Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, October 16, 2013

Berkelindan Bersama Masa


Setiap masa memiliki caranya sendiri dalam memberikan kita nyawa.
Begitupun aku, menjadi tokoh yang diberi nyawa dalam suatu masa yang begitu banyak memberikan luka.
Aku yang hari ini rontok dari rantingku, meskipun banyak yang bilang bahwa rantingku kuat, dan aku iyakan itu.
Tapi disinilah aku, terlepas.
Aku terbang terbawa angin kesana-kemari untuk selanjutnya luruh sembah sujud pada bumi.
Daun kering yang terabai.
Meskipun telah menjadikan aku dalam bagian yang sama sekali tiada arti dan tak terpedulikan, namun rupanya kehidupan tetap menghempaskanku pada tanah yang terburuk.
Belum selesaikah keringku?
Haruskah juga kerontang?
Gemuruh mendera, kala hujan maka aku basah, kala panas maka aku kering lagi.
Kapan aku lapuk?
Kapan aku membusuk?
Agar aku menyatu dengan tanah dengan bumi yang gemah ripah loh jinawe ini.
Hanya itu yang kutunggu. Bukan dalam pertengahan yang tanggung begini.
Menatap daun-daun lain yang hijau segar menempel pada ranting mereka masing-masing, dari bawah sini.
Membuatku cukup terhibur.
Teringat aku pernah pada masa itu juga.
Merasakan sepoi anggun beliung yang menyapa dikala senja, dengan biasan sinar matahari senja genit yang mengintip dari balik daun-daun lain.
Juga saat terselimuti embun sejuk namun juga terkadang dingin, yang diam-diam telah membalut seluruh tubuhku dipagi yang buta.
Sedang yang terindah adalah saat malam, terkadang aku tidur, tapi lebih sering aku terjaga.
Disirami oleh cahaya rembulan yang tak jemu merayu untuk tetap memandang langit dimana ia bertahta menyinari semesta malam.
Tersenyum aku mengingat aku pernah mengecap masa yang indah itu.
Kupahami dan kujalani. Masa memang tak selalu sama.
Kini dengan keikhlasan yang luar biasa aku serahkah sepenuhnya aku pada masa apa selanjutnya yang akan kugeluti.
Kembali berkelindan bersama masa yang kusambut, kusenyumi.
Kupahami ini bukan suatu kepasrahan, tapi lebih sempurna dari itu, ini adalah keikhlasan.
Kini aku, akhirnya melebur bersatu dengan tanah.
Sambil membentangkan kedua tanganku lebar-lebar, aku berkata
"Aku tanah sekarang"

Semarang, 10 September 2013

No comments:

Post a Comment