Aku kecil adalah seorang yang memuja langit. Mungkin seperti kebanyakan anak kecil yang lain, bercita-cita sebagai astronot. Meskipun lebih besar mustahilnya daripada tercapainya. Tapi memang kecintaan kepada langit, kepada galaksi, kepada bintang gemintang, planet-planet serta gugusan rahasia yang ribuan banyaknya di angkasa sana telah mengimpiku untuk bercita-cita sebagai astronot. Hingga sekumpulan pemikiran yang mengantarku menuju tumbuh besar dan semakin dewasa datang, menggeser cita-cita masa kecil yang terlalu besar untuk dapat tercapai. Memupus ikhlas cita-cita sebagai astronot, namun tidak akan kecintaanku terhadap semesta di angkasa.
Dalam otak kecilku, aku memiliki banyak pertanyaan tentang semesta ini. Ribuan jumlahnya. Semakin aku diperkenalkan pada angka, huruf, hingga bacaan dan hitungan yang luar biasa rumitnya, hanya semakin menambah-nambah pertanyaan di kepalaku. Pertanyaan yang tak mampu kujawabi sendiri, bahkan tak mampu untuk hanya sekedar kulontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Alam ini selalu sebanding lurus dengan kerahasiaan-Nya. Bisakah meskipun secuil aku mendapat jawaban, karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti banjir di kepala, semakin penuh semakin ingin tumpah.
Tentang semesta alam raya ini. Langit yang maha luas, tempat tinggal para bintang yang digambarkan memiliki 5 sudut lancip yang diajarkan dalam pelajaran sejak aku mampu menggores kertas gambar. Benarkah bintang berbentuk seperti itu? Lalu kubah langit yang kokoh dan berlapis, benarkah itu ada di sana? Itukah yang tempat meletakan bintang-bintang tersebut? Lalu tentang bulan, bersinar di waktu malam dan pucat di waktu pagi atau siang. Berubah bentuk selalu. Bagaimana keadaan di bulan sana? Indahkah, seperti saat manusia memandangnya dari sini dari bumi? Tentang awan yang kubayangkan lembut seperti kapas, berarak ikut menjadi pengisi langit. Awan benarkah seperti itu? Juga ribuan pertanyaan-pertanyaan lain. Rasa-rasanya sampai matipun aku tidak akan mampu menemui jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang aku temui sendiri dengan mendatanginya secara langsung. Bukan dari google atau dari youtube di masa keterbukaan seperti sekarang. Tapi benar-benar kudatangi sendiri. Tidak akan mampu.
Dalam hidupku yang cuma satu kali, aku tetap mencintai langit. Tetap bermimpi indah jika diterbangkan dalam angkasa raya yang hitam namun penuh gemintang dan arakan awan. Bulan? Jika diperkenankan ada tentu juga menambah indah. Lalu lebih lenggi lebih luas lagi lebih indah lagi. Tentang langit yang dipenuhi bintik-bintik cahaya. Langit hitam namun tidak kelam.
Laman
Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku
♥ Label Monolog ♥
Saturday, January 7, 2017
Wednesday, December 21, 2016
Sepasang Sendal Jepit
Hari ini sendal jepitku rusak. Sendal yang sudah berjasa menemaniku melangkah itu sudah tidak mampu mempertahankan tubuhnya sendiri. Sudahkah dia lelah dengan jalanan beraspal yang panas, dengan jalan berbatu dan becek. Mungkinkah dia sudah lelah dengan guyuran air kran saat aku berwudhu.
Meskipun hanya sendal jepit tapi itu sudah mampu membuatku sedih. Tanpa sendal jepit itu, bisa saja kakiku tertancap paku, beling, ataupun benda lainnya yang bisa membuat kaki berdarah. Benda yang hanya menjadi alas bagi kaki. Benda yang setiap kali aku melangkah berarti aku menginjaknya, namun ternyata begitu berjasa.
Sendal jepitku yang sama sekali tak mewah. Hanya sendal jepit berharga murah, dibeli dari penjual lapak kaki lima diseputaran alun-alun daerah. Sendal jepitku yang sudah begitu berjasa mengalasi kakiku dalam melangkah. Pastilah dia sudah lelah. Atau mungkin jengah.
Monday, December 19, 2016
Hujan Kita
Untuk Devid
Hujan
Sungguh
Meski beribu kali paksaanpun aku tak akan sanggup
Tak akan sanggup merangkai hujan dalam kata-kata
Meski hujan
Selalu mewujudkanmu dalam rinainya
Dalam setiap tetesnya
Dalam setiap rintiknya
Adalah sabda
Kebeningan rindu yang tak terjumlah banyaknya
Dan hujan
Aku sungguh tak mampu berkata-kata
Sragen, 15 Desember 2016
17:41 Waktu Indonesia Hujan
Hujan
Sungguh
Meski beribu kali paksaanpun aku tak akan sanggup
Tak akan sanggup merangkai hujan dalam kata-kata
Meski hujan
Selalu mewujudkanmu dalam rinainya
Dalam setiap tetesnya
Dalam setiap rintiknya
Adalah sabda
Kebeningan rindu yang tak terjumlah banyaknya
Dan hujan
Aku sungguh tak mampu berkata-kata
Sragen, 15 Desember 2016
17:41 Waktu Indonesia Hujan
Dari Devid
Karena hujan tak akan diam
Hujan akan mengalirkan rasa rindu yang selalu aku rasakan
Aku titipkan pada setiap tetes hujan
Sukoharjo, 15 Desember 2016
17:46 Waktu Indonesia Masih Hujan
Tapi Kamu
Aku memperhatikanmu, tapi kamu?
Aku melihatmu, tapi kamu?
Aku merindukanmu, tapi kamu?
Aku menyayangimu, tapi kamu?
Aku mencintaimu, tapi kamu?
Entah...
Sragen, 19 Desember 2016
Monday, December 12, 2016
Kepik Emas
Ada seekor kepik emas, menempel pada daun, daun yang entah apa namanya berada di pinggir pematang sawah. Di tepi sebuah sungai kecil, atau boleh disebut dengan selokan tempat air yang mengaliri tiap petak sawah. Kepik emas kecil tak cuma satu dua, tapi banyak sekali jumlahnya. Dan menempel pada tiap daun-daun yang ada. Daun yang kian hari bolong-bolong. Mungkin kepik emas tersebut yang memakan daun itu hingga bolong dimana-mana. Begitu dari yang kuamati.
Aku tak begitu paham dengan kehidupan kepik emas yang terlihat hanya diam saja, padahal dibalik cangkang emasnya yang kaca tersebut terdapat sayap. Sayap yang tiap saat bisa membawanya terbang ketika merasa terancam. Kepik emas mungkin sejenis serangga. Serangga kecil diantara luasnya semesta. Tak banyak yang menghiraukan serangga kecil bersayap tersebut. Jika dibandingkan serangga yang lain, yang lebih besar lebih indah, seperti kupu-kupu dengan sayapnya yang menawan.
Kepik emas hanya binatang kecil entah apa gunanya bagi dunia yang begitu luas ini. Terik matahari yang menyengat perlahan bergerak ke barat dan kepik emas tetap diam di tempatnya. Pun ketika segerombolan anak-anak kampung yang bertanjang dada memburu mereka. Satu per satu ditangkapi. Habis sudah kepik-kepik emas hari itu. Puas anak-anak tersebut memperoleh banyak kepik dalam plastik beningnya masing-masing. Entah untuk apa kepik emas itu bagi mereka nanti.
Senjakala melembayung, biasnya mengantarkan capung-capung yang terbang melesat diatas selokan sawah. Satu kepik emas terjatuh dari tangan seorang anak. Mungkin terlewat oleh anak tersebut. Satu kepik emas yang tak mampu kembali terbang ke atas daun. Mungkin tubuhnya hancur digenggam terlampau kuat oleh sang anak kampung. Satu kepik kecil yang berwarna keemasan tersebut tak mampu melawan takdirnya untuk hidup barang sehari lagi melewati malam yang sebentar lagi datang. Satu kepik emas mati. Dalam diam aku hanya bertanya sendiri. Adakah artinya kematian satu kepik emas kecil diantara luasnya semesta raya ini? Lalu angin mendesau mengantarkan jawab pada sepi.
Aku tak begitu paham dengan kehidupan kepik emas yang terlihat hanya diam saja, padahal dibalik cangkang emasnya yang kaca tersebut terdapat sayap. Sayap yang tiap saat bisa membawanya terbang ketika merasa terancam. Kepik emas mungkin sejenis serangga. Serangga kecil diantara luasnya semesta. Tak banyak yang menghiraukan serangga kecil bersayap tersebut. Jika dibandingkan serangga yang lain, yang lebih besar lebih indah, seperti kupu-kupu dengan sayapnya yang menawan.
Kepik emas hanya binatang kecil entah apa gunanya bagi dunia yang begitu luas ini. Terik matahari yang menyengat perlahan bergerak ke barat dan kepik emas tetap diam di tempatnya. Pun ketika segerombolan anak-anak kampung yang bertanjang dada memburu mereka. Satu per satu ditangkapi. Habis sudah kepik-kepik emas hari itu. Puas anak-anak tersebut memperoleh banyak kepik dalam plastik beningnya masing-masing. Entah untuk apa kepik emas itu bagi mereka nanti.
Senjakala melembayung, biasnya mengantarkan capung-capung yang terbang melesat diatas selokan sawah. Satu kepik emas terjatuh dari tangan seorang anak. Mungkin terlewat oleh anak tersebut. Satu kepik emas yang tak mampu kembali terbang ke atas daun. Mungkin tubuhnya hancur digenggam terlampau kuat oleh sang anak kampung. Satu kepik kecil yang berwarna keemasan tersebut tak mampu melawan takdirnya untuk hidup barang sehari lagi melewati malam yang sebentar lagi datang. Satu kepik emas mati. Dalam diam aku hanya bertanya sendiri. Adakah artinya kematian satu kepik emas kecil diantara luasnya semesta raya ini? Lalu angin mendesau mengantarkan jawab pada sepi.
Mendung
Satu hari yang banyak orang menunggunya dalam setahun penuh. Bagiku telah berlalu begitu saja tanpa sisa. Seperti hari-hari yang lain, terlewati.
Mungkin bedanya, hanya dari macam-macam ucapan yang diberikan oleh orang lain untukku. Yang menguap bersama detik yang juga berlalu.
Menggelayut dalam selaput mendung.
Di langit.
Langit manapun.
12 Desember 2016
Sragen penuh mendung
Saturday, December 3, 2016
Kepada Teman
Kepada teman,
sebenarnya kurang mengalah seperti apa aku. Sejak dulu,
sejak dari kecil, aku selalu mengalah, semuanya demi agar aku punya teman. Biarlah
lelah aku tahan, tapi setidaknya temanku nyaman. Biarlah aku yang tidak
berpunya tapi setidaknya temanku ada. Selalu itu yang aku utamakan. Tapi entah
sampai sekarang rasanya memang aku terus yang bagaikan menggendong
teman-temanku dengan pundak yang sudah begitu kesakitan, dengan kaki yang
terus-terusan tersaruk sepanjang jalan. Aku mengalah.
Kepada teman,
aku melewati masa taman kanak-kanak dengan banyak ketakutan,
dengan banyak rasa malu, dengan banyak rasa tidak percaya diri. Tapi aku terus
saja berusaha menggandeng satu persatu tangan-tangan kecil dari tiap bangku
yang juga kecil. Aku mencoba ingin memiliki setidaknya satu saja balasan dari
gandengan tangan kecil tersebut. Iya memang ada, tapi kenapa sampai hati
gandengan tersebut menyeretku pada rasa ketakutan yang lain, pada rasa rendah
diri yang lain. Tak ada secuilpun cacatku tersebut yang terhapus, malah terasa semakin
tergenapkan, bertambah-tambah. Tapi apa pernah aku lepas gandengan tersebut? Tidak
pernah! Susah payah aku memilikinya, maka akan berusaha bagaimanapun aku
pertahankan.
Kepada teman,
memasuki masa sekolah dasar, aku tetap anak yang sama. Anak yang
ingin memiliki teman, banyak teman! Namun dari gandengan sepertinya perlahan
berubah menjadi seretan. Entah aku sadari entah tidak tapi aku perlahan hanya
menjadi pengikut. Apakah disitu aku masih dipanggil dengan sebutan teman oleh
temanku? Entahlah, tapi yang jelas aku tetap menganggapnya teman. Segala hal
aku lalukan agar dapat bersama dalam linggakaran pertemanan tersebut. Segala
hal! Tapi sepertinya itu saja tidak cukup. Aku semakin tertinggal jauh oleh
teman-temanku. Aku terlalu dibelakang untuk bisa mengejar. Karena aku memang
tak pernah sejajar. Dari awal sekalipun, hanya aku sendiri yang mati-matian
menjajari mereka, tapi kenyataan memang yang akhirnya menyadarkanku. Berdiri aku
sendiri, memandangi yang tak pernah terlihat lagi. Memaku langkah, sempatkah
diantara temanku yang akan menengokku?
Kepada teman,
aku sudah benar-benar lelah pada masa ini, masa putih biru.
Biarlah masa yang kali ini aku habisan untuk sendiri, tanpa harus mati-matian
mencari teman. Aku tidak lagi percaya bahwa teman bisa menghapus kesakitan dari
rasa sepi. Aku menyerah saja, lebih baik diam. Namun, ternyata satu gapaian
tangan yang malah meraih tanganku. Tangan itu, merentangkan setangkap
pertemanan. Dia bilang akan manis jika dimakan berdua. Hari-hari, aku merasa
seperti memiliki penyangga saat aku lelah dalam senja, aku seperti memiliki
pendorong tiap pagi, aku seperti memiliki pengungkit kala siang terik
menyusutkanku, dan aku seperti memiliki penggandeng dalam hari-hari itu. Apalagi
yang aku kurangkan. Aku pun lakukan hal yang sama. Aku begitu bersyukur aku
memiliki teman. Atau sudah seharusnya aku sebut sabahat, iya aku memiliki
sahabat. Segala milikku adalah miliknya, tak ada tanda titik sekecil apapun aku
sembunyikan darinya. Semua pintu serba terbuka untuknya. Bahkan pintu
terlemahku pun terbuka hanya untuknya. Dia sahabatku, satu-satunya sahabatku
sampai pada detik itu. Sampai pada satu titik dimana dia menggempurku habis
dalam satu pukulan telak. Tanpa sempat dia lepaskan tanganku, rupanya seperti
itu cara seorang yang telah kuanggap sebagai sahabat menghancurkan satu
persahabatan. Aku kalah! Kalah oleh rasa perih yang yang tak terperi. Aku hanya
mampu diam dalam jatuhku. Aku masih berusaha mencerna semuanya, memahami satu
persatu yang ditimpakan padaku, sendiri. Hingga aku sadar seharusnya memang
sejak awal aku pilih sendiri, tidak perlu teman, apalagi sahabat. Bukankah dari
sekian banyak waktu memang sendiri. Lalu mengapa butuh teman. Maka begitulah, kuhabiskan
masa putih biruku hanya dengan buku dan dunia khayalku sendiri. Teman? Silahkan
kalian bisa anggap aku teman, tapi aku tidak.
Kepada teman,
entah haruskah aku memiliki pengharapan tentang teman diakhir
masa sekolahku ini? Awal masa putih abu-abu rasanya cacatku kembali bertambah
memenuhi mukaku. Adakah yang seperti ini aku akan memiliki teman? Tidak! Aku tidak
akan lagi berharap-harap yang hanya akan semakin mencederai hatiku sendiri. Biarlah
semua seperti biasanya, diam, sepi, sendiri. Namun memang perlahan kembali aku
harus berpikir, begitu perlahan, sangat perlahan. Lambat! Hingga benar-benar
tiba di masa terakhir sekolah. Semua teman bisa aku raih, semua! Entah aku
sadari atau tidak, tapi ternyata begitu menyenangkan bisa memiliki teman
sebanyak ini. Dan begitu bodohnya aku terlambat menyadari itu. Tapi tidak apa,
akan aku pertahankan. Bukankah itu bagian dari yang sulit? Mempertahankan suatu
hubungan! Apalagi hubungan pertemanan.
Kepada teman,
kita menempuh perjalanan masing-masing, kita memilih jalan
kita sendiri-sendiri, dan melaluinya juga sendiri-sendiri. Hingga sapaankku
dari jalan ini, satu persatu tak lagi kalian balas. Satu persatu, setiap pagi,
tak pernah terlewat barang satupun sapaanku untuk kalian. Hingga aku malu, malu
mengganggu kalian yang telah sebuk dengan rutinitas kalian sendiri. Mungkin
masa ini, teman memang harus yang serutinitas dengan diri kita. Bukankah aku
sudah pernah bisa memiliki teman yang banyak, lalu kenapa tidak aku coba
kembali. Dan memang iya, teman tak terhitung aku miliki. Yang malam bisa satu
kopi dalam gelas yeng sama, yang paginya bisa dalam satu kelas, yang siangnya
bisa dalam satu perjalanan, yang setiap saat memenuhi segala jungkir balikku. Hingga
kesepian terkadang bisa berubah menjadi benda asing yang tak kukenal sama
sekali. Begitu beraneka segala pertemanan yang disuguhkan untukku. Dari berbagai
sudut. Hingga terkadang aku begitu kuwalahan. Senang, sedih, susah, lelah,
tertawa terbagi rata bersama. Pertemanan yang berupa-rupa. Tak lupa aku bersyukur atas semua itu. Tiap harinya
adalah hari yang selalu hidup. Selalu dengan berbagai lembar yang penuh rasa. Begitu
menyenangkan.
Teman,
hal-hal yang menyenangkanpun juga mampu surut ternyata. Satu
demi satu, meniti jalannya masing-masing. Hingga hari-hari kesepian kembali
memunculkan dirinya, menjadi tak lagi asing untukku. Tinggal satu dua teman
yang aku miliki. Dan tanpa aku sadari bodohnya aku dimasa anak-anak kembali
pada aku saat ini. Saking takutnya kehilangan yang satu dua tersebut, aku selalu
mengalah habis-habisan. Sakitnya rasa kesepian membuatku kapok untuk
merasakannya lagi. Kusodorkan punggungku saat ada temanku yang perlu gendongan,
kurelakan pundakku saat ada temanku yang ingin bersandar. Ku ulur tanganku
bagitu melihat temanku terjatuh dan kurentangkan tangganku saat temanku rapuh
perlu sebuah pelukan. Mataku siap tetap terjaga saat temanku membutuhkan untuk
terlelap, mulutku siap memberikan senyum meski dalam keadaan terpahit sekalipun
dan kupingku siap mendengar olok-olok buruk bahkan untuk diriku sendiri.
Teman,
aku pikir memang seharusnya seperti itu kan agar aku dapat
tetap berteman. Mengorbankan banyak hal, mengalah banyak hal, merelakan banyak
hal. Untuk dapat memiliki teman. Agar kesepian bisa menjauh sejauh-jauhnya. Karena
memang seperti yang selalu aku ingat, kesepian jauh lebih sakit daripada rasa
sakit itu sendiri. Aku hanya tidak ingin kesepian, jadi biarlah aku korbankan
sedikit demi sedikit meski terkadang sakit. Aku hanya tidak ingin kesepian,
jadi biarlah aku yang terus mengalah. Entah sampai kapan.
Teman,
aku hanya tidak ingin kesepian. Itu saja.
Semarang, 3 Desember 2016
kamar kost-ku yang sepi
Gunungpati yang menggigil dalam pagi
Friday, November 25, 2016
Kesepian?
“Bisakah kau ceritakan bagaimana rasanya kesepian?”
“Mengapa?”
“Karena sepertinya kau begitu akrab dengannya?”
“Dengan kesepian?”
“Iya”
“Sebaiknya kau tidak perlu mengetahuinya?”
“Mengapa?”
“Itu sungguh menyakitkan, bahkan lebih sakit daripada
menderita sakit itu sendiri”
“Benarkah?”
“. . . .”
Wednesday, November 23, 2016
Dari Telinga Turun Ke Hati
Banyak yang bilang kalau cinta itu dari mata turun ke hati.
Tapi sepertinya untuk kasusku agak berbeda, cinta yang aku alami malahan dari
telinga turun ke hati. Itu terjadi pada cinta pertamaku. Dia adalah seorang
penyiar radio, sebuah radio desa kecil. Bukan radio swasta atau radio
pemerintah melainkan sebuah radio yang dipancarkan dengan jangkauan frekuensi
yang dekat, radio milik sendiri. Radio yang jika terkena angin sedikit saja
sudah mampu menghadirkan suara kemresek dengan sempurnanya. Jadi, tidak salah jika cinta pertama milikku dikatakan dari telinga turun ke hati. Karena
penyiar radio tersebut memang belum pernah sekalipun kulihat wajahnya, hanya
dari suaranya aku bisa merasakan getar menyenangkan di dalam hatiku.
Masaku saat itu memang mungkin bisa disebut dengan masa
demam radio, mulai dari radio swasta dari kota tetangga yang siarannya begitu terprogram rapi sampai radio-radio kecil yang saling berebut tempat di udara. Semua
memenuhi udara dan hanya dengan tape radio kecil milikku dulu aku sudah dapat
menikmati siang hingga malam menjadi pagi dengan mendengarkan radio. Bahkan
setelah tape kecilku menjadi rongsokan karena tak sengaja terbanting, aku tetap
bisa menikmati siaran radio dengan hape cetuk, hape jaman dulu. Aku masih ingat
hape pertama yang kumiliki saat aku memasuki SMP dulu, merk-nya Siemens dengan
layar berwarna orens. Hanya dengan dipasangi hetset sudah mampu tersambung
dengan ribuan chennel radio yang bebas untuk dipilih. Atau mungkin saat itu aku
juga menggunakan wokmen sebagai radio, karena pada jamanku alat tersebut sudah
mampu membuatku terkagum-kagum. Hanya dengan sebuah alat sebesar telapak tangan
orang dewasa kita sudah mampu mendengarkan musik dari alat tersebut. Kita hanya
perlu memasukan kaset pita ke dalam alat tersebut dan dengan hetset lagu dari
kaset tersebut sudah bisa kita dengarkan. Atau jika bosan, wokmen juga bisa
beralih fungsi menjadi radio, yang bisa kita bawa kemana-mana. Karena dalam
penggunaannya, wokmen hanya butuh dua batre, atau mungkin 4 batre, aku sudah
lumayan lupa. Entahlah, rasanya memiliki wokmen saat itu memang menjadi hal
yang sangat menyenangkan, walaupun tidak bisa disebut barang mewah. Pasalnya,
hampir semua teman SD-ku pada tingkat akhir saat itu memiliki wokmen. Karena
barang tersebut dijual saat darmawisata ke jogja. Aku ingat sekali, teman-teman
semua membeli di bus dan akupun juga ikut membeli, wokmen sekaligus hetsetnya,
lalu ditambah dengan kaset pita sebagai pelengkap. Kaset dari lagu-lagunya
Peterpan, grub band tersebut memang sedang naik daun pada masa itu. Semua anak
pada masa itu hampir hafal semua lagu-lagu Paterpan.
Memasuki masa SMP, seperti murahnya harga wokmen beserta
perangkatnya, mudah juga untuk cepat rusaknya. Alat yang begitu menakjubkanku
tersebut tidak mampu bertahan lama, dua sampai tiga kali aku mencoba membeli
lagi, tapi lagi-lagi tidak sampai lama sudah tidak mau berfungsi, meskipun aku
dalam penggunaannya sudah sangat berhati-hati sekali. Tapi pada akhirnya wokmen
dan kaset pita tetap punah seiring waktu, terganti dengan alat-alat lebih
canggih lainnya. Seperti hape, meskipun pada saat itu hape masih sangat
sederhana kalau dibandingkan dengan hape jaman sekarang: smartphone.
Namun dari hape yang berlayar orens tersebut, sebagian
kecil dunia pra-remajaku dibentuk. Radio menjadi teman yang begitu setia tentu
diantara buku-buku novel, satu dua teman sekelas dan berbagai kesibukan sekolah
dan pekerjaan di rumah. Namun radio memang menjadi satu-satunya teman di malam
hari, bahkan saat-saat terkritis dari insomniaku, radio mampu menjadi teman
tersetia sampai pagi. Awalnya memang hanya sebatas mendengarkan radio yang
memberikan lagu-lagu teman tidur siang hari, tapi ternyata siaran radio di
malam hari jauh lebih seru. Dalam hal ini aku lebih suka radio-radio kampung,
karena pembahasannya bebas, guyonanya juga seenaknya sendiri, lagu-lagu yang
diputar lebih beragam, bahkan penyiarnya lebih sering menggunakan bahasa jawa
ngoko asal-asalan, dan yang paling penting tidak ada yang namanya iklan. Tidak
seperti pada radio swasta yang ngobrolnya sedikit, lagu yang diputar sedikit
tapi iklannya seabrek. Radio swasta memang tidak seseru radio-radio kampung
yang penyiarnya kadang sama sekali tidak mengerti unggah-ungguh berbahasa. Tapi
memang kenapa, justru itu yang menyenangkan, karena memang dalam dunia
sehari-hari unggah-ungguh sudah sangat ditekankan, jika dalam dunia radio aku
juga harus mencari hal yang formal semacam itu, dimana letak hiburannya. Jadi
bagiku, radio ibarat obat penyembuh, obat penambah tenaga, obat pelarian dari
dunia biasa yang biasa-biasa. Bisa tertawa dari guyonan orang yang sama sekali
tidak kita kenal, tapi rasanya kita juga terlibat dalam guyonan tersebut adalah
suatu kesenangan yang tak mampu terjelaskan.
Awalnya memang hanya sekedar mendengarkan radio, menikmati
lagu-lagu yang diputar atau ikut tertawa kalau si penyiar menggoda si penelepon
di radio tersebut. Tapi lama-lama aku juga ingin kalau lagu yang ingin aku
dengarkan dapat di putar, jadi dengan hati yang berdebar aku mencoba mengirim
sms ke stasiun radio tersebut. Berbagai perasaan tidak enak melingkupi hati, takut rasanya. Iya karena untuk pertama kali aku mengirim sms ke
sebuah stasiun radio dengan tingkat detak jantung yang tak terkira cepatnya.
Bahkan saat mengetik sms berulang-ulang kali aku membacanya kembali agar tak
ada satu huruf pun yang kurang atau salah ketik. Tidak terhenti sampai disitu
saja tersiksanya jantungku bahkan sampai membuat tanganku basah keringat
dingin. Dan penyiksaan tersebut hampir berlangsung cukup lama sampai smsku
terbaca oleh si penyiar. Mungkin kalian yang sekarang sedang membaca mengatakan
bahwa aku lebay, tapi memang itu yang aku alami pada saat tersebut. Betapa
tidak, coba kalian bayangkan, seorang anak SMP yang baru pertama memegang hape,
yang biasanya hepe tersebut hanya untuk bermain game ular-ularan saja tiba-tiba
harus mengirim sms ke sebuah stasiun radio untuk pertama kali dan akan
dibacakan oleh seorang penyiar dan akan didengarkan oleh seluruh pendengar
radio tersebut dan lain sebagainya dan lain sebagainya pemikiran-pemikiranku.
Tidak salah jika, aku merasakan penyiksaan sebagaimana rupa. Terlebih pada
masa itu, jumlah orang yang memiliki hape belumlah semerata sekarang, sekalipun
pada masa tersebut hape hanya secanggih untuk sms dan telpon saja. Jika kalian
masih menganggapku lebay, coba bandingkan keadaan dulu dengan sekarang,
sekarang anak paud bahkan yang baru mau dititipkan ke playgroub saja sudah
mampu menguasai tablet atau smartphone. Merk-merk hape legend seperti siemens,
sony ericsson atau nokia sudah surut dari peredaran, padahal dulu merk-merk
tersebutlah yang pertama kali merajai pasar perdagangan di Indonesia. Jika
diingat aku sendiri, hape pertama yang kumiliki bermerk siemens. Jadi bisa
dibandingkan pertama kali memegang hape dengan hape merk pertama yang masuk
di Indonesia dengan situasi saat ini yang menggunakan alat komunikasi yang
sudah canggih dan semua kalangan semua lapisan masyarakat sudah mampu memiliki
dan menggunakannya. Jadi sms bukan menjadi barang begitu krusial lagi karena
semua orang menjadi biasa dan terbiasa, terlebih saat ini sms malah sudah
tergusur oleh pengirim pesan-pengirim pesan yang lebih disempurnakan, seperti
bbm, wa, line, dan lain sebagainya yang dapat kalian cari dan unduh di playstore.
Pada awal pertama mengirim sms di radio memang guncangan
seperti itu tetap terulang aku rasakan, dua tiga kali tidak hilang, memang
sepertinya tidak mudah untuk hilang. Tapi setelah sekian kali berkirim sms
lambat-lambat perasaan semacam itu cukup mereda. Dan setelah terbiasa hilang
sama sekali, selain itu juga karena kusiasati dengan menggunakan nama samaran. Nami,
nama itu aku pilih karena aku merasa itu nama yang cukup unik, dalam bahasa
jawa kata tersebut artinya ya nama namun diperhalus penggunaannya dalam bahasa
jawa kromo lugu. Jadi, aku tidak perlu mengarang-arang nama lain untukku,
karena ketika aku cantumkan dari pengirim untuk sebuah sms di radio tersebut,
aku hanya mencantumkan nama tapi dalam bahasa kromo lugu. Awalnya sebenarnya
aku memilih hal tersebut untuk sekedar mensiasati agar aku tidak kuwalat kepada
bapakku yang telah memberiku nama Intan, apalagi di Sragen merubah nama
harusnya dengan cara dibancaki dan akan sangat ribet, jadi aku dengan kesadaran
penuh merasa bahwa aku tidak berganti nama, hanya mencantumkan kata nama (dalam
bahasa jawa kromo lugu artinya nami) saja sebagai identitas. Tapi pada
perjalanannya ternyata Nami bukan hanya sekedar aku gunakan sebagai identitas
untuk sms di radio. Tapi juga setiap akun yang aku gunakan. Mulai dari
friendster, mig33, mixit, nimbuzz, facebook, twitter, email, instagram, bbm
bahkan blogku ini. Meskipun pada masa sekarang, nama untuk akun bbm dan
facebook sudah aku ganti dengan nama asli. Tapi aku baru sadar bahwa Nami sudah
turut serta dalam perjalanan panjang sejarah hidupku di dunia maya, malah terseret
juga dalam dunia nyata, buktinya masih banyak teman-temanku yang memanggilku
Nami. Begitulah sejarah singkat asal mula nama Nami menjadi identitas lain
dalam diriku.
Kembali ke persoalan awal tentang radio, aku yang semakin terbiasa mengirim sms ke berbagai stasiun radio rupanya tidak membuatku ingin
bertelpon ria untuk sekedar meriques lagu. Aku tetap tidak bergeser sedikitpun,
karena aku merasa cukup dengan riques lagu hanya dari sms saja. Tapi sesuai
perkembangannya ternyata periques semakin banyak yang meminta lagu langsung
lewat telpon, dan lebih spesialnya lagi, riques yang lewat telpon lagunya
diputar lebih dulu. Semakin merasa seru dengan radio, bagiku tidak menjadi soal
laguku akan diputar lebih dulu atau malah tidak diputar sekalipun juga tidak
apa, karena smsku yang berisi permintaan lagu dan kiriman salam tersebut sudah
cukup hanya dengan dibaca oleh penyiarnya, tapi yang menjadi soal adalah
biasanya penelpon begitu genitnya meladeni candaan dari si penyiar. Apalagi
jika penyiar tersebut adalah penyiar yang aku spesialkan. Penyiar yang begitu
menarik pada awal perkenalan karena dia juga entah kenapa tertarik dengan nama
samaranku, katanya Nami nama tersebut mirip dengan tokoh anime yang dia suka,
aku tidak tahu itu siapa. Dengan suara yang renyah dengan tertawa yang juga
begitu renyah enak didengar, bahkan tertawanya pun juga menarik buatku. Tidak
seperti penyiar-penyiar yang lain. Dia cukup unik dengan lagu-lagu yang dia
pilih untuk diputar, dengan wawasan music dan band-band yang tidak lagi dalam
pasaran. Wawasan umum dia juga begitu luas, karena setiap siaran pasti akan
banyak hal yang dia bahas. Kembali aku katakan dia tidak seperti
penyiar-penyiar radio kampung kebanyakan. Meskipun dia siaran pada radio
kampung tapi pengetahuan dan pembahasan yang dia bawa saat siaran tidak kalah
dari radio formal. Dan lebih unggulnya dia bawakan dengan tidak formal sama
sekali, tapi tetap dengan unggah-ungguh yang pas, dengan bercandanya yang tidak
berlebih, dan tidak meladeni genitnya penelpon dengan berlebih juga tapi tetap
bisa membuat suasana yang semangat. Boleh dibilang dia penyiar yang cerdas
untuk ukuran radio kampung.
Nama penyiar itu adalah Eno, begitu yang dia kenalkan setiap
kali mengudara. Belakangan aku tau itu bukan nama aslinya, dia memakai nama
tersebut karena ngefans dengan drummer-nya Netral. Begitu banyak hal yang aku
sukai dari dia. Lalu pada suatu waktu saat dia siaran, dia menggunakan nomer
hape pribadinya sendiri untuk melayani periques. Aku hanya menyimpannya, tidak
ada keberanian untuk meng-sms sekalipun itu hanya untuk meriques lagu. Tapi
selang beberapa lama dia jarang sekali siaran. Terus terang meskipun tetap
menyenangkan mendengarkan radio, tapi rasa-rasanya tetap ada yang kurang.
Ingin sekali aku tanyakan langsung kenapa sudah tidak pernah
siaran, tapi banyak hal yang membuat takut. Akhirnya daripada tersiksa batin
karena rasa takut dan sebagainya, tidak aku sms juga. Aku hanya menunggu sambil
berharap dia akan siaran lagi.
Begitu lama aku menunggu tidak juga sekalipun terdengar
suara dia di radio, bahkan saking takutnya kalau-kalau aku terlewat saat dia
siaran dan aku tidak tahu, maka aku pasang frekuensi hanya pada chennel radio
miliknya, suara kemresek pun juga aku dengarkan, saat ada yang mengudara aku
pusatkan pendengaranku, tapi terlalu sering kupingku dikecewakan karena
ternyata yang siaran bukan dia. Lalu aku ceritakan kesedihanku pada sahabatku
yang sedang tiduran kasurku, sambil aku ikut tiduran disampingnya, aku minta
tanggapan apa yang harus aku lakukan. Lalu tiba-tiba dia menyambar hapeku, dia
mau mengirim sms untuk penyiar tersebut. Terjadilah saling rebut merebut hape,
rasanya aku belum punya nyali kalau harus sms dulu. Tapi sahabatku tersebut
bilang kalau sms pun juga tidak apa-apa dia tidak akan tahu siapa yang sms.
Setelah aku pikirkan benar juga omongannya, jadi aku putuskan untuk meng-sms
Mas Eno. Satu sms yang berbuntut rasa takut begitu lama. Tapi karena sedang
bersama seorang sahabat yang ada di dekatku jadi hal tersebut tidak terlalu
mengganggu pikiranku, hanya pada saat-saat teringat saja aku kembali deg-degan.
Karena sepertinya smsku tidak akan mendapat balasan.
Kemudian selang cukup lama, mungkin berminggu-minggu
kemudian smsku baru terbalas. Aku begitu ingat keadaan pada saat itu, aku
sedang studytour ke Jakarta pada waktu kelas 2 SMP, mungkin pada saat itu belum
ada jalan tol yang panjang karena bus berhenti disebuah rumah makan dalam
wilayah Jawa Barat. Udara begitu dingin padahal jam masih menunjukan pukul 8
malam, langit gelap tanpa arakan awan, hanya hitam pekat tapi dengan pijar satu
bintang yang sangat cerah. Saking cerahnya bintang tersebut tak kuasa untuk
mengedipkan dirinya sendiri. Berdiam diri menjadi satu satunya penghuni langit.
Indah sekali ditambah dengan satu getar dari layar hp yang berkedip memunculkan
sebuah pesan. Cukup satu pesan yang juga menggetarkan hatiku, satu pesan dari
Mas Eno. Mas penyiar. Perlu beberapa menit untuk aku menenangkan diri agar
dapat membuka pesan tersebut, dan perlu beberapa menit pula untuk aku dapat
membalas smsnya itupun setelah aku baca berulang-ulang smsku sendiri agar tidak
ada kesalahan untuk setelah itu dapat aku kirim. Aku pandang langit malam di
Jawa Barat rasanya jadi ribuan kali indahnya. Tapi juga dengan detak jantung
yang luar biasa cepat. Berada dalam bus yang bergerak sampai tiba di Jakarta,
tak sekejap pun aku mampu memejamkan mata. Kejadian tersebut masih melekat
secara detail dalam ingatan, menjadi salah satu kenangan indah yang tak mungkin
terlupa. Meskipun kalau dari sekarang mungkin terhitung sudah 10 tahun, tapi
mengingatnya kembali seperti masih tersisa segala indahnya, suasananya, hawa
dinginnya juga getar di jantung yang menyenangkan. Selaksa malam yang menakjubkan bahkan jika hanya sekedar dikenang.
Ternyata sms-an kami berlanjut lebih panjang, sebagai teman
dia adalah orang yang menyenangkan. Seru jika diajak cerita, membahas apapun
rasanya menjadi sangat menyenangkan. Orang yang supel, dengan berbagai
pembahasan yang tidak pernah membosankan. Bahkan dia juga sering telpon aku,
awalnya memang canggung dan aku lebih banyak diam, tapi dia memang orang yang
pintar mencairkan suasana, membuat orang menjadi nyaman untuk bicara. Aku yang
biasanya takut-takut kalau telpon menjadi terbiasa setelah dengan dia. Seperti
yang aku bilang dia memang orang yang cerdas. Banyak hal yang tidak pernah aku
tahu, aku pelajari dari dia. Mulai dari band-band yang bagus dan tidak pasaran.
Karena itu seleranya unik, memang dari awal akupun juga suka pada yang tidak
sering-sering aku dengar, karena pada masa itu memang band-band melayu sedang
naik daun. Aku bahkan ingat kata-kata dia kalau “Aku memang suka lagu-lagu yang
slow melow kendow, asal tidak cengeng”. Dia bilang dia suka band-band yang
beraliran melodick punk, dia juga yang mengenalkan aku pada band-band tersebut.
Aku juga mulai suka pada Blink-182, Endank Soekamti, Netral, SID, Green Day,
dll. Meskipun setelah itu aku juga lebih menyukai yang beraliran keras;
Slipknot, System Of Down, Betrayer, Bandoso, Burger Kill, dll. Dia bilang
aliranku malah kebablasan jadi Metal Gedruck. Entahlah, memang musik-musik
seperti itu menjadi lebih enak didengar diantara band-band metal yang sering sekali
diputar di radio. Jadilah, aku satu-satunya pendengar yang meriques lagu-lagu
keras diantara mereka yang meminta lagu-lagu dari band melayu.
Selain itu juga dia yang membuat aku menyukai One Piece
sampai sekarang, meskipun pada dasarnya aku memang menyukai anime sejak SD.
Bahkan aku punya dua buku berisi lyric lagu-lagu anime, sayangnya kedua-duanya
sekarang sudah jadi abu. Kami bahkan berdebat tentang anime mana yang lebih
seru antara Naruto atau One Piece. Aku sama sekali tidak menyukai One Piece karena
tokoh utamanya memiliki kekuatan yang aneh, tidak seperti Naruto. Tapi dia
tetap memaksa agar aku menonton One Piece dulu, dia bilang kalau aku pasti
suka. Tapi karena penasaran pada satu tokoh yang dia bilang namanya juga Nami
seperti namaku, maka aku putuskan untuk sekali menonton. Pada saat itu One
Piece memang masih tayang di TV. Jadi mudah saja untuk bisa menonton, dan benar
kata Mas Eno, bahkan aku akui lebih seru daripada Naruto. Tanpa sadar tak
pernah satu episode pun terlewat, anime yang penuh petualangan seru.
Menyenangkan bisa berpetualang dan mendapat teman yang banyak, sahabat yang
banyak dan bisa pergi kemanapun ke berbagai tempat yang belum pernah didatangi.
Dari situ juga mungkin saat SMA aku ingin punya teman yang banyak, tidak
seperti saat SMP, boleh dibilang aku tidak punya teman, di sekolah temanku
nyaris hanya buku dan teman sebangku ku saja. Selain itu aku juga jadi mulai
menyukai berpetualang ke tempat-tempat yang baru dan menantang. Aku suka
berpergian kemana pun bersama teman-temanku. Membuat kenangan yang bisa
dikenang saat tua nanti, saat sudah tidak mampu kemana-mana lagi.
Setelah sekian lama berteman dengan Mas Eno, sudah tidak
membuatku ragu lagi kalau aku memang menyukai dia, cinta petamaku. Padahal kami
belum pernah sekalipun bertemu. Lalu dia menyuruhku membuat akun friendster.
Pada masa itu memang belum ada facebook, dia bilang kalau mau melihat wajahnya
aku bisa lihat di friendster miliknya. Ada fotonya disana. Awalnya aku ragu,
tapi diam-diam aku buat juga, bahkan friendsterku penuh dengan berbagai keakuan
tentang aku. Segala hal yang aku suka aku tulis dalam friendster, aku telah
memiliki friendster yang sempurna. Tapi aku belum juga mengintip friendster
miliknya, bukan karena takut wajahnya mengecewakan, sama sekali bukan. Tapi
memang karena aku belum bisa mengendalikan hatiku sendiri, debar jantungku
selalu memuncak setiap aku melihat hapeku memunculkan nama Mas Eno dilayarnya.
Sekedar mendapat sms dari dia saja hatiku bisa begitu terbang, membaca-baca
kembali sms dari dia bisa menerbitkan senyum yang tak berkesudahan, apalagi
ketika ditelpon rasanya aku seperti terlonjak-lonjak menaiki kora-kora. Maka
jika harus melihat friendster miliknya aku juga harus benar-benar siap
kejatuhan bintang-bintang.
Setelah lama, aku akhirnya melihat friendsternya juga,
melihat foto dia. Tepat seperti dugaan, suara yang renyah itu juga milik
laki-laki yang menawan, yang menawan hatiku hingga menahun. Apapun itu, aku
bertambah menyukainya. Meskipun temanku berkomentar dia tidak ganteng-ganteng
banget, dia juga pendek, tapi apapun aku tetap menghamba pada dia. Tapi dari situ aku juga mulai berpikir aku harus
menghentikan les berenangku, karena dengan berenang aku bisa bertambah tinggi,
sedangkan aku tidak ingin lebih tinggi dari dia.
Selain di friendster dia ternyata juga sama-sama pengguna
mig33, siapa sangka, jadilah akun Nami selalu setia menunggu dia di room
Sragen, siapa tau suatu waktu dia login mig33 dan bisa chatting bareng. Untuk
semua akun sosmed aku gunakan nama Nami, itu semua juga untuk dia, nama yang
dia sukai. Dan aku berharap dia akan menemukanku dengan nama itu, setidaknya di
dunia maya. Karena memang sampai sekarang kami berteman juga dalam dunia itu
saja. Tapi aku pastikan perasaanku ke dia tidak maya, perasaanku ke dia benar-benar
nyata. Meskipun tidak sekalipun kami pernah bertemu secara langsung, meskipun
setelah 3 tahun kami telah berteman akrab dan 2 tahun sitelahnya aku tidak
pernah sedikitpun menghubungi dia, tapi memang selama 5 tahun itu perasaan
cintaku ke dia benar-benar nyata. 3 tahun berteman tanpa sekalipun pernah
bertemu langsung, dan karena ulah sahabatku sendiri aku harus menangisi dia dan
berkata kalau lebih baik tidak perlu lagi saling menghubungi, awalnya dia
terus-terusan berusaha menolak, tapi akhirnya dia menerima juga keputusanku.
Jadilah 2 tahun sisanya adalah hari-hari hampa aku berusaha untuk bisa
melupakan dia. Cinta pertamaku, yang tidak akan pernah mengetahui perasaanku
ini.
Kalau dipikir memang banyak hal dari diriku yang berkiblat
dari Mas Eno, mulai dari selera bermusik, band-band kesukaan, anime kesukaan,
pandangan tentang kehidupan, keakuan tentang aku bahkan sedikit banyak berasal
dari dia, mungkin kehidupan sepanjang remaja yang mengantarkan aku pada masa
sekarang juga tidak lepas dari pengaruhnya. Dia tidak mungkin tau dan selamanya
dia tidak akan tau, tapi aku bersyukur pernah memiliki bahagia meski hanya
menjadi temannya. Dan aku bangga memiliki cinta pertama dari orang yang cerdas.
Aku cukup sadar meski hanya sebatas ini yang aku peroleh dari dia. Pada
akhirnya aku benar-benar bersyukur pernah memiliki dia cinta dalam diam.
Thursday, October 27, 2016
Oleh-Oleh Dari Ibu
Hari ini ibu datang
Membawakanku oleh-oleh,
kelopak-kelopak mawar ibu taburkan.
Lalu dengan air mata menetes,
ibu mengelus nisanku.
Fiksi mini
Semarang, 28 Mei 2016
Membawakanku oleh-oleh,
kelopak-kelopak mawar ibu taburkan.
Lalu dengan air mata menetes,
ibu mengelus nisanku.
Fiksi mini
Semarang, 28 Mei 2016
Wednesday, April 6, 2016
Curhatan Pagi
Aku
bayangkan wajah kedua orang tuaku yang berada di rumah. Meskipun banyak
pertengkaran tapi sampai sekarang syukurlah semua masih utuh, keluargaku masih
genap. Kedua orang tuaku, yang awalnya beda keyakinan nyatanya bisa bersatu. Tapi
kenapa kita yang sama-sama seiman harus dihadapkan pada kenyataan yang begitu
sulit. Kenapa orang tuamu harus mempersulit dengan syarat yang begitu susah
untuk aku terima. Rasanya tidak adil untuk orang tuaku. Kedua orang tuaku yang
menyekolahkanku setinggi ini tidak pernah sedikitpun mencantumkan syarat untuk
orang yang aku pilih harus PNS, punya rumah, punya mobil, keturunan ningrat
atau apalah. Ibaratnya orang tuaku, sudah ada yang mau sama anaknya saja sudah
bersyukur. Paling orang tuaku hanya berpesan agar dia yang aku pilih tersebut
harus bertanggung jawab dan gemati. Seperti syarat pada umumnya. Tapi kenapa
orang tuamu harus menetapkan syarat yang begitu sulit untuk kupilih. Menyesakkan
rasanya :’( Aku sudah banyak berharap dan mereka-reka masa depan denganmu, tapi
seakan semuanya direnggut tanpa sisa. Tentang ini semua aku hanya pasrah untuk
kedepannya. Aku merasa buntu.
Tuesday, April 5, 2016
Koma
Memang
ada yang ikut sakit padahal aku yang tertusuk? Berkali-kali aku tanyakan itu
pada malam yang mengaku-aku kelam. Padahal lampu Ibu Kota tak pernah mati seolah
menjadi pengganti shift bagi matahari. Saat malam mendepak terang dari
tempatnya semula, semesta seolah meredup perlahan. Baiklah aku percaya saja,
malam memang kelam.
Dari
kejauhan ku lihat hujan bintang tak surut-surutnya di langit malam. Bintang warna-warni
yang membuatku takjub untuk sesaat tapi setelahnya menjadi biasa karena
menggemakan suara yang membuat aku iba. Iba pada jumlah rupiah yang telah di
hamburkan pada bintang-bintang sesaat tersebut.
Aku
diam memunguti kerikil yang sedari tadi menusuki kakiku yang tak bersepatu. Apa
seharusnya aku sumpahi saja? Tapi percuma kerikil ini pasti hanya diam tanpa
berontak saat sumpah serapah aku tunjukan padanya. Aku tertawa sendiri, sakit
di kaki seolah telah menumpulkan pikiran. Padahal itu tak seberapa dibandingkan
apa yang telah aku alami selama ini. Dan aku masih terus berjalan menelusuri
aspal berkerangka bintang. Entah kemana tujuan. Lalu kembali pertanyaan itu
menuntut jawaban. Memang ada yang ikut sakit padahal aku yang tertusuk? Aku menantinya
sesaat, tapi tetap tak ada jawaban. Hanya koma yang berderet sepanjang
jalan.
Friday, April 1, 2016
Gerbong Berkarat
Suaranya
parau ditelan gemuruh roda kereta yang beradu dengan rel. Angin yang terhempas
perlahan oleh laju kereta mengibarkan rambutnya yang kusut. Dia susuri lintasan
besi itu setelahnya, setelah memastikan kereta yang lewat tersebut berangsur
menjauh dari pandangannya. Dengan membopong kardus bekas minuman ringan yang
telah ia isi dengan berbagai nasi bungkus. Dia teriakan dagangannya tersebut,
tentulah dengan teriakan dari suaranya yang parau.
Matahari
membiaskan cahaya dari balik gerbong-gerbong kereta yang berkarat, menuju
peraduannya tenggelam di ufuk barat. Memulai warna baru dalam kehidupan, yang
awalnya terang menjadi gelap. Lalu dia umpamakan itu seperti dirinya saat ini.
Dia duduk di pintu salah satu gerbong kereta yang tak terpakai tersebut. Menghalau
penat yang seharian merubungnya tanpa ampun. Tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
Membayangkan kembali apa yang telah dia lalui. Seolah segalanya begitu singkat
dan merubahnya dalam sekejap.
Dia
ingat kembali senyum-senyum dari tamu undangan yang menghadiri pesta
pernikahannya. Semuanya berjalan lancar seperti dia dan keluarga harapkan. Diawal
pernikahannya pun juga nyaris tanpa masalah yang berarti. Meskipun setelah
menikah dia ikut suaminya tinggal bersama mertuanya tetapi semua berjalan
dengan harmonis. Suaminya sanggat mencintainya begitupun kedua mertuanya. Namun
karena semua itulah dia merasa hidupnya kurang warna, dia merasa hampa.
Di
tengah-tengah keluarga yang begitu baik, dia merasa menjadi seorang yang ingin
berteriak. Meneriakan bahwa hidup ini bukan hanya terus menatap lurus, bukan
hanya berjalan lurus namun berhenti pada suatu titik dan keesokan harinya
kembali pada satu titik. Melakukan aktifitas yang sama setiap harinya, melulu
sama dan bilapun berubah hanya pada titik yang sama juga. Monoton. Dan dia
bosan.
Dia
seolah dihempaskan pelan pada titik kejenuhan yang perlahan menyekap dia sendiri.
Rumah yang begitu ramah tersebut memaku pikirannya untuk tidak lagi bekerja
seperti dulu. Dia merasakan dirinya tidak lagi maju, tidak juga mundur, namun
stag, berhenti pada waktu dan saat yang sedang memenjarakannya di rumah
tersebut. Itulah yang ia rasakan.
Karena
itu dia memutuskan untuk meminta ijin pada suaminya agar dia diperbolehkan
kembali bekerja di Semarang. Suaminya tidak berkata apa-apa, tidak mengiyakan
atau juga menolak. Berhari-hari suaminya hanya mendiamkannya. Dia bingung, lalu
dia putuskan sendiri bahwa dia akan berangkat ke Semarang dengan atau tanpa
seijin oleh suaminya. Dia berpikir bahwa ini tubuhnya, ini miliknya sendiri dan
dia berhak membawa tubuhnya sendiri kemanapun.
Pada
hari keberangkatan, suaminya tetap diam, hanya ibu mertuanya yang membantunya
mengepak barang-barang. Mereka maklum, kalau menantunya ingin bekerja di kota. Kedua
orang tua itu juga tidak mungkin melarang seseorang yang ingin bekerja mencari
uang untuk tambahan kebutuhan. Hal seperti itu wajar di kampung.
Di
Semarang dia kembali merasa hidup, merasa bisa tertawa keras meski kehidupan di
kota tersebut juga keras. Dua bulan sekali dia akan pulang, kadang jika sedang
ada acara dengan teman-temannya dia akan pulang 3 bulan atau paling lama 5
bulan. Bekerja dari senin sampai sabtu lalu minggu dia gunakan untuk kegiatan
mencuci baju dan membersihkan kost nya atau kadang-kadang untuk berlibur
bersama teman-temannya.
Satu
tahun lebih usia pernikahannya, wajar jika mertuanya menginginkan kehadiran
cucu diantara mereka. Meskipun dia sendiri dan suaminya masih membina hubungan
baik, tapi karena waktu untuk bertemu yang selalu singkat tersebut membuatnya
belum juga mengandung. Hingga ibu mertuanya berinisiatif untuk memeriksakannya
ke dokter. Dia hanya menurut saja, dan sore itu dia bersama ibu mertuanya
menunju ke sebuah rumah sakit.
Matahari
berangsur tenggelam di rimbun pepohonan jauh dari jalan raya di depannya. Dia mematung
di depan sebuah gedung bercat putih. Rumah sakit itu memuntahkan sebuah
kenyataan yang begitu tak mampu ia terima. Air mata tak terbendung meruah dari
pelupuk matanya dan membasahi kedua pipinya. Kenyataan pahit harus dia telan. Setelah
menjalani serangkaian tes, dia hampir-hampir tidak percaya pada apa yang dokter
muda tersebut katakan. Dia terpaku, bukan karena dia mandul tapi karena dia positif
terjangkit HIV.
Atap
rumah sakit yang berada di atasnya seolah runtuh menimpanya pada saat itu juga,
lungkai ia susuri lorong rumah sakit sendiri. Karena ibu mertuanya sudah dulu
pergi, tanpa berkomentar apapun. Entah ibu mertuanya marah, jijik, benci atau
ketiganya. Dia hanya diam mencerna semuanya sendiri. Tapi otaknya serasa mati.
Sampai
di rumah dia hanya mampu menyemburkan semua kemarahannya tersebut pada
suaminya. Suami yang ternyata diam-diam sering tidur dengan pelacur murah di pasar
yang tiap malam dia lewati setelah pulang kerja. Suaminya berdalih tidak tahan
kesepian karena ditinggalnya bekerja di Kota. Suaminya yang menularkan penyakit
yang menjijikan tersebut padanya. Suami yang mengaku mencintainya tapi juga menghianatinya. Dia begitu membenci suaminya dia juga benci
pada dirinya sendiri.
Suara
petir dan guntur malam itu menyambar-nyambar lalu tidak lama setelahnya hujan
deras jatuh ke Bumi. Tangisnya belum juga mereda setelah dia minta cerai pada
suaminya dan membanting pintu kamar. Bantalnya sudah basah seolah ada atap yang
bocor dan air masuk menghujaninya. Dia tidak pernah merasa sehancur ini selama
hidupnya.
Paginya
dia kembali ke rumah ibunya sendiri, dia berpikir akan menemukan semacam
penenang di rumah tersebut. Tapi ternyata itu adalah awal sebuah kehancuran
yang lain. Setelah dia ceritakan semua pada keluarganya tanpa ia tutupi
sedikitpun, ibunya hanya diam sambil menangis lalu berlalu pergi, kakak iparnya
mendekap kedua anaknya dan membawa mereka masuk ke dalam kamar karena takut
tertular, sedangkan kakak laki-lakinya sendiri, pergi keluar sambil berkata
akan membunuh suami yang telah menularkan penyakit menjijikan tersebut pada
adiknya. Menyisakan dia sendiri yang berada di ruang tamu, kembali mematung
sambil menggigit bibir bawahnya menahan pahit namun tak terasa sedikitpun
sakit.
Esoknya
kabar pahit lain datang, saat para tetangga mengabarkan bahwa anak laki-laki
satu-satunya di rumah itu telah ditangkap polisi karena membunuh suami
adiknya. Dia kembali menangis sejadi-jadinya. Lalu sebuah tamparan keras
mendarat di pipinya yang basah, tamparan dari istri kakaknya tersebut. Tatapan kebencian
menusukinya juga dari kedua anak kakaknya itu. Kakak iparnya meneriakinya
sebagai lonthe kudisan. Mereka bilang dialah penyebab semuanya. Mereka menjadikannya
tersangka utama karena telah membuat kakaknya tersebut menjadi pembunuh dan
harus masuk bui.
Semua
kemalangan yang menimpanya hanya dia balas dengan air mata tanpa isak. Ibunya bahkan
tak pernah bicara dengannya walau hanya sepatah. Kakak ipar dan anak-anaknya
memusuhinya, sedangkan tetangga mulai membicarakannya. Tak ada penerimaan di
rumah itu.
Diam-diam
dia pergi kembali ke Semarang, percuma untuk berpamitan pun hanya tatapan
kebencian yang kan dia dapat. Sebenarnya dia sudah goyah dengan apa yang akan
dia hadapi kedepannya tapi yang dia rasakan dia tidak ingin berada di rumah
tersebut. Namun sekali lagi dia harus menelan pil pahit, semua teman
sepekerjanya sudah mengetahui dia seorang positif. Maka pada hari pertama dia
kembali bekerja tersebut juga menjadi hari dimana dia dipecat. Beku dia pulang
ke kostnya.
Uang
tabungan yang dia miliki habis hanya untuk makan beberapa hari, mencari
pekerjaan tidak semudah yang dia bayangkan apalagi dia hanya sendiri di kota
tersebut. Jadilah dia hidup dijalanan saat setelah dia diusir dari kostnya
karena tidak mampu lagi membayar. Dia patah saat itu juga, dia pasrah melangkah
tanpa arah.
Hingga
takdir menghempaskan dia pada gerbong yang dia duduki saat ini. hidup telah
melemparkan dia dari api ke api yang lain, dari luka satu ke luka yang lain. Hingga
luka yang dia miliki bertumpuk dan dia lupa berapa banyak yang dia miliki. Sampai
dia tak lagi paham keberadaan dirinya saat ini. Namun kali ini tak ada air mata
karena semua sudah mengering. Kering tersengat matahari yang setiap hari
menatapnya dengan sorot kebencian. Dia sudah berhenti untuk mencoba berpikir
dia tidak lagi ingin berpikir, hanya dia jalani yang ada di depan matanya saat
ini. Lalu dia tengok kardus berisi nasi bungkus yang dia letakkan di
sampingnya. Dia bopong kembali lalu dia berjalan diantara gelap malam.
Semarang, 1 April 2016
Kado untuk seseorang
yang ditinggal menikah oleh mantannya
Percaya saja, yang
bermain drama akan kena karma
Subscribe to:
Posts (Atom)

















