Ada seekor kepik emas, menempel pada daun, daun yang entah apa namanya berada di pinggir pematang sawah. Di tepi sebuah sungai kecil, atau boleh disebut dengan selokan tempat air yang mengaliri tiap petak sawah. Kepik emas kecil tak cuma satu dua, tapi banyak sekali jumlahnya. Dan menempel pada tiap daun-daun yang ada. Daun yang kian hari bolong-bolong. Mungkin kepik emas tersebut yang memakan daun itu hingga bolong dimana-mana. Begitu dari yang kuamati.
Aku tak begitu paham dengan kehidupan kepik emas yang terlihat hanya diam saja, padahal dibalik cangkang emasnya yang kaca tersebut terdapat sayap. Sayap yang tiap saat bisa membawanya terbang ketika merasa terancam. Kepik emas mungkin sejenis serangga. Serangga kecil diantara luasnya semesta. Tak banyak yang menghiraukan serangga kecil bersayap tersebut. Jika dibandingkan serangga yang lain, yang lebih besar lebih indah, seperti kupu-kupu dengan sayapnya yang menawan.
Kepik emas hanya binatang kecil entah apa gunanya bagi dunia yang begitu luas ini. Terik matahari yang menyengat perlahan bergerak ke barat dan kepik emas tetap diam di tempatnya. Pun ketika segerombolan anak-anak kampung yang bertanjang dada memburu mereka. Satu per satu ditangkapi. Habis sudah kepik-kepik emas hari itu. Puas anak-anak tersebut memperoleh banyak kepik dalam plastik beningnya masing-masing. Entah untuk apa kepik emas itu bagi mereka nanti.
Senjakala melembayung, biasnya mengantarkan capung-capung yang terbang melesat diatas selokan sawah. Satu kepik emas terjatuh dari tangan seorang anak. Mungkin terlewat oleh anak tersebut. Satu kepik emas yang tak mampu kembali terbang ke atas daun. Mungkin tubuhnya hancur digenggam terlampau kuat oleh sang anak kampung. Satu kepik kecil yang berwarna keemasan tersebut tak mampu melawan takdirnya untuk hidup barang sehari lagi melewati malam yang sebentar lagi datang. Satu kepik emas mati. Dalam diam aku hanya bertanya sendiri. Adakah artinya kematian satu kepik emas kecil diantara luasnya semesta raya ini? Lalu angin mendesau mengantarkan jawab pada sepi.

No comments:
Post a Comment