Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, April 23, 2014

Aku dan Dua Kelelawar

Sebuah kesepian sengit, ketika kesendirian melebarkan sayapnya dan memelukku begitu mesra. Tak tergambarkan dalam kekosongan, hanya kebisuan yang menikam dari sela-sela sayap tersebut. Seperti pada masa itu, ketika hanya dengan memandangi senja saja sudah mampu membawaku mengingat semua keterpurukan masa lalu.

Hingga sekarang kekosongan itu kembali merenggutku, membawaku pada kepingan masa lalu yang sama. Jejeran angin nan dingin yang berbentuk sebilah belati menusuki hati. Sakit!


Melangkah dengan tatapan tanpa makna, seolah hidup tanpa warna. Hanya abu-abu. Di persimpanganpun, tak menyediakan sebuah kebingungan yang berarti. Cukup dilewati dengan langkah yang tak mantap tapi tak juga goyah, hanya melangkah, langkah hampa. Mengayunkan kaki entah kemana.

Hingga senja berganti malam, berganti dengan gelap. Lampu-lampu jalan sekarang yang menggantikan tugas matahari, meski tak cukup menyinari seluruhnya, banyak sisi gelap yang tak mendapatkan sinar termasuk dalam hatiku.

Kaki tetap melangkah tanpa lelah, dan sudah entah sampai sejauh mana tak juga berpengaruh pada kesadaranku. Menghabiskan seluruh energiku sendiri, hingga aku berada pada keadaan yang berbeda. Dingin pagi dua dini hari, menidurkanku pada teras rumah seorang dokter praktek. Meringkuk dalam pelukan rasa sakit yang aku sendiri sampai sekarang masih belum mampu menjelaskannya seperti apa.

Teras yang begitu dingin namun bersih, hanya sedikit terdapat sisa-sisa remah rokok, kugulung saja dengan sekali tiup. Aku ingin merebahkan seluruh lelah batin yang baru pertama ini kurasakan, masih asing buatku. Dalam tidur aku tetap terjaga, di depanku jalan raya masih dilalui kendaraan satu-satu. Derunya membuat riuh namun cukup membantu rasa was-was yang sekarang mulai timbul kembali. Pertanda sedikit kesadaranku sudah mulai kembali.

Kehidupan buta sang pagi ternyata juga menghadirkanku pada dua kelelawar yang dikedua kakinya terdapat rantai koyak. Menghampiriku dengan sejuta pertanyaan yang kujawab dengan kalimat-kalimat palsu dari setiap cerita di buku cerpenku. Jawaban palsu yang kucuri sendiri tanpa sadar.

Namun dari sini aku sadar, aku tak lagi menghirup embun dini hari sendiri. Kesadaran akan dinginnya pagi pinggir jalan raya membuat kabut yang gigil pada diri. Kesadaran yang juga membuatku mengajukan keinginan untuk ikut terbang bersama kedua kelelawar tersebut. Satu kelelawar yang cerewet dan satunya kelelawar yang pendiam.

Bersama menyusuri pinggir jalan dimana pintu-pintu pertokoan masih rapat bergembok keangkuhan. Kulihat kedua kelelawar tersebut selalu tertunduk, padahal menurutku mereka adalah sebuah kebebasan yang mampu melihat langit jauh lebih luas dari siapapun. Dengan kaki yang tersoek mereka akan merendah memunguti setiap puntung rokok yang masih lumayan untuk mereka hisap. Menekurinya atau mengasis-ngaisnya dengan kaki, seperti ayam yang mencari beras yang tercecer di tanah.

Masih di pinggir jalan raya, kedua kelelawar tersebut mengajakku berhenti disebuah pohon rindang. Membuatku teringat akan pelajaran sekolahku saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar dulu. Ketika hari masih gelap karena belum mendapat sinar matahari, sebaiknya jangan berada di bawah pohon karena pohon mengeluarkan karbondioksida yang tidak baik bagi tubuh. Begitu yang selalu aku anuti tapi saat ini persetanlah dengan yang seperti itu, aku sendiri bahkan telah meninggalkan kewarasanku jauh di belakang sana.

Kelelawar yang pendiam membeli dua cangir kopi setelah menawariku secangkir juga namun kutolak, aku masih peduli dengan perut kosong yang hanya dihuni dengan penyakit magh ini. Kulihat dia membayar dengan tumpukan receh yang dia hitung dengan penuh ketelitian agar tak ada satu recehpun kekeliruan. Receh-receh yang begitu berharga bagi mereka. Dan satu kelelawar yang lainnya mengajakku bercerita tentang gelap kehidupan, tentang kelam matahari yang tak pernah mereka jenguk dan memilih malam sebagai satu-satunya waktu yang mereka datangi. Memilih gelap hitam sebagai warna kehidupan berteman penderitaan namun begitu mesra dengan kebebasan.

Sepertinya pohon yang rindang ini juga menjadi tempat parkir bagi deretan taksi-taksi dengan sopirnya yang terlelap dikursi belakang setir. Juga pedagang-pedagang kaki lima, salah satunya yang sedang dihinggapi kelelawar tersebut. Disudut lain terdapat genangan, yang kata kelelawar itu adalah genangan tangis para pengemis dan gelandangan yang ditusuki nasib. Jadi itu adalah air mata??? Sebanyak itu dan lanjutnya lagi, air mata itu tak pernah kering meskipun diminum oleh trilyunan koruptor yang memang setiap harinya meminum air tangis tersebut dengan rakus.

Terlihat ada beberapa kelelawar lain yang menepi dan kedua kelalawar tadi menyapa mereka. Ada kelalawar kecil yang masih baru belajar terbang dan kelalawar yang terlihat begitu bersih namun sedang mendekap seekor kupu-kupu yang basah dengan sumpah serapah. Kupu-kupu cantik bergincu birahi, berbau anggur dan sayapnya yang tipis kecil berwarna merah darah mengundang gairah. Gairah untuk para lintah, ular, cacing tanah, vampir bahkan tak terkecuali untuk para kelalawar ini. Banyak yang ingin mendekap kupu-kupu liar ini seliar apapun iya menggigit dan menyalak tak ubahnya anjing peliharaan tetanggaku.

Aku hanya mengamati tingkah polah mereka, di sudut akar pohon rindang tersebut. Sedikit kubentangkan jarak yang bernama kewaspadaan. Meski logikaku tak juga menjeritkan kata takut.

Kupu-kupu tersebut menawariku madu yang berbungkus es krim, dingin pagi pemberi gigil membuatku mengatakan tidak usah. Dan penolakanku membuat kupu-kupu yang berada di depanku dengan nafas anggur ini begitu marah. Ia lemparkan madu kesemak-semak berduri. Aku terdiam kaget, begitu liarnya ia hingga tiada lagi anggun yang tersisa.

Beruntung tak berapa lama keliaran tingkah polah kupu-kupu tersebut tak lagi terlihat olehku karena diusir oleh seekor babi berseragam, ternyata saat seperti ini babi seperti itu berguna juga. Babi berperut gendut yang biasanya hanya baris-berbaris memintai isi dompet para pengguna jalan raya. Meskipun begitu tak juga mengubah ketidak-sukaanku pada para babi berperut gendut dan berseragam rapi, aku tetap mengutuki mereka satu persatu.

Aku dan kedua kelelawar kembali menyusuri jalan raya. Dikejauhan sayup terdengar suara Adzan Subuh yang bergema membelah semesta pagi. Yang kupikir akan membuyarkanku dan menyadarkanku bahwa aku sedang berada ditempat tidur, namun tidak, aku tetap berada di pinggir jalan raya. Ini bukan mimpi, Nam!



Melewati pinggiran pasar yang sudah riuh ramai dengan tumpukan sayur-mayur berlebel harapan. Dengan manusia-manusia yang beraneka melakukan transaksi jual-beli. Kelelawar yang cerewet tersebut menyapa dengan begitu ramahnya pada setiap penjual sayuran di pasar. Padahal tak satupun yang ia kenal, namun ia berharap dalam setiap sapaan yang ia berikan tersebut akan mendapat sepotong senyuman.

Menelusuri jalan hingga terhenti disebuah perempatan lampu merah dan disinilah mereka mengajakku menumpang pada mobil yang lewat. Namun sebelum memperoleh tumpangan tersebut aku berdiri menunggu sambil bersandar pada tembok. Tak terasa dalam berdiriku aku bisa begitu mengantuk dan sebentar-sebentar tertidur dalam beberapa detik, sambil tetap berdiri. Saking mengantuknya inilah aku yang tertidur sambil berdiri menunggui salah satu kelelawar yang sedang mencari tumpangan.

Begitu mendapat tumpangan mobil bak terbuka, segera kunaiki bersama kedua kelelawar tersebut. Kelelawar yang cerewet tetap saja bercerita mengenai kehidupannya sedangkan kelelawar yang pendiam hanya bernyanyi memainkan alat musik kentrung yang selalu ia bawa kamanapun ia pergi. Karena itulah harta berharga yang ia miliki begitu katanya. Lagu-lagu yang dinyanyikan tak terdengar asing buatku, lagu milik Marjinal dan akhirnya aku ikut bernyanyi juga.

Kerudung biru dongker yang kukenakan tertiup angin kerena mobil berjalan begitu kencang. Beliung anggun yang mengibarkannya membuatku takut kalo-kalo kerudungku akan ikut terbang, kupegangi begitu eret. Kencangnya kecepatan mobil juga membuatku susah melihat, namun aku tetap ingin melihat, pemandangan sepanjang jalan raya yang mulai terang oleh matahari.

Hingga mobil bak terbuka tumpangan suka rela menurunkanku dan kedua kelelawar tersebut pada perempatan lampu merah depan swalayan yang masih belum buka. Kedua kelelawar itu menyuruhku menunggui mereka di pinggir jalan, sedangkan mereka di bawah lampu lalu lintas memainkan berbagai lagu Marjinal agar memperoleh receh-receh yang mereka sukai. Aku menurut saja, badan yang lelah membuatku tertidur di pos ojek yang sepagi ini masih juga sepi. Namun tetap sama aku tertidur sambil terjaga!

Aku tak lagi berharap akan bermimpi karena perjalanan dengan kedua kelelawar tersebut memberikanku pengalaman yang jauh lebih berwarna daripada mimpi. Terbangung dengan sebungkus nasi telur dan sayur, mereka juga menyodoriku sekotak air mineral gelas. Tergelitik dengan penolakan karena rasa malu yang mengusikku, namun mereka tetap memaksa agar kuterima semua makanan tersebut.

Tidak lapar begitu tiba-tiba yang kurasa, namun tidak kuasa juga kalau tetap kutolak pemberian yang benar-benar tulus dari mereka. Selesai menghabiskan sebungkus nasi mereka kembali mengumpulkan receh sedangkan aku tetap mengamati mereka dari pinggir. Sambil sibuk berpikir tentang banyak hal.

Terhenti ketika matahari mulai meninggi, kedua kelelawar tersebut berubah pucat menghampiriku. Kelalawar yang selalu cerewet mengeryipkan mata tanda mengantuk, yang satunya batuk-batuk. Aku diajak naik angkot dan kembali kulihat kelelawar yang pendiam menyiapkan recehnya dengan hitungan yang begitu teliti untuk membayar angkot.

Berhenti disebuah pertigaan besar, mereka turun dan aku mengikutinya, mereka tak lagi terbang, melangkah perlahan sempoyongan padahal tidak mabuk. Mereka bilang mereka bisa mati kepanasan, akupun melihat mereka semakin pucat. Disepanjang jalan yang terlewati sudah ramai orang-orang dengan kemonotonan aktivitas mereka. Setiap dari kedua belah mata mereka melihatku yang tersoek berjalan dengan dua ekor kelelawar. Ada yang melihat secara langsung lalu bergumam entah apa, ada yang hanya melihat secuil dari ekor mata mereka. Namun aku tahu mereka pasti jejali dengan pikiran yang tak mampu kuterka, begitupun dengan kedua kelelawar ini, mereka pasti juga menyadarinya. Namun aku sudah sangat tidak peduli akan pikiran siapapun, aku sendiri sedang tidak ingin berpikir.

Masuk pada sebuah gang dimana rumah-rumah minimalis berderet berdempet-dempet. Lalu berhenti pada sebuah rumah dengan lorong kecil dimana terdapat sofa butut di terasnya. Kedua kelelawar tersebut masuk, aku hanya duduk di sofa penghuni teras. Dari dalam keluar si pemilik rumah, yaitu sepasang lebah hitam yang begitu penasaran padaku. Kelelawar yang cerewet keluar bersama kepulan asap putih diikuti dengan kelalawar yang satunya, mereka semua mempersilahkanku masuk pada sebuah ruangan yang terbuat dari triplek. Padahal sebelumnya aku pikir ini akan seperti rumah lebah.

Terdapat banyak gambar rajah beserta peralatan rajah murahan yang menghuni rumah lebah tersebut. Serakan bungkus obat juga tertimbun disudut ruangan, beberapa masih terdapat pil putih. Sepasang lebah yang lain juga menghuni ruangan tersebut, lalu ada anak-anak juga nenek-nenek. Aku berpikir tentang lingkungan yang mereka huni, tentang masa depan dan masa lalu yang mereka miliki. Benyak hal yang berkerumun diotakku, kali ini aku berpikir dan mengarang sendiri jawabannya. Aku berada di dunia dongengkah? Dongeng yang sering masuk TV, dalam acara berita kriminal mungkin. Entah!



Aku terkaget, lebah yang sedang tertidur karena minum obat tersebut ternyata bisa bicara atau lebih tepatnya berdengung, sedangkan lebah cantik pasangannya sedang menatap cermin, dari kotak ajaibnya dia mampu menyulap dirinya berubah menjadi kupu-kupu mempesona. Aku akui sungguh cantik paras kupu-kupu yang satu ini, namun ternyata berbahaya! Dia memiliki bisa disela-sela sayapnya yang menakjubkan. Lalu dia terbang keluar dalam sekejap, bukannya ingin mengitari taman beraneka bunga seperti layaknya kupu-kupu lain, namun dia terbang di restoran mewah yang bahkan aku belum pernah masuk kedalamnya.

Aku kembali membentangkan jarak yang bernama kewaspadaan dan kali ini kutambahi dengan pagar pembatas. Kukurung diriku sendiri, sehingga aku hanya mampu melihat mereka dari dalam kurungan dan mengamati tingkah polah mereka tanpa mampu mereka usik.

Ketika matahari sudah benar-benar dipucuk ubun-ubun sedangkan aku sudah begitu bosan sekaligus canggung dalam keadaan diam, kuputuskan untuk pergi. Aku datang tanpa nama, aku pergi juga tanpa nama. Biar menghilang diingatan mereka, kupamiti kedua kelalawar tersebut. Berterima kasih atas recehan pengalaman yang mereka bagi kepadaku. Kupakai kembali sepatuku yang berada di luar ruangan, namun ternyata sepatuku sudah terendam air, genangan tangis, sepatuku basah oleh air mata tangis! Sepertinya tadi ada anak jalanan yang lewat. Aku tidak marah, hanya ingin pergi, melangkahkan kaki dengan sepatu yang kucangking menuju jalan raya lagi. Berjalan dipanasnya aspal jalanan tengah hari. Rasanya tak akan perlu waktu lama agar telapak kaliku melepuh. Sebentar lagi saat aku sudah sepenuhnya sadar pasti akan terasa sakit.

Kedua kelelawar tersebut ternyara juga ikut pergi namun kearah yang berlawanan denganku. Dari pinggir jalan raya kulihat mereka terbang kelangit hingga ditelan oleh gumpalan awan. Apakah mereka akan terbakar oleh matahari? Sudah aku tidak peduli.

Disisi lain aku kembali dijemput oleh kenyataan, oleh dunia nyata yang harus kulewati dengan sewaras-warasnya. Mengobati luka hati dengan guliran waktu yang terus merangkak pelan. Menyadarkanku bahwa luka lain juga ada, ditelapak kakiku! 

Jika luka lamaku terasa seperti menelan kalajengking hidup-hidup, begitu sakitnya dalam mulut, maka luka yang baru ini seperti berjalan menginjaki kayu bakar yang menyala-nyala panas. Hingga aku tertatih dalam melangkahkan kaki, namun aku tetap harus berjalan melewatinya.



Diujung langkah, kudapati sebuah kotak dan saat kutengok di dalamnya, di sana terdapat kedua kelelawar tersebut beserta dengan seluruh hal yang kutemui bersama mereka. Kotak tersebut lalu kusimpan rapi dalam kepalaku, disisi luarnya kutemukan sebuah tulisan ; Kotak Pengalaman.



Saturday, April 19, 2014

Edelweis Merbabu


Tumbuhan itu berpagar harapan
Berbalut embun keringat para pendaki
Disekelilingnya hamparan awan bergulung memeluk gunung
Jalan nan berliku menjembatani setapak
Bukit-bukit hijaunya Telletubies juga tak luput dari daftar penambah indahnya Merbabu
Sabana sabana melapang memberi angin siur berbisik

Tumbuhan itu berpagar harapan
Harapan para pendaki
Harapan untuk negeri yang indah ini
Harapan tentang suburnya bunga abadi
Seluruh harapanmu
Harapan yang terselip dalam si mungil Edelweis Merbabu


Semarang, 19 April 2014




Monday, April 14, 2014

Wanita Kedua

Menjadi wanita kedua tidak selalu menyenangkan seperti yang kalian bayangkan, semua rumit bahkan sejak awal.  Sepagi ini bahkan aku sudah menangisi nasib sampai ribuan kali. Sambil menatap pekarangan rumah yang bagitu gelap, mungkin juga segelap nasibku. Harum bunga kemuning dibalut embun pagi memenuhi basah dalam hati.

Lama aku tidak ingin beranjak dari ketermenungan rasa sakitku sendiri. Hingga raungan tangis pecah dari dalam rumah, membuatku tersentak kaget dan tanpa aba-aba lebih lama langsungku berlari masuk. 

Dalam kamarnya yang bau pesing kulihat matanya yang hampa tanpa cahaya meneteskan air mata nan miris. Aku usap air mata tersebut sambil membetulkan posisinya dalam kursi roda yang talah menyangganya selama dua tahun terakhir ini. Air mata ini juga mengingatkanku saat pertama kali ayah dan ibu wanita ini memungutku dari jalanan belasan tahun silam. Membuatku merasakan hangatnya sebuah keluarga dengan kasih sayang yang penuh, membuatku merasakan hidup tanpa kekurangan lagi. Iya wanita ini adalah kakak angkatku, namun juga sekaligus istri pertama dari suamiku. Dan inilah nasibku menjadi wanita kedua.





Semarang, 14 April 2014
Menyangga tangis dalam perenungan ketika kaki cinta menginjak-injakku bahkan setelah aku jatuh tersungkur. Namun inilah janjiku, aku tidak akan bangkit ditempat yang sama.


Tuesday, April 8, 2014

Kenapa Aku Cengeng?

Dan malam ini untuk sekian kali aku menangis karena sebuah lagu
Aku cengeng? Iya mungkin

Lagunya Didi Kempot yang satu ini memang selalu sukses bikin mataku pipis alias nangis
Judulnya BAPAK
gini lyric-nya :

Rambut wis ra ireng
Wis malih rupane
Ireng dadi putih sak ikine
Dino tambah dino
Umur tambah tuwo
Nanging koyo koyo ora diroso

Ngadeg dadi jagak
Nyonggo piringe anak
Mempeng kerjo ora mikir rogo
Paribasan umur
Wis akeh cacahe
Nganti bingung anggonku ngitunge

Bapak... Bapak... tekadmu kuwi tak puji
Bapak... Bapak... kowe koyok senopati
Bapak... Bapak... panasmu ngungkuli geni
Bapak... Bapak... keno angin soyo ndadi

Senajan uwis tuwo nekad mempeng kerjo
Nyambut gawe kanggo nguripi kluargo


"...Bapak...senajan umurmu wis tuwo
nanging tekadmu iso dadi tulodho, 
aku anakmu mung biso memuji
mugo mugo Bapak tansah pinaringan bagaswaras
saking Gusti Ingkang Moho Kuwoso
kulo Pak anak sampean..."




Mungkin terlalu menghayati, sambil dengerin lagunya aku juga ikut nyanyi, jadi teringat Bapakku, and well pipis deh mataku :'(
Kalo kalian sudah baca Homespot Jumadi pasti kalian bisa ngertilah



Semarang, 
saat gerimis aku mengigil dalam kamar kostku sendirian


Monday, April 7, 2014

Anak Tiri Zaman


Ketika Pin BB dan android memupuk keegoisan
Ketika layar sentuh tablet mengalihkan pandangan
Ketika tiba-tiba dunia menyempit
Tetapi para manusianya menjauh hapir tak mengenal satu dan lainnya
Disibukkan dengan dunia lorong-lorong partikel

Semua serba segenggaman tangan
Cukup sekali sentuh dan geser
Melintingi perkenalan, melintingi pertemanan
Hisap, hisap dan hisap
Bagai rokok!

Namun kau jua kah dalam deretan manusia tersebut?
Ketika sendal jepit saja menjadi benda nan mahal luar biasa
Ketika becek sawah menjadi sendal tiap harimu
Yang mengering dikakimu

Dalam pelukan kesederhanaan kau berucap 
"Sampai kapan harus dianak-tirikan oleh zaman?"



Semarang, 06 April 2014


Thursday, April 3, 2014

Hey !

Hey pagi, yang menemaniku saat hari berganti.
Saat mentari belum juga menampakan cahayanya.
Karena saat kutengok jam dindingku ternyata membeku pada pukul setengah satu.
Pagi begini, dicumbui deretan huruf yang harus kuketikan menjadi sedikitnya 6 halaman.
Tugas !
Hey tugas, semoga kau juga tak suka berlama-lama denganku.
Sungguh aku muak padamu.
Tapi semoga kau tak muak padaku, beri aku ilmu dari situ.
Berteman mp3 yang mengalun secukupnya dari lepi.
Menemani pagi, pagi begini, tugas tercumbui, mp3 menemani.

Yang kutimang dalam kesendirian gamang.


Wednesday, April 2, 2014

Pesugihan Di Gunung Kemukus


Gunung Kemukus di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah kawasan itu dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, namun juga untuk berziarah dan ritual pesugihan. Pelaksanaan ritual bisa dilaksanakan setiap hari. Namun, terdapat hari-hari tertentu yang dipercaya membawa berkah tersendiri. Misalnya, saat malam Jumat Pon dan malam Satu Suro.

Ritual mesum ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang mencari jalan pintas untuk menjadi kaya. Di gunung ini, ratusan warga dari berbagai wilayah di Jawa terutama datang berduyun-duyun ke Gunung Kemukus ini. Mereka bertujuan untuk mencari pasangan melakukan ritual pesugihan itu. Bagaimana sebenarnya ritual ini bisa menjadi semacam tata cara dan menjadi semacam tradisi yang sesat?

Tempat ritual ini berada di Gunung Kemukus tepatnya terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Kota Solo. Untuk mencapai daerah ini tidak terlalu sulit, dari Solo bisa naik bus jurusan Purwodadi dan turun di Belawan, dari situ di sebelah kiri jalan akan ditemukan pintu gerbang yang bertuliskan “Daerah Wisata Gunung Kemukus”, dari gerbang tersebut kita bisa naik ojek atau berjalan kaki menuju tempat penyeberangan dengan perahu.

Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata seks karena di tempat ini orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk menjalani laku ritual ziarahnya, itulah syarat kalau mereka ingin kaya dan berhasil.

Lokasi utama yang dituju para peziarah adalah makam Pangeran Samudro dan para pengawalnya. Ada beberapa versi tentang mitos Pangeran Samodro ini yang masing-masing mempunyai kepentingan sebagai alasan pembenar dalam mencapai tujuan, yaitu versi pemerintah daerah setempat, versi peziarah dan versi penduduk setempat. Berdasarkan pertimbangan bahwa versi pemerintah daerah setempat tersebut sering dimuati unsur politis, maka hanya akan dikemukakan secara ringkas versi peziarah dan versi penduduk setempat saja.

Objek Wisata Ziarah Makam Pangeran Samudro yang lebih dikenal dengan sebutan Gunung Kemukus, selalu menarik untuk diulas. Hal yang menjadikan objek wisata ini menarik adalah pandangan pro dan kontra tentang Makam Pangeran Samudro itu sendiri dan kisah yang beredar di tengah masyarakat. Ada 2 (dua) paradigma yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tentang Makam Pangeran Samudro atau Gunung Kemukus. Pertama, adanya keyakinan di sebagian masyarakat bahwa apabila ingin mendapat berkah atau permohonannya terkabul, maka orang yang datang ke Makam Pangeran Samudro harus melakukan ritual berhubungan intim dengan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya selama 7 kali dalam satu lapan atau 35 hari.

Paradigma negatif ini perlu diluruskan agar para peziarah tidak terjebak dalam paradigma dan kepercayaan yang keliru. Setiap peziarah atau pengunjung yang menginginkan permohonan atau keinginannya terkabul haruslah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan berdoa dan berusaha di jalan yang benar. Singkatnya, paradigma negatif yang berkembang di tengah masyarakat tersebut tidak benar adanya. Kedua, berziarah ke Makam Pangeran Samudro atau Gunung Kemukus adalah suatu kegiatan ritual yang mengandung nilai keutamaan dengan mengingat jasa dan keluhuran jiwa dari figur yang diziarahi. Dengan berziarah di tempat tersebut, manusia diharapkan untuk selalu ingat akan kematian sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu berbuat kebaikan sesuai dengan keluhuran jiwa dan teladan dari figur yang diziarahi.

Secara administratif, Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Secara geografis, Objek Wisata Gunung Kemukus terletak sekitar ± 29 km di sebelah utara Kota Solo. Dari Sragen sekitar 34km ke arah utara. Jarak tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari kota Sragen dapat ditempuh selama ± 45 menit dengan kendaraan bermotor melewati jalan Sragen - Pungkruk/Sidoharjo - Tanon - Sumberlawang/Gemolong - Gunung Kemukus.

Mitos Versi Peziarah

Ketika kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478, berdirilah kerajaan Demak dengan seorang raja bernama Raden Patah. Raden Patah mempunyai putra bernama Pangeran Samodro yang berperilaku tidak terhormat karena dia jatuh cinta kepada ibunya, yaitu R.A. Ontrowulan. Ternyata cintanya itu diterima oleh ibunya. Ketika Raden Patah mengetahui hubungan mereka, Pangeran Samodro dicari dan diburu sampai di Gunung Kemukus.

Sementara itu, R.A. Ontrowulan menjadi gila kepada anaknya sendiri, karenanya ia meninggalkan Demak untuk mencari anaknya itu. Kemudian terjadilah suatu pertemuan yang menyedihkan, dan mereka melakukan hubungan badan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang ibu dengan anaknya. Selanjutnya datanglah utusan Raden Patah yang hendak membunuh Pangeran Samodro. Lalu dia bunuhlah Pangeran Samodro itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Pangeran Samodro berucap: “Bagi siapa saja yang mempunyai keinginan atau cita-cita, untuk mendapatkannya harus dengan sungguh-sungguh, mantap, teguh pendirian, dan dengan hati yang suci. Jangan tergoda apa pun, harus terpusat pada yang dituju atau yang diinginkan. Dekatkan dengan apa yang menjadi kesenangannya, seperti akan mengunjungi yang diidamkan (dhemenane)”.

Mitos Versi Penduduk Asli Daerah Setempat

Pangeran Samodro adalah putra tertua istri resmi Prabu Brawijoyo dari kerajaan Majapahit. Ketika menginjak dewasa, untuk mengumpulkan pengalaman yang akan berguna di kemudian hari, ia dilepas ke dunia luar. Beberapa tahun kemudian, Pangeran Samodro kembali ke istana dan ia jatuh cinta kepada salah seorang selir ayahnya yang bernama R.A. Ontrowulan. Cintanya itu diterima. Ketika Prabu Brawijoyo mengetahuinya, beliau sangat marah dan mengusir mereka berdua. Kemudian menetaplah mereka di Gunung Kemukus sebagai suami-istri dengan bahagia.

Sebelum menetap di Gunung Kemukus, mereka mengembara ke daerah yang kini menjadi Kecamatan Sumber Lawang. Suatu tempat perhentian yang sangat disenangi oleh R.A. Ontrowulan adalah sebuah sumber air di kaki gunung yang saat ini dikenal sebagai Sendang Ontrowulan. Di sendang itu pula ia sering duduk dekat pohon jati dan bermeditasi sepanjang hari. Konon, sendang itu dibuatnya dengan menancapkan sebatang tongkat ke dalam tanah. Dan pohon-pohon besar yang menjadi hutan lebat di sekelilingnya berasal dari bunga-bunga pengikat rambut yang jatuh ketika R.A. Ontrowulan menggoyangkan rambutnya yang panjang. Pada suatu waktu, ketika R.A. Ontrowulan pergi bermeditasi di sebuah tempat yang jauh dan untuk waktu yang lama, Pangeran Samodro jatuh sakit dan meninggal dunia.

Oleh penduduk desa Blorong, jenazahnya dimandikan di Sendang dan dimakamkan. R.A. Ontrowulan tidak mengetahui kejadian itu. Ketika kembali, ia mandi di Sendang dan langsung pergi ke puncak Gunung Kemukus untuk bertemu dengan suami tercinta. Namun yang dijumpainya adalah orang-orang desa yang baru saja menguburkan suaminya. Dia sangat sedihlah mengetahui kenyataan tersebut, dan ia pun meninggal di tempat itu. Kemudian walaupun sudah larut malam dibuatnyalah makam untuknya.

Pada suatu hari, beberapa tahun setelah meninggalnya Pangeran Samodro dan R.A. Ontrowulan, Pangeran Samodro menampakkan diri dalam penglihatan orang tertua di desa. Pangeran Samodro berpesan pada orang tua itu bahwa ia akan memenuhi keinginan setiap orang yang datang ke makamnya dengan membawa bunga, dengan syarat bahwa orang yang datang itu harus memberi kesan telah mempunyai pasangan.

Demikianlah mitos Pangeran Samodro dari dua versi yang berbeda, yang rupanya ditafsirkan secara berbeda pula. Menurut keyakinan para peziarah, Pangeran Samodro adalah orang yang sering bertapa dan mempunyai kekuatan sangat besar. Untuk memperoleh hasil yang memuaskan, Pangeran Samodro menginginkan agar para peziarah datang sebanyak tujuh kali dalam waktu peziarahan dan melakukan hubungan seks dengan orang yang bukan pasangan resmi.

Jumlah tujuh kali didasarkan pada pengalaman bahwa jumlah tersebut membawa hasil atau rejeki tersendiri. Sedangkan hubungan seks dengan ‘orang yang bukan pasangan resmi’ adalah penafsiran dari kata dhemenane yang ditafsirkan oleh peziarah sebagai kata dhemenan yang berarti ‘pacar gelap’, yaitu laki-laki atau perempuan lain yang bukan suami atau istri.

Adapun dalam penafsiran versi penduduk setempat, walau pun ada persamaan namun sangat berbeda dalam bagian akhir dari cerita mitos tersebut. Pangeran Samodro memang memberi syarat harus adanya pasangan, tetapi tidak mensyaratkan adanya hubungan seks. Hal tersebut dianggap tidak begitu penting dan dapat dilakukan dengan aman di rumah saja. Penduduk setempat yang datang berziarah umumnya membawa pasangan resminya sendiri. Jadi bagi yang berminat mengikuti ritual di Gunung Kemukus tinggal pilih saja, mau mengikuti versi yang mana.

Kisah mengenai Pangeran Samudro tersebut memiliki banyak tafsiran. Kisah lainnya menyebutkan bahwa Pangeran Samudro adalah seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit. Tapi ada pula yang menyebut dia dari zaman Pajang. Dia jatuh cinta kepada ibu tirinya, Dewi Ontrowulan. Ayahnya yang mengetahui hubungan anak-ibu itu menjadi murka. Pangeran Samudro lantas diusir. Dalam kenastapaannya, dia mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana. Akhirnya ia sampai ke Gunung Kemukus.

Tak lama kemudian, sang ibu menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan. Namun celakanya, sebelum sempat berhubungan badan, penduduk sekitar memergokinya. Keduanya dirajam beramai-ramai hingga akhirnya tewas. Keduanya kemudian dikuburkan dalam satu liang lahat di gunung itu. Tapi menurut cerita, sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan. Ia berujar, "Siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya".

Ada pula yang meyakini kuburan itu adalah milik Syeikh Siti Djenar. Dia dihukum para wali karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. Menurut KRHT Kresno Handayaningrat, tokoh budaya setempat, Syeikh Siti Djenar dieksekusi di tempat tersebut.

Memang, tak ada catatan sejarah mengenai sosok Pangeran Samudro. Namun, mitos telah telanjur berkembang. Orang yang mengunjungi makam Sang Pangeran dipercaya memperoleh berkah, berupa jabatan dan harta kekayaan.

Tentu saja menjalankan ritual pesugihan di tempat itu adalah hak masing-masing peziarah. Sayangnya, ritual itu kemudian berkembang dengan bumbu seks bebas yang dilakoni sebagian peziarah. Lagi-lagi kegiatan menyimpang tersebut dipengaruhi mitos. Pangeran Samudero juga berbuat yang sama dengan ibu tirinya di sana.

Ketika malam Jumat Pon, para peziarah bersiap untuk melakukan ritual pesugihan di Makam Pangeran Samudro. Sebelum memasuki arel makam, para peziarah harus mengunjungi Sendang Ontrowulan dan Sendang Taruno. Di sana, mereka membersihkan diri, seperti yang dilakukan Dewi Ontrowulan ketika akan menemui Pangeran Samudro.

Jika pembersihan diri telah dilaksanakan, para penziarah menemui kuncen Sendang. Mereka meminta restu dan mengutarakan permintaan sebelum mendatangi makam. Saat itu, sebagian peziarah membawa pasangan di luar nikah. Kelak, beberapa pasangan dadakan tersebut akan berhubungan seks yang dipercaya sebagai prasyarat ritual.

Menurut juru kunci atau kuncen senior makam tersebut bahwa tidak ada syarat tertentu hanya membawa bunga. Dengan panduan juru kunci mereka berdoa. Melakukan tawassul atau tahlil supaya mendapatkan barokah.

Lalu para peziarah pun melaksanakan ritual di makam Pangeran Samudro. Tidak ada panduan resmi, bagaimana ritual harus dilakukan. Yang jelas, para peziarah harus menyampaikan maksud kedatangan dan mengutarakan permintaan yang diinginkan. Tentu saja, tidak semua peziarah melakukan seks bebas usai melakukan ritual di makam Sang Pangeran. Namun, tak sedikit diantara mereka melakukan hal itu.

Bagi peziarah yang percaya harus melakukan seks bebas di sekitar komplek makam, tersedia kamar-kamar yang disewakan. Jika kebetulan tidak mempunyai pasangan dadakan, para penyedia jasa penyewaan kamar juga menyediakan wanita teman kencan.

Mitos tentang seks bebas sebagai prasyarat pesugihan di Gunung Kemukus akhirnya menyuburkan prostitusi. Para pekerja seks komersial menjadi teman kencan bagi para penziarah yang tidak mempunyai pasangan. Tak ada yang melarang aktivitas seks atau sekedar minum minuman keras dan berjudi di sana. Meskipun ada plang larangan judi, asusila, dan minum, namun rupanya hal tersebut tidak berpengaruh.

Masyarakat di sana juga tidak merasa terganggu. Apalagi, mereka mendapatkan uang dari aktivitas itu. Pendapatan masyarakat dari sewa dan menjual makanan di daerah tersebut cukup membuat kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Kemukus menjadi sejahtera. Dari situlah mereka mendapatkan penghidupan untuk sehari-hari.

Prostitusi sebagai dampak mitos ritual seks bebas di Gunung Kemukus sebenarnya telah disadari pemerintah dan kepolisian Sragen. Namun, sejauh ini kedua instansi tak berdaya karena keuntungan ekonomis dari kegiatan tersebut telah menjadi sumber pendapatan warga sekitar.

Bagaimanapun kisahnya, yang dinamakan pesugihan adalah sesuatu yang tidak baik, apalagi dengan melakukan seks bebas. Mencari harta dengan jalan pintas yang sudah jelas dilarang oleh agama meskipun dengan selubung sejarah masa lalu tetap saja tidak dapat dibenarkan. Kepercayaan masyarakat yang seperti itu sungguh tidak dapat dibenarkan dalam sudut pandang agama maupun asusila.

Sejarah yang seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan sekarang malah diselewengkan menjadi tradisi yang merusak moral. Ironisnya pemerintah yang seharusnya dapat mengatasi penyimpangan tersebut malah tidak mampu berbuat banyak. Tindakan yang dilarang oleh agama seolah mampu dikaburkan oleh ulasan sejarah yang tidak mampu membawa ke dalam kebaikan namun malah semakin merusak moral.

Sebagai genarasi yang dibekali aturan dan agama, jelas paham mengenai pelajaran dari kisah Pangeran Samodra tersebut. Yang mana yang seharusnya diteladani dan yang mana yang tidak pantas untuk diteladani. Dari kisah tersebut seharusnya dapat dipahami bahwa perselingkuhan itu bukan tindakan yang baik dan tidak pantas dilakukan bahkan oleh ibu dan anak. Namun sangat disayangkan hal tersebut malah menjadi kisah yang diselewengkan dan dibuat-buat untuk mengambil keuntungan pribadi.


Sebagai manusia yang memiliki agama dan mengerti mengenai hakekat kesusilaan yang baik, tidak selayaknya meminta pada yang selain Tuhan Yang Maha Esa, meminta rezki pertolongan dan sebagainya pada hal yang tidak jelas tersebut adalah musyrik dan sangat tidak disukai Tuhan. Ditambah dengan melakukan hubungan seks bebas atau zina, tentu hal tersebut sangat dilarang oleh agama.


Racauan Part 4


Menikmati kesendirian, diantara barisan luka yang menyumpahi tawa kebahagiyaan. Sedang kebahagiyaan sendiri menjadi begitu pelit membagi miliknya denganku. Sehingga menyisakan kesendirian nan akut pada diriku.

Apalagi yang tersisa ketika putus asa telah merenggut semua yang bernyawa dalam diri, yang ada hanya mati, bahkan lebih buruk lagi semua seakan ada dalam ketiadaan yang semu. Ada namun tak benar-benar berarti, berada dalam batas. Bias-bias yang semu tak nyata.

Aku teringat jika aku adalah pemuja kebahagiyaan sintetis, yaitu kebahagiyaan yang tak pernah kutunggu kedatangannya namun kebahagiyaan yang kucipta sendiri. Namun kini kenapa semua itu tak lagi kujumpai, aku sudah bukan lagi sang pemilik semangat untuk mencipta kebahagiyaan. Tidak ada daya lagi!

Dalam keredupan pandanganku yang semakin sayu, tak lagi berpercik api ceria ataupun semangat seperti yang sering dikatakan oleh teman-temanku. “Kamu itu hidup kaya gak ada bebannya ya” suatu ketika setalah rapat, temanku mengatakan itu padaku. Hanya kubalas dengan senyum, senyum getir sesungguhnya. Jauh di dalam aku begitu banyak masalah, banyak beban bahkan mungkin aku adalah beban itu sendiri. Namun prinsipku tetap sama tidak akan membagi duka dengan teman, cukup suka saja.

Kembali pedih mengingat segala penolakan atas penolakan dalam kisah yang kemarin berlalu. Sungguh menyisakan pilu berkepanjangan. Ingin aku selesaikan tandas dalam sekali hitungan, tapi ternyata ingin hanya menyentuh udara kosong yang bernama angan. Hanya angan-angan yang entah kapan akan mewujud.

Aku sesapi seluruh sepi sendiri, dalam sudut yang meringkuk membentuk kekosongan. Kusenyumi, senyum pahit. Mungkin senyum yang tergulai dengan tumbukan serpih empedu. Bahkan aku sendiri tak mampu melukiskan empedu itu seperti apa. Inilah senyum dengan bibir bergincu palsu dariku.

Kisah tak pernah berakhir, tak berujung, hanya semakin mengambil daya kekuatan pada aku. Semuanya berjalan kaku, namun tak kokoh, aku tak lagi seberani dulu bahkan mungkin aku tak pernah seberani itu. Aku sadar hidup cuma sekali,  namun kenapa harus seperti ini?

Kuamati lagi bayangku dalam kesendirian, sungguh selama ini aku memang hidup dalam kepura-puraan. Kebahagiyaan yang kucipta sendiri, kebahagiyaan sintetisku kapan bisa kugapai lagi. Tetap kutunggu dan mungkin diantara barisan keputus-asaan ini ada secuil harap akan bahagiya, akan senyum ceria yang tulus. Entah!



Wednesday, March 26, 2014

Beranda Sepi

Fato kusam, menghadirkan gambar aku yang berdiri mematung tanpa ekspresi dengan adikku yang berada di sampingku. Foto kusam yang membawaku pada kenangan masa itu. Setelah berfoto aku lalu dibelikan jajan wafer oleh bapakku, wafernya banyak sampai berbungkus-bungkus. Aku makan dan berbagi dengan adikku. Aku yang berumur 7 tahun  dan adikku kira-kira berumur 5 tahun, begitu bahagiya memakan wafer kami sambil tertawa-tawa.

Rasanya kami sudah makan banyak wafer tapi tetap masih banyak juga sisanya, tidak habis-habis. Sampai kami tidak ingin makan lagi. Aku beresi sisa wafer tersebut lalu kumasukan dalam kaleng yang membukanya sungguh harus dengan tenaga ekstra. Kulihat ibu keluar dari arah dapur ingin memandikan adikku sambil membawa handuk yang setengah kering. Ibu melihat ruang tamu yang begitu berantakan dengan remah-remah wafer disana sini. Lalu ibu perintahkan aku untuk membersihkannya. Aku yang tetap mencoba membuka kaleng tersebut menolak perintah ibu. Karena aku rasa itu bukan tanggung jawabku, adikku yang selain makan berceceran juga sekaligus mengotori lantai dengan menginjak wafer yang tidak ia makan lagi. Jadi itu bukan salahku, bukan aku yang seharusnya membersihkan remah-remah wafer tersebut.

Tapi ternyata karena jawaban tidak mau dari aku tersebut membuat ibuku sangat marah. Dia keluarkan seluruh kata-kata umpatan dan segala nama-nama binatang yang tidak pantas didengarkan oleh kuping kecilku yang masih berumur 7 tahun ini. Lalu karena aku begitu kaget melihat ibu ternyata sangat marah seperti itu, aku hanya diam tetap keukeuh tidak mau membersihkan kekotoran yang dibuat oleh adikku. Ibu menghampiriku siap melayangkan handuk basah tersebut kearahku, terkena handuk yang begitu berat membuat kepalaku terhuyung sakit rasanya. Seperti terkena sabetan berkilo-kilo buku yang dijatuhkan dari atas menimpa kepalaku, mungkin tidak meniggalkan goresan luka tapi cukup membuat aku pusing dan mata yang berkunang-kunang.

Dari situlah aku begitu membenci wafer dan aku bersumpah tidak akan memakan wafer lagi seumur hidupku. Dan memang benar kenyataannya sampai sekarang aku tidak pernah lagi menyentuh yang namanya wafer. Aku benci wafer! Selain itu ternyata juga menghadirkan ketakutan pada handuk, sampai tiap kali habis mandi aku tidak pernah lagi menggunakan handuk. Banyak alasan aku keluarkan, lupa membawa, ribet, atau tidak tahu handuknya dimana atau apalah yang jelas hal tersebut dapat menjauhkan aku dari handuk. Sampai saat kuliah dan teman-teman yang sehabis mandi di kostku menanyai handukku untuk dipinjampun aku juga menjawabnya dengan fariasi jawaban terkadang kujawab sedang kotor, sedang dilaundry atau sudah hilang. Yang jelas aku tidak pernah lagi memakai handuk. Ya aku takut pada handuk!

Konyol memang, hal sepele tersebut sudah mampu mebuatku benci dan takut. Bukannya tidak pernah aku mencoba melawan ketakutanku, pernah suatu kali saat pertama pindah ke kost aku dibelikan handuk baru oleh ibuku. Aku keluarkan dari dalam tas, cukup membuatku deg-degan setengah mati. Tapi aku mencoba berpikir rasional, handuk tidak akan membunuhku, begitulah hingga sorenya setelah aku mandi aku sampirkan handuk tersebut dipundakku lalu selesai mandi kucoba menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuhku. Namun tiba-tiba yang terpikir adalah handuk ini tidak hanya menyerap air yang membasahi tubuhku tapi juga menyerapku masuk ke dalam setiap pori-pori handuk. Aku ketakutan luar biasa, terasa ngilu di sekujur tubuhku. Kakiku mulai gemetar tidak karuan, kejadian masa kecilku kembali membayang di pelupuk mata. Tersabet oleh handuk besar yang lumayan basah dan membuat  kepalaku pusing sekaligus melahirkan banyak kunang-kunang dimataku. Tidak dapat lagi aku menguasai diriku sendiri. Aku gagal melawan ketakutanku pada handuk!

Masih mematung aku menatap foto yang sudah hampir tidak jelas tersebut, foto yang ada dalam dompet bapakku, yaitu foto dengan aku dan adikku di dalamnya. Saat kami masih kecil, dengan kisah yang kualami dan masih kuingat jelas sampai sekarang. Setelah disabet berkali-kali dengan handuk basah tersebut, tentu aku menangis. Bukan hanya karena rasa sakit karena sabetan yang membuat kupingku hampir budek berdengung-dengung tapi juga kerena umpatan dan makian yang keluar dari mulut ibuku sudah sampai batas nama-nama jahanam yang entah terenggut dari lorong-lorong gelap nan kotor yang antar brantah.

Karena mungkin ibu sudah capek menyabeti aku dengan handuk basah yang jelas berat tersebut, ibu lalu gantian menendangku dan mencubitiku atau isitilahnya dalam bahasa Jawa yaitu ‘nyiweli’ sampai pahaku terasa begitu perih sakit. Aku tahu setelah ini pasti akan meninggalkan bekas biru-biru kehitaman di pahaku, karena hal tersebut sudah sangat sering aku alami. Ibu menyuruh aku berhenti menangis, namun bukannya berhenti menangis aku malah menjadi-jadi. Air mata berleleran keluar membasahi pipi dan sesenggukan aku lalu diseret ibu keluar dari rumah. Tangan besar ibu mencengkeram pergelangan tangan kecilku, terasa kasar dan sakit. “Minggato wae neng omah malah mung gawe perkoro kowe, anak setan!” Ya itu berarti aku telah diusir ibuku, “kono rasah neng kene, aku wegah mbok eloni meneh, minggato!” sambil berkata seperti itu ibu membanting pintu rumah. Lalu terdengar suara klik dari dalam rumah, suara pintu dikunci!

Aku tetap menangis di beranda rumah, namun hanya air mata yang berleleran dengan hidung yang juga basah oleh ingusku, tanpa suara. Hari sudah menjelang magrib, tapi tidak kujumpai bapakku juga. Aku hanya menunggu bapak pulang, aku tahu cuma bapak yang sayang kepadaku. Aku anggap begitu karena ibu begitu jahatnya tega telah mengusirku.

Jalanan dipetang hari begitu sepi, ibu tidak juga membukakan pintu untukku dan bapak juga belum kelihatan tidak tahu dimana. Yang terlihat didepanku hanyalah pekarangan rumah yang berdiri dua pohon yaitu pohon rambutan dan pohon mangga, diantanya berdiri tiang listrik besar yang tiangnya dari beton, jadi saat aku lingkarkan tangan kecilku tidak juga cukup merangkul penuh tiang listrik yang menyambungkan listrik satu desa tersebut. Lalu terdapat sungai yang arusnya kadang deras saat hujan turun, diatasnya ada jembatan bambu atau kami sering menyebutnya dengan ‘sesek’ yang menyambungkan pekarangan rumahku dengan jalan raya kecil. Rumahku menghadap ketimur dengan bertetangga rumah megah milik seorang pengusaha kayu. Rumah megah dengan tembok pembatas yang tinggi dan diatasnya terdapat kawat duri, rumah yang berada di samping kiri rumahku. Karena di depan rumah hanya ada kebun luas dengan ditumbuhi berbagai macam pepohonan rimbun, yang kami menyebutnya dengan ‘alas cilik’ alias hutan kecil. Agak jauh di utara ada gereja dan di selatannya ada tembok menjulang tinggi bangunan penjara peninggalan jaman Belanda yang di atasnya juga terdapat tempat mengintai berikut lonceng besar. Lonceng yang jarang sekali terdengar, aku pernah mendengarnya sekali itu saat ada narapidana yang kabur melarikan diri lewat lubang pembuangan yang tembus ke sungai.

Di sudut belakang tembok yang mengitari penjara tersebut kalau dari cerita nenekku adalah tempat penjagalan manusia pada peristiwa 65 dulu. Aku cukup ngeri membayangkannya, ketika kepala manusia dalam hitungan detik sudah terlepas dari tubuhnya ditebas oleh parang dengan darah yang menyelimutinya. Aku tidak tahu cerita tersebut benar atau tidak, tapi yang jelas kalau dari cerita tetangga sekitar memang sering melihat banaspati, yaitu kepala yang terbakar terbang di antara pepohonan kelapa. Aku juga tidak tahu hal tersebut benar atau tidak, aku belum pernah melihanya.

Dilangit timur mulai muncul bintang kecil, sandyakala sudah hampir menghilang. Sandyakala yaitu senjakala atau dalam kebudayaan Jawa mengandung muatan keramat dan gaib, karena menandai masa antara siang dan malam, terang dan gelap. Di bawah suasana warna langit kemerahan dan sebagian petang, mulai berkeliaranlah makhluk-makhluk kegelapan, termasuk roh-jahat yang diperhebat lagi oleh kata ‘ala’ yang berarti jahat atau buruk. Bahkan saat sandyakala seperti ini biasanya anak-anak yang bermain harus pulang kerumah masing-masing, tidak ada yang boleh keluar rumah. Begitu pantangan dan kepercayaan dari orang Jawa.

Namun aku sekarang, tetap diluar sambil menangis sesenggukan. Air mata belum juga berhenti mengalir. Awet sekali tangisku hingga terdengar suara pintu terbuka, ternyata nenekku. Nenek berusaha mendiamkan aku agar tidak menangis lagi dan mengajakku masuk, tapi aku takut kalau di dalam akan dihajar oleh ibuku lagi. Jadi aku tetap tidak mau masuk rumah, berharap bapak yang akan datang menolongku dan melindungi aku dari amukan ibu. Nenek dengan kebaya dan jarit yang ia pakai menghapus air mataku yang membasahi pipi.

Nenek tetap membujukku masuk karena hari sudah hampir malam, sayup-sayup adzan magrib saja sudah berganti dengan adzan isya. Aku tetap tidak ingin masuk rumah, karena aku rasa wajah marah ibuku jauh lebih menakutkan daripada makhluk dunia lain yang paling seram sekalipun. Lalu nenek duduk di belakangku, dia bercerita bahwa dulu sewaktu ia kecil juga pernah diusir ibunya keluar dari rumah, menangis sendiri dalam gelap malam di beranda rumah, dan tiba-tiba ada tangan dengan jari-jari sebesar pisang yang menyentuh pundak nenek. Kata nenek lagi, tangan tersebut sangat dingin seperti es batu, dengan bulu-bulu yang lebat, namun saat nenek menengok kebelakang tidak ada siapapun. Setelah bercerita tersebut nenek lalu masuk rumah meninggalkanku sendiri. Pintu tertutup rapat, tapi aku tahu pintu tidak lagi dikunci. Setelah menghapus sekenanya air mata di pipi, aku masuk rumah. Aku melihat ibu berdiri menyandar di tembok samping kamarku dengan menatapku dingin “wis kesel nangise?” hanya itu yang keluar dari mulut ibuku.


Ingatan masa kecilku, aku tidak menangis menatap foto kusam masa laluku ini. Hatiku sudah cukup mengeras, dingin terasa walau kadang masih sakit. Ku taruh lagi dompet bapak di meja rias ibu. Setelah mengambil uang seratus ribuan untuk membeli bunga tabur. Aku lalu keluar, diluar orang-orang sudah sibuk menata kursi di pekarangan rumah dan tetangga juga sanak saudara dekat sudah berdatangan. Bapak duduk di tikar sambil menangis, tidak kulihat adikku entah dia menangis dimana. Di depan bapak, dalam tutupan jarit ibuku terbujur kaku tidak bergerak. Terbungkam diam membungkam serta seluruh keangkuhannya semasa hidup.


Tuesday, March 25, 2014

Aku Takut Pulang

Hatiku terus terasa sakit jika mengingatnya, sumpah serapah dari ibuku sendiri. Wanita yang telah mengandungku dan melahirkanku. Perih rasanya mendapati kenyataan ini. Air mataku tak henti meleleh saat mengingat perlakuan ibuku sendiri kepadaku, rasanya seperti hatiku ditusuki oleh ribuan jarum kecil, ngilu di ulu hari, terasa desir menyakitkan yang menyerbu hatiku, menyesak di dada.

Kubuang pandang ke luar jendela agar penumpang yang duduk di sebelahku ini tidak melihatku. Bus tetap melaju membawaku menuju  tempatku dalam mencari ilmu selama hampir dua tahun ini, yaitu Kota Semarang. Yang hari jumatnya aku dilanda rasa bingung di kost ku sendiri, ingin pulang ke Sragen, tempat kelahiranku, karena aku begitu rindu pada bapakku, sekaligus karena beras juga sudah habis. Tapi rasa takut juga mengantuiku, teringat kepulanganku yang terakhir dulu merupakan kepulangan yang begitu menyakitkan, lagi-lagi dengan genangan air mata mendengar caci maki dari mulut ibuku. Aku begitu bingung, tidak pulang tapi kangen sama bapakku, kalo pulang tapi takut pada ibuku. Akhirnya yang terjadi di dalam pergulatan rasa bingung tersebut hanya ledakan tangis dari mataku. Hingga lelah aku menangis sampai aku tertidur dan terbangun karena mendengar suara HP ku berbunyi.

Ternyata telpon dari bapakku, yang menanyakan kepulanganku karena memang sehari sebelumya aku SMS mengabari kalo hari jumat aku pulang. Kuputuskan untuk pulang besok pagi, mengingat ternyata hari sudah petang dan mataku yang juga sudah sembab, aku takut mendengar kata jijik saat ibuku melihatku dengan mata habis menangis seperti ini.

Sabtunya aku memang pulang, masih dengan rasa takut jika kepulanganku dengan hasil yang sama dengan kepulanganku yang dulu. Namun karena ditelpon oleh bapakku membuat sedikit rasa percaya diri jika ‘orang rumah’ memang mengharapkanku pulang. Kupacu motor metik ku menuju Kota Sragen.

Sampai di rumah sudah hampir tengah hari, padahal aku menggembok kamar kost sekitar jam tujuh pagi. Disambut senyum oleh bapakku sambil menanyakan aku dari Semarang jam berapa, aku jawab jam tujuh tapi bapak tidak percaya, karena biasanya Semarang-Sragen bisa ditempuh dengan motor sekitaran 4 jam saja. Tapi aku bilang karena jalanan macet tadi ada kampanye partai di Salatiga bapak percaya, yah memang tadi itulah yang terjadi.

Hari minggunya aku bilang jam satu aku akan balik ke Semarang pada ibuku yang menanyaiku setelah sarapan bersama. Seperti biasa hari minggu adalah kegiatan mencuci pakaian dan dibantu dengan bapak yang juga membantu untuk menjemur pakaian-pakaian itu. Lalu dilanjut dengan ke pasar membeli dagangan untuk dimasak dan di jual di pagi harinya. Ibuku adalah seorang pedagang nasi dan bapakku seorang pegawai negeri sipil rendahan saja. Namun aku rasa semua itu cukup untuk kebutuhan kami juga untuk menyekolahkan adikku dan menguliahkan aku. Meskipun cukup tersebut juga harus ditambah dengan datangnya ‘mas-mas bank titil’ setiap hari ke rumahku.

Namun jam sepuluh saja aku sudah diusir ibu dari rumah, cukup bingung rasanya ketika masalah kecil sudah bisa membuat ibuku mengeluarkan caci maki sekasar itu. Cuma karena aku tetap seperti biasa ke Semarang ingin naik motor tapi tidak dibolehkan karena adikku juga ingin ke sekolang naik motor, padahal adikku kelas tiga SMP, sedang dalam masa-masa ujian. Konyol rasanya. Tapi begitulah kenyataannya.

Cukup membingungkan, aku bilang begitu karena sebelumnya beras dan rambutan yang akan aku bawa ke Semarang sudah di tata dalam dua kresek plastik besar dan ibu bilang tinggal ditaruh dijok depan motor. Tapi kenapa tiba-tiba aku tidak boleh membawa motor. Jika tidak membawa bermacam bawaan dalam jumlah banyak seperti itu mungkin aku akan manut saja sama ibuku, namun ternyata penolakanku malah di balas dengan kemarahan besar dari ibuku. Hingga hafal telingaku merekam perkataan menyakitkan ibuku tersebut.

Hanya karena masalah yang kubilang kecil tersebut sudah mampu menyulut kemarahan ibuku, membuatnya seperti kesetanan hingga melupakan bahwa anak perempuannya ini juga punya hati dan perasaan, yang kali itu begitu terluka karena perkataannya. Sebenarnya bukan kali itu saja ibuku bicara kasar, sudah sejak aku kecil aku sudah paham tempramen ibuku. Jadi kupingku memang sudah terbiasa dengan caci maki ibuku, tapi kali ini aku rasa sudah keterlaluan. Hal tersebut sudah cukup membuatku untuk merasa bahwa aku memang sudah tidak diharapkan lagi.

Sambil memberikan aku uang ibu menyuruhku pergi dari rumah. Terkadang sampai aku berpikir apakah aku memang seburuk itu, tidak pantas untuk disebut seorang anak? Sudah sesalahkah itu aku? Sejelekkah itu aku? Aku benci dengan diriku sendiri!

Tapi memang kuputuskan untuk menurut saja, meskipun ibu sudah marah besar. Diantar oleh adiku ke terminal, aku kembali ke Semarang, untuk terlebih dahulu naik bus ke Solo, dilanjut naik bus lagi ke Semarang. Di terminal yang sepi, karena boleh dibilang hari sudah sore sekitar jam 3 aku duduk dikursi tunggu terminal sendirian. Rasa sesak di dada menyerbu membuat mataku panas, aku lihat ke atas demi menahan air mata agar tidak jatuh.

Cukup lama aku menunggu bus jurusan Solo, namun setelah mendapatkan bus tersebut, keadaan di dalam bus sudah penuh sesak. Hasilnya aku dari Sragen ke Solo berdiri sambil menggendong tas yang cukup berat karena berisi leptop, ditambah dengan gendongan tas yang sudah hampir putus membuatku cukup was-was jika nanti benar-benar putus. Untungnya  rambutan dan juga beras jatah untuk aku masak dikost aku tinggal di rumah, tidak jadi aku bawa. Padahal bapak sengaja ‘menekke’ rambutan di depan rumah buatku biar buat oleh-oleh teman-temam kost, bapak juga sudah mengambil jatah beras satu sak dari simbahku agar dapat aku bawa ke Semarang. Cukup buat makan aku satu bulan kedepan. Tapi terpaksa aku tinggal semua.

Sampai Terminal Tirtonadi Solo sudah hujan lebat, sedikit basah karena harus menunggu bus jurusan Semarang. Setelah naik bus dan sampai Ungaran barulah hujan berhenti, namun hujan di hatiku tetap belum berhenti.  Aku sadar aku bukan penyimpan dendam namun rasa sakit jika mengingat begitu rupa caci maki dan sumpah serapah yang meluncur dengan mudahnya dari mulut ibuku tetap saja terasa sakit dan memberikan rasa takut luar biasa. Rasa penolakan akan diri sendiri yang begitu tertancap dipikirku begitu mencekikku sendiri. Sampai sekarang selalu membuatku takut pulang. Takut membuat kecewa dan marah ibuku meskipun aku sudah berbuat sebaik mungkin namun tetap saja selalu salah di mata ibuku. Takut kembali mendapatkan umpatan dan kata-kata kotor. Aku takut pulang ke rumah.