Pagi yang berongga
Derap masa kembali mengorek luka
Memaku aku dalam beku
Kursi pesakitan yang selalu menunjukku sambil berkata "kamu tidak mampu"
Aku terdiam
Tersadar dalam ketidakmampuan
Hanya hati yang mampu berteriak
Hingga tersedak memuntahkan semua riak-riak sesak
Memang, ketika semua terpaku
Diam menyediaan hati untuk bicara bertanya
Benarkah?
Lalu apa yang harus aku lalukan?
Sedang tawa palsu telah lenyap dalam selokan
Senyum semu yang kemarin hilang di kelokan
Kembali sesal yang dulu terkumpul
Menyembul di permukaan
Melingkupiku dalam khayal yang mewujud
Ingin aku tentang semua mata yang menatapku pada maniknya
Namun pandangan semakin kabur
Menunjukkan aku yang akhirnya karam terkubur
Sragen, 23 Februari 2017

No comments:
Post a Comment