Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Tuesday, May 13, 2014

Ketika Harap Menjadi Ratap

Kau yang muncul dalam mimpiku siang tadi, membuatku enggan bangun, aku ingin terus terpejam dan berharap agar tidak terbangun dari mimpi ini. Dan Air mataku mulai menetes saat aku tersadar bahwa semua itu hanya mimpi.

Aku yang berdetik-ditik diringkus diam setelah itu, mencoba untuk terus menahan sakit yang tiba-tiba menusuk hati. Aku benci seperti ini, dilemahkan oleh cinta. Terlalu berharap tentang kamu, membuatku sakit.

Banyak pengandaian yang muncul tiap kali aku mengingat tentangmu. Semua harap yang hanya menyentuh udara disekitarmu. Tak pernah kau hiraukan. Membuatku kembali sakit. Menjadi dalam kekosongan ketika seluruh harap ini menjadi ratap.




Bud, telah setahun kamu berada dihatiku, dalam tempat yang benar-benar kokoh. Tempat yang tak pernah sukses kuotak-atik. Kamu mengendap disana. Tanpa kusadari, sudah setahun, meski aku telah setengah mati menghapusnya dan mencoba menggantinya dengan nama lain. Namun gagal berkali-kali.

Aku mulai putus asa sekarang, Bud. Terlalu sakit jika terus-terusan menimang harap akanmu. Yang aku tahu semua hanya sia belaka.

Bukannya aku tidak berusaha melupakanmu. Kamu tahu sendiri, berapa kali aku berganti status. Namun semua itu juga alpha dalam dada. Ratusan kalipun aku dan dia bertukar kata cinta tetap hatiku tak pernah se-inchi pun bergeser mendekat ke dia. Tak pernah sukses berpaling dari kamu. Sekarang aku sudah menyerah untuk berusaha melupakanmu, aku tidak akan lagi menghindar dan berpura-pura tidak mencintaimu. Karena kenyataannya tidak begitu, aku tidak akan lagi membohongi diri. Tak akan lagi berlari dari kenyataan, tapi tenang saja aku sudah berjanji untuk tidak lagi mengusikmu, cukup dari jarak yang kubentang sendiri ini saja aku melihat kamu. Bisa melihat kamu tersenyum dengan gula-gula yang menenggelamkanku. Dan semua itu sudah cukup membuatku sesak nafas namun membahagiyakan.

Dengan dibanjiri air mata juga harap yang semakin meratap, aku mingkin selamanya memang hanya mampu melihatmu, lalu dalam bisik dihati mendoakanmu. Semoga kamu selalu bahagiya, selalu mendapat yang terbaik. 

Terisak dalam diam menahan seluruh perih. Karena aku sendiri sadar, meskipun kita masuk dalam suatu ruangan yang sama, semua dapat melihat kamu mengenakan pakaian yang pantas dan sesuai sedangkan aku hanya compang-camping dan akan menjadi hinaan siapapun. Aku cukup tahu diri, Bud. Bahkan sebenarnya aku tidak lagi memiliki muka untuk sekedar menatapmu. Tapi maafkan aku, terkadang aku tidak mampu untuk tidak melirik kamu meski setelah itu aku maki diri aku sendiri. Tapi kamu tahu, cukup satu kedip mata melirikmu pun menjadi kebahagiyaan luar biasa buatku. Apa lagi yang bisa aku lakukan?

Tapi kamu tak perlu khawatir, Bud. Aku tak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi, aku tak akan pernah mengusikmu lagi. Semoga kamu selalu bahagiya, yang terbaik selalu untukmu.



Thursday, May 8, 2014

Menghansaplast Luka Hati

Dear Diary Onlenku,

Dalam kegelisahan dan rasa takut yang amat sangat ini, aku mencoba untuk terus berusaha optimis. Semoga apa yang aku takutkan tidak akan pernah terjadi.

Dalam status sendiri ini, aku juga selalu berusaha untuk tidak kesepian. Seperti sekarang dengan menjadi rutin menyapa kamu diaryku :*

Berkeluh kesah diruang diammu, curhat, sekedar berbagi risau yang tiap detiknya meringkus tarikan nafas yang kuhelakan di udara. Aku bersyukur dalam melegakan seluruh sesak yang menyesak di dada ini tak perlu dengan asap atau botol atau pil putih atau segala perusak lainnya.



Aku rasa aku tidak harus sepahit itu dalam menyikapi rasa galau ini. Galau yang kuhalau dengan berbagai cara, menulis, menonton film, menonton ulang One Piece, main game Criminal Case atau sekedar yang cukup serius dengan mengerjakan tugas. Biasanya akan terselip satu kegiatan yang dulu bisa begitu akrab denganku yaitu membaca, tapi kali ini sepertinya itu tidak begitu cocok dengan situasi sekarang. Maaf buku, padahal sederet novel, cerpen dan buku-buku Kahlil Gibran sudah bertumpuk di rak bukuku, beberapa masih rapi dengan plastiknya. Tapi hanya kuabaikan, aku belum ingin menambahi aktivitas dengan menyentuh buku. Sekarang yang ringan-ringan saja dulu.

Diary kamu tahu, aku rasa saat ini aku juga cukup menarik diri dari kerumunan teman-temanku. Maaf untuk sekarang aku memang sedang ingin sendiri. Sejenak menarik diri, sejenak sendiri.

Aku janji ini tidak akan lama, setidaknya aku masih suka bercanda dengan teman-temanku, menanggapi dan menggenapi semua tawa teman-temanku. Meskipun jika dilihat, tak pernah seintim biasanya, karena aku memang sedang tidak seperti biasanya.

Banyak hal yang tidak mampu aku ceritakan secara gamblang, biar cukup aku saja yang menyimpannya untuk ini atau kubagi dengan orang yang benar-benar kupercaya seperti sahabatku. Tidak terlalu besar isolasi diriku ini, aku cukup terbuka setidaknya dengan sahabatku.


Diary, aku tahu rumah hatimu cukup menampung sebesar apapun keluh kesahku, tapi dari situ aku juga sadar semua tidak mampu aku lampiaskan di rumah hatimu, diaryku. Contohnya saja kemarin, bahkan setelah menulis, mencoret-coreti kamu, meluapkan seluruh apa yang sedang kurasakan dan kupikirkan tetap saja aku belum puas. Setelah itu aku tetap nongkrong di warung hingga larut malam, curhat dengan sahabatku Yayun, makan mie pake telor dan meneguk secangkir kopi.

Bahkan hingga semua kesyahduan warung dirusak anak-anak Batak-pun juga tidak membuat setelah selesai makan langsung pulang. Kuiyakan saja ajakan Yayun untuk ‘mbelong’ jalan-jalan malam sejalan-jalannya sang kaki melangkah. Aku berharap bisa sejanak melupakan ‘nyesek’ yang memang lagi mampir di hidupku ini.

Meskipun hanya Sekaran-Banaran, tak seekstrim dulu sampai Sekaran-Ungaran-Banyumanik jalan kaki. Tapi melewati gang-gang kost yang sempit, gelap, dan sepi semua itu cukup bisa menghibur diri. Dengan bumbu rasa malu kalau bertemu dengan teman serombel, rasa senang bisa becanda konyol seperti aku biasanya, juga sedikit bumbu rasa takut kalau ada hantu iseng atau preman nakal. Karena jam di layar hape memang sudah menunjukan lewat tengah malam.

Kaos oblong Kamtis Unnes, celana pendek dan sendal jepit, cuek saja melewati tiap kost-kost ala kadarnya nan sepi milik mahasiswa dan mahasiswi Unnes. Cukup gila saat harus melewati gang yang disitu didiami oleh kost cowok samping potokopian :p 

Beberapa kali gagal untuk berani lewat kost tersebut rasanya konyol sekali, saat telah terlihat terasnya tetapi tidak berani melewatinya alhasil harus ‘mlipir’ lewat jalan tikus menuju jalan di Gedung FBS. Tembus hingga jalan besar Banaran, jam satu pagi teriak-teriak memanggil nama temanku. Lalu kembali terdampar pada gang-gang yang masih sangat asing, mendapati jalan buntu sampai menemukan diri kembali harus melewati kost samping potokopian tersebut :p

Kalau dihitung mungkin bisa lebih dari 5 kali gagal berjalan melewati depan kost tersebut. Dari yang langsung berlari balik arah, cari jalan lain, sampai jajan es teh di angkringan terdekat dari kost ‘angker’ tersebut. Mengumpulkan keberanian. Bayangin aja, baru lihat temboknya aja aku sudah deg-deg’an setengah mati, sesak nafas senin-kamis sampai jangan-jangan yang paling aku takutkan aku langsung pingsan tergeletak depan kost tersebut. Haha lebay ya, tapi memang kenyataannya seperti itu.


Yosh setelah cukup lama juga nongkrong di gazebo milik fakultas impianku (sebut saja FBS) sambil berbacksound dengan suara musik dari latihan anak-anak band FBS, dan karena angin pagi yang dingin sudah cukup mengusik maka akhirnya sukses juga mengumpulkan keberanian untuk uji nyali melewati kost ‘angker’ di belakang FBS tersebut. Yohooooo aku menang.

Meskipun sudah gelap dan penghuninya sudah masuk kedalam kamar masing-masing, tapi bisa melihat terasnya saja sudah cukup membuatku berlonjak senang. Haha kaya anak kecil :p

Dan akhirnya mbelong pagi dini hari ini pun cukup menghansaplast lukaku. Diary, doakan saja untuk tulisan selanjutnya aku sudah bisa berbagi yang lebih cerah dari ini. Semoga saja aku sudah terlepas dari rasa sakit dan juga dari rasa takut luar biasa yang sedang menimpaku ini. Diary, tolong doakan aku.




Wednesday, May 7, 2014

Karma?

Saat aku ditinggalkan begitu saja tanpa ada kata perpisahan, tanpa ada kata putus, tanpa ada secuil pamit yang terselip dari mulut seorang yang selama ini selalu bilang cinta ke aku. Saat aku sudah tak lagi pantas untuk lebih lama dinamai pacar maka inilah yang terjadi, aku dibuang seperti sampah! Tapi ternyata yang terpikir dalam otakku adalah apakah aku dimasa lalu juga pernah memperlakukan  pacarku seperti itu juga? Jika pernah, berarti aku memang pantas mendapat balasannya. Karma?

“Itu proses Mon. Saat ini kamu jadi kepompong dalam siklus hidupmu, berat. Ini jalan yang harus kamu lalui, ini hadiah Mon... Kau tau Mon? Tak akan ada manusia ‘kuat’ tanpa adanya cobaan :)” begitu kata seorang teman curhatku.

Baik, sudah kuedit sekarang, tak lagi kunamai karma tapi hadiah. Iya, ini aku anggap sebuah hadiah untukku. Agar aku tidak semena-mena lagi terhadap perasaan orang lain. Hadiah untukku agar lebih dewasa lagi.

Sedikit sakit memang, terasa ada yang hilang, tapi tak ada amarah, aku tak pernah menyalahkan siapapun tentang ini, tidak juga dia, tidak juga aku sendiri. Tetapi semua ini kuanggap sebagai penampar diriku sendiri agar lebih sadar, agar aku kapok mungkin. Agar disuatu saat nanti tidak lagi seenaknya memperlakukan perasaaan orang lain yang sudah tulus benar-benar mencintaiku.

Aku belajar dari hadiah ini J

Terima kasih untuk seorang yang sudah melepasku tanpa satu katapun, terima kasih juga untuk seorang teman yang selalu bisa mengingatkanku bahwa selama aku masih berpijak di bumi ini, maka cobaan akan selalu menempa agar diri semakin dewasa.

Aku belajar lagi sekarang J


Sejuta kata maaf yang terdalam dari hatiku juga untuk semua orang yang dimasa lalu pernah aku sakiti. Aku jahat ya? Maaf...




Tuesday, May 6, 2014

Kunamai Patah Hati

Hari ini dia datang lagi, jurstru setelah aku memutuskan untuk tidak lagi menemuinya. Mengetuk pintu kamar kostku membawa seikat bunga mawar juga bujuk rayuan agar aku membukakan pintu. Aku tetap ditempatku tak bergeming memandangi serakan poto-poto yang telah kurobek-robek semua. Tidakkah kehidupanku terlalu ringan untuk aku robek juga?

Kuabaikan ketukan di pintu tersebut hingga tidak terdengar lagi suara dari luar. Dan aku kembali mulai tenggelam dalam duniaku. Duniaku yang dulu, dimana aku begitu merasa sangat berharga. Dunia yang penuh dengan kebersahajaan, dunia yang hanya seluas lingkup kamar namun begitu bermakna. Dunia yang sempat aku tinggalkan, tak kusentuh karena aku terlalu sibuk berlari di luar dan terlalu sibuk memenuhi ephoria yang tiada arti.


Kubuka lagi leptopku yang mulai berdebu dan dingin, tak lagi sehangat dulu. Mulai kuceraikan kenyataan yang pahit tak seindah angan-angan dan mulai kucipta kembali khayalan bernama novel. Dalam ketikan pertama kujuduli novelku ini PATAH HATI.





Aku Ingin Menulis Dear Diary

Malam ini dengan berteman bulan sabit yang memancarkan cahaya keemasan di langit aku ingin mengetik isi hatiku. Sepertinya sangat jarang aku bercerita tentang kisah cinta dalam diary onlen ini. Atau aku menuliskannya dengan berpuisi? Tidak pernah gamblang aku bercerita, tapi kamu tahu? aku hanya manusia biasa.

Jadi, biarkan aku menulis dear diary.
Dengan suara lagu D'Masiv yang Apa Salahku keluar menusuk-nusuk gendang telingaku melalui hetset, rupanya cukup menciptakan suasana melow. Lagu ini cukup mewakili, diantara kata 'kamu' yang terbaca untuk diriku sendiri, dalam dimensi masa saat itu dan memang untuk 'kamu' yang memang benar-benar kamu dalam dimensi masa sekarang. Mungkin ini karma. Aku yang setiap dalam masalah cinta pasti selalu meremehkan perasaan orang lain. Sekarang dua kali aku harus diperlalukan oleh hal yang sama. Dua kali oleh orang yang tak benar-benar masuk kedalam hatiku, tapi kenapa bisa menyakitiku? Seharusnya jika tidak pernah aku cintai, aku akan santai saja, tidak akan mengefek pada perasaan kan? Tapi mengapa begini?

Dua kali aku dipecundangi hanya karena masalah orang tua mereka. Dalam sebuah hubungan berpacaran, jika memang tidak ingin mengaitkan orang tua kalian, seharusnya tidak perlu membuat hubungan tidak menyenangkan karena itu. Tiba-tiba menarik diri dari aku, menjadi tertutup lalu saat aku tahu penyebabnya adalah masalah keluarga kalian, lalu apa salahku? Kalian tidak ingin bercerita, tapi membuat seolah aku seperti pecundang yang tidak pantas mendengar cerita tentang kondisi keluargamu itu!!! Kalo memang tidak benar-benar ingin membuat aku mengetahui masalah itu, sebaiknya bisa seperti biasa, jangan beri aku tahu!!!!! Jangan buat aku seperti pecundang, tapi sekarang aku dua kali merasakan itu. Oke fine setidaknya aku tidak pernah sukses menyerahkan hatiku pada kalian berdua. Karena meskipun memang sakit tapi hatiku tetap berada ditempatnya semula, sama selama setahun ini.

Jika dengan yang dulu aku mengatakan "kita putus saja sayang" kali ini bahkan tanpa aku harus mengatakan itu rasanya seorang yang selalu bilang cinta ke aku tersebut sudah dengan sendirinya menghilang dari kehidupanku. Dan menyisakan satu sebab yang sama "masalah keluarga" WTF!!!!!!

Biantang malam dan juga kelip-kelip lampu pesawat yang berada diantaranya, bisakah kalian membuatku untuk tidak putus asa seperti ini? Tersangkut pada hati yang sama, selama setahun sekarang. Gagal move on dua kali hahahaa.

Yah aku anggap saja dia yang masih berstatus pacar difacebookku sudah benar-benar tidak menginginkanku lagi, percuma!

Diary? apa kamu bingung dengan tulisanku kali ini? Aku memang sedang tidak ingin terjerat EYD ataupun menulis dengan sudut pandang yang baik dan benar, aku hanya ingin mengetikkan apa yang ada dalam hatiku. Tapi jika ternyata membingungkan seperti benang kusut seperti itu pastilah isi hatiku juga sedang seperti itu.

Dalam tulisanku ini intinya satu, hubungan berpacaranku kembali bermasalah. Sebenarnya tidak sepenuhnya benar jika penyebabnya karena dalam hatiku masih ada satu nama sama yang tidak pernah bisa kuubah. Namun juga karena pihak pacarku yang juga memberikan 'virus penyakit' tersebut. Menyeret masalah keluarganya dalam hubungan ini, sebenarnya aku tidak pernah melarang. Namun hanya memotong 'virus' tersebut hanya sebatas judul 'masalah keluar' tanpa memberikan seluruhnya bagaimana cerita yang sebenarnya. Membuat aku semakin seperti pecundang!!! Dan dua kali aku merasakan ini, dibuat tidak enak karena masalah tersebut. Jika tidak benar-benar ingin bercerita seharusnya tidak perlu membuat hubungan menjadi tidak enak dan lebih bagunya lagi tidak perlu mebuat aku tahu mengenai itu. Cukup kalian simpan sendiri saja, tanpa harus melibatkan hubungan ini. PAHAM???

Aku tidak tahu sekarang harus bagaimana, setidaknya aku sudah berusaha memperbaiki, namun jika yang diperbaiki hanya mengabaikan. Ya sudah, aku bisa apa lagi? Aku cukup capek untuk memikirkan banyak hal sedangkan yang ini tidak ingin aku pikirkan.

Satu yang aku tahu sekarang, AKU TIDAK LAGI INGIN PACARAN.




Tuesday, April 29, 2014

Berteman Kopi Aku Berbagi Mimpi


Kopi, ketika rasa pahitnya menyakiti lambungku
Ketika pikir yang ku ukir tak jua menggenapi tugas sejarahku
Ketika pagi menyapih sepi dengan suara detik jam dinding
Yang surut termakan angin atau mungkin dingin
Karena pagi menyusup begitu tiba-tiba
Meringkus malam yang kelam
Menjadikan pagi semakin pucat pasi
Akupun merasakannya
Karena bukan yang pertama
Ditingkahi kopi dalam seplastik kopi bersedotan duri
Dan pagi ini berteman kopi aku berbagi mimpi


Pukul 03,33
Semarang, 28 April 2014


Monday, April 28, 2014

Ombak Banyu



Terasa mati dalam cengkraman hiruk-pikuk gemerlap malam yang mengukungku untuk mendekapnya. Handuk kecil kumal berbau keringatku, yang setiap malam menyeka tiap tetes air dari kerja kerasku. Lampu-lampu gemerlap merah, biru, kuning sampai entah warna yang tak begitu bernama saling bergantian berputar. Memberikan semarak pada wahana permainan dimana tempatku mengais rupiah demi rupiah. Mereka menyebutnya Ombak Banyu, aku sendiri tidak begitu paham bagaimana menjelaskannya. Salah satu wahana permainan yang mengisi Pasar Malam ini tergolong masih tradisional. Karena tanpa bantuan mesin bermotor, hanya dengan bertenaga manusia dalam menggerakkan permainan ini. Kami bersama-sama mendorong memutar agar Ombak Banyu dapat berputar, dengan banyaknya orang-orang yang menaikinya sudah jelas dibutuhkan tenaga ekstra.


Sudah sekitar pukul dua pagi, pasar malam sudah semakin sepi. Beberapa teman yang juga bekerja pada pasar malam ini sudah terlelap terbuai mimpi dalam rumah-rumahan triplek sekali jadi yang mereka buat sendiri. Pasti sudah sangat lelah hingga tidur mereka begitu lelap. Berbagai suara ruih yang sudah sejak sore terdengar tak lagi ada seperti tiba-tiba ditelan oleh samudra dasar laut atau masuk pada ruang kedap suara.


Kurebahkan badanku pada kursi panjang, kursi dari kayu ini biasanya dipakai duduk oleh orang tua yang menunggu anak mereka. Sambil tersenyum melambaikan tangan pada anak-anak mereka yang tertawa menaiki Ombak Banyu. Dari kejauhan kulihat bosku menggenggam sebilah kapak yang biasanya dia gunakan untuk membantu membangun rumah-rumahan tripleknya. Kulihat ada yang aneh dari wajahnya, sambil mengahampiriku hampir saja dia melayangkan kapaknya pada kepalaku, dengan marah ia berkata “Kowe karo cah omah setan wingi bar mabuk terus merkosa bojoku tho? Ngakuo!!!” Lalu tiba-tiba gelap.


Pagi nan dingin kutemukan diriku sendiri basah dalam sebuah sumur yang sudah kering, gelap dan kotor, sempit aku meringkuk tak dapat bergerak. Kenapa aku tiba-tiba berpindah tempat? Itu yang ada dalam pikiranku, ingin aku berteriak minta tolong siapapun yang ada di atas, tapi suara seakan tercekat dalam tenggorokanku. Tak ada satupun suara yang mampu aku keluarkan. Kulihat kesamping, tubuh dan kepalaku sudah tak lagi bersatu.





NB: Maaf, aku masih belum mampu mengejutkan dengan sebuah ending yang bagus. Saat sebuah cerita yang harusnya mampu bertahan dalam beberapa halaman malah kuaborsi, dan beginilah hasilnya. Karya prematur karena lahir belum pada waktunya mungkin. Silahkan dilanjutkan bagi yang terusik imajinasinya :)




Ekstrimnya Dieng Wonosobo


Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo, keindahan yang begitu menakjubkan namun juga memberikan pengalaman yang tak mudah untuk ku lupakan.
Karena untuk mencapai tempat tersebut harus melewati berbagai tantangan.


Diawali dengan kumpul di depan PKM FIS UNNES, karena tujuan kita ke Dieng adalah untuk Pelantikan Exsara Angkatan ke-5
Naik motor dengan berboncengan menembus panas yang berganti hujan saat motor memasuki Temanggung.


Setelah sesaat berhenti di Masjid Agung Temanggung yang berada di sisi Alun-alun Kota Temanggung, untuk melaksanakan sholat dan inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota kelahiran idolaku, Obiet :*


Dan tujuan awal alias yang pertama kita kunjungi adalah Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung. Sebuah situs yang katanya luasnya melebihi Candi Borobudur.
Situs yang masih juga belum selesai tuntas digali alias masih dalam proses.



Dengan berselimut kabut yang cukup tebal, namun ternyata kabut dalam hatiku jauh lebih tebal. Memberikan efek gigil pada diri, membuatku malas untuk mengeksplore diri, teringat kala itu memang hatiku sedang tidak karuan, proses membelakangi apa yang selama ini hatiku selalu tatap.


Tidak banyak poto tentang aku, benar-benar tidak sedang mood berpoto.
Keadaan diperjalanan sekaligus kondisi perasaan yang cukup mematikan semangat dan menyurutkan setiap hasrat narsis.
Ekstrimnya cuaca saat akan mencapai Dieng, dengan hujan yang turun sepanjang waktu.
Mantel pun tak cukup membuat untuk membuat tubuh tetap kering, karena motor yang harus dipacu kencang menembus lebat hujan.
Ditambah dengan jalan yang naik turun berkelok-kelok ala pegunungan.
Dan inilah dingin yang tak mampu untuk kugambarkan.


Namun juga sebanding dengan keindahan yang diberikan di Puncak Sikunir, Dieng.
Disinilah kami dilantik sebagai formalitas kalau kami telah benar-benar menjadi keluarga Exsara.



Dikalungi sleyer merah oleh ketua Exsara sebagai tanda bukti bahwa aku telah benar-benar menjadi anggota keluarga Exsara. Sebagai formalitas, karena bahkan jauh sebelum itu juga aku sudah diterima sebagai keluarga.


Merasakan suka duka bersama, pada saat itu, harus melewati rasa dingin yang luar biasa karena suhu yang bisa mencapai -0 derajat ditambah baju yang basah terkena hujan.
Tidur saling berdesakan, berebutan tempat hingga memunculkan keegoisan individu dari anggota baru, memperoleh bentakan jam 2 pagi.
Memakai fasilitas yang luar biasa busuknya (wc berderet tanpa air)
Penginapan yang sempit juga berdesakan namun membuat hangat.
Juga banyak lagi pengalaman yang menyakitkan sekaligus menyenangkan saat itu.

Selesai dengan penderitaan yang menyenangkan di Dieng Wonosobo, perjalanan pun dilanjut ke Banjarnegara.


Tidak ada penjelasan tentang candi-candi di Kabupaten Gilar-Gilar ini, jadi tidak banyak yang aku tahu. Disana kami hanya berfoto-foto ria saja.
Akupun sudah bilang diawal bahwa tidak banyak berpoto dalam perjalan pada saat itu.


Ternyata perjalan memang benar-benar ekstrim, hingga saat perjalanan pulang banyak sekali kejadian tak terduga yang untunglah tidak sampai membuat temanku kehilangan nyawa. (bagaimana ya memperhalusnya)
Intinya temanku banyak yang mendapat musibah saat perjalan pulang.
Aku sendiri malah merasa mati dalam perjalanan, karena menggendong tas super besar yang biasanya dipakai oleh pendaki, yaitu tas carrier milik teman.
Berat sekali, sampai harus berkali-kali aku minta berhenti untuk melegakan sedikit punggungku. Sungguh perjuangan yang tiada akhir waktu itu.
Tiap kali melewati jalan menanjak, tubuh serasa ditarik kebelakang, namun aku tetap harus menahan.
Konyol pasti kalau aku terjatuh dari boncengan sepeda motor.

Hingga sampai kampus dan kumasukan semua pengalaman ini menjadi kenangan yang tak hanya menyenangkan tapi juga menyakitkan. Nano nano rasanya.


Sunday, April 27, 2014

Aku Tidak Ikhlas

Apa itu IKHLAS? Sebuah perasaan yang memperingan hati kita dalam berbagai urusan. Sebuah kata yang mampu memberikan kita ketentraman batin. Pembahasan ini membuatku teringat pada buku LKS ku jaman SMA dulu, dibagian belakang terdapat sebuah essay terdiri dari beberapa paragraf. Aku tidak hafal betul bagaimana isinya, tapi aku selalu ingat inti dari essay tersebut yang mengatakan bahwa ikhlas itu seperti saat kita meminjamkan sebuah pensil, bagi kita hal tersebut sangat remeh, tapi untuk orang lain yang kita pinjami ternyata sangatlah berguna. Kita tidak mengingat hal tersebut, begitu mudah kita lupakan bantuan kita untuk orang lain, karena menurut pemikiran kita; pensil tidak terlalu berharga atau biasa saja kan membantu meminjami pensil. Tapi ternyata untuk orang lain hal tersebut sangatlah bermakna lebih dari apapun, dengan kata lain bantuan kita sangat besar sekali manfaatnya untuk orang tersebut. Inilah yang dinamakan ikhlas, membantu seseorang namun kita tidak merasa kalau kita sedang membantu orang tersebut. Bukannya tak mengiat-ingat atau melupakan bantuan yang kita berikan, namun kita sendiri tidak sadar kalo kita membantu. Seperti itulah ikhlas!

Lain halnya jika kita memberikan bantuan lalu kita bilang "aku ikhlas kog" tapi setelah itu kita mengingat bantuan kita tersebut, memasukannya dalam sebuah list perbuatan baik. Ikhlas? dalam kasus yang ini GAGAL!

Terlebih aktivitas yang dinamai menolong atau membantu orang miskin seperti yang dilakukan oleh selebritis-selebritis ibu kota, minta disorot media, menuliskannya dalam majalah, sekedar menjadi status di facebook atau kicauan-kicauan sok merdu dalam twitter. Sudah jelas yang seperti itu memiliki secuil unsur pamer, lalu dimana letak keikhlasnnya? Mungkin iya bantuannya sangat berguna bagi orang lain, tapi ternyata lama-kelamaan bisa merusak hati.

Sebenarnya bukan ini yang ingin aku tulis pada diary onlenku saat ini, tapi anggap saja sebagiai prakata mungkin.


Malam ini aku begitu gusar, hati terasa kacau, pikiran kusut tak menentu. Yang ada hanya emosi, ingin marah tapi entah harus bagaimana, aku bahkan bingung harus bagaimana untuk melampiaskan semua yang menyesak dalam dada. Hasilnya aku hanya bisa berjalan ditengah malam sambil menitikan air mata, hingga sampai kost tangisku sudah pecah. Inilah mungkin pelampiasaanku, dengan menangis agar lega semua yang bergulung-gulung tak tentu dalam dada. Inilah yang kubisa ; menangis!

Karena yang selalu kuyakini, semua yang berawal dari marah pasti berakhir dengan malu. Jadi, untuk marah aku tidak mampu maka menangislah yang akhirnya kudapati.

Diawal kutanya sendiri mengenai ikhlas, karena mungkin dalam kasusku hari ini yang memuat semua masalah dan ketika kutelusuri ujungnya ternyata adalah karena aku tak mampu IKHLAS.

Aku tidak ikhlas ketika harus mengerjakan tugas kelompok tapi hanya aku sendiri yang mengerjakan.
Aku tidak ikhlas ketika harus terus-terusan dalam koneksi internet gagal karena teman sebelah menggunakan wifi gratis kampus untuk download boyband korea. Hingga aku begitu kesusahan mencari materi-materi untuk tugasku.
Aku juga tidak ikhlas ketika aku harus berjalan jauh sendiri melewati gang-gang sempit demi meminjam buku untuk mengerjakan tugas.
Aku tidak ikhlas karena aku begitu menderita dengan semua kesusahan yang aku hadapi seharian.
Aku tidak ikhlas dengan seseorang yang kunamakan teman tetapi tidak mampu aku mintai pertolongan.
Aku tidak ikhlas dengan kesendirian akut pada hari ini.
Aku tidak ikhlas ketika aku menelpon seorang yang berlabel pacar, tapi yang terdengar hanya nada sambung tanpa ada yang mengangkat telponku.
Aku tidak ikhlas karena semua smsku hanya menjadi penghuni inbox dalam hape milik pacarku tanpa ada satupun yang terbalas.
Aku tidak ikhlas dengan semua pengabaian seorang yang katanya begitu mencintaiku, tapi tak benar-benar ada untukku, aku merasa sendiri tanpa ada yang mau mendengar keluh kesahku. TAK ADA YANG DATANG!
Aku tidak ikhlas harus menjalani semua ini, bahkan untuk sekedar mengeluh aku tidak memiliki tempat???

Salahkah??? Tapi aku pikir yang seperti itu manusiawi, tapi kalo aku benar-benar salah atas perasaan yang seperti itu yah mungkin dalam pikiranku memang telah dipenuhi iblis atau setan.

Sekarang aku hanya berharap setelah semua tetes tangis ini, mampu membawaku pada ketenangan setidaknya untuk kembali berpikir rasional, karena masih banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan. Aku berharap semoga semua tetes tangis ini juga jatuh turut membawa serta seluruh ketidak-ikhlasanku pada takdir hari ini.

Seharian penuh bergulung dengan rasa bingung, dengan emosi yang mengikis rasa sabar, dengan amarah karena aku tidak ikhlas terhadap semua yang harus aku hadapi. Sekarang aku hanya ingin semua ini luruh pergi. Aku ingin menata hati.

Semoga dengan menuliskan ini juga sedikit melegakan hatiku, aku paham bukan hanya dengan marah, berteriak, makan atau membantingi barang-barang untuk dapat melampiaskan semua kekesalan agar bisa lega. Mungkin dengan menangis dan menulis juga bisa membuat lega, seperti melepaskan berton-ton beban dalam kepala. 

Ketika tiada satupun manusia yang bisa kuajak bercerita, membagi meski sekedar keluh kesah atau untuk sekedar menyandarkan kepala berlabel letih pada pundak seorang yang dinamakan teman/sahabat/pacar/keluarga. Namun ketika TAK ADA YANG DATANG, maka hanya dengan menulis diary onlen ini sajalah, semoga mampu melegakan seluruh beban.


Aku tidak ikhlas karena tak ada yang datang.


Thursday, April 24, 2014

Sehari Tanpa Internet


Sehari tanpa internet? Dalam suatu keadaan aku pernah seharian tanpa internet, yaitu saat mendaki gunung, bahkan saat itu mungkin lebih dari sehari aku tidak bersinggungan dengan yang namanya internet. Untuk sekedar komunikasi menggunakan telepon genggam saja sangat sulit jika di gunung, apalagi koneksi internet.

Namun berbeda keadaan saat kita telah turun gunung dengan kata lain kita berada kembali dalam peradaban. Abad 21 ini, sehari tanpa internet kita pasti kelimpungan. Bagi mereka yang sudah kecanduan facebook, twitter atau sosial media yang ditawarkan di internet, sehari saja tidak beremu dengan koneksi internet pasti sangatlah merasa tersiksa.


Terlebih sekarang dipermudah dengan telepon genggam yang semakin canggih, dengan aplikasi atau fitur-fitur yang beraneka ragam kegunaannya. Dunia serasa seakan digenggaman tangan saja. Dengan hanya sekali sentuh dan geser semua seakan sudah mampu kita dapatkan. 


Lalu bagaimana jika kita dituntut untuk hidup tanpa internet meskipun itu hanya untuk satu hari saja? Pasti akan sangat berat, namun bukan berarti tidak bisa. Kita mengingat masa dulu jauh sebelum ketika internet menyerang. Kita baik-baik saja pada saat itu dan jika kita ingin membuktikannya pada masa sekarang, apakah kita juga akan tetap baik-baik saja walau tanpa internet? Pertanyaan ini hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya.

Internet sesungguhnya bagai dua mata pisau, jika kita tidak bisa menggunakannya dengan bijaksana pasti akan sangat merugian baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Namun jika kita menggunakannya dengan baik, pastilah internet akan sangat membantu kehidupan kita sehari-hari. Internet berdampak sangat besar bagi kehidupan.


Dalam berkomunikasi, mencari informasi, atau bahkan hanya sekedar hiburan semua mampu kita dapatkan di internet. Jadi intinya banyak hal mampu kita lakukan dengan fasilitas dari internet. Karena begitu banyak hal yang mampu kita lakukan dengan internet maka menggunakan internet untuk hal-hal yang positif pasti akan mendetangkan berbagai manfaat bagi kehidupan. 




Sebenarnya aku ingin menulis untuk sebuah lomba menulis di Blog, tapi ternyata salah satu syarat dan ketentuan lomba tersebut yaitu isi tulisan harus menjelaskan pentingnya mengajarkan internet. Tapi ternyata bagi aku sendiri masih belum terlalu sefanatik itu pada internet, intinya aku masih belum paham betul seberapa penting internet, jadi bagaimana mau mengajarkan internert? kalo aku sendiri masih perlu diajari.

Selain itu pemenang juga diutamakan bagi pengguna telkomsel, sedangkan aku tidak menggunakan telkomsel. Intinya lomba ini bertentangan dengan apa yang aku percayai selama ini, mungkin iya promosi dari kompetisi blog ini adalah provider tersebut tetapi aku merasa tidak memiliki semangat menulis ketika harus memuji-muji sebuah nama sedangkan dalam hatiku sendiri aku tidak benar-benar menyukainya. Intinya aku tidak ingin munafik, tapi tetap aku ingin menulis, dan inilah tulisanku apa adanya. Tanpa harus terjerat oleh syarat dan ketentuan yang ada, karena mottoku menulis adalah untuk menuliskan apa yang ingin aku tulis bukannya apa yang ingin kamu baca.


Wednesday, April 23, 2014

Aku dan Dua Kelelawar

Sebuah kesepian sengit, ketika kesendirian melebarkan sayapnya dan memelukku begitu mesra. Tak tergambarkan dalam kekosongan, hanya kebisuan yang menikam dari sela-sela sayap tersebut. Seperti pada masa itu, ketika hanya dengan memandangi senja saja sudah mampu membawaku mengingat semua keterpurukan masa lalu.

Hingga sekarang kekosongan itu kembali merenggutku, membawaku pada kepingan masa lalu yang sama. Jejeran angin nan dingin yang berbentuk sebilah belati menusuki hati. Sakit!


Melangkah dengan tatapan tanpa makna, seolah hidup tanpa warna. Hanya abu-abu. Di persimpanganpun, tak menyediakan sebuah kebingungan yang berarti. Cukup dilewati dengan langkah yang tak mantap tapi tak juga goyah, hanya melangkah, langkah hampa. Mengayunkan kaki entah kemana.

Hingga senja berganti malam, berganti dengan gelap. Lampu-lampu jalan sekarang yang menggantikan tugas matahari, meski tak cukup menyinari seluruhnya, banyak sisi gelap yang tak mendapatkan sinar termasuk dalam hatiku.

Kaki tetap melangkah tanpa lelah, dan sudah entah sampai sejauh mana tak juga berpengaruh pada kesadaranku. Menghabiskan seluruh energiku sendiri, hingga aku berada pada keadaan yang berbeda. Dingin pagi dua dini hari, menidurkanku pada teras rumah seorang dokter praktek. Meringkuk dalam pelukan rasa sakit yang aku sendiri sampai sekarang masih belum mampu menjelaskannya seperti apa.

Teras yang begitu dingin namun bersih, hanya sedikit terdapat sisa-sisa remah rokok, kugulung saja dengan sekali tiup. Aku ingin merebahkan seluruh lelah batin yang baru pertama ini kurasakan, masih asing buatku. Dalam tidur aku tetap terjaga, di depanku jalan raya masih dilalui kendaraan satu-satu. Derunya membuat riuh namun cukup membantu rasa was-was yang sekarang mulai timbul kembali. Pertanda sedikit kesadaranku sudah mulai kembali.

Kehidupan buta sang pagi ternyata juga menghadirkanku pada dua kelelawar yang dikedua kakinya terdapat rantai koyak. Menghampiriku dengan sejuta pertanyaan yang kujawab dengan kalimat-kalimat palsu dari setiap cerita di buku cerpenku. Jawaban palsu yang kucuri sendiri tanpa sadar.

Namun dari sini aku sadar, aku tak lagi menghirup embun dini hari sendiri. Kesadaran akan dinginnya pagi pinggir jalan raya membuat kabut yang gigil pada diri. Kesadaran yang juga membuatku mengajukan keinginan untuk ikut terbang bersama kedua kelelawar tersebut. Satu kelelawar yang cerewet dan satunya kelelawar yang pendiam.

Bersama menyusuri pinggir jalan dimana pintu-pintu pertokoan masih rapat bergembok keangkuhan. Kulihat kedua kelelawar tersebut selalu tertunduk, padahal menurutku mereka adalah sebuah kebebasan yang mampu melihat langit jauh lebih luas dari siapapun. Dengan kaki yang tersoek mereka akan merendah memunguti setiap puntung rokok yang masih lumayan untuk mereka hisap. Menekurinya atau mengasis-ngaisnya dengan kaki, seperti ayam yang mencari beras yang tercecer di tanah.

Masih di pinggir jalan raya, kedua kelelawar tersebut mengajakku berhenti disebuah pohon rindang. Membuatku teringat akan pelajaran sekolahku saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar dulu. Ketika hari masih gelap karena belum mendapat sinar matahari, sebaiknya jangan berada di bawah pohon karena pohon mengeluarkan karbondioksida yang tidak baik bagi tubuh. Begitu yang selalu aku anuti tapi saat ini persetanlah dengan yang seperti itu, aku sendiri bahkan telah meninggalkan kewarasanku jauh di belakang sana.

Kelelawar yang pendiam membeli dua cangir kopi setelah menawariku secangkir juga namun kutolak, aku masih peduli dengan perut kosong yang hanya dihuni dengan penyakit magh ini. Kulihat dia membayar dengan tumpukan receh yang dia hitung dengan penuh ketelitian agar tak ada satu recehpun kekeliruan. Receh-receh yang begitu berharga bagi mereka. Dan satu kelelawar yang lainnya mengajakku bercerita tentang gelap kehidupan, tentang kelam matahari yang tak pernah mereka jenguk dan memilih malam sebagai satu-satunya waktu yang mereka datangi. Memilih gelap hitam sebagai warna kehidupan berteman penderitaan namun begitu mesra dengan kebebasan.

Sepertinya pohon yang rindang ini juga menjadi tempat parkir bagi deretan taksi-taksi dengan sopirnya yang terlelap dikursi belakang setir. Juga pedagang-pedagang kaki lima, salah satunya yang sedang dihinggapi kelelawar tersebut. Disudut lain terdapat genangan, yang kata kelelawar itu adalah genangan tangis para pengemis dan gelandangan yang ditusuki nasib. Jadi itu adalah air mata??? Sebanyak itu dan lanjutnya lagi, air mata itu tak pernah kering meskipun diminum oleh trilyunan koruptor yang memang setiap harinya meminum air tangis tersebut dengan rakus.

Terlihat ada beberapa kelelawar lain yang menepi dan kedua kelalawar tadi menyapa mereka. Ada kelalawar kecil yang masih baru belajar terbang dan kelalawar yang terlihat begitu bersih namun sedang mendekap seekor kupu-kupu yang basah dengan sumpah serapah. Kupu-kupu cantik bergincu birahi, berbau anggur dan sayapnya yang tipis kecil berwarna merah darah mengundang gairah. Gairah untuk para lintah, ular, cacing tanah, vampir bahkan tak terkecuali untuk para kelalawar ini. Banyak yang ingin mendekap kupu-kupu liar ini seliar apapun iya menggigit dan menyalak tak ubahnya anjing peliharaan tetanggaku.

Aku hanya mengamati tingkah polah mereka, di sudut akar pohon rindang tersebut. Sedikit kubentangkan jarak yang bernama kewaspadaan. Meski logikaku tak juga menjeritkan kata takut.

Kupu-kupu tersebut menawariku madu yang berbungkus es krim, dingin pagi pemberi gigil membuatku mengatakan tidak usah. Dan penolakanku membuat kupu-kupu yang berada di depanku dengan nafas anggur ini begitu marah. Ia lemparkan madu kesemak-semak berduri. Aku terdiam kaget, begitu liarnya ia hingga tiada lagi anggun yang tersisa.

Beruntung tak berapa lama keliaran tingkah polah kupu-kupu tersebut tak lagi terlihat olehku karena diusir oleh seekor babi berseragam, ternyata saat seperti ini babi seperti itu berguna juga. Babi berperut gendut yang biasanya hanya baris-berbaris memintai isi dompet para pengguna jalan raya. Meskipun begitu tak juga mengubah ketidak-sukaanku pada para babi berperut gendut dan berseragam rapi, aku tetap mengutuki mereka satu persatu.

Aku dan kedua kelelawar kembali menyusuri jalan raya. Dikejauhan sayup terdengar suara Adzan Subuh yang bergema membelah semesta pagi. Yang kupikir akan membuyarkanku dan menyadarkanku bahwa aku sedang berada ditempat tidur, namun tidak, aku tetap berada di pinggir jalan raya. Ini bukan mimpi, Nam!



Melewati pinggiran pasar yang sudah riuh ramai dengan tumpukan sayur-mayur berlebel harapan. Dengan manusia-manusia yang beraneka melakukan transaksi jual-beli. Kelelawar yang cerewet tersebut menyapa dengan begitu ramahnya pada setiap penjual sayuran di pasar. Padahal tak satupun yang ia kenal, namun ia berharap dalam setiap sapaan yang ia berikan tersebut akan mendapat sepotong senyuman.

Menelusuri jalan hingga terhenti disebuah perempatan lampu merah dan disinilah mereka mengajakku menumpang pada mobil yang lewat. Namun sebelum memperoleh tumpangan tersebut aku berdiri menunggu sambil bersandar pada tembok. Tak terasa dalam berdiriku aku bisa begitu mengantuk dan sebentar-sebentar tertidur dalam beberapa detik, sambil tetap berdiri. Saking mengantuknya inilah aku yang tertidur sambil berdiri menunggui salah satu kelelawar yang sedang mencari tumpangan.

Begitu mendapat tumpangan mobil bak terbuka, segera kunaiki bersama kedua kelelawar tersebut. Kelelawar yang cerewet tetap saja bercerita mengenai kehidupannya sedangkan kelelawar yang pendiam hanya bernyanyi memainkan alat musik kentrung yang selalu ia bawa kamanapun ia pergi. Karena itulah harta berharga yang ia miliki begitu katanya. Lagu-lagu yang dinyanyikan tak terdengar asing buatku, lagu milik Marjinal dan akhirnya aku ikut bernyanyi juga.

Kerudung biru dongker yang kukenakan tertiup angin kerena mobil berjalan begitu kencang. Beliung anggun yang mengibarkannya membuatku takut kalo-kalo kerudungku akan ikut terbang, kupegangi begitu eret. Kencangnya kecepatan mobil juga membuatku susah melihat, namun aku tetap ingin melihat, pemandangan sepanjang jalan raya yang mulai terang oleh matahari.

Hingga mobil bak terbuka tumpangan suka rela menurunkanku dan kedua kelelawar tersebut pada perempatan lampu merah depan swalayan yang masih belum buka. Kedua kelelawar itu menyuruhku menunggui mereka di pinggir jalan, sedangkan mereka di bawah lampu lalu lintas memainkan berbagai lagu Marjinal agar memperoleh receh-receh yang mereka sukai. Aku menurut saja, badan yang lelah membuatku tertidur di pos ojek yang sepagi ini masih juga sepi. Namun tetap sama aku tertidur sambil terjaga!

Aku tak lagi berharap akan bermimpi karena perjalanan dengan kedua kelelawar tersebut memberikanku pengalaman yang jauh lebih berwarna daripada mimpi. Terbangung dengan sebungkus nasi telur dan sayur, mereka juga menyodoriku sekotak air mineral gelas. Tergelitik dengan penolakan karena rasa malu yang mengusikku, namun mereka tetap memaksa agar kuterima semua makanan tersebut.

Tidak lapar begitu tiba-tiba yang kurasa, namun tidak kuasa juga kalau tetap kutolak pemberian yang benar-benar tulus dari mereka. Selesai menghabiskan sebungkus nasi mereka kembali mengumpulkan receh sedangkan aku tetap mengamati mereka dari pinggir. Sambil sibuk berpikir tentang banyak hal.

Terhenti ketika matahari mulai meninggi, kedua kelelawar tersebut berubah pucat menghampiriku. Kelalawar yang selalu cerewet mengeryipkan mata tanda mengantuk, yang satunya batuk-batuk. Aku diajak naik angkot dan kembali kulihat kelelawar yang pendiam menyiapkan recehnya dengan hitungan yang begitu teliti untuk membayar angkot.

Berhenti disebuah pertigaan besar, mereka turun dan aku mengikutinya, mereka tak lagi terbang, melangkah perlahan sempoyongan padahal tidak mabuk. Mereka bilang mereka bisa mati kepanasan, akupun melihat mereka semakin pucat. Disepanjang jalan yang terlewati sudah ramai orang-orang dengan kemonotonan aktivitas mereka. Setiap dari kedua belah mata mereka melihatku yang tersoek berjalan dengan dua ekor kelelawar. Ada yang melihat secara langsung lalu bergumam entah apa, ada yang hanya melihat secuil dari ekor mata mereka. Namun aku tahu mereka pasti jejali dengan pikiran yang tak mampu kuterka, begitupun dengan kedua kelelawar ini, mereka pasti juga menyadarinya. Namun aku sudah sangat tidak peduli akan pikiran siapapun, aku sendiri sedang tidak ingin berpikir.

Masuk pada sebuah gang dimana rumah-rumah minimalis berderet berdempet-dempet. Lalu berhenti pada sebuah rumah dengan lorong kecil dimana terdapat sofa butut di terasnya. Kedua kelelawar tersebut masuk, aku hanya duduk di sofa penghuni teras. Dari dalam keluar si pemilik rumah, yaitu sepasang lebah hitam yang begitu penasaran padaku. Kelelawar yang cerewet keluar bersama kepulan asap putih diikuti dengan kelalawar yang satunya, mereka semua mempersilahkanku masuk pada sebuah ruangan yang terbuat dari triplek. Padahal sebelumnya aku pikir ini akan seperti rumah lebah.

Terdapat banyak gambar rajah beserta peralatan rajah murahan yang menghuni rumah lebah tersebut. Serakan bungkus obat juga tertimbun disudut ruangan, beberapa masih terdapat pil putih. Sepasang lebah yang lain juga menghuni ruangan tersebut, lalu ada anak-anak juga nenek-nenek. Aku berpikir tentang lingkungan yang mereka huni, tentang masa depan dan masa lalu yang mereka miliki. Benyak hal yang berkerumun diotakku, kali ini aku berpikir dan mengarang sendiri jawabannya. Aku berada di dunia dongengkah? Dongeng yang sering masuk TV, dalam acara berita kriminal mungkin. Entah!



Aku terkaget, lebah yang sedang tertidur karena minum obat tersebut ternyata bisa bicara atau lebih tepatnya berdengung, sedangkan lebah cantik pasangannya sedang menatap cermin, dari kotak ajaibnya dia mampu menyulap dirinya berubah menjadi kupu-kupu mempesona. Aku akui sungguh cantik paras kupu-kupu yang satu ini, namun ternyata berbahaya! Dia memiliki bisa disela-sela sayapnya yang menakjubkan. Lalu dia terbang keluar dalam sekejap, bukannya ingin mengitari taman beraneka bunga seperti layaknya kupu-kupu lain, namun dia terbang di restoran mewah yang bahkan aku belum pernah masuk kedalamnya.

Aku kembali membentangkan jarak yang bernama kewaspadaan dan kali ini kutambahi dengan pagar pembatas. Kukurung diriku sendiri, sehingga aku hanya mampu melihat mereka dari dalam kurungan dan mengamati tingkah polah mereka tanpa mampu mereka usik.

Ketika matahari sudah benar-benar dipucuk ubun-ubun sedangkan aku sudah begitu bosan sekaligus canggung dalam keadaan diam, kuputuskan untuk pergi. Aku datang tanpa nama, aku pergi juga tanpa nama. Biar menghilang diingatan mereka, kupamiti kedua kelalawar tersebut. Berterima kasih atas recehan pengalaman yang mereka bagi kepadaku. Kupakai kembali sepatuku yang berada di luar ruangan, namun ternyata sepatuku sudah terendam air, genangan tangis, sepatuku basah oleh air mata tangis! Sepertinya tadi ada anak jalanan yang lewat. Aku tidak marah, hanya ingin pergi, melangkahkan kaki dengan sepatu yang kucangking menuju jalan raya lagi. Berjalan dipanasnya aspal jalanan tengah hari. Rasanya tak akan perlu waktu lama agar telapak kaliku melepuh. Sebentar lagi saat aku sudah sepenuhnya sadar pasti akan terasa sakit.

Kedua kelelawar tersebut ternyara juga ikut pergi namun kearah yang berlawanan denganku. Dari pinggir jalan raya kulihat mereka terbang kelangit hingga ditelan oleh gumpalan awan. Apakah mereka akan terbakar oleh matahari? Sudah aku tidak peduli.

Disisi lain aku kembali dijemput oleh kenyataan, oleh dunia nyata yang harus kulewati dengan sewaras-warasnya. Mengobati luka hati dengan guliran waktu yang terus merangkak pelan. Menyadarkanku bahwa luka lain juga ada, ditelapak kakiku! 

Jika luka lamaku terasa seperti menelan kalajengking hidup-hidup, begitu sakitnya dalam mulut, maka luka yang baru ini seperti berjalan menginjaki kayu bakar yang menyala-nyala panas. Hingga aku tertatih dalam melangkahkan kaki, namun aku tetap harus berjalan melewatinya.



Diujung langkah, kudapati sebuah kotak dan saat kutengok di dalamnya, di sana terdapat kedua kelelawar tersebut beserta dengan seluruh hal yang kutemui bersama mereka. Kotak tersebut lalu kusimpan rapi dalam kepalaku, disisi luarnya kutemukan sebuah tulisan ; Kotak Pengalaman.