Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, July 23, 2014

Tersesat Terkepung Asap Pekat

Ini belum mencapai akhir, tapi entah kenapa aku begitu ingin menulis "pada akhirnya"?
Aku berharap kesendirian dan kehampaan yang sedang kupilih ini mampu memberiku jalan yang terang. Jalan keikhlasan dalam proses pendewasaanku. Banyak hal yang kurenungi tiap kali sendiri. Banyak yang hadir dalam lamunan-lamunan atau angan-angan yang berada di atas kepalaku. Namun selain itu juga banyak memuculkan kekecewaan.

Sudah sejauh ini aku hidup, namun dengan kesendirian yang akud seperti ini sekarang aku merasa sadar aku telah berada pada banyak kesia-siaan. Banyak sekali waktu yang surut kebelakang dan itu malah mendamparkan aku pada suatu kerugian yang tak terhitung. Lalu pada titik ini aku harus berbuat apa? Sedangkan waktu yang surut kebelakang tersebut tidak mungkin akan terulang.

Sekarang aku hanya merasa kecewa, entah pada apa. Namun ketika kutelusuri itu berujung pada AKU. Kesadaran ini pada akhirnya menempatkan aku dalam suatu lingkaran dan aku terkurung disitu. Aku sadar, hal ini bukan berarti aku sedang berkubang dalam lumpur hisap. Karena aku cukup optimis aku mampu keluar dari "kesalahan", hanya aku merasa aku memang sedang tersesat terkepung dalam asap pekat. Aku belum mampu keluar. Saat aku melihat setitik cahaya, aku memang menghampirinya dengan harapan dapat keluar dari asap ini. Tapi sia-sia kaki yang kuajak pergi malah berbalik kembali. Cahaya itu kuabaikan.

Maka semua itu membuat aku selalu berpikir, setiap kali aku melihat orang lain mendapatkan kebahagiyaan dan aku juga menginginkan kebahagiyaan itu. Yang terpikir bahwa : AKU TIDAK PANTAS. Aku tidak pantas mengharapkan kebahagiyaan seperti orang lain, karena aku sendiri sedang berada dalam asap pekat yang ternyata diam-diam aku nikmati. Lalu akan seperti apa kebahagiyaan yang aku ingin? Yang jelas aku merasa tidak perlu menginginkan kebahagiyaan seperti mereka. Karena seharusnya yang aku lakukan adalah mencari kembali cahaya agar mampu keluar dari pekatnya asap. Itulah yang selalu terpikir.

Aku mengerti, karena sebenarnya setiap individu memiliki jatah kebahagiyaannya masing-masing. Jadi, aku tidak perlu ingin atau bahkan iri pada orang lain. Hanya saja memang benar sekarang ini aku begitu merasa merugi dengan banyaknya umur yang kubuang dengan terus berada pada kepulan asap pekat yang kucipta ini. Aku harus bagaimana?

Allah, aku percaya Engkau, aku begitu menunggu cahaya-Mu Allah. Cahaya yang tak kan kuabaikan lagi. Maka kuatkan aku, kuatkan langkahku. Aku ingin berlari dari ketersesatan ini. Aku ingin berada pada cahaya terang dimana tempat tersebut berisi banyak kebahagiyaan yang Kau ridhoi.

Aku ingin KEMBALI PANTAS mengharap suatu kebahagiyaan seperti mereka. Kebahagiyaan yang tercipta atas penghargaan dari apa yang benar.

Untuk saat ini, semoga langkah kecil menjauh dari kepekatan asap yang melilitku mampu menjadi penerang. Dengan langkah demi langkah aku akan mencoba menjauh. Allah, sungguh aku butuh Engkau.


Semarang, 22 Juli 2014


Thursday, July 10, 2014

Meramu Sepi

Pagi ini aku digenangi keriuhan, diantara derai suara-suara tinggi rendah dari sekitarku. Aku mulai merasa bising, mulai merasa muak. Bersama daun-daun juga segala macam racikan yang kuabaikan, aku menyingkir.
Mencari sepi di sudut ruangan yang dipenuhi graffity. Menatap anggun kegelapan yang merangkulku dengan ramah. Aku balas merangkulnya. Berharap menemukan sepi yang kucari.

Hanya diam dan bersandar menggamit sejengkal khayal yang terkulai lelah menungguku. Maafkan aku sambil kuusap rambut sang khayal yang berwarna-warni. Maaf telah mengabaikanmu selama ini. Dia balas tersenyum lalu dengan lembut bertanya mengapa aku mencarinya sepagi ini. Aku pun hanya menghela nafas. Mencari sang sepi yang lagi-lagi tak kutemukan juga. Aku hanya diam. Dari situ khayalanku mengerti. Khayalpun cukup diam dan merangkulku juga.


Aku tetap berada di tempatku, dari sudut ruangan yang gelap ini mampu kulihat sekitar. Sepi yang kucari tiba-tiba masuk saat sang khayal mengelar layar bioskop masa lalu. Aku terpaku. Dalam gelap, bersama sepi menatap layar yang mereka namai kenangan.

Dan akhirnya pun aku bersantai menikmati suguhan kenangan yang menghadirkan banyak perasaan. Teriris rasannya saat menatap seorang anak yang mendiami kerinduan sedang rindunya jelas tak kan terbalas. Lalu merasakan senang saat melihat anak tersebut mulai bisa menyusul teman-temannya naik ke pohon jambu, sambil menangkapi kupu-kupu berwarna kuning. Ikut merasakan malu saat sang anak dikejar-kejar anjing tetangga sampai berlari megelilingi orang yang sedang memiliki hajat hingga ditertawakan oleh banyak orang. Setelah itu layar bioskop yang sedari tadi menemaniku melihat masa kecil tersebut tiba-tiba menghadirkan sederet gambar yang berselang-seling. Meraup segala hal yang menyilaukan mata.

Dengan tanganku kututupi mataku karena cukup sakit melihat gambar silau yang malah semakin tidak jelas. Aku menyerah kukatakan pada kenangan yang kembali menjelma menjadi khayal. Dia menatapku heran bercampur kasihan. Akupun hanya diam, mencari-cari selendang yang telah kulepas diawal, namun tak kutemukan juga. Padahal dengan selendang itu aku pasti bisa merasa lebih tenang.

Mulai kujambaki rambutku, dimana sebenarnya selendangku. Aku benar-benar membutuhkannya. Beberapa helai rambutku jatuh, sebagian lagi melekat disela-sela jariku. Kuhitungi semua, lalu tiba-tiba ada yang membisiki telingaku "bahkan kamu merugi lebih banyak dari rambut yang kau hitung." Suara itu menggema di seluruh ruangan. Aku mulai mengerti, karena memang hanya aku yang mengerti.

Apakah aku harus menangisinya lagi? Apakah jeratan ini tak mampu kulawan? Iya aku ketagihan? Tidak aku bisa mengabaikannya! Akan kulawan!

Aku lelah, riuh redah kenyataan kembali memojokanku. Oh tidak aku salah, kenyataan malah menggandengku. Membantuku berdiri.

Aku berdiri dengan titik-titik air yang kusapu dari pipi. Melangkah meninggalkan ruangan yang kembali kukunci. Kumasukan kunci tersebut ke dalam rak yang bertumpuk begitu tinggi, tapi ternyata aku tidak mampu menggapainya. Jadi kuputuskan untuk memasukannya dalam dompet saja, kelihatannya sebentar lagi aku juga akan memasuki ruangan itu lagi. Sekedar memenuhi graffity setengah jadi atau kembali meramu sepi.

Ruangan lain sesungguhnya bahkan lebih sepi, tapi ruangan ini spesial, karena hanya aku yang mampu memasukinya. Kujejalkan keberanian dalam hati, lalu aku gantian menggamit kenyataan. Semoga kamu juga seramah yang kubayangkan. Aku hanya berharap itu, karena selanjutnya kamu tahu, kita akan mengalir bersama.


Sragen, 10 Juli 2014
Diantara kesibukan siang dapurku, kuramu sepi sendiri.



Tuesday, July 8, 2014

Karena Sajak, Kita Tak Berjarak


Dan kamu tahu pasak-pasak sajak lepas satu-satu

Mungkin beberapa diantaranya bersembunyi

Harus dengan hati susah payah aku panggili

Kamu tahu aku rindu bisa satu dengan sajakmu

Menjadi dalam kamu seperti dulu



Aku rindu menyemai kata satu-satu

Menjadi sajak yang kulepaskan keangkasa hatimu



Sahabat.... 
meski dengan keterbatasan yang ada

Tapi tak pernah kusangka aku bisa terproyeksi denganmu

Karena sajakmu

Yang membuatku mempesonainya

Aku kenal kamu dari sajakmu



Karena sajak, aku bisa beranjak pada kamu

Karena sajak, aku bisa berlonjak melewati keangkuhankku

Karena sajak, kita menjadi tak berjarak



Karena itu aku mulai mencari-carimu diantara sajak

Yang kembali kupanggili






Sragen, 8 Juli 2014

Di bawah bulan yang menyelami malam




Sunday, July 6, 2014

Salam Dari Hati Baru

Lama gak nulis blog, tapi kabar baiknya setelah spasi yang begitu lama ini aku kembali dengan lembaran yang memang benar-benar baru. Aku sukses melupakan "B" dengan kata lain sudah tidak lagi kucumbui nama dia lagi. Setelah 14 bulan atau setahun lebih 2 bulan nama dia bagai tatto yang tercetak permanen dalam hatiku sekarang sudah luntur. Bahkan hilang arti.



Tepatnnya malam itu, tanggal 11 Juni 2014 saat dalam keramaian konser di Padang Mahsyar. Seorang sahabat telah membuka logikaku, membuatku sadar pada kenyataan yang memang sebenar-benarnya harus kulakukan dan yang tak seharusnya terus-menerus aku lakukan. Seorang sahabat telah membuka mataku selebar-lebarnya.

Diantara banyak orang yang sedang berlonjak-lonjak menyanyi dan hingar bingar musik ska reagge, aku dan sahabatku hanya memilih duduk berdua di belakang. Menonton orang yang sedang menonton.

Satu kalimatnya yang telah meyadarkanku malam itu, juga sekaligus sukses membuat mataku pipis. Basah air mata dan ketika itu juga selalu ku pandang langit yang berbulan agar air mata tidak menetes, atau kubuang pandangku ke arah lain agar yang di sebelahku tidak tahu. Laki-laki di sebelahku ini memang jika bicara suka asal nyeplos, kadang seperti bercanda, tapi aku sudah kenal dia seperti apa. Karena itu aku paham betul meskipun yang keluar dari mulutnya seperti sebuah pisau tapi hal tersebut memang benar.

Karena itu, malam itu juga satu sentakan kesadaran yang memang kutunggu kedatangannya akhirnya muncul juga. Malam itu adalah titik akhirku mencintai "B" meskipun begitu pahit sentakan yang kuterima namun aku paham itu akan menjadi yang terbaik untuk semua. Malam itu aku mundur dengan satu titik pemberhentian. Malam itu adalah akhir.

Dan aku rasa jika ada yang benar-benar baru, maka itu adalah hatiku. Kubuka lembaran baru. Jika awalnnya nama dia tercetak spesial sekarang sudah mampu kuedit menjadi general . Hahaaa lega rasanya.
Mungkin inilah yang dinamakan batas, iya perasaan cintaku ke dia memag telah mencapai batasnya. Batas akhir. Bukan semata-mata menghilang tetapi memang saatnya terganti dengan cinta yang lain. Jadi, hati juga memiliki batas kadaluarsa??? Jadi, cinta juga harus diperbarui?? Entahlah, sebenarnya aku juga tidak terlalu paham dengan konsep tersebut. Aku hanya manusia yang seperti air dalam menjalani hidup ini, kubiarkan mengalir.


Saturday, June 7, 2014

Ono Kinjeng Mlebu Kamarku

Sore iki langit peteng ndedet koyo arep ganti ning wengi tur nganggo udan sing deres. Ora suwe soko kuwi, gluduk banter lan keclap-keclap petir wis ngiyasi langit. Suara adzan magrib krungu saut-sautan karo suara alam sing lagi gemerah.

Aku mung iso turon nglangut karo nyawang kuwi kabeh. Lawang kamar kostku sengojo ora tak tutup ben aku iso ndelok pemandangan langit mendung sing lagi njiglokne banyu soko nduwur. Senajian aku uwong'e seneng karo langit wengi mbuh koyo opo kuwi bentukane, mbuh lagi padang njingglang amargo ono mbulan purnama lan rame bintang, utawa lagi koyo ning film-film horor koyo sak iki.

Ora ono gawean sing tak lakoni. Biasane yen lagi nganggur ngene iki aku mesti dolanan leptp, yo kadang nonton film, kadang facebookan, kadang mung nulis-nulis ora jelas. Nanging amargo leptopku lagi rusak dadi aku yo mung iso koyo iki.


Moro-moro enek kijeng sing nyasar mlebu kamar kostku. Opo mergo lagi udan dadi ngiyup ning njero kamarku utowo amargo lampu sing nig njero kamarku padang dadi kinjeng kuwi tertarik. Jarene kewan jenis serangga kuwi senengane marani sing padang-padang.

Aku rasane ora pengen nggusah kijeng sing lagi mabur ning sandeke lampu. Padahal biasane yen ono kewan sing mlebu kamar, koyoto laron, walang, lan tawon wae mesti tak gusah metu. Ning ati risih nyawang. Nanging yen kewan kuwi sejenis kinjeng lan kupu mesti aku ora wani gusah.

Aku kelingan omongane mbahku ndisik, jarene yen enek kewan sejenis kinjeng lan kupu kuwi jelmaane mbah buyutku mbiyen. Sing kangen karo aku dadi marani aku. Aku kudu guyu dewe yen kelingan omongane mbahku kuwi, aku ora percoyo. Kanggoku wong sing wis mati yo mbalik karo Penciptane, ora mungkin malah dadi kewan mabur. Nanging mbok aku ora percoyo omongane mbahku, aku yo ora wani nggusah kinjeng sing mlebu kamarku. Rasane kijeng kuwi malah ngancani aku sing lagi dewekan.



Semarang, 17 Mei 2014


Tuesday, May 13, 2014

Ketika Harap Menjadi Ratap

Kau yang muncul dalam mimpiku siang tadi, membuatku enggan bangun, aku ingin terus terpejam dan berharap agar tidak terbangun dari mimpi ini. Dan Air mataku mulai menetes saat aku tersadar bahwa semua itu hanya mimpi.

Aku yang berdetik-ditik diringkus diam setelah itu, mencoba untuk terus menahan sakit yang tiba-tiba menusuk hati. Aku benci seperti ini, dilemahkan oleh cinta. Terlalu berharap tentang kamu, membuatku sakit.

Banyak pengandaian yang muncul tiap kali aku mengingat tentangmu. Semua harap yang hanya menyentuh udara disekitarmu. Tak pernah kau hiraukan. Membuatku kembali sakit. Menjadi dalam kekosongan ketika seluruh harap ini menjadi ratap.




Bud, telah setahun kamu berada dihatiku, dalam tempat yang benar-benar kokoh. Tempat yang tak pernah sukses kuotak-atik. Kamu mengendap disana. Tanpa kusadari, sudah setahun, meski aku telah setengah mati menghapusnya dan mencoba menggantinya dengan nama lain. Namun gagal berkali-kali.

Aku mulai putus asa sekarang, Bud. Terlalu sakit jika terus-terusan menimang harap akanmu. Yang aku tahu semua hanya sia belaka.

Bukannya aku tidak berusaha melupakanmu. Kamu tahu sendiri, berapa kali aku berganti status. Namun semua itu juga alpha dalam dada. Ratusan kalipun aku dan dia bertukar kata cinta tetap hatiku tak pernah se-inchi pun bergeser mendekat ke dia. Tak pernah sukses berpaling dari kamu. Sekarang aku sudah menyerah untuk berusaha melupakanmu, aku tidak akan lagi menghindar dan berpura-pura tidak mencintaimu. Karena kenyataannya tidak begitu, aku tidak akan lagi membohongi diri. Tak akan lagi berlari dari kenyataan, tapi tenang saja aku sudah berjanji untuk tidak lagi mengusikmu, cukup dari jarak yang kubentang sendiri ini saja aku melihat kamu. Bisa melihat kamu tersenyum dengan gula-gula yang menenggelamkanku. Dan semua itu sudah cukup membuatku sesak nafas namun membahagiyakan.

Dengan dibanjiri air mata juga harap yang semakin meratap, aku mingkin selamanya memang hanya mampu melihatmu, lalu dalam bisik dihati mendoakanmu. Semoga kamu selalu bahagiya, selalu mendapat yang terbaik. 

Terisak dalam diam menahan seluruh perih. Karena aku sendiri sadar, meskipun kita masuk dalam suatu ruangan yang sama, semua dapat melihat kamu mengenakan pakaian yang pantas dan sesuai sedangkan aku hanya compang-camping dan akan menjadi hinaan siapapun. Aku cukup tahu diri, Bud. Bahkan sebenarnya aku tidak lagi memiliki muka untuk sekedar menatapmu. Tapi maafkan aku, terkadang aku tidak mampu untuk tidak melirik kamu meski setelah itu aku maki diri aku sendiri. Tapi kamu tahu, cukup satu kedip mata melirikmu pun menjadi kebahagiyaan luar biasa buatku. Apa lagi yang bisa aku lakukan?

Tapi kamu tak perlu khawatir, Bud. Aku tak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi, aku tak akan pernah mengusikmu lagi. Semoga kamu selalu bahagiya, yang terbaik selalu untukmu.



Thursday, May 8, 2014

Menghansaplast Luka Hati

Dear Diary Onlenku,

Dalam kegelisahan dan rasa takut yang amat sangat ini, aku mencoba untuk terus berusaha optimis. Semoga apa yang aku takutkan tidak akan pernah terjadi.

Dalam status sendiri ini, aku juga selalu berusaha untuk tidak kesepian. Seperti sekarang dengan menjadi rutin menyapa kamu diaryku :*

Berkeluh kesah diruang diammu, curhat, sekedar berbagi risau yang tiap detiknya meringkus tarikan nafas yang kuhelakan di udara. Aku bersyukur dalam melegakan seluruh sesak yang menyesak di dada ini tak perlu dengan asap atau botol atau pil putih atau segala perusak lainnya.



Aku rasa aku tidak harus sepahit itu dalam menyikapi rasa galau ini. Galau yang kuhalau dengan berbagai cara, menulis, menonton film, menonton ulang One Piece, main game Criminal Case atau sekedar yang cukup serius dengan mengerjakan tugas. Biasanya akan terselip satu kegiatan yang dulu bisa begitu akrab denganku yaitu membaca, tapi kali ini sepertinya itu tidak begitu cocok dengan situasi sekarang. Maaf buku, padahal sederet novel, cerpen dan buku-buku Kahlil Gibran sudah bertumpuk di rak bukuku, beberapa masih rapi dengan plastiknya. Tapi hanya kuabaikan, aku belum ingin menambahi aktivitas dengan menyentuh buku. Sekarang yang ringan-ringan saja dulu.

Diary kamu tahu, aku rasa saat ini aku juga cukup menarik diri dari kerumunan teman-temanku. Maaf untuk sekarang aku memang sedang ingin sendiri. Sejenak menarik diri, sejenak sendiri.

Aku janji ini tidak akan lama, setidaknya aku masih suka bercanda dengan teman-temanku, menanggapi dan menggenapi semua tawa teman-temanku. Meskipun jika dilihat, tak pernah seintim biasanya, karena aku memang sedang tidak seperti biasanya.

Banyak hal yang tidak mampu aku ceritakan secara gamblang, biar cukup aku saja yang menyimpannya untuk ini atau kubagi dengan orang yang benar-benar kupercaya seperti sahabatku. Tidak terlalu besar isolasi diriku ini, aku cukup terbuka setidaknya dengan sahabatku.


Diary, aku tahu rumah hatimu cukup menampung sebesar apapun keluh kesahku, tapi dari situ aku juga sadar semua tidak mampu aku lampiaskan di rumah hatimu, diaryku. Contohnya saja kemarin, bahkan setelah menulis, mencoret-coreti kamu, meluapkan seluruh apa yang sedang kurasakan dan kupikirkan tetap saja aku belum puas. Setelah itu aku tetap nongkrong di warung hingga larut malam, curhat dengan sahabatku Yayun, makan mie pake telor dan meneguk secangkir kopi.

Bahkan hingga semua kesyahduan warung dirusak anak-anak Batak-pun juga tidak membuat setelah selesai makan langsung pulang. Kuiyakan saja ajakan Yayun untuk ‘mbelong’ jalan-jalan malam sejalan-jalannya sang kaki melangkah. Aku berharap bisa sejanak melupakan ‘nyesek’ yang memang lagi mampir di hidupku ini.

Meskipun hanya Sekaran-Banaran, tak seekstrim dulu sampai Sekaran-Ungaran-Banyumanik jalan kaki. Tapi melewati gang-gang kost yang sempit, gelap, dan sepi semua itu cukup bisa menghibur diri. Dengan bumbu rasa malu kalau bertemu dengan teman serombel, rasa senang bisa becanda konyol seperti aku biasanya, juga sedikit bumbu rasa takut kalau ada hantu iseng atau preman nakal. Karena jam di layar hape memang sudah menunjukan lewat tengah malam.

Kaos oblong Kamtis Unnes, celana pendek dan sendal jepit, cuek saja melewati tiap kost-kost ala kadarnya nan sepi milik mahasiswa dan mahasiswi Unnes. Cukup gila saat harus melewati gang yang disitu didiami oleh kost cowok samping potokopian :p 

Beberapa kali gagal untuk berani lewat kost tersebut rasanya konyol sekali, saat telah terlihat terasnya tetapi tidak berani melewatinya alhasil harus ‘mlipir’ lewat jalan tikus menuju jalan di Gedung FBS. Tembus hingga jalan besar Banaran, jam satu pagi teriak-teriak memanggil nama temanku. Lalu kembali terdampar pada gang-gang yang masih sangat asing, mendapati jalan buntu sampai menemukan diri kembali harus melewati kost samping potokopian tersebut :p

Kalau dihitung mungkin bisa lebih dari 5 kali gagal berjalan melewati depan kost tersebut. Dari yang langsung berlari balik arah, cari jalan lain, sampai jajan es teh di angkringan terdekat dari kost ‘angker’ tersebut. Mengumpulkan keberanian. Bayangin aja, baru lihat temboknya aja aku sudah deg-deg’an setengah mati, sesak nafas senin-kamis sampai jangan-jangan yang paling aku takutkan aku langsung pingsan tergeletak depan kost tersebut. Haha lebay ya, tapi memang kenyataannya seperti itu.


Yosh setelah cukup lama juga nongkrong di gazebo milik fakultas impianku (sebut saja FBS) sambil berbacksound dengan suara musik dari latihan anak-anak band FBS, dan karena angin pagi yang dingin sudah cukup mengusik maka akhirnya sukses juga mengumpulkan keberanian untuk uji nyali melewati kost ‘angker’ di belakang FBS tersebut. Yohooooo aku menang.

Meskipun sudah gelap dan penghuninya sudah masuk kedalam kamar masing-masing, tapi bisa melihat terasnya saja sudah cukup membuatku berlonjak senang. Haha kaya anak kecil :p

Dan akhirnya mbelong pagi dini hari ini pun cukup menghansaplast lukaku. Diary, doakan saja untuk tulisan selanjutnya aku sudah bisa berbagi yang lebih cerah dari ini. Semoga saja aku sudah terlepas dari rasa sakit dan juga dari rasa takut luar biasa yang sedang menimpaku ini. Diary, tolong doakan aku.




Wednesday, May 7, 2014

Karma?

Saat aku ditinggalkan begitu saja tanpa ada kata perpisahan, tanpa ada kata putus, tanpa ada secuil pamit yang terselip dari mulut seorang yang selama ini selalu bilang cinta ke aku. Saat aku sudah tak lagi pantas untuk lebih lama dinamai pacar maka inilah yang terjadi, aku dibuang seperti sampah! Tapi ternyata yang terpikir dalam otakku adalah apakah aku dimasa lalu juga pernah memperlakukan  pacarku seperti itu juga? Jika pernah, berarti aku memang pantas mendapat balasannya. Karma?

“Itu proses Mon. Saat ini kamu jadi kepompong dalam siklus hidupmu, berat. Ini jalan yang harus kamu lalui, ini hadiah Mon... Kau tau Mon? Tak akan ada manusia ‘kuat’ tanpa adanya cobaan :)” begitu kata seorang teman curhatku.

Baik, sudah kuedit sekarang, tak lagi kunamai karma tapi hadiah. Iya, ini aku anggap sebuah hadiah untukku. Agar aku tidak semena-mena lagi terhadap perasaan orang lain. Hadiah untukku agar lebih dewasa lagi.

Sedikit sakit memang, terasa ada yang hilang, tapi tak ada amarah, aku tak pernah menyalahkan siapapun tentang ini, tidak juga dia, tidak juga aku sendiri. Tetapi semua ini kuanggap sebagai penampar diriku sendiri agar lebih sadar, agar aku kapok mungkin. Agar disuatu saat nanti tidak lagi seenaknya memperlakukan perasaaan orang lain yang sudah tulus benar-benar mencintaiku.

Aku belajar dari hadiah ini J

Terima kasih untuk seorang yang sudah melepasku tanpa satu katapun, terima kasih juga untuk seorang teman yang selalu bisa mengingatkanku bahwa selama aku masih berpijak di bumi ini, maka cobaan akan selalu menempa agar diri semakin dewasa.

Aku belajar lagi sekarang J


Sejuta kata maaf yang terdalam dari hatiku juga untuk semua orang yang dimasa lalu pernah aku sakiti. Aku jahat ya? Maaf...




Tuesday, May 6, 2014

Kunamai Patah Hati

Hari ini dia datang lagi, jurstru setelah aku memutuskan untuk tidak lagi menemuinya. Mengetuk pintu kamar kostku membawa seikat bunga mawar juga bujuk rayuan agar aku membukakan pintu. Aku tetap ditempatku tak bergeming memandangi serakan poto-poto yang telah kurobek-robek semua. Tidakkah kehidupanku terlalu ringan untuk aku robek juga?

Kuabaikan ketukan di pintu tersebut hingga tidak terdengar lagi suara dari luar. Dan aku kembali mulai tenggelam dalam duniaku. Duniaku yang dulu, dimana aku begitu merasa sangat berharga. Dunia yang penuh dengan kebersahajaan, dunia yang hanya seluas lingkup kamar namun begitu bermakna. Dunia yang sempat aku tinggalkan, tak kusentuh karena aku terlalu sibuk berlari di luar dan terlalu sibuk memenuhi ephoria yang tiada arti.


Kubuka lagi leptopku yang mulai berdebu dan dingin, tak lagi sehangat dulu. Mulai kuceraikan kenyataan yang pahit tak seindah angan-angan dan mulai kucipta kembali khayalan bernama novel. Dalam ketikan pertama kujuduli novelku ini PATAH HATI.





Aku Ingin Menulis Dear Diary

Malam ini dengan berteman bulan sabit yang memancarkan cahaya keemasan di langit aku ingin mengetik isi hatiku. Sepertinya sangat jarang aku bercerita tentang kisah cinta dalam diary onlen ini. Atau aku menuliskannya dengan berpuisi? Tidak pernah gamblang aku bercerita, tapi kamu tahu? aku hanya manusia biasa.

Jadi, biarkan aku menulis dear diary.
Dengan suara lagu D'Masiv yang Apa Salahku keluar menusuk-nusuk gendang telingaku melalui hetset, rupanya cukup menciptakan suasana melow. Lagu ini cukup mewakili, diantara kata 'kamu' yang terbaca untuk diriku sendiri, dalam dimensi masa saat itu dan memang untuk 'kamu' yang memang benar-benar kamu dalam dimensi masa sekarang. Mungkin ini karma. Aku yang setiap dalam masalah cinta pasti selalu meremehkan perasaan orang lain. Sekarang dua kali aku harus diperlalukan oleh hal yang sama. Dua kali oleh orang yang tak benar-benar masuk kedalam hatiku, tapi kenapa bisa menyakitiku? Seharusnya jika tidak pernah aku cintai, aku akan santai saja, tidak akan mengefek pada perasaan kan? Tapi mengapa begini?

Dua kali aku dipecundangi hanya karena masalah orang tua mereka. Dalam sebuah hubungan berpacaran, jika memang tidak ingin mengaitkan orang tua kalian, seharusnya tidak perlu membuat hubungan tidak menyenangkan karena itu. Tiba-tiba menarik diri dari aku, menjadi tertutup lalu saat aku tahu penyebabnya adalah masalah keluarga kalian, lalu apa salahku? Kalian tidak ingin bercerita, tapi membuat seolah aku seperti pecundang yang tidak pantas mendengar cerita tentang kondisi keluargamu itu!!! Kalo memang tidak benar-benar ingin membuat aku mengetahui masalah itu, sebaiknya bisa seperti biasa, jangan beri aku tahu!!!!! Jangan buat aku seperti pecundang, tapi sekarang aku dua kali merasakan itu. Oke fine setidaknya aku tidak pernah sukses menyerahkan hatiku pada kalian berdua. Karena meskipun memang sakit tapi hatiku tetap berada ditempatnya semula, sama selama setahun ini.

Jika dengan yang dulu aku mengatakan "kita putus saja sayang" kali ini bahkan tanpa aku harus mengatakan itu rasanya seorang yang selalu bilang cinta ke aku tersebut sudah dengan sendirinya menghilang dari kehidupanku. Dan menyisakan satu sebab yang sama "masalah keluarga" WTF!!!!!!

Biantang malam dan juga kelip-kelip lampu pesawat yang berada diantaranya, bisakah kalian membuatku untuk tidak putus asa seperti ini? Tersangkut pada hati yang sama, selama setahun sekarang. Gagal move on dua kali hahahaa.

Yah aku anggap saja dia yang masih berstatus pacar difacebookku sudah benar-benar tidak menginginkanku lagi, percuma!

Diary? apa kamu bingung dengan tulisanku kali ini? Aku memang sedang tidak ingin terjerat EYD ataupun menulis dengan sudut pandang yang baik dan benar, aku hanya ingin mengetikkan apa yang ada dalam hatiku. Tapi jika ternyata membingungkan seperti benang kusut seperti itu pastilah isi hatiku juga sedang seperti itu.

Dalam tulisanku ini intinya satu, hubungan berpacaranku kembali bermasalah. Sebenarnya tidak sepenuhnya benar jika penyebabnya karena dalam hatiku masih ada satu nama sama yang tidak pernah bisa kuubah. Namun juga karena pihak pacarku yang juga memberikan 'virus penyakit' tersebut. Menyeret masalah keluarganya dalam hubungan ini, sebenarnya aku tidak pernah melarang. Namun hanya memotong 'virus' tersebut hanya sebatas judul 'masalah keluar' tanpa memberikan seluruhnya bagaimana cerita yang sebenarnya. Membuat aku semakin seperti pecundang!!! Dan dua kali aku merasakan ini, dibuat tidak enak karena masalah tersebut. Jika tidak benar-benar ingin bercerita seharusnya tidak perlu membuat hubungan menjadi tidak enak dan lebih bagunya lagi tidak perlu mebuat aku tahu mengenai itu. Cukup kalian simpan sendiri saja, tanpa harus melibatkan hubungan ini. PAHAM???

Aku tidak tahu sekarang harus bagaimana, setidaknya aku sudah berusaha memperbaiki, namun jika yang diperbaiki hanya mengabaikan. Ya sudah, aku bisa apa lagi? Aku cukup capek untuk memikirkan banyak hal sedangkan yang ini tidak ingin aku pikirkan.

Satu yang aku tahu sekarang, AKU TIDAK LAGI INGIN PACARAN.




Tuesday, April 29, 2014

Berteman Kopi Aku Berbagi Mimpi


Kopi, ketika rasa pahitnya menyakiti lambungku
Ketika pikir yang ku ukir tak jua menggenapi tugas sejarahku
Ketika pagi menyapih sepi dengan suara detik jam dinding
Yang surut termakan angin atau mungkin dingin
Karena pagi menyusup begitu tiba-tiba
Meringkus malam yang kelam
Menjadikan pagi semakin pucat pasi
Akupun merasakannya
Karena bukan yang pertama
Ditingkahi kopi dalam seplastik kopi bersedotan duri
Dan pagi ini berteman kopi aku berbagi mimpi


Pukul 03,33
Semarang, 28 April 2014


Monday, April 28, 2014

Ombak Banyu



Terasa mati dalam cengkraman hiruk-pikuk gemerlap malam yang mengukungku untuk mendekapnya. Handuk kecil kumal berbau keringatku, yang setiap malam menyeka tiap tetes air dari kerja kerasku. Lampu-lampu gemerlap merah, biru, kuning sampai entah warna yang tak begitu bernama saling bergantian berputar. Memberikan semarak pada wahana permainan dimana tempatku mengais rupiah demi rupiah. Mereka menyebutnya Ombak Banyu, aku sendiri tidak begitu paham bagaimana menjelaskannya. Salah satu wahana permainan yang mengisi Pasar Malam ini tergolong masih tradisional. Karena tanpa bantuan mesin bermotor, hanya dengan bertenaga manusia dalam menggerakkan permainan ini. Kami bersama-sama mendorong memutar agar Ombak Banyu dapat berputar, dengan banyaknya orang-orang yang menaikinya sudah jelas dibutuhkan tenaga ekstra.


Sudah sekitar pukul dua pagi, pasar malam sudah semakin sepi. Beberapa teman yang juga bekerja pada pasar malam ini sudah terlelap terbuai mimpi dalam rumah-rumahan triplek sekali jadi yang mereka buat sendiri. Pasti sudah sangat lelah hingga tidur mereka begitu lelap. Berbagai suara ruih yang sudah sejak sore terdengar tak lagi ada seperti tiba-tiba ditelan oleh samudra dasar laut atau masuk pada ruang kedap suara.


Kurebahkan badanku pada kursi panjang, kursi dari kayu ini biasanya dipakai duduk oleh orang tua yang menunggu anak mereka. Sambil tersenyum melambaikan tangan pada anak-anak mereka yang tertawa menaiki Ombak Banyu. Dari kejauhan kulihat bosku menggenggam sebilah kapak yang biasanya dia gunakan untuk membantu membangun rumah-rumahan tripleknya. Kulihat ada yang aneh dari wajahnya, sambil mengahampiriku hampir saja dia melayangkan kapaknya pada kepalaku, dengan marah ia berkata “Kowe karo cah omah setan wingi bar mabuk terus merkosa bojoku tho? Ngakuo!!!” Lalu tiba-tiba gelap.


Pagi nan dingin kutemukan diriku sendiri basah dalam sebuah sumur yang sudah kering, gelap dan kotor, sempit aku meringkuk tak dapat bergerak. Kenapa aku tiba-tiba berpindah tempat? Itu yang ada dalam pikiranku, ingin aku berteriak minta tolong siapapun yang ada di atas, tapi suara seakan tercekat dalam tenggorokanku. Tak ada satupun suara yang mampu aku keluarkan. Kulihat kesamping, tubuh dan kepalaku sudah tak lagi bersatu.





NB: Maaf, aku masih belum mampu mengejutkan dengan sebuah ending yang bagus. Saat sebuah cerita yang harusnya mampu bertahan dalam beberapa halaman malah kuaborsi, dan beginilah hasilnya. Karya prematur karena lahir belum pada waktunya mungkin. Silahkan dilanjutkan bagi yang terusik imajinasinya :)




Ekstrimnya Dieng Wonosobo


Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo, keindahan yang begitu menakjubkan namun juga memberikan pengalaman yang tak mudah untuk ku lupakan.
Karena untuk mencapai tempat tersebut harus melewati berbagai tantangan.


Diawali dengan kumpul di depan PKM FIS UNNES, karena tujuan kita ke Dieng adalah untuk Pelantikan Exsara Angkatan ke-5
Naik motor dengan berboncengan menembus panas yang berganti hujan saat motor memasuki Temanggung.


Setelah sesaat berhenti di Masjid Agung Temanggung yang berada di sisi Alun-alun Kota Temanggung, untuk melaksanakan sholat dan inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota kelahiran idolaku, Obiet :*


Dan tujuan awal alias yang pertama kita kunjungi adalah Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung. Sebuah situs yang katanya luasnya melebihi Candi Borobudur.
Situs yang masih juga belum selesai tuntas digali alias masih dalam proses.



Dengan berselimut kabut yang cukup tebal, namun ternyata kabut dalam hatiku jauh lebih tebal. Memberikan efek gigil pada diri, membuatku malas untuk mengeksplore diri, teringat kala itu memang hatiku sedang tidak karuan, proses membelakangi apa yang selama ini hatiku selalu tatap.


Tidak banyak poto tentang aku, benar-benar tidak sedang mood berpoto.
Keadaan diperjalanan sekaligus kondisi perasaan yang cukup mematikan semangat dan menyurutkan setiap hasrat narsis.
Ekstrimnya cuaca saat akan mencapai Dieng, dengan hujan yang turun sepanjang waktu.
Mantel pun tak cukup membuat untuk membuat tubuh tetap kering, karena motor yang harus dipacu kencang menembus lebat hujan.
Ditambah dengan jalan yang naik turun berkelok-kelok ala pegunungan.
Dan inilah dingin yang tak mampu untuk kugambarkan.


Namun juga sebanding dengan keindahan yang diberikan di Puncak Sikunir, Dieng.
Disinilah kami dilantik sebagai formalitas kalau kami telah benar-benar menjadi keluarga Exsara.



Dikalungi sleyer merah oleh ketua Exsara sebagai tanda bukti bahwa aku telah benar-benar menjadi anggota keluarga Exsara. Sebagai formalitas, karena bahkan jauh sebelum itu juga aku sudah diterima sebagai keluarga.


Merasakan suka duka bersama, pada saat itu, harus melewati rasa dingin yang luar biasa karena suhu yang bisa mencapai -0 derajat ditambah baju yang basah terkena hujan.
Tidur saling berdesakan, berebutan tempat hingga memunculkan keegoisan individu dari anggota baru, memperoleh bentakan jam 2 pagi.
Memakai fasilitas yang luar biasa busuknya (wc berderet tanpa air)
Penginapan yang sempit juga berdesakan namun membuat hangat.
Juga banyak lagi pengalaman yang menyakitkan sekaligus menyenangkan saat itu.

Selesai dengan penderitaan yang menyenangkan di Dieng Wonosobo, perjalanan pun dilanjut ke Banjarnegara.


Tidak ada penjelasan tentang candi-candi di Kabupaten Gilar-Gilar ini, jadi tidak banyak yang aku tahu. Disana kami hanya berfoto-foto ria saja.
Akupun sudah bilang diawal bahwa tidak banyak berpoto dalam perjalan pada saat itu.


Ternyata perjalan memang benar-benar ekstrim, hingga saat perjalanan pulang banyak sekali kejadian tak terduga yang untunglah tidak sampai membuat temanku kehilangan nyawa. (bagaimana ya memperhalusnya)
Intinya temanku banyak yang mendapat musibah saat perjalan pulang.
Aku sendiri malah merasa mati dalam perjalanan, karena menggendong tas super besar yang biasanya dipakai oleh pendaki, yaitu tas carrier milik teman.
Berat sekali, sampai harus berkali-kali aku minta berhenti untuk melegakan sedikit punggungku. Sungguh perjuangan yang tiada akhir waktu itu.
Tiap kali melewati jalan menanjak, tubuh serasa ditarik kebelakang, namun aku tetap harus menahan.
Konyol pasti kalau aku terjatuh dari boncengan sepeda motor.

Hingga sampai kampus dan kumasukan semua pengalaman ini menjadi kenangan yang tak hanya menyenangkan tapi juga menyakitkan. Nano nano rasanya.