Pagi yang berongga
Derap masa kembali mengorek luka
Memaku aku dalam beku
Kursi pesakitan yang selalu menunjukku sambil berkata "kamu tidak mampu"
Aku terdiam
Tersadar dalam ketidakmampuan
Hanya hati yang mampu berteriak
Hingga tersedak memuntahkan semua riak-riak sesak
Memang, ketika semua terpaku
Diam menyediaan hati untuk bicara bertanya
Benarkah?
Lalu apa yang harus aku lalukan?
Sedang tawa palsu telah lenyap dalam selokan
Senyum semu yang kemarin hilang di kelokan
Kembali sesal yang dulu terkumpul
Menyembul di permukaan
Melingkupiku dalam khayal yang mewujud
Ingin aku tentang semua mata yang menatapku pada maniknya
Namun pandangan semakin kabur
Menunjukkan aku yang akhirnya karam terkubur
Sragen, 23 Februari 2017
Laman
Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku
♥ Label Monolog ♥
Thursday, February 23, 2017
Wednesday, February 22, 2017
Sajak-Sajak Yang Jatuh Cinta
Ada yang bilang bahwa jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi penyair dadakan. Mungkin itu juga yang terjadi padaku saat itu. Rasa berbunga dalam hati seolah menjadi mesin mencetak kata, terketik-ketik tanpa titik. Jantung yang berdetak menghadirkan sajak. Rapi menyusuri lekuk sabit dalam dupa pemujaan atas nama si dia. Dia yang mampu menjelma ribuan kerlip bintang meskipun langit begitu gelap pekat.
Dia yang kucinta, masih ingatkah dengan ini semua?
Dia yang kucinta, masih ingatkah dengan ini semua?
Sajak, tolong ingatkanlah ini semua pada dia.
Sajak, semoga dia tak akan pernah berjarak meski seinci pun dari diriku.
Sajak, tolong semogakan.
Kisah Anak-Anak Dalam Film Perang Dunia
Masa kanak-kanak ditentukan oleh suara,
bau-bauan, dan penglihatan, sebelum alasan kegelapan berkembang (John
Betjeman).
Anak-anak merupakan masa awal dalam mempelajari kehidupan. Lalu
bagaimana kehidupan anak-anak tersebut dalam keadaan perang dunia yang tak
menentu. Disini ada 10 film tentang kisah anak-anak dalam perang dunia yang
pernah aku tonton.
1. The Boy In The Striped Pajamas
Sudah banyak film perang dunia yang aku tonton, namun film ini
adalah film pertama tentang perang dunia yang berkisah tentang anak-anak.
Sedikit cerita film ini berkisah pada tahun 1930-an, saat Nazi berkuasa di
Jerman, tentang seorang anak bernama Bruno, berusia 8 tahun. Dia adalah anak
dari Kolonel tentara Nazi kesatuan Waffen SS (Schutzstaffel). Setiap hari
ketika Bruno bermain ayunan di halaman rumahnya, dia menyaksikan adanya kepulan
asap membumbung tinggi keluar dari satu cerobong asap. Kepulan asap itu adalah
hasil dari pembakaran orang-orang Yahudi di Kamp Konsentrasi itu. Suatu saat,
Bruno mengikuti arah kepulan asap dan dia sampai di pagar berkawat dari kamp di
halaman belakang. Di sana Bruno melihat seorang anak laki-laki seumurnya,
Shmuel, sedang duduk di balik pagar berkawat dengan gerobak kecilnya (gerobak
yang biasa digunakan untuk mengangkat pasir). Sejak itu terjadilah persahabatan
antara kedua anak yang berbeda ras, tingkat ekonomi, sosial, dan politik; seperti
bumi dan langit. Bruno kemudian rajin mengunjungi sahabatnya ini, Shmuel,
dengan membawa bekal yang diambilnya dari rumahnya secara sembunyi-sembunyi.
Tidak ada yang mengetahui tentang persahabatan “terlarang” itu. Singkat cerita,
suatu hari ibu Bruno menyadari bahwa anaknya hilang. Rupanya Bruno pergi ke
Kamp Konsentrasi itu, menerobos masuk dengan merayap melalui bawah pagar
listrik yang sudah digali. Ia menukar baju dengan baju tahanan yang diberikan
Shmuel kepadanya. Mereka ingin mencari ayah Shmuel namun mereka kemudian
terperangkap di antara orang-orang dewasa yang sedang digiring tentara Nazi
untuk dimasukkan ke dalam ruang gas kematian. Ibu Bruno meraung-raung ketika
menyadari anaknya meninggal di dalam ruang gas itu. Dan entah apa yang ada dalam
pikiran ayah Bruno yang seorang tentara Nazi, apakah kecewa menyesal atau
perasaan sedih dengan semua rangkaian kejadian tersebut.
Begitulah potongan cerita dari film yang membuat aku berhenti
untuk berpikir sejenak lalu kembali dengan rasa ingin tahu yang lebih banyak
mengenai kisah anak-anak dalam perang dunia. Tentang kepolosan diantara
kesemruwetan masa perang. Buatku film ini bukan hanya bagus tapi juga sangat
menyentu terutama pada bagian akhirnya, jadi jika kalian penasaran dengan film
ini, silahkan menontonnya.
2. The Book Thief
Sebenarnya dulu sekali, aku sudah pernah menonton film ini, mungkin pernah ditayangkan di TV atau aku memang memiliki filmnya, aku sudah lupa. Lalu kemudian aku mencoba mencari film ini lagi dan menontonnya.
Sinopsisnya seperti ini. Ditengah kengerian Perang Dunia II, seorang gadis muda bernama Liesel Meminger hadir ditengah keluarga barunya dan memberikan perubahan untuk orang-orang disekitarnya. Ayah angkatnya memberi ia tempat untuk belajar membaca dan menulis. Sejak saat itu Liesel gemar mengumpulkan buku-buku yang ia peroleh dari mana saja.
Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan
Max Vandenburg, seorang pemuda Yahudi yang tengah bersembunyi dari kejaran
Nazi. Hans sangat berhutang budi pada Ayah Max dan mengambil resiko untuk
menyembunyikan Max dirumahnya. Max yang kagum dengan semangat Liesel
mengajarkannya membaca dan membuat Liesel tahu banyak hal tentang dunia. Di
satu sisi, Liesel sangat senang dengan kehadiran Max namun disisi lain ia tahu
bahwa Max akan menjadi ancaman bagi dirinya dan keluarga angkatnya. Bagaimana
kisah Liesel selanjutnya yang membawa perubahan pada orang-orang disekitarnya
dan bagaimana juga ia bertahan hidup bertaruh nyawa di tengah ganasnya Perang
Dunia II? Tonton saja film ini.
3. Grave Of The Fireflies
Film anime buatan Jepang ini ceritanya begitu menyedihkan. Setelah menonton film ini hati terasa kosong suwung dan hanya diisi oleh angin-angin dingin. Film ini diawali dengan gambaran tentang pertistiwa penyerangan pasukan udara sekutu, yang menyerang salah satu kota di Jepang. Di salah satu kota tersebut, film ini menceritakan dua orang anak tentara angkatan laut Jepang, yakni Setsuko dan Seita. Kehidupan mereka sebelum penyerangan itu, berjalan harmonis. Sampai suatu ketika, datang sebuah ancaman yang mengharuskan mereka berdua beserta ibunya mengungsi ke tempat persembunyian.
Dalam keadaan dimana Setsuko dan Seita harus mengungsi, dan menyusul ibunya yang sudah terlebih dulu sampai di tempat pengungsian, mereka kehilangan kontak dengan sang ibu. Setelah peneyerangan untuk sementara reda, mereka pun mendatangi satu persatu tempat-tempat pengungsian yang di duga menjadi persinggahan ibu. Namun, usaha mereka hampir menemui jalan buntu, sampai suatu ketika salah satu dari mereka, yakni kakak dari Setsuko (Seita) mendatangi sebuah rumah sakit. Di sana, atas petunjuk dari seorang perawat, ia berhasil menemukan ibunya, akan tetapi dalam keadaan mengalami luka bakar hampir 90%. Dengan kondisi ibu yang seperti itu, Seita tak memberi tahu adiknya, karena dia khawatir kabar tersebut akan membuat adiknya sangat terpukul. Keesokan harinya, dokter yang merawat ibu, mengabarkan bahwa nyawa beliau tak dapat diselamatkan lagi. Seita pun menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Sepulangnya dari prosesi pembakaran jenazah ibunya, Seita membawa abu kremasi ibunya dan tak berniat untuk tidak memberi tahu tentang kepergian sang ibu.
Kehidupan mereka setelah kepergian sosok
ibu, berjalan dengan keceriaan yang dikondisikan. Seita mencoba menutupi
kesedihan yang ada dengan keceriaan. Dia mencoba menghibur adiknya
ditengah-tengah carut-marut kehidupan bangsa Jepang yang sedang terpuruk. Lalu
bangaimana caranya menghibur adik kecilnya tersebut, sebaiknya kalian menonton
filmnya sendiri, kalian akan banyak belajar dari film ini.
4. Giovanni's Island
Meskipun film ini tidak semenyedihkan
film Grave Of The Fireflies, namun film anak-anak tentang perang ini juga
memiliki sisi yang membuat sedih. Dimana pun film yang berkisah tentang perang
pastilah memiliki sisi yang menyedihkan. Bercerita
tentang dua orang kakak beradik bernama Junpei dan Kanta yang hidup di pesisir
di salah satu pulau yang berada dalam gugusan kepulauan Kuril, Jepang. Film ini
bersetting tahun 1945, periode yang menjadi titik balik kehidupan sosial
politik Jepang karena kekalahan Jepang pada era Perang Dunia ke 2.
Inti cerita dimulai ketika Kaisar Jepang mengumumkan bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu dibawah kepemimpinan Amerika Serikat dan didengarkan oleh seluruh penduduk di pulau tersebut dan tak lama kemudian mendengar kabar bahwa dalam waktu dekat tentara Soviet akan tiba di pulau tersebut. Ini adalah salah satu hal yang menarik di film ini dimana memperlihatkan situasi pasca perang. Selain mengambil setting di kawasan paling utara Jepang (kepulauan Kuril) film ini pun menceritakan “kisah” antara Jepang dan Soviet (yang kadang terlupakan sebagai bagian dari Allied Force) yang jarang diceritakan. Dalam waktu singkat Tentara Soviet yang oleh penduduk disebut Russkies datang dan menduduki pulau tersebut dan mendirikan basis pertahanan di sana. Rumah Junpei dan Kanta pun harus rela dirampas dan dijadikan rumah komandan dari tentara Soviet sehingga harus tinggal di bagian dapur merangkap kandang kuda. Begitu pula dengan sekolah meraka yang harus rela dibagi dua, setengah untuk sekolah warga pulau dan setengahnya untuk sekolah bagi anak-anak prajurit yang ditugaskan.
Di sekolah inilah Junpei dan Kanta kemudian bertemu dengan seorang gadis Soviet bermata biru bernama Tanya yang kemudian diketahui ternyata adalah putri dari sang Komandan Pasukan Soviet. Meskipun mereka berbeda kultur, bahasa, budaya dan situasi politik antar negara yang seakan memposisikan Jepang sebagai terjajah dan Soviet sebagai penjajah, namun tak menjadi halangan bagi mereka untuk menjalin persahabatan.
Film ini sangat menarik bagi saya karena meskipun mengambil setting pasca PD2, dimana memang kondisi Jepang cukup mengenaskan sebetulnya, namun film ini memberikan nuansa ceria dan menghibur dari segi cerita dan art-nya. Misalnya ketika saat sekolah dimana satu kelas menyanyikan lagu rakyat Jepang tetapi di kelas lain yang tepat di sebelahnya menyanyikan lagu rakyat Soviet yang cukup terkenal “Katyusha” dan kemudian dua kelas ini saling bergantian menyanyikan lagu rakyat, dimana “Kelas Jepang” menyanyikan Katyusha dan sebaliknya. Dan saya kira film ini sangat bagus untuk memberikan gambaran awal khususnya yang mempelajari mengenai sosial politik Jepang, apa yang terjadi di kepulauan Kuril (yang saat ini berada dibawah yurisdiksi Pemerintah Rusia) pasca PD 2. Melihat bagaimana sulitnya masyarakat mendapatkan bahan makanan pokok, hingga bagaimana penduduk Kuril sangat familiar dengan budaya Soviet.
Tidak hanya berhenti disitu, tapi anak-anak tersebut dan seluruh penduduk di Kepulauan Kuril dipindahkan ke Pulau Shakalin yang berada di bagian barat untuk dipekerjakan di logging camp. Kisah selanjutnya adalah kehidupan anak-anak itu dalam camp, silahkan kalian tonton sendiri dalam filmnya.
5. The Flowers Of War
Film ini memang tidak seluruhnya berkisah mengenai anak-anak tetapi dalam film ini terdapat kehidupan anak-anak yang juga harus melewati kerasnya kehidupan masa perang dunia. Ceritanya tentang kisah penyerangan dan pendudukan Jepang di Ibukota Cina, Nanking ketika perang dulu. Para tentara Jepang membunuh banyak penduduk, memperkosa para wanita dan kemudian membunuhnya. Ketakutan melanda seluruh kota. Di saat seperti ini, seorang perias mayat yang kemudian menjadi pendeta bernama John berusaha menyelamatkan sekelompok gadis-gadis muda anak sekolahan yang berlindung di gereja. Tidak lama setelah kedatangan John, para pelacur rumah bordil yang sedang mencari tempat persembunyian berdatangan ke gereja. Mereka beranggapan bahwa gereja lebih aman dibandingkan pengungsian. Kedatangan John dan para pelacur mendapatkan sambutan buruk dari George, asisten Pendeta Ingleman karena dianggap mengotori gereja. Lalu kisah selanjutnya akan tidak lagi menarik jika aku tuliskan disini, jadi alangka baiknya jika kalian menonton saja film ini.
6. La Rafle
Kisah mengenai peristiwa genosida kembali diceritakan dalam Film ini, La Rafle merupakan film tentang kekejaman Nazi yang membuatku begitu berpikir panjang. Penderitaan kaum Yahudi di jaman Perang Dunia ke-2 sudah menjadi tema dalam banyak perfilman, kadang cenderung terlihat over eksploitasi. Seakan tak cukup dijadikan pelajaran bahwa apapun namanya sentimen rasis memang harus dilenyapkan. FIlm ini adalah kisah nyata dari peristiwa penangkapan orang-orang Yahudi di Prancis pada waktu Perang Dunia ke-2 untuk dibawa ke kamp konsentrasi atau kamp pemusnahan di Auschwitz dsb. Cerita berawal dari rencana pemindahan orang-orang Yahudi ke Eropa Timur seperti yang diminta oleh Hitler, diktator Nazi Jerman, yang kemudian didiskusikan oleh petinggi rezim Vichy Prancis, Maréchal (Marsekal) Pétain dan Pierre Laval, deputinya. Disetujui untuk kuota 24.000 orang Yahudi, di tingkat operasional, Kepolisian Paris dan Milice yang akan bertugas menangkap orang-orang Yahudi non-Prancis yang sudah teregistrasi lengkap dan membawa mereka pada tgl 16 Juli 1942 ke Vélodrome d'Hiver sebagai tempat transit.
Adegan berpindah ke kalangan Yahudi, dengan fokus kehidupan anak-anak kecil Joseph Weismann dan Simon Zygler, serta keluarganya yang saling bertetangga. Kehidupan mereka sudah terhimpit oleh banyaknya larangan, termasuk bersekolah, bekerja dan mengunjungi area publik. Dengan dilaksanakannya Operasi 'Spring Breeze', nasib mereka makin mengenaskan. Di Vel' d'Hiv, ada dokter Yahudi, David yang bertugas di klinik mengurus puluhan orang sakit, hanya dibantu oleh sedikit perawat, termasuk seorang suster Protestan yang peduli dengan kaum Yahudi. Ia pun ikut ke tempat kamp transit selanjutnya di Beaune-La-Rolande khusus untuk merawat anak-anak. Suster tersebut tak berdaya melawan penguasa dan merelakan ketika anak-anak ini harus dipisahkan dari para orangtua mereka. Hanya soal waktu, tak terkecuali, semuanya pun akhirnya dikirim ke Timur untuk dihabisi.
Film yang cukup menyedihkan apalagi jika kita berpikir bahwa dulu kisah tersebut benar-benar terjadi. Bagaimanakah nasip anak-anak tersebut dalam masa perang yang begitu mengerikan. Silahkan nonton film ini.
7. Empire Of The Sun
Film ini berkisah tentang seorang anak
laki-laki kecil dari keluarga ekspatriat, James terpisah dari keluarganya
ketika tentara Jepang masuk ke Cina. Ia adalah seorang anak kecil yang memiliki
cita-cita menguasai angkasa alias menjadi pilot pesawat tempur. Dia menjadi
tawanan di Longhua Civilian Assembly Center, sebuah kamp tentara Jepang, selama
Perang Dunia II. Film ini menceritakan bagaimana James berusaha bertahan hidup
ditengah konflik yang sedang bergejolak tersebut.
Sedikit cerita saja mengenai film ini.
Karena akan lebih bagus jika kalian menontonnya secara langsung. Sedikit cerita
bukan berati film ini tidak bagus, tetapi penggambaran dalam film ini memiliki
pemikiran yang akn berbeda dari setiap kepala yang menontonnya, jadi silahkan
menonton dan kalian bisa artikan sendiri bagaimana film ini.
8. Snow Flower And The Secret Fan
Awalnya aku bisa memperole film ini
adalah dari bagitu penasarannya aku terhadap kisah tradisi pengikatan kaki di
Cina. Kisah ini ditulis dengan gaya memoar seorang wanita berusia 80 tahun
yang bernama Lily, yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama Bunga Salju
sebagai laotong alias “kembaran sehati”nya. Lily memulai kisahnya pada 1828,
ketika dia berusia 5 tahun dan tinggal di desa Puwei, di Baratdaya Cina.
Kebebasan masa kecilnya tiba-tiba terampas ketika dia harus menjalani
pengikatan kaki, sebuah tradisi menyakitkan yang harus dilalui oleh para wanita
Cina agar memperoleh status yang terhormat. Begitulah kemudian kisah itu
berlanjut yang dapat kalian tonton dalam filmnya jika kalian penasaran.
9. The Last Emperor
The Last Emperor menceritakan kisah hidup seorang Kaisar terakhir Cina, Puyi. Film ini diawali dengan adegan Puyi yang diangkat menjadi Kaisar ketika dia masih berumur 3 tahun. seorang kaisar cilik yang naif dan tidak tahu apa-apa dalam semalam dinobatkan menjadi seorang Kaisar Cina. Mereka menyebutnya , The Son of Heaven. Dijauhkan dari orang tuanya dan tinggal sendirian bersama dengan pelayan-pelayannnya di Istana terlarang membentuk karakter seorang Puyi menjadi sosok remaja yang kesepian. Istana terlarang bagaikan penjara dengan dirinya sebagai tahanan sehingga Puyi tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan di luar tembok Istana. mengutip kata seorang Guru kaisar puyi yang didatangkan dari Inggris, “The emperor is the loneliest boy on the earth”
Ketika Cina berubah menjadi Negara Republik dengan Dr.Sun Yat Sen sebagai presiden pertamanya, Puyi bukan lagi seorang Kaisar dengan kekuatan imperialnya,, meski begitu dia tetap diperbolehkan tinggal di Istana bersama ratu, Wen Rong dan selirnya Wen Xiu. Yang miris adalah ketika dirinya diharuskan meninggalkan Istana dan sudah tidak diperbolehkan lagi tinggal disana. untuk pertama kalinya, meskipun dirinya ingin sekali melihat dunia luar, kaisar yang tak pernah keluar Istana merasa takut menghadapi dunia luar…
10. Memoirs Of A Geisha
Tidak hanya sekali aku menonton film ini, mungkin dalam film ini tidak seluruhnya bercerita tentang kisah anak-anak tetapi dari seorang anak yang bertumbuh dengan takdirnya menjadi seorang geisha. Adalah seorang anak yang berasal dari kampung Nelayan “Yoroido”, sebuah kampung terpencil yang sangat jauh dari Gion, Kyoto. Keadaan ekonomi memaksa dia (Chiyo) dan kakaknya Satsu, dijual menjadi budak sejak mereka berusia 9 tahun. Chiyo dan Satsu dijual pada Okiya (rumah Geisha) yang berbeda. Chiyo yang memiliki mata berwarna cermin (abu-abu samar) terlihat sangat cantik dan menarik sehingga memiliki potensi untuk menjadi Geisha yang memikat.
Chiyo kecil yang mengalami berbagai peristiwa pahit dalam hidupnya hingga takdir menjadikan dia seorang Geisha bernama Sayuri, lika-liku kehidupan seorang gadis kacil dengan segala kisahnya sebaiknya kalian tonton sendiri dari film ini.
⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀
Itulah film-film kisah anak dalam sejarah dan perang dunia yang pernah aku tonton, dari film-film tersebut aku banyak belajar tentang sejarah.
“Tak pernah ada perang untuk perang. Ada
banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun
ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang
ini, ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati,
hidup atau kalah-menang.”
(Pramoedya Ananta Toer)
Mereka Bilang Ini Rumah
Mereka bilang ini rumah tapi entah
Tak ada tempat bagi cerita apalagi keluh kesah
Tak pernah tersedia telinga
Tak pernah tersedia pelukan
Yang terjadi hanya hujatan cacian dan makian
Pukulan untuk lahir pukulan untuk batin
Mereka bilang ini rumah
Tapi
Hanya diri yang dipeluk kesendirian dalam tangisan
Hanya diri meringkuk mencari perlindungan dalam setiap kesunyian
Udara yang merangkup selalu menghadirkan ketakutan
Jirih menggetar dalam topan
Tapi tetap mereka menuding bilang bahwa ini rumah
Beginikah?
Baiklah
Biarkan mereka mengatakan begitu
Aku bisa apa?
Bicara pun hanya menguak bara
Mulut birhias intan sekalipun di sini tetap cela
Aku sudah bilang kan
Di sini tak akan pernah ditemukan telinga
Pantulan bias-bias perih dentingan air mata
Tak pernah terdengar sekalipun dipaksa
Semua tertahan
Sedu sedan bisikan sampai teriakan
Semua memang ada
Semua itu milikku
Tapi lagi-lagi hanya tertahan
Membusuk dalam diri mengendap dalam hati
Berkali-kali
Jadi biarkan mereka mengatakan ini rumah
Rumah bagi semua rasa sakit dan ketakutan
Rumah bagi kesendirian
Sragen, 22 Februari 2017
Tak ada tempat bagi cerita apalagi keluh kesah
Tak pernah tersedia telinga
Tak pernah tersedia pelukan
Yang terjadi hanya hujatan cacian dan makian
Pukulan untuk lahir pukulan untuk batin
Mereka bilang ini rumah
Tapi
Hanya diri yang dipeluk kesendirian dalam tangisan
Hanya diri meringkuk mencari perlindungan dalam setiap kesunyian
Udara yang merangkup selalu menghadirkan ketakutan
Jirih menggetar dalam topan
Tapi tetap mereka menuding bilang bahwa ini rumah
Beginikah?
Baiklah
Biarkan mereka mengatakan begitu
Aku bisa apa?
Bicara pun hanya menguak bara
Mulut birhias intan sekalipun di sini tetap cela
Aku sudah bilang kan
Di sini tak akan pernah ditemukan telinga
Pantulan bias-bias perih dentingan air mata
Tak pernah terdengar sekalipun dipaksa
Semua tertahan
Sedu sedan bisikan sampai teriakan
Semua memang ada
Semua itu milikku
Tapi lagi-lagi hanya tertahan
Membusuk dalam diri mengendap dalam hati
Berkali-kali
Jadi biarkan mereka mengatakan ini rumah
Rumah bagi semua rasa sakit dan ketakutan
Rumah bagi kesendirian
Sragen, 22 Februari 2017
Tuesday, February 7, 2017
Bertukar tempat
Dulu ketika aku masih SD aku begitu ingin bertukar tempat dengan temanku, sebut saja namanya Lisa. Pasalnya Lisa ini adalah anak seorang Polisi, tapi bukan karena sebab itu aku ingin bertukar tempat dengannya, karena bapakku sendiri pekerjaannya tidak kalah hebat dengan bapak Lisa, yaitu seorang PNS. Dan aku sebenarnya juga sangat bangga dengan pekerjaan bapakku sendiri. Jadi bukan karena itu aku ingin menjadi Lisa. Meskipun bisa dibilang bapak Lisa memang sangat gemati, dalam hal ini bapakku sendiri juga cukup gemati. Tapi gematinya bapak Lisa memang bisa membuat anak lain cukup iri dengannya. Tiap pagi, setiap akan berangkat sekolah, aku pasti menghampiri Lisa dulu. Di rumah Lisa, dia masih mandi kadang baru dibangunkan dari tidur. Mungkin karena aku memang takut jika ditinggal berangkat sendiri, atau memang aku yang terlalu kesregepen. Disitu bapak Lisa sedang menggosok sepasang sepatu Lisa dengan semir hingga terlihat begitu hitam dan mengkilat. Lalu aku melihat sepatuku, tidak semengkilat sepatu Lisa tapi masih bisa disebut hitam. Karena dua hari yang lalu sudah ku gosok. Sedang sepatu Lisa selalu tiap pagi digosok oleh bapaknya, tentu kecuali hari minggu. Lalu berturut-turut sepatu mbaknya Lisa dan kemudian sepatu teprok milik bapak Lisa sendiri. Dulu aku menyebut sepatu polisi bapaknya Lisa dengan sebutan sepatu teprok. Karena memang tiap dipakai pasti begitu bunyinya. Sungguh gagah sekali. Walaupun bapakku sendiri tiap pergi ke kantor juga memakai sepatu tapi tidak seteprok sepatu bapaknya Lisa. Selesai dengan sepatu-sepatu tersebut bapak Lisa beralih ke sepeda Lisa. Dengan sehelai kain yang dicelup air terlebih dahulu, bapak Lisa mulai mengelap sepeda Lisa. Hingga kinclong, tanpa debu dan noda becek cipratan. Lalu aku melihat sepedaku sendiri, sudah tidak sebagus sepeda Lisa, sudah banyak baret-baret dan jelas penuh debu penuh nanah. Jika bapak Lisa melihat sepedaku, rasanya malu, jangan-jangan bapak Lisa mengiranya ini bukan sepeda tapi kemoceng yang berbentuk sepeda karena saking banyaknya debu dan gelantungan-gelantungan rumah laba-laba. Sempat terpikir untuk memarkir sepedaku agak jauh dari rumah Lisa, tapi takut jika ada tukang rosok yang mengambilnya karena dikira barang rosokan. Jadi ya sudah terima nasip saja, sambil menunggu Lisa dan teman-teman lain menghampiri. Karena memang bisa disebut rumah Lisa ini sebagai jurusan pertama yang dituju sebelum berangkat sekolah. Titik berkumpul. Mungkin karena itu juga Lisa menjadi ketua dari kami semua. Anak seorang polisi, punya kakak (sebagai tameng), paling pintar, paling kaya, paling bisa menguasai semuanya dan entah apa lagi faktor yang membuatnya menjadi pemimpin tanpa ditunjuk dan tanpa pemilihan suara terlebih dahulu, karena waktu itu kami memang belum paham dengan istilah musyawarah. Tapi yang jelas sejak TK sampai kelas enam SD memang Lisa adalah bosnya.
Selanjutnya yang membuat aku begitu ingin bertukar tempat dengan Lisa adalah karena ibunya tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga biasa. Ibunya sabar dan bicaranya selalu halus. Tiap pagi meski Lisa selalu telat bangun tapi dia bisa begitu santai, karena semua hal sudah disiapkan oleh bapak dan ibunya. Seragamnya sudah rapi, sarapannya juga sudah disiapkan. Lisa tidak perlu bekerja membatu ibunya, karena ibunya hanya ibu rumah tangga, sedangkan ibuku adalah penjual makanan yang tiap pagi sekali sudah membuka warungnya. Jadi bangun pagi sudah menjadi kebiasaan, jika tidak bangun dan membantu bukan hanya tidak dapat uang saku (masalah kecil kalau tidak dapat uang saku, karena celengan ayamku ada tiga penuh semua) tapi lebih karena aku bisa dihajar habis-habisan oleh ibuku, jambakan dan tendangan, juga macam-macam bentuk hukuman lainnya sudah biasa kalau aku malas bangun dan tidak membantu. Jadi bisa dibayangkan bumi dan langitnya kehidupanku dengan Lisa.
Rumah Lisa yang selalu bersih, karena ibunya memang terfokus sebagai ibu rumah tangga saja tanpa harus bekerja mencari uang. Bahkan ada seorang tetangga yang khusus dibayar untuk mencuci baju keluarga tersebut. Waktu itu memang belum ada jasa Laundry. Mesin cuci pun juga masih menjadi barang mewah, jadi untuk hidup enak bisa dengan membayar buruh cuci, aku sering melihat cuciannya berember-ember banyaknya, aku bisa membayangkan buruh cuci tersebut jarinya akan lecet-lecet. Aku sendiri yang cuma mencuci baju-bajuku saja jari bisa berubah, ruas jari tangan yang aku fokuskan untuk menguecek kerah seragam putihku yang tidak putih bisa sangat perih cekit-cekit seperti ditusuk-tusuk jarum apalagi jika dengan sabun cuci Daia, perih juga panas. Apalagi jika sudah bagian mencuci celana dalamku sendiri, terkadang sedikit jijik. Padahal milikku sendiri. Pikiran anak SD-ku waktu itu, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan buruh cuci di rumahnya Lisa, harus mencuci celana dalam seluruh anggota keluarga itu. Tapi tentu tidak masalah karena dibayar, uang dua puluh ribu untuk sekali cuci, waktu itu pasti cukup banyak artinya.
Lisa yang selalu rengking satu di kelas, jelas karena bapak Lisa yang seorang polisi yang memang juga pintar. Karena memang jika dilihat, mbaknya Lisa dan adiknya Lisa juga pintar-pintar. Sedangkan aku sendiri bapak ibuku saja jika aku lihat buku rapotnya nilainya doremi semua, banyak yang merah. Tapi syukurlah aku masih sering dapat rengking juga, meski cuma masuk lima besar terus. Dan mentok sampai rengking 3 tidak pernah lebih dari itu malah kadang turun, tapi bisa dibilang aku cukup membangkan kan jika dilihat dari bibit keluargaku. Selain itu, seperti yang telah aku ceritakan diawal, bahwa Lisa adalah bos dari kami semua (aku dan tiga temanku yang lain). Sebagai bos, semua hal harus menurut pada kehendak Lisa, seperti pemilihan pilihan permainan dan akan bermain dimana. Jika tidak menurut pada keinginan Lisa, maka hukuman untuk anak tersebut adalah dengan tidak diajak bicara, dikucilkan dan tidak diajak main. Pernah suatu kali aku memakai sepatu baru, Lisa yang tahu akan hal tersebut tidak menyukainya. Dengan dalih kalau aku pamer sepatu baru, Lisa dengan mengajak teman-teman yang lain menjauhiku, aku tidak diajak bermain, diberi wajah masam dan bahkan ketika aku bertanya sesuatu pun tidak dijawab. Sungguh mengucilan yang sangat menakutkan.
Lisa sungguh menguasai permainan, semua teman-teman harus mengalah padanya. Meskipun begitu aku merasa kehidupan Lisan sempurna sekali.
Banyak hal yang membuatku ingin bertukar tempat dengan Lisa, selain hal-hal tersebut diatas, juga yang paling utama adalah keadaan keluarga Lisa. Aku selalu melihat bapak dan ibu Lisa tidak pernah bertengkar, selalu akur dan harmonis. Ibu Lisa yang penyabar selalu berbicara halus dengan bapak Lisa. Dan bapak Lisa juga orang yang baik hati dan tidak pernah bicara kasar ataupun keras pada ibu Lisa. Aku sendiri juga tidak pernah melihat ada barang di rumah Lisa yang terbanting karena bapak ibu Lisa bertengkar. Tidak seperti bapak dan ibuku, yang bahkan tidak bisa dihitung berapa kali dalam seminggu mereka bertengkar saling bertukar caci maki teriakan sumpah-serapah lalu membanting barang-barang dan diakhiri dengan bapakku minggat dari rumah. Keadaan di rumah Lisa selalu damai tanpa keributan, aku bayangkan jikapun ada pertengkaran pasti Lisa tidak akan sendiri karena dia punya mbak dan adik yang bisa saling menghibur. Sedangkan aku waktu itu, memang punya adik, tapi masih bayi, masih belum mengerti apa-apa. Praktis tiap ada pertengkaran di rumah, aku hanya sendiri, takut dan bingung harus bagaimana.
Selain itu dulu aku juga begitu mengimpikan rumah dengan satu kamar khusus untuk solat berjamaah sekeluarga. Tiap selesai Solat Magrib sendirian, aku berdoa lalu menangis tersedu, berulang-ulang doaku tersebut, ingin memiliki mushola kecil di dalam rumah. Sehingga aku bisa solat berjamaah dengan bapak dan ibuku, lalu kemudian dengan adikku ketika dia sudah mengerti solat. Begitu inginnya aku bisa solat bersama keluarga kumplit. Selama ini jikapun solat, paling-paling cuma dengan bapakku. Karena kamarnya cuma muat untuk sholat dua orang saja. Tapi meskipun begitu, bertahun-tahun kemudian memang doaku terjawab tapi tetap saja, aku hanya solat berdua dengan bapak saja, karena sibuknya ibuku bekerja.
Keluarga Lisa, rumah Lisa, dan semua yang Lisa miliki rasanya benar-benar tiada cacat. Aku berpikir pasti begitu bahagia jika bisa menjadi Lisa, bertukar tempat dengan Lisa. Aku menjadi Lisa dan Lisa menjadi aku. Khayalan dari otak anak SD yang mungkin bisa disebut belum mengerti bagaimana caranya mensyukuri hidup. Entah apakah ada anak lain yang juga punya pikiran seperti aku hingga ingin bertukar tempat dengan orang lain. Tapi mengingat kehidupan masa kecil yang begitu keras dan menyakitkan, dosakah bila aku begitu menginginkan menjadi orang lain yang kupandang lebih bahagia? Berdosakah jika aku menginkan kehidupan yang lebih indah? Berdosakah?
Selanjutnya yang membuat aku begitu ingin bertukar tempat dengan Lisa adalah karena ibunya tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga biasa. Ibunya sabar dan bicaranya selalu halus. Tiap pagi meski Lisa selalu telat bangun tapi dia bisa begitu santai, karena semua hal sudah disiapkan oleh bapak dan ibunya. Seragamnya sudah rapi, sarapannya juga sudah disiapkan. Lisa tidak perlu bekerja membatu ibunya, karena ibunya hanya ibu rumah tangga, sedangkan ibuku adalah penjual makanan yang tiap pagi sekali sudah membuka warungnya. Jadi bangun pagi sudah menjadi kebiasaan, jika tidak bangun dan membantu bukan hanya tidak dapat uang saku (masalah kecil kalau tidak dapat uang saku, karena celengan ayamku ada tiga penuh semua) tapi lebih karena aku bisa dihajar habis-habisan oleh ibuku, jambakan dan tendangan, juga macam-macam bentuk hukuman lainnya sudah biasa kalau aku malas bangun dan tidak membantu. Jadi bisa dibayangkan bumi dan langitnya kehidupanku dengan Lisa.
Rumah Lisa yang selalu bersih, karena ibunya memang terfokus sebagai ibu rumah tangga saja tanpa harus bekerja mencari uang. Bahkan ada seorang tetangga yang khusus dibayar untuk mencuci baju keluarga tersebut. Waktu itu memang belum ada jasa Laundry. Mesin cuci pun juga masih menjadi barang mewah, jadi untuk hidup enak bisa dengan membayar buruh cuci, aku sering melihat cuciannya berember-ember banyaknya, aku bisa membayangkan buruh cuci tersebut jarinya akan lecet-lecet. Aku sendiri yang cuma mencuci baju-bajuku saja jari bisa berubah, ruas jari tangan yang aku fokuskan untuk menguecek kerah seragam putihku yang tidak putih bisa sangat perih cekit-cekit seperti ditusuk-tusuk jarum apalagi jika dengan sabun cuci Daia, perih juga panas. Apalagi jika sudah bagian mencuci celana dalamku sendiri, terkadang sedikit jijik. Padahal milikku sendiri. Pikiran anak SD-ku waktu itu, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan buruh cuci di rumahnya Lisa, harus mencuci celana dalam seluruh anggota keluarga itu. Tapi tentu tidak masalah karena dibayar, uang dua puluh ribu untuk sekali cuci, waktu itu pasti cukup banyak artinya.
Lisa yang selalu rengking satu di kelas, jelas karena bapak Lisa yang seorang polisi yang memang juga pintar. Karena memang jika dilihat, mbaknya Lisa dan adiknya Lisa juga pintar-pintar. Sedangkan aku sendiri bapak ibuku saja jika aku lihat buku rapotnya nilainya doremi semua, banyak yang merah. Tapi syukurlah aku masih sering dapat rengking juga, meski cuma masuk lima besar terus. Dan mentok sampai rengking 3 tidak pernah lebih dari itu malah kadang turun, tapi bisa dibilang aku cukup membangkan kan jika dilihat dari bibit keluargaku. Selain itu, seperti yang telah aku ceritakan diawal, bahwa Lisa adalah bos dari kami semua (aku dan tiga temanku yang lain). Sebagai bos, semua hal harus menurut pada kehendak Lisa, seperti pemilihan pilihan permainan dan akan bermain dimana. Jika tidak menurut pada keinginan Lisa, maka hukuman untuk anak tersebut adalah dengan tidak diajak bicara, dikucilkan dan tidak diajak main. Pernah suatu kali aku memakai sepatu baru, Lisa yang tahu akan hal tersebut tidak menyukainya. Dengan dalih kalau aku pamer sepatu baru, Lisa dengan mengajak teman-teman yang lain menjauhiku, aku tidak diajak bermain, diberi wajah masam dan bahkan ketika aku bertanya sesuatu pun tidak dijawab. Sungguh mengucilan yang sangat menakutkan.
Lisa sungguh menguasai permainan, semua teman-teman harus mengalah padanya. Meskipun begitu aku merasa kehidupan Lisan sempurna sekali.
Banyak hal yang membuatku ingin bertukar tempat dengan Lisa, selain hal-hal tersebut diatas, juga yang paling utama adalah keadaan keluarga Lisa. Aku selalu melihat bapak dan ibu Lisa tidak pernah bertengkar, selalu akur dan harmonis. Ibu Lisa yang penyabar selalu berbicara halus dengan bapak Lisa. Dan bapak Lisa juga orang yang baik hati dan tidak pernah bicara kasar ataupun keras pada ibu Lisa. Aku sendiri juga tidak pernah melihat ada barang di rumah Lisa yang terbanting karena bapak ibu Lisa bertengkar. Tidak seperti bapak dan ibuku, yang bahkan tidak bisa dihitung berapa kali dalam seminggu mereka bertengkar saling bertukar caci maki teriakan sumpah-serapah lalu membanting barang-barang dan diakhiri dengan bapakku minggat dari rumah. Keadaan di rumah Lisa selalu damai tanpa keributan, aku bayangkan jikapun ada pertengkaran pasti Lisa tidak akan sendiri karena dia punya mbak dan adik yang bisa saling menghibur. Sedangkan aku waktu itu, memang punya adik, tapi masih bayi, masih belum mengerti apa-apa. Praktis tiap ada pertengkaran di rumah, aku hanya sendiri, takut dan bingung harus bagaimana.
Selain itu dulu aku juga begitu mengimpikan rumah dengan satu kamar khusus untuk solat berjamaah sekeluarga. Tiap selesai Solat Magrib sendirian, aku berdoa lalu menangis tersedu, berulang-ulang doaku tersebut, ingin memiliki mushola kecil di dalam rumah. Sehingga aku bisa solat berjamaah dengan bapak dan ibuku, lalu kemudian dengan adikku ketika dia sudah mengerti solat. Begitu inginnya aku bisa solat bersama keluarga kumplit. Selama ini jikapun solat, paling-paling cuma dengan bapakku. Karena kamarnya cuma muat untuk sholat dua orang saja. Tapi meskipun begitu, bertahun-tahun kemudian memang doaku terjawab tapi tetap saja, aku hanya solat berdua dengan bapak saja, karena sibuknya ibuku bekerja.
Keluarga Lisa, rumah Lisa, dan semua yang Lisa miliki rasanya benar-benar tiada cacat. Aku berpikir pasti begitu bahagia jika bisa menjadi Lisa, bertukar tempat dengan Lisa. Aku menjadi Lisa dan Lisa menjadi aku. Khayalan dari otak anak SD yang mungkin bisa disebut belum mengerti bagaimana caranya mensyukuri hidup. Entah apakah ada anak lain yang juga punya pikiran seperti aku hingga ingin bertukar tempat dengan orang lain. Tapi mengingat kehidupan masa kecil yang begitu keras dan menyakitkan, dosakah bila aku begitu menginginkan menjadi orang lain yang kupandang lebih bahagia? Berdosakah jika aku menginkan kehidupan yang lebih indah? Berdosakah?
Thursday, January 12, 2017
Lagu Penuh Haru
Ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu
sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta
Sebagian lirik lagu Letto judulnya Sebelum Cahaya
Seakan menerbangkanku pada masa yang begitu dingin
Pada seseorang yang membawa kebekuan abadi untukku
Yang sekejap mampu mengembunkan mataku
Saturday, January 7, 2017
Semesta
Aku kecil adalah seorang yang memuja langit. Mungkin seperti kebanyakan anak kecil yang lain, bercita-cita sebagai astronot. Meskipun lebih besar mustahilnya daripada tercapainya. Tapi memang kecintaan kepada langit, kepada galaksi, kepada bintang gemintang, planet-planet serta gugusan rahasia yang ribuan banyaknya di angkasa sana telah mengimpiku untuk bercita-cita sebagai astronot. Hingga sekumpulan pemikiran yang mengantarku menuju tumbuh besar dan semakin dewasa datang, menggeser cita-cita masa kecil yang terlalu besar untuk dapat tercapai. Memupus ikhlas cita-cita sebagai astronot, namun tidak akan kecintaanku terhadap semesta di angkasa.
Dalam otak kecilku, aku memiliki banyak pertanyaan tentang semesta ini. Ribuan jumlahnya. Semakin aku diperkenalkan pada angka, huruf, hingga bacaan dan hitungan yang luar biasa rumitnya, hanya semakin menambah-nambah pertanyaan di kepalaku. Pertanyaan yang tak mampu kujawabi sendiri, bahkan tak mampu untuk hanya sekedar kulontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Alam ini selalu sebanding lurus dengan kerahasiaan-Nya. Bisakah meskipun secuil aku mendapat jawaban, karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti banjir di kepala, semakin penuh semakin ingin tumpah.
Tentang semesta alam raya ini. Langit yang maha luas, tempat tinggal para bintang yang digambarkan memiliki 5 sudut lancip yang diajarkan dalam pelajaran sejak aku mampu menggores kertas gambar. Benarkah bintang berbentuk seperti itu? Lalu kubah langit yang kokoh dan berlapis, benarkah itu ada di sana? Itukah yang tempat meletakan bintang-bintang tersebut? Lalu tentang bulan, bersinar di waktu malam dan pucat di waktu pagi atau siang. Berubah bentuk selalu. Bagaimana keadaan di bulan sana? Indahkah, seperti saat manusia memandangnya dari sini dari bumi? Tentang awan yang kubayangkan lembut seperti kapas, berarak ikut menjadi pengisi langit. Awan benarkah seperti itu? Juga ribuan pertanyaan-pertanyaan lain. Rasa-rasanya sampai matipun aku tidak akan mampu menemui jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang aku temui sendiri dengan mendatanginya secara langsung. Bukan dari google atau dari youtube di masa keterbukaan seperti sekarang. Tapi benar-benar kudatangi sendiri. Tidak akan mampu.
Dalam hidupku yang cuma satu kali, aku tetap mencintai langit. Tetap bermimpi indah jika diterbangkan dalam angkasa raya yang hitam namun penuh gemintang dan arakan awan. Bulan? Jika diperkenankan ada tentu juga menambah indah. Lalu lebih lenggi lebih luas lagi lebih indah lagi. Tentang langit yang dipenuhi bintik-bintik cahaya. Langit hitam namun tidak kelam.
Dalam otak kecilku, aku memiliki banyak pertanyaan tentang semesta ini. Ribuan jumlahnya. Semakin aku diperkenalkan pada angka, huruf, hingga bacaan dan hitungan yang luar biasa rumitnya, hanya semakin menambah-nambah pertanyaan di kepalaku. Pertanyaan yang tak mampu kujawabi sendiri, bahkan tak mampu untuk hanya sekedar kulontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Alam ini selalu sebanding lurus dengan kerahasiaan-Nya. Bisakah meskipun secuil aku mendapat jawaban, karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti banjir di kepala, semakin penuh semakin ingin tumpah.
Tentang semesta alam raya ini. Langit yang maha luas, tempat tinggal para bintang yang digambarkan memiliki 5 sudut lancip yang diajarkan dalam pelajaran sejak aku mampu menggores kertas gambar. Benarkah bintang berbentuk seperti itu? Lalu kubah langit yang kokoh dan berlapis, benarkah itu ada di sana? Itukah yang tempat meletakan bintang-bintang tersebut? Lalu tentang bulan, bersinar di waktu malam dan pucat di waktu pagi atau siang. Berubah bentuk selalu. Bagaimana keadaan di bulan sana? Indahkah, seperti saat manusia memandangnya dari sini dari bumi? Tentang awan yang kubayangkan lembut seperti kapas, berarak ikut menjadi pengisi langit. Awan benarkah seperti itu? Juga ribuan pertanyaan-pertanyaan lain. Rasa-rasanya sampai matipun aku tidak akan mampu menemui jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang aku temui sendiri dengan mendatanginya secara langsung. Bukan dari google atau dari youtube di masa keterbukaan seperti sekarang. Tapi benar-benar kudatangi sendiri. Tidak akan mampu.
Dalam hidupku yang cuma satu kali, aku tetap mencintai langit. Tetap bermimpi indah jika diterbangkan dalam angkasa raya yang hitam namun penuh gemintang dan arakan awan. Bulan? Jika diperkenankan ada tentu juga menambah indah. Lalu lebih lenggi lebih luas lagi lebih indah lagi. Tentang langit yang dipenuhi bintik-bintik cahaya. Langit hitam namun tidak kelam.
Wednesday, December 21, 2016
Sepasang Sendal Jepit
Hari ini sendal jepitku rusak. Sendal yang sudah berjasa menemaniku melangkah itu sudah tidak mampu mempertahankan tubuhnya sendiri. Sudahkah dia lelah dengan jalanan beraspal yang panas, dengan jalan berbatu dan becek. Mungkinkah dia sudah lelah dengan guyuran air kran saat aku berwudhu.
Meskipun hanya sendal jepit tapi itu sudah mampu membuatku sedih. Tanpa sendal jepit itu, bisa saja kakiku tertancap paku, beling, ataupun benda lainnya yang bisa membuat kaki berdarah. Benda yang hanya menjadi alas bagi kaki. Benda yang setiap kali aku melangkah berarti aku menginjaknya, namun ternyata begitu berjasa.
Sendal jepitku yang sama sekali tak mewah. Hanya sendal jepit berharga murah, dibeli dari penjual lapak kaki lima diseputaran alun-alun daerah. Sendal jepitku yang sudah begitu berjasa mengalasi kakiku dalam melangkah. Pastilah dia sudah lelah. Atau mungkin jengah.
Monday, December 19, 2016
Hujan Kita
Untuk Devid
Hujan
Sungguh
Meski beribu kali paksaanpun aku tak akan sanggup
Tak akan sanggup merangkai hujan dalam kata-kata
Meski hujan
Selalu mewujudkanmu dalam rinainya
Dalam setiap tetesnya
Dalam setiap rintiknya
Adalah sabda
Kebeningan rindu yang tak terjumlah banyaknya
Dan hujan
Aku sungguh tak mampu berkata-kata
Sragen, 15 Desember 2016
17:41 Waktu Indonesia Hujan
Hujan
Sungguh
Meski beribu kali paksaanpun aku tak akan sanggup
Tak akan sanggup merangkai hujan dalam kata-kata
Meski hujan
Selalu mewujudkanmu dalam rinainya
Dalam setiap tetesnya
Dalam setiap rintiknya
Adalah sabda
Kebeningan rindu yang tak terjumlah banyaknya
Dan hujan
Aku sungguh tak mampu berkata-kata
Sragen, 15 Desember 2016
17:41 Waktu Indonesia Hujan
Dari Devid
Karena hujan tak akan diam
Hujan akan mengalirkan rasa rindu yang selalu aku rasakan
Aku titipkan pada setiap tetes hujan
Sukoharjo, 15 Desember 2016
17:46 Waktu Indonesia Masih Hujan
Tapi Kamu
Aku memperhatikanmu, tapi kamu?
Aku melihatmu, tapi kamu?
Aku merindukanmu, tapi kamu?
Aku menyayangimu, tapi kamu?
Aku mencintaimu, tapi kamu?
Entah...
Sragen, 19 Desember 2016
Monday, December 12, 2016
Kepik Emas
Ada seekor kepik emas, menempel pada daun, daun yang entah apa namanya berada di pinggir pematang sawah. Di tepi sebuah sungai kecil, atau boleh disebut dengan selokan tempat air yang mengaliri tiap petak sawah. Kepik emas kecil tak cuma satu dua, tapi banyak sekali jumlahnya. Dan menempel pada tiap daun-daun yang ada. Daun yang kian hari bolong-bolong. Mungkin kepik emas tersebut yang memakan daun itu hingga bolong dimana-mana. Begitu dari yang kuamati.
Aku tak begitu paham dengan kehidupan kepik emas yang terlihat hanya diam saja, padahal dibalik cangkang emasnya yang kaca tersebut terdapat sayap. Sayap yang tiap saat bisa membawanya terbang ketika merasa terancam. Kepik emas mungkin sejenis serangga. Serangga kecil diantara luasnya semesta. Tak banyak yang menghiraukan serangga kecil bersayap tersebut. Jika dibandingkan serangga yang lain, yang lebih besar lebih indah, seperti kupu-kupu dengan sayapnya yang menawan.
Kepik emas hanya binatang kecil entah apa gunanya bagi dunia yang begitu luas ini. Terik matahari yang menyengat perlahan bergerak ke barat dan kepik emas tetap diam di tempatnya. Pun ketika segerombolan anak-anak kampung yang bertanjang dada memburu mereka. Satu per satu ditangkapi. Habis sudah kepik-kepik emas hari itu. Puas anak-anak tersebut memperoleh banyak kepik dalam plastik beningnya masing-masing. Entah untuk apa kepik emas itu bagi mereka nanti.
Senjakala melembayung, biasnya mengantarkan capung-capung yang terbang melesat diatas selokan sawah. Satu kepik emas terjatuh dari tangan seorang anak. Mungkin terlewat oleh anak tersebut. Satu kepik emas yang tak mampu kembali terbang ke atas daun. Mungkin tubuhnya hancur digenggam terlampau kuat oleh sang anak kampung. Satu kepik kecil yang berwarna keemasan tersebut tak mampu melawan takdirnya untuk hidup barang sehari lagi melewati malam yang sebentar lagi datang. Satu kepik emas mati. Dalam diam aku hanya bertanya sendiri. Adakah artinya kematian satu kepik emas kecil diantara luasnya semesta raya ini? Lalu angin mendesau mengantarkan jawab pada sepi.
Aku tak begitu paham dengan kehidupan kepik emas yang terlihat hanya diam saja, padahal dibalik cangkang emasnya yang kaca tersebut terdapat sayap. Sayap yang tiap saat bisa membawanya terbang ketika merasa terancam. Kepik emas mungkin sejenis serangga. Serangga kecil diantara luasnya semesta. Tak banyak yang menghiraukan serangga kecil bersayap tersebut. Jika dibandingkan serangga yang lain, yang lebih besar lebih indah, seperti kupu-kupu dengan sayapnya yang menawan.
Kepik emas hanya binatang kecil entah apa gunanya bagi dunia yang begitu luas ini. Terik matahari yang menyengat perlahan bergerak ke barat dan kepik emas tetap diam di tempatnya. Pun ketika segerombolan anak-anak kampung yang bertanjang dada memburu mereka. Satu per satu ditangkapi. Habis sudah kepik-kepik emas hari itu. Puas anak-anak tersebut memperoleh banyak kepik dalam plastik beningnya masing-masing. Entah untuk apa kepik emas itu bagi mereka nanti.
Senjakala melembayung, biasnya mengantarkan capung-capung yang terbang melesat diatas selokan sawah. Satu kepik emas terjatuh dari tangan seorang anak. Mungkin terlewat oleh anak tersebut. Satu kepik emas yang tak mampu kembali terbang ke atas daun. Mungkin tubuhnya hancur digenggam terlampau kuat oleh sang anak kampung. Satu kepik kecil yang berwarna keemasan tersebut tak mampu melawan takdirnya untuk hidup barang sehari lagi melewati malam yang sebentar lagi datang. Satu kepik emas mati. Dalam diam aku hanya bertanya sendiri. Adakah artinya kematian satu kepik emas kecil diantara luasnya semesta raya ini? Lalu angin mendesau mengantarkan jawab pada sepi.
Mendung
Satu hari yang banyak orang menunggunya dalam setahun penuh. Bagiku telah berlalu begitu saja tanpa sisa. Seperti hari-hari yang lain, terlewati.
Mungkin bedanya, hanya dari macam-macam ucapan yang diberikan oleh orang lain untukku. Yang menguap bersama detik yang juga berlalu.
Menggelayut dalam selaput mendung.
Di langit.
Langit manapun.
12 Desember 2016
Sragen penuh mendung
Saturday, December 3, 2016
Kepada Teman
Kepada teman,
sebenarnya kurang mengalah seperti apa aku. Sejak dulu,
sejak dari kecil, aku selalu mengalah, semuanya demi agar aku punya teman. Biarlah
lelah aku tahan, tapi setidaknya temanku nyaman. Biarlah aku yang tidak
berpunya tapi setidaknya temanku ada. Selalu itu yang aku utamakan. Tapi entah
sampai sekarang rasanya memang aku terus yang bagaikan menggendong
teman-temanku dengan pundak yang sudah begitu kesakitan, dengan kaki yang
terus-terusan tersaruk sepanjang jalan. Aku mengalah.
Kepada teman,
aku melewati masa taman kanak-kanak dengan banyak ketakutan,
dengan banyak rasa malu, dengan banyak rasa tidak percaya diri. Tapi aku terus
saja berusaha menggandeng satu persatu tangan-tangan kecil dari tiap bangku
yang juga kecil. Aku mencoba ingin memiliki setidaknya satu saja balasan dari
gandengan tangan kecil tersebut. Iya memang ada, tapi kenapa sampai hati
gandengan tersebut menyeretku pada rasa ketakutan yang lain, pada rasa rendah
diri yang lain. Tak ada secuilpun cacatku tersebut yang terhapus, malah terasa semakin
tergenapkan, bertambah-tambah. Tapi apa pernah aku lepas gandengan tersebut? Tidak
pernah! Susah payah aku memilikinya, maka akan berusaha bagaimanapun aku
pertahankan.
Kepada teman,
memasuki masa sekolah dasar, aku tetap anak yang sama. Anak yang
ingin memiliki teman, banyak teman! Namun dari gandengan sepertinya perlahan
berubah menjadi seretan. Entah aku sadari entah tidak tapi aku perlahan hanya
menjadi pengikut. Apakah disitu aku masih dipanggil dengan sebutan teman oleh
temanku? Entahlah, tapi yang jelas aku tetap menganggapnya teman. Segala hal
aku lalukan agar dapat bersama dalam linggakaran pertemanan tersebut. Segala
hal! Tapi sepertinya itu saja tidak cukup. Aku semakin tertinggal jauh oleh
teman-temanku. Aku terlalu dibelakang untuk bisa mengejar. Karena aku memang
tak pernah sejajar. Dari awal sekalipun, hanya aku sendiri yang mati-matian
menjajari mereka, tapi kenyataan memang yang akhirnya menyadarkanku. Berdiri aku
sendiri, memandangi yang tak pernah terlihat lagi. Memaku langkah, sempatkah
diantara temanku yang akan menengokku?
Kepada teman,
aku sudah benar-benar lelah pada masa ini, masa putih biru.
Biarlah masa yang kali ini aku habisan untuk sendiri, tanpa harus mati-matian
mencari teman. Aku tidak lagi percaya bahwa teman bisa menghapus kesakitan dari
rasa sepi. Aku menyerah saja, lebih baik diam. Namun, ternyata satu gapaian
tangan yang malah meraih tanganku. Tangan itu, merentangkan setangkap
pertemanan. Dia bilang akan manis jika dimakan berdua. Hari-hari, aku merasa
seperti memiliki penyangga saat aku lelah dalam senja, aku seperti memiliki
pendorong tiap pagi, aku seperti memiliki pengungkit kala siang terik
menyusutkanku, dan aku seperti memiliki penggandeng dalam hari-hari itu. Apalagi
yang aku kurangkan. Aku pun lakukan hal yang sama. Aku begitu bersyukur aku
memiliki teman. Atau sudah seharusnya aku sebut sabahat, iya aku memiliki
sahabat. Segala milikku adalah miliknya, tak ada tanda titik sekecil apapun aku
sembunyikan darinya. Semua pintu serba terbuka untuknya. Bahkan pintu
terlemahku pun terbuka hanya untuknya. Dia sahabatku, satu-satunya sahabatku
sampai pada detik itu. Sampai pada satu titik dimana dia menggempurku habis
dalam satu pukulan telak. Tanpa sempat dia lepaskan tanganku, rupanya seperti
itu cara seorang yang telah kuanggap sebagai sahabat menghancurkan satu
persahabatan. Aku kalah! Kalah oleh rasa perih yang yang tak terperi. Aku hanya
mampu diam dalam jatuhku. Aku masih berusaha mencerna semuanya, memahami satu
persatu yang ditimpakan padaku, sendiri. Hingga aku sadar seharusnya memang
sejak awal aku pilih sendiri, tidak perlu teman, apalagi sahabat. Bukankah dari
sekian banyak waktu memang sendiri. Lalu mengapa butuh teman. Maka begitulah, kuhabiskan
masa putih biruku hanya dengan buku dan dunia khayalku sendiri. Teman? Silahkan
kalian bisa anggap aku teman, tapi aku tidak.
Kepada teman,
entah haruskah aku memiliki pengharapan tentang teman diakhir
masa sekolahku ini? Awal masa putih abu-abu rasanya cacatku kembali bertambah
memenuhi mukaku. Adakah yang seperti ini aku akan memiliki teman? Tidak! Aku tidak
akan lagi berharap-harap yang hanya akan semakin mencederai hatiku sendiri. Biarlah
semua seperti biasanya, diam, sepi, sendiri. Namun memang perlahan kembali aku
harus berpikir, begitu perlahan, sangat perlahan. Lambat! Hingga benar-benar
tiba di masa terakhir sekolah. Semua teman bisa aku raih, semua! Entah aku
sadari atau tidak, tapi ternyata begitu menyenangkan bisa memiliki teman
sebanyak ini. Dan begitu bodohnya aku terlambat menyadari itu. Tapi tidak apa,
akan aku pertahankan. Bukankah itu bagian dari yang sulit? Mempertahankan suatu
hubungan! Apalagi hubungan pertemanan.
Kepada teman,
kita menempuh perjalanan masing-masing, kita memilih jalan
kita sendiri-sendiri, dan melaluinya juga sendiri-sendiri. Hingga sapaankku
dari jalan ini, satu persatu tak lagi kalian balas. Satu persatu, setiap pagi,
tak pernah terlewat barang satupun sapaanku untuk kalian. Hingga aku malu, malu
mengganggu kalian yang telah sebuk dengan rutinitas kalian sendiri. Mungkin
masa ini, teman memang harus yang serutinitas dengan diri kita. Bukankah aku
sudah pernah bisa memiliki teman yang banyak, lalu kenapa tidak aku coba
kembali. Dan memang iya, teman tak terhitung aku miliki. Yang malam bisa satu
kopi dalam gelas yeng sama, yang paginya bisa dalam satu kelas, yang siangnya
bisa dalam satu perjalanan, yang setiap saat memenuhi segala jungkir balikku. Hingga
kesepian terkadang bisa berubah menjadi benda asing yang tak kukenal sama
sekali. Begitu beraneka segala pertemanan yang disuguhkan untukku. Dari berbagai
sudut. Hingga terkadang aku begitu kuwalahan. Senang, sedih, susah, lelah,
tertawa terbagi rata bersama. Pertemanan yang berupa-rupa. Tak lupa aku bersyukur atas semua itu. Tiap harinya
adalah hari yang selalu hidup. Selalu dengan berbagai lembar yang penuh rasa. Begitu
menyenangkan.
Teman,
hal-hal yang menyenangkanpun juga mampu surut ternyata. Satu
demi satu, meniti jalannya masing-masing. Hingga hari-hari kesepian kembali
memunculkan dirinya, menjadi tak lagi asing untukku. Tinggal satu dua teman
yang aku miliki. Dan tanpa aku sadari bodohnya aku dimasa anak-anak kembali
pada aku saat ini. Saking takutnya kehilangan yang satu dua tersebut, aku selalu
mengalah habis-habisan. Sakitnya rasa kesepian membuatku kapok untuk
merasakannya lagi. Kusodorkan punggungku saat ada temanku yang perlu gendongan,
kurelakan pundakku saat ada temanku yang ingin bersandar. Ku ulur tanganku
bagitu melihat temanku terjatuh dan kurentangkan tangganku saat temanku rapuh
perlu sebuah pelukan. Mataku siap tetap terjaga saat temanku membutuhkan untuk
terlelap, mulutku siap memberikan senyum meski dalam keadaan terpahit sekalipun
dan kupingku siap mendengar olok-olok buruk bahkan untuk diriku sendiri.
Teman,
aku pikir memang seharusnya seperti itu kan agar aku dapat
tetap berteman. Mengorbankan banyak hal, mengalah banyak hal, merelakan banyak
hal. Untuk dapat memiliki teman. Agar kesepian bisa menjauh sejauh-jauhnya. Karena
memang seperti yang selalu aku ingat, kesepian jauh lebih sakit daripada rasa
sakit itu sendiri. Aku hanya tidak ingin kesepian, jadi biarlah aku korbankan
sedikit demi sedikit meski terkadang sakit. Aku hanya tidak ingin kesepian,
jadi biarlah aku yang terus mengalah. Entah sampai kapan.
Teman,
aku hanya tidak ingin kesepian. Itu saja.
Semarang, 3 Desember 2016
kamar kost-ku yang sepi
Gunungpati yang menggigil dalam pagi
Subscribe to:
Posts (Atom)

























