Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Tuesday, October 15, 2013

Racauan Part 1

Akhir-akhir ini banyak hal ekstrim yang kurasakan, hingga tiap kupejamkan mata, pikir seakan berhenti dan hati begitu menajam.
Perlu diketahui aku adalah orang yang tak suka memanja perasaan dan selalu mengutamakan dalam memelihara pikiran. Namun akhir-akhir ini yahh aku begitu mudah terhanyut hanya dengan sekali riak ombak menjilat ujung kaki. 
Melihat matahari senja, mata terasa panas berkaca-kaca. Saat melihat ayunan ombak pantai, dada terasa sesak menyesak. Melihat pemandangan gunung nan megah pun nafas satu satu yang keluar terjungkal sengal. 
Mungkin diluar aku terlihat seperti biasa, menjadi ceria bahkan diantara yang murung. Namun dari dalam aku seperti bukan aku. Yang terasa hanyalah kekosongan, suwung, ngglangut. Dan seperti biasa, kuibaratkan layak telur tanpa isi, hanya cangkang membungkus angin. 
Ada apa dengan aku? Hanya aku sendiri yang mampu menjawabnya. Namun lagi-lagi keterhanyutan ini hanya mampu kuurai dengan memejamkan mata dan menajam hati, begitu cara merasakannya. 
Hingga lemah pikiran untuk menjamah dalam goresan kata melahirkan kalimat, meski sekali lamat-lamat, tak juga mampu. Namun kali ini ku paksa juga racauan ini untuk digoreskan, yang ku yakin tak kan seindah monolog biasanya. Tak apa, biar kutuliskan racauan tiap tetesan monolog yang semakin menggigil karena dipeluk pilinan kenangan-kenangan indah bercermin pahitBiarkan sedikit pikiran ini berkutat dengan kebiasaannya dalam menghadirkan kemusafirannya. Meski begitu berat dan enggan, karena semua terjadi begitu seperti membalik telapak tangan. Namun pikir sudah terbiasa berkawan dengan isakan huruf yang menyeka kata, hingga berjingkat-jingkat kalimat yang malu-malu mengintip dari rahim sang sepi. Seenggan apapun tetap harus menggores yang abadi. Jadi biar kutulis menulis.
Sebenarnya aku cukup bersyukur karena dengan ini semua aku jadi sering merasakan lalu mencoba menguraikan semua dengan perpaduan antara perasaan dan pikiran, dan setidaknya hidupku tidak monoton. Namun sungguh ini terlalu ekstrim, bahkan untuk seorang aku yang dengan banyak kecerian dalam menghadapi tiap ketukan masalah sekalipun. 
Aku bingung! Harus dengan apa aku mengatasi semua ini? Jika ditanya mengenai penyesalan, sungguh aku tidak menyesal sama sekali, karena aku paham betul mana yang harus kumiliki dan mana yang harus kulepas. Tapi kenapa pahitnya nyelekit? Huft... Aku sering mengobati diriku sendiri seperti lagunya Captain Jack bahwa "yang kubutuhkan hanya waktu untuk sembuhkan semua luka". Namun lagi-lagi aku bingung benarkah ini luka, bahkan itu pun tak jelas, yang kutahu ini semua yang selalu membuat sesak adalah kenangan indah, namun kenapa membuat sesak?? Apa karena tak kan dapat kuulangi? Atau karena kenangan itu sudah berubah pahit? Kenangan indah yang bercermin pahit?? Suatu kenangan yang ketika bercermin ternyata bayangannya adalah tak indah. Aku tidak paham juga, kenapa. Biar kuurai sejenak, semoga tak makin bergulung.
Jika terasa sesak karena tak dapat kuulangi lagi, logikaku menjawab bukan karena itu. Karena aku sendiri paham betul ketika kulepas maka semua tak kan lagi sama. Dan jika karena telah berubah pahit, kurasa juga bukan karena itu. Bagaimana bisa pahit ketika semua sudah kupahami betul? semua sudah kutimang-timang, atau karena apa yang kutimang tersebut terjatuh? Hey aku tidak menyesal, tidak ada yang terjatuh, terpeleset atau terpelanting. Tapi benarkah? Iyakah?





No comments:

Post a Comment