Pagi ini aku digenangi keriuhan, diantara derai suara-suara tinggi rendah dari sekitarku. Aku mulai merasa bising, mulai merasa muak. Bersama daun-daun juga segala macam racikan yang kuabaikan, aku menyingkir.
Mencari sepi di sudut ruangan yang dipenuhi graffity. Menatap anggun kegelapan yang merangkulku dengan ramah. Aku balas merangkulnya. Berharap menemukan sepi yang kucari.
Hanya diam dan bersandar menggamit sejengkal khayal yang terkulai lelah menungguku. Maafkan aku sambil kuusap rambut sang khayal yang berwarna-warni. Maaf telah mengabaikanmu selama ini. Dia balas tersenyum lalu dengan lembut bertanya mengapa aku mencarinya sepagi ini. Aku pun hanya menghela nafas. Mencari sang sepi yang lagi-lagi tak kutemukan juga. Aku hanya diam. Dari situ khayalanku mengerti. Khayalpun cukup diam dan merangkulku juga.
Aku tetap berada di tempatku, dari sudut ruangan yang gelap ini mampu kulihat sekitar. Sepi yang kucari tiba-tiba masuk saat sang khayal mengelar layar bioskop masa lalu. Aku terpaku. Dalam gelap, bersama sepi menatap layar yang mereka namai kenangan.
Dan akhirnya pun aku bersantai menikmati suguhan kenangan yang menghadirkan banyak perasaan. Teriris rasannya saat menatap seorang anak yang mendiami kerinduan sedang rindunya jelas tak kan terbalas. Lalu merasakan senang saat melihat anak tersebut mulai bisa menyusul teman-temannya naik ke pohon jambu, sambil menangkapi kupu-kupu berwarna kuning. Ikut merasakan malu saat sang anak dikejar-kejar anjing tetangga sampai berlari megelilingi orang yang sedang memiliki hajat hingga ditertawakan oleh banyak orang. Setelah itu layar bioskop yang sedari tadi menemaniku melihat masa kecil tersebut tiba-tiba menghadirkan sederet gambar yang berselang-seling. Meraup segala hal yang menyilaukan mata.
Dengan tanganku kututupi mataku karena cukup sakit melihat gambar silau yang malah semakin tidak jelas. Aku menyerah kukatakan pada kenangan yang kembali menjelma menjadi khayal. Dia menatapku heran bercampur kasihan. Akupun hanya diam, mencari-cari selendang yang telah kulepas diawal, namun tak kutemukan juga. Padahal dengan selendang itu aku pasti bisa merasa lebih tenang.
Mulai kujambaki rambutku, dimana sebenarnya selendangku. Aku benar-benar membutuhkannya. Beberapa helai rambutku jatuh, sebagian lagi melekat disela-sela jariku. Kuhitungi semua, lalu tiba-tiba ada yang membisiki telingaku "bahkan kamu merugi lebih banyak dari rambut yang kau hitung." Suara itu menggema di seluruh ruangan. Aku mulai mengerti, karena memang hanya aku yang mengerti.
Apakah aku harus menangisinya lagi? Apakah jeratan ini tak mampu kulawan? Iya aku ketagihan? Tidak aku bisa mengabaikannya! Akan kulawan!
Aku lelah, riuh redah kenyataan kembali memojokanku. Oh tidak aku salah, kenyataan malah menggandengku. Membantuku berdiri.
Aku berdiri dengan titik-titik air yang kusapu dari pipi. Melangkah meninggalkan ruangan yang kembali kukunci. Kumasukan kunci tersebut ke dalam rak yang bertumpuk begitu tinggi, tapi ternyata aku tidak mampu menggapainya. Jadi kuputuskan untuk memasukannya dalam dompet saja, kelihatannya sebentar lagi aku juga akan memasuki ruangan itu lagi. Sekedar memenuhi graffity setengah jadi atau kembali meramu sepi.
Ruangan lain sesungguhnya bahkan lebih sepi, tapi ruangan ini spesial, karena hanya aku yang mampu memasukinya. Kujejalkan keberanian dalam hati, lalu aku gantian menggamit kenyataan. Semoga kamu juga seramah yang kubayangkan. Aku hanya berharap itu, karena selanjutnya kamu tahu, kita akan mengalir bersama.
Sragen, 10 Juli 2014
Diantara kesibukan siang dapurku, kuramu sepi sendiri.

No comments:
Post a Comment