Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Saturday, December 3, 2016

Kepada Teman

Kepada teman,
sebenarnya kurang mengalah seperti apa aku. Sejak dulu, sejak dari kecil, aku selalu mengalah, semuanya demi agar aku punya teman. Biarlah lelah aku tahan, tapi setidaknya temanku nyaman. Biarlah aku yang tidak berpunya tapi setidaknya temanku ada. Selalu itu yang aku utamakan. Tapi entah sampai sekarang rasanya memang aku terus yang bagaikan menggendong teman-temanku dengan pundak yang sudah begitu kesakitan, dengan kaki yang terus-terusan tersaruk sepanjang jalan. Aku mengalah.

Kepada teman,
aku melewati masa taman kanak-kanak dengan banyak ketakutan, dengan banyak rasa malu, dengan banyak rasa tidak percaya diri. Tapi aku terus saja berusaha menggandeng satu persatu tangan-tangan kecil dari tiap bangku yang juga kecil. Aku mencoba ingin memiliki setidaknya satu saja balasan dari gandengan tangan kecil tersebut. Iya memang ada, tapi kenapa sampai hati gandengan tersebut menyeretku pada rasa ketakutan yang lain, pada rasa rendah diri yang lain. Tak ada secuilpun cacatku tersebut yang terhapus, malah terasa semakin tergenapkan, bertambah-tambah. Tapi apa pernah aku lepas gandengan tersebut? Tidak pernah! Susah payah aku memilikinya, maka akan berusaha bagaimanapun aku pertahankan.

Kepada teman,
memasuki masa sekolah dasar, aku tetap anak yang sama. Anak yang ingin memiliki teman, banyak teman! Namun dari gandengan sepertinya perlahan berubah menjadi seretan. Entah aku sadari entah tidak tapi aku perlahan hanya menjadi pengikut. Apakah disitu aku masih dipanggil dengan sebutan teman oleh temanku? Entahlah, tapi yang jelas aku tetap menganggapnya teman. Segala hal aku lalukan agar dapat bersama dalam linggakaran pertemanan tersebut. Segala hal! Tapi sepertinya itu saja tidak cukup. Aku semakin tertinggal jauh oleh teman-temanku. Aku terlalu dibelakang untuk bisa mengejar. Karena aku memang tak pernah sejajar. Dari awal sekalipun, hanya aku sendiri yang mati-matian menjajari mereka, tapi kenyataan memang yang akhirnya menyadarkanku. Berdiri aku sendiri, memandangi yang tak pernah terlihat lagi. Memaku langkah, sempatkah diantara temanku yang akan menengokku?

Kepada teman,
aku sudah benar-benar lelah pada masa ini, masa putih biru. Biarlah masa yang kali ini aku habisan untuk sendiri, tanpa harus mati-matian mencari teman. Aku tidak lagi percaya bahwa teman bisa menghapus kesakitan dari rasa sepi. Aku menyerah saja, lebih baik diam. Namun, ternyata satu gapaian tangan yang malah meraih tanganku. Tangan itu, merentangkan setangkap pertemanan. Dia bilang akan manis jika dimakan berdua. Hari-hari, aku merasa seperti memiliki penyangga saat aku lelah dalam senja, aku seperti memiliki pendorong tiap pagi, aku seperti memiliki pengungkit kala siang terik menyusutkanku, dan aku seperti memiliki penggandeng dalam hari-hari itu. Apalagi yang aku kurangkan. Aku pun lakukan hal yang sama. Aku begitu bersyukur aku memiliki teman. Atau sudah seharusnya aku sebut sabahat, iya aku memiliki sahabat. Segala milikku adalah miliknya, tak ada tanda titik sekecil apapun aku sembunyikan darinya. Semua pintu serba terbuka untuknya. Bahkan pintu terlemahku pun terbuka hanya untuknya. Dia sahabatku, satu-satunya sahabatku sampai pada detik itu. Sampai pada satu titik dimana dia menggempurku habis dalam satu pukulan telak. Tanpa sempat dia lepaskan tanganku, rupanya seperti itu cara seorang yang telah kuanggap sebagai sahabat menghancurkan satu persahabatan. Aku kalah! Kalah oleh rasa perih yang yang tak terperi. Aku hanya mampu diam dalam jatuhku. Aku masih berusaha mencerna semuanya, memahami satu persatu yang ditimpakan padaku, sendiri. Hingga aku sadar seharusnya memang sejak awal aku pilih sendiri, tidak perlu teman, apalagi sahabat. Bukankah dari sekian banyak waktu memang sendiri. Lalu mengapa butuh teman. Maka begitulah, kuhabiskan masa putih biruku hanya dengan buku dan dunia khayalku sendiri. Teman? Silahkan kalian bisa anggap aku teman, tapi aku tidak.

Kepada teman,
entah haruskah aku memiliki pengharapan tentang teman diakhir masa sekolahku ini? Awal masa putih abu-abu rasanya cacatku kembali bertambah memenuhi mukaku. Adakah yang seperti ini aku akan memiliki teman? Tidak! Aku tidak akan lagi berharap-harap yang hanya akan semakin mencederai hatiku sendiri. Biarlah semua seperti biasanya, diam, sepi, sendiri. Namun memang perlahan kembali aku harus berpikir, begitu perlahan, sangat perlahan. Lambat! Hingga benar-benar tiba di masa terakhir sekolah. Semua teman bisa aku raih, semua! Entah aku sadari atau tidak, tapi ternyata begitu menyenangkan bisa memiliki teman sebanyak ini. Dan begitu bodohnya aku terlambat menyadari itu. Tapi tidak apa, akan aku pertahankan. Bukankah itu bagian dari yang sulit? Mempertahankan suatu hubungan! Apalagi hubungan pertemanan.

Kepada teman,
kita menempuh perjalanan masing-masing, kita memilih jalan kita sendiri-sendiri, dan melaluinya juga sendiri-sendiri. Hingga sapaankku dari jalan ini, satu persatu tak lagi kalian balas. Satu persatu, setiap pagi, tak pernah terlewat barang satupun sapaanku untuk kalian. Hingga aku malu, malu mengganggu kalian yang telah sebuk dengan rutinitas kalian sendiri. Mungkin masa ini, teman memang harus yang serutinitas dengan diri kita. Bukankah aku sudah pernah bisa memiliki teman yang banyak, lalu kenapa tidak aku coba kembali. Dan memang iya, teman tak terhitung aku miliki. Yang malam bisa satu kopi dalam gelas yeng sama, yang paginya bisa dalam satu kelas, yang siangnya bisa dalam satu perjalanan, yang setiap saat memenuhi segala jungkir balikku. Hingga kesepian terkadang bisa berubah menjadi benda asing yang tak kukenal sama sekali. Begitu beraneka segala pertemanan yang disuguhkan untukku. Dari berbagai sudut. Hingga terkadang aku begitu kuwalahan. Senang, sedih, susah, lelah, tertawa terbagi rata bersama. Pertemanan yang berupa-rupa. Tak lupa  aku bersyukur atas semua itu. Tiap harinya adalah hari yang selalu hidup. Selalu dengan berbagai lembar yang penuh rasa. Begitu menyenangkan.

Teman,
hal-hal yang menyenangkanpun juga mampu surut ternyata. Satu demi satu, meniti jalannya masing-masing. Hingga hari-hari kesepian kembali memunculkan dirinya, menjadi tak lagi asing untukku. Tinggal satu dua teman yang aku miliki. Dan tanpa aku sadari bodohnya aku dimasa anak-anak kembali pada aku saat ini. Saking takutnya kehilangan yang satu dua tersebut, aku selalu mengalah habis-habisan. Sakitnya rasa kesepian membuatku kapok untuk merasakannya lagi. Kusodorkan punggungku saat ada temanku yang perlu gendongan, kurelakan pundakku saat ada temanku yang ingin bersandar. Ku ulur tanganku bagitu melihat temanku terjatuh dan kurentangkan tangganku saat temanku rapuh perlu sebuah pelukan. Mataku siap tetap terjaga saat temanku membutuhkan untuk terlelap, mulutku siap memberikan senyum meski dalam keadaan terpahit sekalipun dan kupingku siap mendengar olok-olok buruk bahkan untuk diriku sendiri.

Teman,
aku pikir memang seharusnya seperti itu kan agar aku dapat tetap berteman. Mengorbankan banyak hal, mengalah banyak hal, merelakan banyak hal. Untuk dapat memiliki teman. Agar kesepian bisa menjauh sejauh-jauhnya. Karena memang seperti yang selalu aku ingat, kesepian jauh lebih sakit daripada rasa sakit itu sendiri. Aku hanya tidak ingin kesepian, jadi biarlah aku korbankan sedikit demi sedikit meski terkadang sakit. Aku hanya tidak ingin kesepian, jadi biarlah aku yang terus mengalah. Entah sampai kapan.

Teman,
aku hanya tidak ingin kesepian. Itu saja.



Semarang, 3 Desember 2016
kamar kost-ku yang sepi
Gunungpati yang menggigil dalam pagi


No comments:

Post a Comment