Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Tuesday, November 12, 2013

Rindu Itu Kamu


Banyak sekali ku buat metafora
Tentang rindu tanpa ragu
Tanpa rambu-rambu
Banyak juga monolog perdu nan nan berlagu rindu
Yang manis namun sendu pilu
Yang kusam kelam namun merdu
Yang mentah tak terbantah namun madu
Namun setelah kurangkum satu-satu
Kutarik garis lurus, miring, lengkung, zig-zag, sampai melingkar-lingkar
Dan kuhitung dengan proyeksi ketepatan akurat
Semua hanya berujung pada satu
Yaitu kamu

Untuk inisial B rindu ini bermuara
Semarang, 29 Mei 2013



Mulai Peduli


Haruskah aku tetap peduli,
saat semua yang terasa hanya menyakiti hati?
Iya, sepertinya harus kubuang yang tidak perlu!

Ingin kubunuh rasa itu sebelum ia semakin mengkronis
Inisial B
Pantai Marun, 18 Mei 2013

Pemahamanku


Allah memberi kita mata bukan hanya untuk memandang lurus,
tapi untuk memandang lebih luas

GSG UNNES, 8 April 2013

Rindu


Ketika rindu itu bertanya
Maka jawabannya adalah kamu
Tidak banyak yang kuingin darimu
Hanya
Jagalah kesehatanmu


Untuk seseorang yang samar di hati
Semarang, 27 Maret 2013

Spasi Ini Untukmu


Hingga yang memasung hati berlari pergi
Hingga seluruh kaku berlalu
Aku di sini dengan segenggam spasi untukmu
Maaf jika aku berusaha melupakanmu


Inisial R
Sragen, 22 Maret 2013


Di Ujung Rasa Sakit


dan ketika bayangmu tak lagi ramah akan sapa
bahkan untuk secuil lekuk sabit di bibir
maka monolog luka memandikan metafora yang cerewet berkata-kata
begitu aku
begitu makna
begitu cerita
berkelebat bersama uthopia tanpa realita
dan hnya khayal semata
semakin berlari menunjukan bahwa saat-saat kalah dan kecewa sperti ini menjadi saat-saat terkuat dalam hidup
dan yakini hidup selalu punya caranya sendiri dalam melobangi kebuntuan

Dieng-Wonosobo, 9 Maret 2013
Karena R


Berangsur Melupakan


Entah
Sejak saat itu mulai kuceraikan harapku akanmu
Melangkah menjejaki otak yang sempat bayangmu bebal menjejal


Menghapus inisial R
Semarang, 12 Maret 2013


Pengalihan Rasa


Kubiarkan biar-bias kabur bayangmu mendahului kabur berlari
Entah kapan mampu ku tanggap kembali
Dan kini aku menjauh sejauh-jauhnya

Mencoba melupakan inisial R
Mantingan, Jawa Timur 12 Maret 2013


Monday, November 11, 2013

Aku Paham


Memahami bayangmu yang acuh pada senyumku
Membuatku semakin akur dengan rasa sakit
Musik tolong mandikan luka-luka ini
Mencoba menggiring duka dengan A Little Piece of Heaven

Karena Inisial R
Semarang 21 Februari 2013


Sakit Ini Sudah Kumiliki


Mencintai tanpa mengaharap dibalas untuk dicintai
Begitu realisasi dari logika yang cerewet berkata-kata
Dan satu-satunya jalan adalah melupakan
Mengenyahkan segala rasa cinta
Agar lepas dari rasa sakit yang begitu menyesak di otak
Membuang segala harap
Pertajam untuk tidak memanja perasaan
Lalu semakin perkuat untuk memelihara logika
Mengikhlaskan waktu kan sembuhkan semua luka yang ada


Masih di inisial R
Semarang, 25 Februari 2013


Monolog tak terjamah tak terjemah


Satu kesalahan yang berujung pahit,
seandainya kamu tahu betapa besar rasa menyesalku ini.
Hingga hanya satu kata yang kumengerti . . . Maaf . . .


Saat masa di inisial R
Semarang, 6 Maret 2013

Monolog Bingung


Dan yang hadir hanya rasa sakit bertubi menyetubuhi diri
Membuat segala yang tergula'i terasa mati tak berarti
Lalu harus dengan apa kecewa ini ku eja?
Harus bagaimana sesal ini ku urai agar segera cerai berai?
Harus seperti apa canggung yang teraba ini mampu segera ku lupa?
Sedang sekedar tatapanmu saja sudah membuat otakku purba
#ku tetap menggenggam spasi meski itu berduri

Untuk yang berinisial R
Semarang, 1 Februari 2013
di dua dini hari lebih 25 menit

Stasiun Yang Sendiri


Mencoba menempatkan kesabaran di lokomotif paling depan
Saat kamu pura-pura terpejam sesungguhnya aku terajam
Tapi biarlah, sudah ku ajarkan peron itu untuk sekedar bernyanyi
Menghibur sayu mataku
Dan mencelupkan sepi dengan senyum mengembang
Berlarik-larik dengan lori yang berkarat disengat dingin pekat
Besi tua, mulailah berbicara sekedar meracau juga tak apa
Karena kurasa kereta tak kan lewat malam ini
Hingga memberi sepi yang berhembus rapi
Malam ini, sepi lagi
Tanpa rel yang bergemerutuk layak gigi beradu
Malam ini, sepi dicumbui
Stasiun yang sendiri

Sragen, 31 Juli 2013