Masa kanak-kanak ditentukan oleh suara,
bau-bauan, dan penglihatan, sebelum alasan kegelapan berkembang (John
Betjeman).
Anak-anak merupakan masa awal dalam mempelajari kehidupan. Lalu
bagaimana kehidupan anak-anak tersebut dalam keadaan perang dunia yang tak
menentu. Disini ada 10 film tentang kisah anak-anak dalam perang dunia yang
pernah aku tonton.
1. The Boy In The Striped Pajamas

Sudah banyak film perang dunia yang aku tonton, namun film ini
adalah film pertama tentang perang dunia yang berkisah tentang anak-anak.
Sedikit cerita film ini berkisah pada tahun 1930-an, saat Nazi berkuasa di
Jerman, tentang seorang anak bernama Bruno, berusia 8 tahun. Dia adalah anak
dari Kolonel tentara Nazi kesatuan Waffen SS (Schutzstaffel). Setiap hari
ketika Bruno bermain ayunan di halaman rumahnya, dia menyaksikan adanya kepulan
asap membumbung tinggi keluar dari satu cerobong asap. Kepulan asap itu adalah
hasil dari pembakaran orang-orang Yahudi di Kamp Konsentrasi itu. Suatu saat,
Bruno mengikuti arah kepulan asap dan dia sampai di pagar berkawat dari kamp di
halaman belakang. Di sana Bruno melihat seorang anak laki-laki seumurnya,
Shmuel, sedang duduk di balik pagar berkawat dengan gerobak kecilnya (gerobak
yang biasa digunakan untuk mengangkat pasir). Sejak itu terjadilah persahabatan
antara kedua anak yang berbeda ras, tingkat ekonomi, sosial, dan politik; seperti
bumi dan langit. Bruno kemudian rajin mengunjungi sahabatnya ini, Shmuel,
dengan membawa bekal yang diambilnya dari rumahnya secara sembunyi-sembunyi.
Tidak ada yang mengetahui tentang persahabatan “terlarang” itu. Singkat cerita,
suatu hari ibu Bruno menyadari bahwa anaknya hilang. Rupanya Bruno pergi ke
Kamp Konsentrasi itu, menerobos masuk dengan merayap melalui bawah pagar
listrik yang sudah digali. Ia menukar baju dengan baju tahanan yang diberikan
Shmuel kepadanya. Mereka ingin mencari ayah Shmuel namun mereka kemudian
terperangkap di antara orang-orang dewasa yang sedang digiring tentara Nazi
untuk dimasukkan ke dalam ruang gas kematian. Ibu Bruno meraung-raung ketika
menyadari anaknya meninggal di dalam ruang gas itu. Dan entah apa yang ada dalam
pikiran ayah Bruno yang seorang tentara Nazi, apakah kecewa menyesal atau
perasaan sedih dengan semua rangkaian kejadian tersebut.
Begitulah potongan cerita dari film yang membuat aku berhenti
untuk berpikir sejenak lalu kembali dengan rasa ingin tahu yang lebih banyak
mengenai kisah anak-anak dalam perang dunia. Tentang kepolosan diantara
kesemruwetan masa perang. Buatku film ini bukan hanya bagus tapi juga sangat
menyentu terutama pada bagian akhirnya, jadi jika kalian penasaran dengan film
ini, silahkan menontonnya.
2. The Book Thief
Sebenarnya dulu sekali,
aku sudah pernah menonton film ini, mungkin pernah ditayangkan di TV atau aku
memang memiliki filmnya, aku sudah lupa. Lalu kemudian aku mencoba mencari film
ini lagi dan menontonnya.
Sinopsisnya seperti ini. Ditengah kengerian Perang Dunia II, seorang gadis muda
bernama Liesel Meminger hadir ditengah keluarga barunya dan memberikan
perubahan untuk orang-orang disekitarnya. Ayah angkatnya memberi ia tempat
untuk belajar membaca dan menulis. Sejak saat itu Liesel gemar mengumpulkan
buku-buku yang ia peroleh dari mana saja.
Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan
Max Vandenburg, seorang pemuda Yahudi yang tengah bersembunyi dari kejaran
Nazi. Hans sangat berhutang budi pada Ayah Max dan mengambil resiko untuk
menyembunyikan Max dirumahnya. Max yang kagum dengan semangat Liesel
mengajarkannya membaca dan membuat Liesel tahu banyak hal tentang dunia. Di
satu sisi, Liesel sangat senang dengan kehadiran Max namun disisi lain ia tahu
bahwa Max akan menjadi ancaman bagi dirinya dan keluarga angkatnya. Bagaimana
kisah Liesel selanjutnya yang membawa perubahan pada orang-orang disekitarnya
dan bagaimana juga ia bertahan hidup bertaruh nyawa di tengah ganasnya Perang
Dunia II? Tonton saja film ini.
3. Grave Of The Fireflies
Film anime buatan
Jepang ini ceritanya begitu menyedihkan. Setelah menonton film ini hati terasa
kosong suwung dan hanya diisi oleh angin-angin dingin. Film ini diawali dengan
gambaran tentang pertistiwa penyerangan pasukan udara sekutu, yang menyerang
salah satu kota di Jepang. Di salah satu kota tersebut, film ini menceritakan
dua orang anak tentara angkatan laut Jepang, yakni Setsuko dan Seita. Kehidupan
mereka sebelum penyerangan itu, berjalan harmonis. Sampai suatu ketika, datang
sebuah ancaman yang mengharuskan mereka berdua beserta ibunya mengungsi ke
tempat persembunyian.
Dalam keadaan dimana Setsuko dan Seita harus mengungsi, dan menyusul ibunya
yang sudah terlebih dulu sampai di tempat pengungsian, mereka kehilangan kontak
dengan sang ibu. Setelah peneyerangan untuk sementara reda, mereka pun
mendatangi satu persatu tempat-tempat pengungsian yang di duga menjadi
persinggahan ibu. Namun, usaha mereka hampir menemui jalan buntu, sampai suatu
ketika salah satu dari mereka, yakni kakak dari Setsuko (Seita) mendatangi
sebuah rumah sakit. Di sana, atas petunjuk dari seorang perawat, ia berhasil
menemukan ibunya, akan tetapi dalam keadaan mengalami luka bakar hampir 90%.
Dengan kondisi ibu yang seperti itu, Seita tak memberi tahu adiknya, karena dia
khawatir kabar tersebut akan membuat adiknya sangat terpukul. Keesokan harinya,
dokter yang merawat ibu, mengabarkan bahwa nyawa beliau tak dapat diselamatkan
lagi. Seita pun menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Sepulangnya dari prosesi
pembakaran jenazah ibunya, Seita membawa abu kremasi ibunya dan tak berniat
untuk tidak memberi tahu tentang kepergian sang ibu.
Kehidupan mereka setelah kepergian sosok
ibu, berjalan dengan keceriaan yang dikondisikan. Seita mencoba menutupi
kesedihan yang ada dengan keceriaan. Dia mencoba menghibur adiknya
ditengah-tengah carut-marut kehidupan bangsa Jepang yang sedang terpuruk. Lalu
bangaimana caranya menghibur adik kecilnya tersebut, sebaiknya kalian menonton
filmnya sendiri, kalian akan banyak belajar dari film ini.
4. Giovanni's Island
Meskipun film ini tidak semenyedihkan
film Grave Of The Fireflies, namun film anak-anak tentang perang ini juga
memiliki sisi yang membuat sedih. Dimana pun film yang berkisah tentang perang
pastilah memiliki sisi yang menyedihkan. Bercerita
tentang dua orang kakak beradik bernama Junpei dan Kanta yang hidup di pesisir
di salah satu pulau yang berada dalam gugusan kepulauan Kuril, Jepang. Film ini
bersetting tahun 1945, periode yang menjadi titik balik kehidupan sosial
politik Jepang karena kekalahan Jepang pada era Perang Dunia ke 2.
Inti cerita dimulai ketika Kaisar Jepang mengumumkan bahwa Jepang telah
menyerah kepada Sekutu dibawah kepemimpinan Amerika Serikat dan didengarkan
oleh seluruh penduduk di pulau tersebut dan tak lama kemudian mendengar kabar
bahwa dalam waktu dekat tentara Soviet akan tiba di pulau tersebut. Ini adalah
salah satu hal yang menarik di film ini dimana memperlihatkan situasi pasca
perang. Selain mengambil setting di kawasan paling utara Jepang (kepulauan Kuril)
film ini pun menceritakan “kisah” antara Jepang dan Soviet (yang kadang
terlupakan sebagai bagian dari Allied Force) yang jarang
diceritakan. Dalam waktu singkat Tentara Soviet yang oleh penduduk disebut
Russkies datang dan menduduki pulau tersebut dan mendirikan basis pertahanan di
sana. Rumah Junpei dan Kanta pun harus rela dirampas dan dijadikan rumah
komandan dari tentara Soviet sehingga harus tinggal di bagian dapur merangkap
kandang kuda. Begitu pula dengan sekolah meraka yang harus rela dibagi dua,
setengah untuk sekolah warga pulau dan setengahnya untuk sekolah bagi anak-anak
prajurit yang ditugaskan.
Di sekolah inilah Junpei dan Kanta kemudian bertemu dengan seorang gadis Soviet
bermata biru bernama Tanya yang kemudian diketahui ternyata adalah putri dari
sang Komandan Pasukan Soviet. Meskipun mereka berbeda kultur, bahasa, budaya
dan situasi politik antar negara yang seakan memposisikan Jepang sebagai
terjajah dan Soviet sebagai penjajah, namun tak menjadi halangan bagi mereka
untuk menjalin persahabatan.
Film ini sangat menarik bagi saya karena meskipun mengambil setting pasca PD2,
dimana memang kondisi Jepang cukup mengenaskan sebetulnya, namun film ini
memberikan nuansa ceria dan menghibur dari segi cerita dan art-nya. Misalnya
ketika saat sekolah dimana satu kelas menyanyikan lagu rakyat Jepang tetapi di
kelas lain yang tepat di sebelahnya menyanyikan lagu rakyat Soviet yang cukup
terkenal “Katyusha” dan kemudian dua kelas ini saling bergantian menyanyikan
lagu rakyat, dimana “Kelas Jepang” menyanyikan Katyusha dan sebaliknya. Dan
saya kira film ini sangat bagus untuk memberikan gambaran awal khususnya yang
mempelajari mengenai sosial politik Jepang, apa yang terjadi di kepulauan Kuril
(yang saat ini berada dibawah yurisdiksi Pemerintah Rusia) pasca PD 2. Melihat
bagaimana sulitnya masyarakat mendapatkan bahan makanan pokok, hingga bagaimana
penduduk Kuril sangat familiar dengan budaya Soviet.
Tidak hanya berhenti disitu, tapi anak-anak tersebut dan seluruh
penduduk di Kepulauan Kuril dipindahkan ke Pulau Shakalin yang berada di bagian
barat untuk dipekerjakan di logging camp. Kisah selanjutnya adalah kehidupan
anak-anak itu dalam camp, silahkan kalian tonton sendiri dalam filmnya.
5. The Flowers Of War

Film ini memang tidak seluruhnya berkisah mengenai anak-anak tetapi dalam film
ini terdapat kehidupan anak-anak yang juga harus melewati kerasnya kehidupan
masa perang dunia. Ceritanya tentang kisah penyerangan dan pendudukan Jepang di
Ibukota Cina, Nanking ketika perang dulu. Para tentara Jepang membunuh banyak
penduduk, memperkosa para wanita dan kemudian membunuhnya. Ketakutan melanda
seluruh kota. Di saat seperti ini, seorang perias mayat yang kemudian menjadi
pendeta bernama John berusaha menyelamatkan sekelompok gadis-gadis muda anak
sekolahan yang berlindung di gereja. Tidak lama setelah kedatangan John,
para pelacur rumah bordil yang sedang mencari tempat persembunyian berdatangan
ke gereja. Mereka beranggapan bahwa gereja lebih aman dibandingkan pengungsian.
Kedatangan John dan para pelacur mendapatkan sambutan buruk dari George,
asisten Pendeta Ingleman karena dianggap mengotori gereja. Lalu kisah
selanjutnya akan tidak lagi menarik jika aku tuliskan disini, jadi alangka
baiknya jika kalian menonton saja film ini.
6. La Rafle

Kisah mengenai peristiwa
genosida kembali diceritakan dalam Film ini, La Rafle merupakan film tentang
kekejaman Nazi yang membuatku begitu berpikir panjang. Penderitaan kaum Yahudi
di jaman Perang Dunia ke-2 sudah menjadi tema dalam banyak perfilman, kadang
cenderung terlihat over eksploitasi. Seakan tak cukup dijadikan pelajaran bahwa
apapun namanya sentimen rasis memang harus dilenyapkan. FIlm ini adalah kisah
nyata dari peristiwa penangkapan orang-orang Yahudi di Prancis pada waktu
Perang Dunia ke-2 untuk dibawa ke kamp konsentrasi atau kamp pemusnahan di
Auschwitz dsb. Cerita berawal dari rencana pemindahan orang-orang Yahudi ke
Eropa Timur seperti yang diminta oleh Hitler, diktator Nazi Jerman, yang
kemudian didiskusikan oleh petinggi rezim Vichy Prancis, Maréchal (Marsekal)
Pétain dan Pierre Laval, deputinya. Disetujui untuk kuota 24.000 orang Yahudi,
di tingkat operasional, Kepolisian Paris dan Milice yang akan bertugas
menangkap orang-orang Yahudi non-Prancis yang sudah teregistrasi lengkap dan
membawa mereka pada tgl 16 Juli 1942 ke Vélodrome d'Hiver sebagai tempat transit.
Adegan berpindah ke kalangan Yahudi, dengan fokus kehidupan anak-anak kecil
Joseph Weismann dan Simon Zygler, serta keluarganya yang saling bertetangga.
Kehidupan mereka sudah terhimpit oleh banyaknya larangan, termasuk bersekolah,
bekerja dan mengunjungi area publik. Dengan dilaksanakannya Operasi 'Spring
Breeze', nasib mereka makin mengenaskan. Di Vel' d'Hiv, ada dokter Yahudi,
David yang bertugas di klinik mengurus puluhan orang sakit, hanya dibantu oleh
sedikit perawat, termasuk seorang suster Protestan yang peduli dengan kaum
Yahudi. Ia pun ikut ke tempat kamp transit selanjutnya di Beaune-La-Rolande
khusus untuk merawat anak-anak. Suster tersebut tak berdaya melawan penguasa
dan merelakan ketika anak-anak ini harus dipisahkan dari para orangtua mereka.
Hanya soal waktu, tak terkecuali, semuanya pun akhirnya dikirim ke Timur untuk
dihabisi.
Film yang cukup menyedihkan apalagi jika kita berpikir bahwa dulu kisah
tersebut benar-benar terjadi. Bagaimanakah nasip anak-anak tersebut dalam masa
perang yang begitu mengerikan. Silahkan nonton film ini.
7. Empire Of The Sun
Film ini berkisah tentang seorang anak
laki-laki kecil dari keluarga ekspatriat, James terpisah dari keluarganya
ketika tentara Jepang masuk ke Cina. Ia adalah seorang anak kecil yang memiliki
cita-cita menguasai angkasa alias menjadi pilot pesawat tempur. Dia menjadi
tawanan di Longhua Civilian Assembly Center, sebuah kamp tentara Jepang, selama
Perang Dunia II. Film ini menceritakan bagaimana James berusaha bertahan hidup
ditengah konflik yang sedang bergejolak tersebut.
Sedikit cerita saja mengenai film ini.
Karena akan lebih bagus jika kalian menontonnya secara langsung. Sedikit cerita
bukan berati film ini tidak bagus, tetapi penggambaran dalam film ini memiliki
pemikiran yang akn berbeda dari setiap kepala yang menontonnya, jadi silahkan
menonton dan kalian bisa artikan sendiri bagaimana film ini.
8. Snow Flower And The Secret Fan
Awalnya aku bisa memperole film ini
adalah dari bagitu penasarannya aku terhadap kisah tradisi pengikatan kaki di
Cina. Kisah ini ditulis dengan gaya memoar seorang wanita berusia 80 tahun
yang bernama Lily, yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama Bunga Salju
sebagai laotong alias “kembaran sehati”nya. Lily memulai kisahnya pada 1828,
ketika dia berusia 5 tahun dan tinggal di desa Puwei, di Baratdaya Cina.
Kebebasan masa kecilnya tiba-tiba terampas ketika dia harus menjalani
pengikatan kaki, sebuah tradisi menyakitkan yang harus dilalui oleh para wanita
Cina agar memperoleh status yang terhormat. Begitulah kemudian kisah itu
berlanjut yang dapat kalian tonton dalam filmnya jika kalian penasaran.
9. The Last Emperor
The Last Emperor menceritakan kisah hidup seorang Kaisar terakhir Cina,
Puyi. Film ini diawali dengan adegan Puyi yang diangkat menjadi Kaisar
ketika dia masih berumur 3 tahun. seorang kaisar cilik yang naif dan tidak tahu
apa-apa dalam semalam dinobatkan menjadi seorang Kaisar Cina. Mereka
menyebutnya , The Son of Heaven. Dijauhkan dari orang tuanya dan tinggal
sendirian bersama dengan pelayan-pelayannnya di Istana terlarang membentuk
karakter seorang Puyi menjadi sosok remaja yang kesepian. Istana terlarang
bagaikan penjara dengan dirinya sebagai tahanan sehingga Puyi tidak pernah
mengetahui bagaimana kehidupan di luar tembok Istana. mengutip kata seorang
Guru kaisar puyi yang didatangkan dari Inggris, “The emperor is the loneliest
boy on the earth”
Ketika Cina berubah menjadi Negara Republik dengan Dr.Sun Yat Sen sebagai
presiden pertamanya, Puyi bukan lagi seorang Kaisar dengan kekuatan
imperialnya,, meski begitu dia tetap diperbolehkan tinggal di Istana bersama
ratu, Wen Rong dan selirnya Wen Xiu. Yang miris adalah ketika dirinya
diharuskan meninggalkan Istana dan sudah tidak diperbolehkan lagi tinggal
disana. untuk pertama kalinya, meskipun dirinya ingin sekali melihat dunia luar,
kaisar yang tak pernah keluar Istana merasa takut menghadapi dunia luar…
10. Memoirs Of A Geisha
Tidak hanya sekali aku
menonton film ini, mungkin dalam film ini tidak seluruhnya bercerita tentang
kisah anak-anak tetapi dari seorang anak yang bertumbuh dengan takdirnya
menjadi seorang geisha. Adalah seorang anak yang berasal dari kampung Nelayan
“Yoroido”, sebuah kampung terpencil yang sangat jauh dari Gion, Kyoto. Keadaan
ekonomi memaksa dia (Chiyo) dan kakaknya Satsu, dijual menjadi budak sejak
mereka berusia 9 tahun. Chiyo dan Satsu dijual pada Okiya (rumah Geisha)
yang berbeda. Chiyo yang memiliki mata berwarna cermin (abu-abu samar) terlihat
sangat cantik dan menarik sehingga memiliki potensi untuk menjadi Geisha yang
memikat.
Chiyo kecil yang mengalami berbagai peristiwa pahit dalam hidupnya hingga
takdir menjadikan dia seorang Geisha bernama Sayuri, lika-liku kehidupan
seorang gadis kacil dengan segala kisahnya sebaiknya kalian tonton sendiri dari
film ini.
⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀
Itulah film-film kisah anak dalam sejarah dan perang dunia yang pernah aku
tonton, dari film-film tersebut aku banyak belajar tentang sejarah.
“Tak pernah ada perang untuk perang. Ada
banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun
ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang
ini, ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati,
hidup atau kalah-menang.”
(Pramoedya Ananta Toer)