
Dan inilah dingin yang tak mampu untuk kugambarkan.


Namun juga sebanding dengan keindahan yang diberikan di Puncak Sikunir, Dieng.
Disinilah kami dilantik sebagai formalitas kalau kami telah benar-benar menjadi keluarga Exsara.



Dikalungi sleyer merah oleh ketua Exsara sebagai tanda bukti bahwa aku telah benar-benar menjadi anggota keluarga Exsara. Sebagai formalitas, karena bahkan jauh sebelum itu juga aku sudah diterima sebagai keluarga.


Merasakan suka duka bersama, pada saat itu, harus melewati rasa dingin yang luar biasa karena suhu yang bisa mencapai -0 derajat ditambah baju yang basah terkena hujan.
Tidur saling berdesakan, berebutan tempat hingga memunculkan keegoisan individu dari anggota baru, memperoleh bentakan jam 2 pagi.
Memakai fasilitas yang luar biasa busuknya (wc berderet tanpa air)
Penginapan yang sempit juga berdesakan namun membuat hangat.
Juga banyak lagi pengalaman yang menyakitkan sekaligus menyenangkan saat itu.

Selesai dengan penderitaan yang menyenangkan di Dieng Wonosobo, perjalanan pun dilanjut ke Banjarnegara.


Tidak ada penjelasan tentang candi-candi di Kabupaten Gilar-Gilar ini, jadi tidak banyak yang aku tahu. Disana kami hanya berfoto-foto ria saja.
Akupun sudah bilang diawal bahwa tidak banyak berpoto dalam perjalan pada saat itu.


Ternyata perjalan memang benar-benar ekstrim, hingga saat perjalanan pulang banyak sekali kejadian tak terduga yang untunglah tidak sampai membuat temanku kehilangan nyawa. (bagaimana ya memperhalusnya)
Intinya temanku banyak yang mendapat musibah saat perjalan pulang.
Aku sendiri malah merasa mati dalam perjalanan, karena menggendong tas super besar yang biasanya dipakai oleh pendaki, yaitu tas carrier milik teman.
Berat sekali, sampai harus berkali-kali aku minta berhenti untuk melegakan sedikit punggungku. Sungguh perjuangan yang tiada akhir waktu itu.
Tiap kali melewati jalan menanjak, tubuh serasa ditarik kebelakang, namun aku tetap harus menahan.
Konyol pasti kalau aku terjatuh dari boncengan sepeda motor.

Hingga sampai kampus dan kumasukan semua pengalaman ini menjadi kenangan yang tak hanya menyenangkan tapi juga menyakitkan. Nano nano rasanya.


No comments:

Post a Comment