Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, April 6, 2016

Curhatan Pagi

Aku bayangkan wajah kedua orang tuaku yang berada di rumah. Meskipun banyak pertengkaran tapi sampai sekarang syukurlah semua masih utuh, keluargaku masih genap. Kedua orang tuaku, yang awalnya beda keyakinan nyatanya bisa bersatu. Tapi kenapa kita yang sama-sama seiman harus dihadapkan pada kenyataan yang begitu sulit. Kenapa orang tuamu harus mempersulit dengan syarat yang begitu susah untuk aku terima. Rasanya tidak adil untuk orang tuaku. Kedua orang tuaku yang menyekolahkanku setinggi ini tidak pernah sedikitpun mencantumkan syarat untuk orang yang aku pilih harus PNS, punya rumah, punya mobil, keturunan ningrat atau apalah. Ibaratnya orang tuaku, sudah ada yang mau sama anaknya saja sudah bersyukur. Paling orang tuaku hanya berpesan agar dia yang aku pilih tersebut harus bertanggung jawab dan gemati. Seperti syarat pada umumnya. Tapi kenapa orang tuamu harus menetapkan syarat yang begitu sulit untuk kupilih. Menyesakkan rasanya :’( Aku sudah banyak berharap dan mereka-reka masa depan denganmu, tapi seakan semuanya direnggut tanpa sisa. Tentang ini semua aku hanya pasrah untuk kedepannya. Aku merasa buntu.



No comments:

Post a Comment