Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, February 22, 2017

Kisah Anak-Anak Dalam Film Perang Dunia

Masa kanak-kanak ditentukan oleh suara, bau-bauan, dan penglihatan, sebelum alasan kegelapan berkembang (John Betjeman).

Anak-anak merupakan masa awal dalam mempelajari kehidupan. Lalu bagaimana kehidupan anak-anak tersebut dalam keadaan perang dunia yang tak menentu. Disini ada 10 film tentang kisah anak-anak dalam perang dunia yang pernah aku tonton.

1. The Boy In The Striped Pajamas

Sudah banyak film perang dunia yang aku tonton, namun film ini adalah film pertama tentang perang dunia yang berkisah tentang anak-anak. Sedikit cerita film ini berkisah pada tahun 1930-an, saat Nazi berkuasa di Jerman, tentang seorang anak bernama Bruno, berusia 8 tahun. Dia adalah anak dari Kolonel tentara Nazi kesatuan Waffen SS (Schutzstaffel). Setiap hari ketika Bruno bermain ayunan di halaman rumahnya, dia menyaksikan adanya kepulan asap membumbung tinggi keluar dari satu cerobong asap. Kepulan asap itu adalah hasil dari pembakaran orang-orang Yahudi di Kamp Konsentrasi itu. Suatu saat, Bruno mengikuti arah kepulan asap dan dia sampai di pagar berkawat dari kamp di halaman belakang. Di sana Bruno melihat seorang anak laki-laki seumurnya, Shmuel, sedang duduk di balik pagar berkawat dengan gerobak kecilnya (gerobak yang biasa digunakan untuk mengangkat pasir). Sejak itu terjadilah persahabatan antara kedua anak yang berbeda ras, tingkat ekonomi, sosial, dan politik; seperti bumi dan langit. Bruno kemudian rajin mengunjungi sahabatnya ini, Shmuel, dengan membawa bekal yang diambilnya dari rumahnya secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada yang mengetahui tentang persahabatan “terlarang” itu. Singkat cerita, suatu hari ibu Bruno menyadari bahwa anaknya hilang. Rupanya Bruno pergi ke Kamp Konsentrasi itu, menerobos masuk dengan merayap melalui bawah pagar listrik yang sudah digali. Ia menukar baju dengan baju tahanan yang diberikan Shmuel kepadanya. Mereka ingin mencari ayah Shmuel namun mereka kemudian terperangkap di antara orang-orang dewasa yang sedang digiring tentara Nazi untuk dimasukkan ke dalam ruang gas kematian. Ibu Bruno meraung-raung ketika menyadari anaknya meninggal di dalam ruang gas itu. Dan entah apa yang ada dalam pikiran ayah Bruno yang seorang tentara Nazi, apakah kecewa menyesal atau perasaan sedih dengan semua rangkaian kejadian tersebut. 

Begitulah potongan cerita dari film yang membuat aku berhenti untuk berpikir sejenak lalu kembali dengan rasa ingin tahu yang lebih banyak mengenai kisah anak-anak dalam perang dunia. Tentang kepolosan diantara kesemruwetan masa perang. Buatku film ini bukan hanya bagus tapi juga sangat menyentu terutama pada bagian akhirnya, jadi jika kalian penasaran dengan film ini, silahkan menontonnya.

2. The Book Thief

Sebenarnya dulu sekali, aku sudah pernah menonton film ini, mungkin pernah ditayangkan di TV atau aku memang memiliki filmnya, aku sudah lupa. Lalu kemudian aku mencoba mencari film ini lagi dan menontonnya. 

Sinopsisnya seperti ini. Ditengah kengerian Perang Dunia II, seorang gadis muda bernama Liesel Meminger  hadir ditengah keluarga barunya dan memberikan perubahan untuk orang-orang disekitarnya. Ayah angkatnya memberi ia tempat untuk belajar membaca dan menulis. Sejak saat itu Liesel gemar mengumpulkan buku-buku yang ia peroleh dari mana saja.

Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Max Vandenburg, seorang pemuda Yahudi yang tengah bersembunyi dari kejaran Nazi. Hans sangat berhutang budi pada Ayah Max dan mengambil resiko untuk menyembunyikan Max dirumahnya. Max yang kagum dengan semangat Liesel mengajarkannya membaca dan membuat Liesel tahu banyak hal tentang dunia. Di satu sisi, Liesel sangat senang dengan kehadiran Max namun disisi lain ia tahu bahwa Max akan menjadi ancaman bagi dirinya dan keluarga angkatnya. Bagaimana kisah Liesel selanjutnya yang membawa perubahan pada orang-orang disekitarnya dan bagaimana juga ia bertahan hidup bertaruh nyawa di tengah ganasnya Perang Dunia II? Tonton saja film ini.

3. Grave Of The Fireflies

Film anime buatan Jepang ini ceritanya begitu menyedihkan. Setelah menonton film ini hati terasa kosong suwung dan hanya diisi oleh angin-angin dingin. Film ini diawali dengan gambaran tentang pertistiwa penyerangan pasukan udara sekutu, yang menyerang salah satu kota di Jepang. Di salah satu kota tersebut, film ini menceritakan dua orang anak tentara angkatan laut Jepang, yakni Setsuko dan Seita. Kehidupan mereka sebelum penyerangan itu, berjalan harmonis. Sampai suatu ketika, datang sebuah ancaman yang mengharuskan mereka berdua beserta ibunya mengungsi ke tempat persembunyian.

Dalam keadaan dimana Setsuko dan Seita harus mengungsi, dan menyusul ibunya yang sudah terlebih dulu sampai di tempat pengungsian, mereka kehilangan kontak dengan sang ibu. Setelah peneyerangan untuk sementara reda, mereka pun mendatangi satu persatu tempat-tempat pengungsian yang di duga menjadi persinggahan ibu. Namun, usaha mereka hampir menemui jalan buntu, sampai suatu ketika salah satu dari mereka, yakni kakak dari Setsuko (Seita) mendatangi sebuah rumah sakit. Di sana, atas petunjuk dari seorang perawat, ia berhasil menemukan ibunya, akan tetapi dalam keadaan mengalami luka bakar hampir 90%. Dengan kondisi ibu yang seperti itu, Seita tak memberi tahu adiknya, karena dia khawatir kabar tersebut akan membuat adiknya sangat terpukul. Keesokan harinya, dokter yang merawat ibu, mengabarkan bahwa nyawa beliau tak dapat diselamatkan lagi. Seita pun menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Sepulangnya dari prosesi pembakaran jenazah ibunya, Seita membawa abu kremasi ibunya dan tak berniat untuk tidak memberi tahu tentang kepergian sang ibu. 


Kehidupan mereka setelah kepergian sosok ibu, berjalan dengan keceriaan yang dikondisikan. Seita mencoba menutupi kesedihan yang ada dengan keceriaan. Dia mencoba menghibur adiknya ditengah-tengah carut-marut kehidupan bangsa Jepang yang sedang terpuruk. Lalu bangaimana caranya menghibur adik kecilnya tersebut, sebaiknya kalian menonton filmnya sendiri, kalian akan banyak belajar dari film ini.

4. Giovanni's Island

Meskipun film ini tidak semenyedihkan film Grave Of The Fireflies, namun film anak-anak tentang perang ini juga memiliki sisi yang membuat sedih. Dimana pun film yang berkisah tentang perang pastilah memiliki sisi yang menyedihkan. Bercerita tentang dua orang kakak beradik bernama Junpei dan Kanta yang hidup di pesisir di salah satu pulau yang berada dalam gugusan kepulauan Kuril, Jepang. Film ini bersetting tahun 1945, periode yang menjadi titik balik kehidupan sosial politik Jepang karena kekalahan Jepang pada era Perang Dunia ke 2.

Inti cerita dimulai ketika Kaisar Jepang mengumumkan bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu dibawah kepemimpinan Amerika Serikat dan didengarkan oleh seluruh penduduk di pulau tersebut dan tak lama kemudian mendengar kabar bahwa dalam waktu dekat tentara Soviet akan tiba di pulau tersebut. Ini adalah salah satu hal yang menarik di film ini dimana memperlihatkan situasi pasca perang. Selain mengambil setting di kawasan paling utara Jepang (kepulauan Kuril) film ini pun menceritakan “kisah” antara Jepang dan Soviet (yang kadang terlupakan sebagai bagian dari Allied Force) yang jarang diceritakan. Dalam waktu singkat Tentara Soviet yang oleh penduduk disebut Russkies datang dan menduduki pulau tersebut dan mendirikan basis pertahanan di sana. Rumah Junpei dan Kanta pun harus rela dirampas dan dijadikan rumah komandan dari tentara Soviet sehingga harus tinggal di bagian dapur merangkap kandang kuda. Begitu pula dengan sekolah meraka yang harus rela dibagi dua, setengah untuk sekolah warga pulau dan setengahnya untuk sekolah bagi anak-anak prajurit yang ditugaskan.

Di sekolah inilah Junpei dan Kanta kemudian bertemu dengan seorang gadis Soviet bermata biru bernama Tanya yang kemudian diketahui ternyata adalah putri dari sang Komandan Pasukan Soviet. Meskipun mereka berbeda kultur, bahasa, budaya dan situasi politik antar negara yang seakan memposisikan Jepang sebagai terjajah dan Soviet sebagai penjajah, namun tak menjadi halangan bagi mereka untuk menjalin persahabatan.

Film ini sangat menarik bagi saya karena meskipun mengambil setting pasca PD2, dimana memang kondisi Jepang cukup mengenaskan sebetulnya, namun film ini memberikan nuansa ceria dan menghibur dari segi cerita dan art-nya. Misalnya ketika saat sekolah dimana satu kelas menyanyikan lagu rakyat Jepang tetapi di kelas lain yang tepat di sebelahnya menyanyikan lagu rakyat Soviet yang cukup terkenal “Katyusha” dan kemudian dua kelas ini saling bergantian menyanyikan lagu rakyat, dimana “Kelas Jepang” menyanyikan Katyusha dan sebaliknya. Dan saya kira film ini sangat bagus untuk memberikan gambaran awal khususnya yang mempelajari mengenai sosial politik Jepang, apa yang terjadi di kepulauan Kuril (yang saat ini berada dibawah yurisdiksi Pemerintah Rusia) pasca PD 2. Melihat bagaimana sulitnya masyarakat mendapatkan bahan makanan pokok, hingga bagaimana penduduk Kuril sangat familiar dengan budaya Soviet.

Tidak hanya berhenti disitu, tapi anak-anak tersebut dan  seluruh penduduk di Kepulauan Kuril dipindahkan ke Pulau Shakalin yang berada di bagian barat untuk dipekerjakan di logging camp. Kisah selanjutnya adalah kehidupan anak-anak itu dalam camp, silahkan kalian tonton sendiri dalam filmnya.

5. The Flowers Of War

Film ini memang tidak seluruhnya berkisah mengenai anak-anak tetapi dalam film ini terdapat kehidupan anak-anak yang juga harus melewati kerasnya kehidupan masa perang dunia. Ceritanya tentang kisah penyerangan dan pendudukan Jepang di Ibukota Cina, Nanking ketika perang dulu. Para tentara Jepang membunuh banyak penduduk, memperkosa para wanita dan kemudian membunuhnya. Ketakutan melanda seluruh kota. Di saat seperti ini, seorang perias mayat yang kemudian menjadi pendeta bernama John berusaha menyelamatkan sekelompok gadis-gadis muda anak sekolahan yang berlindung di gereja. Tidak lama setelah kedatangan John, para pelacur rumah bordil yang sedang mencari tempat persembunyian berdatangan ke gereja. Mereka beranggapan bahwa gereja lebih aman dibandingkan pengungsian. Kedatangan John dan para pelacur mendapatkan sambutan buruk dari George, asisten Pendeta Ingleman karena dianggap mengotori gereja. Lalu kisah selanjutnya akan tidak lagi menarik jika aku tuliskan disini, jadi alangka baiknya jika kalian menonton saja film ini.

6. La Rafle

Kisah mengenai peristiwa genosida kembali diceritakan dalam Film ini, La Rafle merupakan film tentang kekejaman Nazi yang membuatku begitu berpikir panjang. Penderitaan kaum Yahudi di jaman Perang Dunia ke-2 sudah menjadi tema dalam banyak perfilman, kadang cenderung terlihat over eksploitasi. Seakan tak cukup dijadikan pelajaran bahwa apapun namanya sentimen rasis memang harus dilenyapkan. FIlm ini adalah kisah nyata dari peristiwa penangkapan orang-orang Yahudi di Prancis pada waktu Perang Dunia ke-2 untuk dibawa ke kamp konsentrasi atau kamp pemusnahan di Auschwitz dsb. Cerita berawal dari rencana pemindahan orang-orang Yahudi ke Eropa Timur seperti yang diminta oleh Hitler, diktator Nazi Jerman, yang kemudian didiskusikan oleh petinggi rezim Vichy Prancis, Maréchal (Marsekal) Pétain dan Pierre Laval, deputinya. Disetujui untuk kuota 24.000 orang Yahudi, di tingkat operasional, Kepolisian Paris dan Milice yang akan bertugas menangkap orang-orang Yahudi non-Prancis yang sudah teregistrasi lengkap dan membawa mereka pada tgl 16 Juli 1942 ke Vélodrome d'Hiver sebagai tempat transit.

Adegan berpindah ke kalangan Yahudi, dengan fokus kehidupan anak-anak kecil Joseph Weismann dan Simon Zygler, serta keluarganya yang saling bertetangga. Kehidupan mereka sudah terhimpit oleh banyaknya larangan, termasuk bersekolah, bekerja dan mengunjungi area publik. Dengan dilaksanakannya Operasi 'Spring Breeze', nasib mereka makin mengenaskan. Di Vel' d'Hiv, ada dokter Yahudi, David yang bertugas di klinik mengurus puluhan orang sakit, hanya dibantu oleh sedikit perawat, termasuk seorang suster Protestan yang peduli dengan kaum Yahudi. Ia pun ikut ke tempat kamp transit selanjutnya di Beaune-La-Rolande khusus untuk merawat anak-anak. Suster tersebut tak berdaya melawan penguasa dan merelakan ketika anak-anak ini harus dipisahkan dari para orangtua mereka. Hanya soal waktu, tak terkecuali, semuanya pun akhirnya dikirim ke Timur untuk dihabisi.

Film yang cukup menyedihkan apalagi jika kita berpikir bahwa dulu kisah tersebut benar-benar terjadi. Bagaimanakah nasip anak-anak tersebut dalam masa perang yang begitu mengerikan. Silahkan nonton film ini.

7. Empire Of The Sun

Film ini berkisah tentang seorang anak laki-laki kecil dari keluarga ekspatriat, James terpisah dari keluarganya ketika tentara Jepang masuk ke Cina. Ia adalah seorang anak kecil yang memiliki cita-cita menguasai angkasa alias menjadi pilot pesawat tempur. Dia menjadi tawanan di Longhua Civilian Assembly Center, sebuah kamp tentara Jepang, selama Perang Dunia II. Film ini menceritakan bagaimana James berusaha bertahan hidup ditengah konflik yang sedang bergejolak tersebut.

Sedikit cerita saja mengenai film ini. Karena akan lebih bagus jika kalian menontonnya secara langsung. Sedikit cerita bukan berati film ini tidak bagus, tetapi penggambaran dalam film ini memiliki pemikiran yang akn berbeda dari setiap kepala yang menontonnya, jadi silahkan menonton dan kalian bisa artikan sendiri bagaimana film ini.

8. Snow Flower And The Secret Fan

Awalnya aku bisa memperole film ini adalah dari bagitu penasarannya aku terhadap kisah tradisi pengikatan kaki di Cina. Kisah ini ditulis dengan gaya memoar seorang wanita berusia 80 tahun yang bernama Lily, yang menceritakan pengalaman hidupnya bersama Bunga Salju sebagai laotong alias “kembaran sehati”nya. Lily memulai kisahnya pada 1828, ketika dia berusia 5 tahun dan tinggal di desa Puwei, di Baratdaya Cina. Kebebasan masa kecilnya tiba-tiba terampas ketika dia harus menjalani pengikatan kaki, sebuah tradisi menyakitkan yang harus dilalui oleh para wanita Cina agar memperoleh status yang terhormat. Begitulah kemudian kisah itu berlanjut yang dapat kalian tonton dalam filmnya jika kalian penasaran. 

9. The Last Emperor

The Last Emperor menceritakan kisah hidup seorang Kaisar terakhir Cina, Puyi. Film ini diawali dengan adegan Puyi yang diangkat menjadi Kaisar ketika dia masih berumur 3 tahun. seorang kaisar cilik yang naif dan tidak tahu apa-apa dalam semalam dinobatkan menjadi seorang Kaisar Cina. Mereka menyebutnya , The Son of Heaven. Dijauhkan dari orang tuanya dan tinggal sendirian bersama dengan pelayan-pelayannnya di Istana terlarang membentuk karakter seorang Puyi menjadi sosok remaja yang kesepian. Istana terlarang bagaikan penjara dengan dirinya sebagai tahanan sehingga Puyi tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan di luar tembok Istana. mengutip kata seorang Guru kaisar puyi yang didatangkan dari Inggris, “The emperor is the loneliest boy on the earth”

Ketika Cina berubah menjadi Negara Republik dengan Dr.Sun Yat Sen sebagai presiden pertamanya, Puyi bukan lagi seorang Kaisar dengan kekuatan imperialnya,, meski begitu dia tetap diperbolehkan tinggal di Istana bersama ratu, Wen Rong dan selirnya Wen Xiu. Yang miris adalah ketika dirinya diharuskan meninggalkan Istana dan sudah tidak diperbolehkan lagi tinggal disana. untuk pertama kalinya, meskipun dirinya ingin sekali melihat dunia luar, kaisar yang tak pernah keluar Istana merasa takut menghadapi dunia luar…

10. Memoirs Of A Geisha

Tidak hanya sekali aku menonton film ini, mungkin dalam film ini tidak seluruhnya bercerita tentang kisah anak-anak tetapi dari seorang anak yang bertumbuh dengan takdirnya menjadi seorang geisha. Adalah seorang anak yang berasal dari kampung Nelayan “Yoroido”, sebuah kampung terpencil yang sangat jauh dari Gion, Kyoto. Keadaan ekonomi memaksa dia (Chiyo) dan kakaknya Satsu, dijual menjadi budak sejak mereka berusia 9 tahun.  Chiyo dan Satsu dijual pada Okiya (rumah Geisha) yang berbeda. Chiyo yang memiliki mata berwarna cermin (abu-abu samar) terlihat sangat cantik dan menarik sehingga memiliki potensi untuk menjadi Geisha yang memikat.

Chiyo kecil yang mengalami berbagai peristiwa pahit dalam hidupnya hingga takdir menjadikan dia seorang Geisha bernama Sayuri, lika-liku kehidupan seorang gadis kacil dengan segala kisahnya sebaiknya kalian tonton sendiri dari film ini.

⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀⇀

Itulah film-film kisah anak dalam sejarah dan perang dunia yang pernah aku tonton, dari film-film tersebut aku banyak belajar tentang sejarah.

“Tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini, ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup atau kalah-menang.”

(Pramoedya Ananta Toer)


Mereka Bilang Ini Rumah

Mereka bilang ini rumah tapi entah
Tak ada tempat bagi cerita apalagi keluh kesah
Tak pernah tersedia telinga
Tak pernah tersedia pelukan
Yang terjadi hanya hujatan cacian dan makian
Pukulan untuk lahir pukulan untuk batin
Mereka bilang ini rumah
Tapi
Hanya diri yang dipeluk kesendirian dalam tangisan
Hanya diri meringkuk mencari perlindungan dalam setiap kesunyian
Udara yang merangkup selalu menghadirkan ketakutan
Jirih menggetar dalam topan
Tapi tetap mereka menuding bilang bahwa ini rumah
Beginikah?
Baiklah
Biarkan mereka mengatakan begitu
Aku bisa apa?
Bicara pun hanya menguak bara
Mulut birhias intan sekalipun di sini tetap cela
Aku sudah bilang kan
Di sini tak akan pernah ditemukan telinga
Pantulan bias-bias perih dentingan air mata
Tak pernah terdengar sekalipun dipaksa
Semua tertahan
Sedu sedan bisikan sampai teriakan
Semua memang ada
Semua itu milikku
Tapi lagi-lagi hanya tertahan
Membusuk dalam diri mengendap dalam hati
Berkali-kali
Jadi biarkan mereka mengatakan ini rumah
Rumah bagi semua rasa sakit dan ketakutan
Rumah bagi kesendirian



Sragen, 22 Februari 2017



Tuesday, February 7, 2017

Bertukar tempat

Dulu ketika aku masih SD aku begitu ingin bertukar tempat dengan temanku, sebut saja namanya Lisa. Pasalnya Lisa ini adalah anak seorang Polisi, tapi bukan karena sebab itu aku ingin bertukar tempat dengannya, karena bapakku sendiri pekerjaannya tidak kalah hebat dengan bapak Lisa, yaitu seorang PNS. Dan aku sebenarnya juga sangat bangga dengan pekerjaan bapakku sendiri. Jadi bukan karena itu aku ingin menjadi Lisa. Meskipun bisa dibilang bapak Lisa memang sangat gemati, dalam hal ini bapakku sendiri juga cukup gemati. Tapi gematinya bapak Lisa memang bisa membuat anak lain cukup iri dengannya. Tiap pagi, setiap akan berangkat sekolah, aku pasti menghampiri Lisa dulu. Di rumah Lisa, dia masih mandi kadang baru dibangunkan dari tidur. Mungkin karena aku memang takut jika ditinggal berangkat sendiri, atau memang aku yang terlalu kesregepen. Disitu bapak Lisa sedang menggosok sepasang sepatu Lisa dengan semir hingga terlihat begitu hitam dan mengkilat. Lalu aku melihat sepatuku, tidak semengkilat sepatu Lisa tapi masih bisa disebut hitam. Karena dua hari yang lalu sudah ku gosok. Sedang sepatu Lisa selalu tiap pagi digosok oleh bapaknya, tentu kecuali hari minggu. Lalu berturut-turut sepatu mbaknya Lisa dan kemudian sepatu teprok milik bapak Lisa sendiri. Dulu aku menyebut sepatu polisi bapaknya Lisa dengan sebutan sepatu teprok. Karena memang tiap dipakai pasti begitu bunyinya. Sungguh gagah sekali. Walaupun bapakku sendiri tiap pergi ke kantor juga memakai sepatu tapi tidak seteprok sepatu bapaknya Lisa. Selesai dengan sepatu-sepatu tersebut bapak Lisa beralih ke sepeda Lisa. Dengan sehelai kain yang dicelup air terlebih dahulu, bapak Lisa mulai mengelap sepeda Lisa. Hingga kinclong, tanpa debu dan noda becek cipratan. Lalu aku melihat sepedaku sendiri, sudah tidak sebagus sepeda Lisa, sudah banyak baret-baret dan jelas penuh debu penuh nanah. Jika bapak Lisa melihat sepedaku, rasanya malu, jangan-jangan bapak Lisa mengiranya ini bukan sepeda tapi kemoceng yang berbentuk sepeda karena saking banyaknya debu dan gelantungan-gelantungan rumah laba-laba. Sempat terpikir untuk memarkir sepedaku agak jauh dari rumah Lisa, tapi takut jika ada tukang rosok yang mengambilnya karena dikira barang rosokan. Jadi ya sudah terima nasip saja, sambil menunggu Lisa dan teman-teman lain menghampiri. Karena memang bisa disebut rumah Lisa ini sebagai jurusan pertama yang dituju sebelum berangkat sekolah. Titik berkumpul. Mungkin karena itu juga Lisa menjadi ketua dari kami semua. Anak seorang polisi, punya kakak (sebagai tameng), paling pintar, paling kaya, paling bisa menguasai semuanya dan entah apa lagi faktor yang membuatnya menjadi pemimpin tanpa ditunjuk dan tanpa pemilihan suara terlebih dahulu, karena waktu itu kami memang belum paham dengan istilah musyawarah. Tapi yang jelas sejak TK sampai kelas enam SD memang Lisa adalah bosnya.


Selanjutnya yang membuat aku begitu ingin bertukar tempat dengan Lisa adalah karena ibunya tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga biasa. Ibunya sabar dan bicaranya selalu halus. Tiap pagi meski Lisa selalu telat bangun tapi dia bisa begitu santai, karena semua hal sudah disiapkan oleh bapak dan ibunya. Seragamnya sudah rapi, sarapannya juga sudah disiapkan. Lisa tidak perlu bekerja membatu ibunya, karena ibunya hanya ibu rumah tangga, sedangkan ibuku adalah penjual makanan yang tiap pagi sekali sudah membuka warungnya. Jadi bangun pagi sudah menjadi kebiasaan, jika tidak bangun dan membantu bukan hanya tidak dapat uang saku (masalah kecil kalau tidak dapat uang saku, karena celengan ayamku ada tiga penuh semua) tapi lebih karena aku bisa dihajar habis-habisan oleh ibuku, jambakan dan tendangan, juga macam-macam bentuk hukuman lainnya sudah biasa kalau aku malas bangun dan tidak membantu. Jadi bisa dibayangkan bumi dan langitnya kehidupanku dengan Lisa.

Rumah Lisa yang selalu bersih, karena ibunya memang terfokus sebagai ibu rumah tangga saja tanpa harus bekerja mencari uang. Bahkan ada seorang tetangga yang khusus dibayar untuk mencuci baju keluarga tersebut. Waktu itu memang belum ada jasa Laundry. Mesin cuci pun juga masih menjadi barang mewah, jadi untuk hidup enak bisa dengan membayar buruh cuci, aku sering melihat cuciannya berember-ember banyaknya, aku bisa membayangkan buruh cuci tersebut jarinya akan lecet-lecet. Aku sendiri yang cuma mencuci baju-bajuku saja jari bisa berubah, ruas jari tangan yang aku fokuskan untuk menguecek kerah seragam putihku yang tidak putih bisa sangat perih cekit-cekit seperti ditusuk-tusuk jarum apalagi jika dengan sabun cuci Daia, perih juga panas. Apalagi jika sudah bagian mencuci celana dalamku sendiri, terkadang sedikit jijik. Padahal milikku sendiri. Pikiran anak SD-ku waktu itu, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan buruh cuci di rumahnya Lisa, harus mencuci celana dalam seluruh anggota keluarga itu. Tapi tentu tidak masalah karena dibayar, uang dua puluh ribu untuk sekali cuci, waktu itu pasti cukup banyak artinya.

Lisa yang selalu rengking satu di kelas, jelas karena bapak Lisa yang seorang polisi yang memang juga pintar. Karena memang jika dilihat, mbaknya Lisa dan adiknya Lisa juga pintar-pintar. Sedangkan aku sendiri bapak ibuku saja jika aku lihat buku rapotnya nilainya doremi semua, banyak yang merah. Tapi syukurlah aku masih sering dapat rengking juga, meski cuma masuk lima besar terus. Dan mentok sampai rengking 3 tidak pernah lebih dari itu malah kadang turun, tapi bisa dibilang aku cukup membangkan kan jika dilihat dari bibit keluargaku. Selain itu, seperti yang telah aku ceritakan diawal, bahwa Lisa adalah bos dari kami semua (aku dan tiga temanku yang lain). Sebagai bos, semua hal harus menurut pada kehendak Lisa, seperti pemilihan pilihan permainan dan akan bermain dimana. Jika tidak menurut pada keinginan Lisa, maka hukuman untuk anak tersebut adalah dengan tidak diajak bicara, dikucilkan dan tidak diajak main. Pernah suatu kali aku memakai sepatu baru, Lisa yang tahu akan hal tersebut tidak menyukainya. Dengan dalih kalau aku pamer sepatu baru, Lisa dengan mengajak teman-teman yang lain menjauhiku, aku tidak diajak bermain, diberi wajah masam dan bahkan ketika aku bertanya sesuatu pun tidak dijawab. Sungguh mengucilan yang sangat menakutkan.

Lisa sungguh menguasai permainan, semua teman-teman harus mengalah padanya. Meskipun begitu aku merasa kehidupan Lisan sempurna sekali.

Banyak hal yang membuatku ingin bertukar tempat dengan Lisa, selain hal-hal tersebut diatas, juga yang paling utama adalah keadaan keluarga Lisa. Aku selalu melihat bapak dan ibu Lisa tidak pernah bertengkar, selalu akur dan harmonis. Ibu Lisa yang penyabar selalu berbicara halus dengan bapak Lisa. Dan bapak Lisa juga orang yang baik hati dan tidak pernah bicara kasar ataupun keras pada ibu Lisa. Aku sendiri juga tidak pernah melihat ada barang di rumah Lisa yang terbanting karena bapak ibu Lisa bertengkar. Tidak seperti bapak dan ibuku, yang bahkan tidak bisa dihitung berapa kali dalam seminggu mereka bertengkar saling bertukar caci maki teriakan sumpah-serapah lalu membanting barang-barang dan diakhiri dengan bapakku minggat dari rumah. Keadaan di rumah Lisa selalu damai tanpa keributan, aku bayangkan jikapun ada pertengkaran pasti Lisa tidak akan sendiri karena dia punya mbak dan adik yang bisa saling menghibur. Sedangkan aku waktu itu, memang punya adik, tapi masih bayi, masih belum mengerti apa-apa. Praktis tiap ada pertengkaran di rumah, aku hanya sendiri, takut dan bingung harus bagaimana.


Selain itu dulu aku juga begitu mengimpikan rumah dengan satu kamar khusus untuk solat berjamaah sekeluarga. Tiap selesai Solat Magrib sendirian, aku berdoa lalu menangis tersedu, berulang-ulang doaku tersebut, ingin memiliki mushola kecil di dalam rumah. Sehingga aku bisa solat berjamaah dengan bapak dan ibuku, lalu kemudian dengan adikku ketika dia sudah mengerti solat. Begitu inginnya aku bisa solat bersama keluarga kumplit. Selama ini jikapun solat, paling-paling cuma dengan bapakku. Karena kamarnya cuma muat untuk sholat dua orang saja. Tapi meskipun begitu, bertahun-tahun kemudian memang doaku terjawab tapi tetap saja, aku hanya solat berdua dengan bapak saja, karena sibuknya ibuku bekerja.

Keluarga Lisa, rumah Lisa, dan semua yang Lisa miliki rasanya benar-benar tiada cacat. Aku berpikir pasti begitu bahagia jika bisa menjadi Lisa, bertukar tempat dengan Lisa. Aku menjadi Lisa dan Lisa menjadi aku. Khayalan dari otak anak SD yang mungkin bisa disebut belum mengerti bagaimana caranya mensyukuri hidup. Entah apakah ada anak lain yang juga punya pikiran seperti aku hingga ingin bertukar tempat dengan orang lain. Tapi mengingat kehidupan masa kecil yang begitu keras dan menyakitkan, dosakah bila aku begitu menginginkan menjadi orang lain yang kupandang lebih bahagia? Berdosakah jika aku menginkan kehidupan yang lebih indah? Berdosakah?


Thursday, January 12, 2017

Lagu Penuh Haru

Ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu
sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

Sebagian lirik lagu Letto judulnya Sebelum Cahaya

Seakan menerbangkanku pada masa yang begitu dingin
Pada seseorang yang membawa kebekuan abadi untukku
Yang sekejap mampu mengembunkan mataku




Saturday, January 7, 2017

Semesta

Aku kecil adalah seorang yang memuja langit. Mungkin seperti kebanyakan anak kecil yang lain, bercita-cita sebagai astronot. Meskipun lebih besar mustahilnya daripada tercapainya. Tapi memang kecintaan kepada langit, kepada galaksi, kepada bintang gemintang, planet-planet serta gugusan rahasia yang ribuan banyaknya di angkasa sana telah mengimpiku untuk bercita-cita sebagai astronot. Hingga sekumpulan pemikiran yang mengantarku menuju tumbuh besar dan semakin dewasa datang, menggeser cita-cita masa kecil yang terlalu besar untuk dapat tercapai. Memupus ikhlas cita-cita sebagai astronot, namun tidak akan kecintaanku terhadap semesta di angkasa.

Dalam otak kecilku, aku memiliki banyak pertanyaan tentang semesta ini. Ribuan jumlahnya. Semakin aku diperkenalkan pada angka, huruf, hingga bacaan dan hitungan yang luar biasa rumitnya, hanya semakin menambah-nambah pertanyaan di kepalaku. Pertanyaan yang tak mampu kujawabi sendiri, bahkan tak mampu untuk hanya sekedar kulontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Alam ini selalu sebanding lurus dengan kerahasiaan-Nya. Bisakah meskipun secuil aku mendapat jawaban, karena pertanyaan-pertanyaan itu seperti banjir di kepala, semakin penuh semakin ingin tumpah.

Tentang semesta alam raya ini. Langit yang maha luas, tempat tinggal para bintang yang digambarkan memiliki 5 sudut lancip yang diajarkan dalam pelajaran sejak aku mampu menggores kertas gambar. Benarkah bintang berbentuk seperti itu? Lalu kubah langit yang kokoh dan berlapis, benarkah itu ada di sana? Itukah yang tempat meletakan bintang-bintang tersebut? Lalu tentang bulan, bersinar di waktu malam dan pucat di waktu pagi atau siang. Berubah bentuk selalu. Bagaimana keadaan di bulan sana? Indahkah, seperti saat manusia memandangnya dari sini dari bumi? Tentang awan yang kubayangkan lembut seperti kapas, berarak ikut menjadi pengisi langit. Awan benarkah seperti itu? Juga ribuan pertanyaan-pertanyaan lain. Rasa-rasanya sampai matipun aku tidak akan mampu menemui jawaban yang sebenarnya. Jawaban yang aku temui sendiri dengan mendatanginya secara langsung. Bukan dari google atau dari youtube di masa keterbukaan seperti sekarang. Tapi benar-benar kudatangi sendiri. Tidak akan mampu.

Dalam hidupku yang cuma satu kali, aku tetap mencintai langit. Tetap bermimpi indah jika diterbangkan dalam angkasa raya yang hitam namun penuh gemintang dan arakan awan. Bulan? Jika diperkenankan ada tentu juga menambah indah. Lalu lebih lenggi lebih luas lagi lebih indah lagi. Tentang langit yang dipenuhi bintik-bintik cahaya. Langit hitam namun tidak kelam.




Wednesday, December 21, 2016

Sepasang Sendal Jepit

Hari ini sendal jepitku rusak. Sendal yang sudah berjasa menemaniku melangkah itu sudah tidak mampu mempertahankan tubuhnya sendiri. Sudahkah dia lelah dengan jalanan beraspal yang panas, dengan jalan berbatu dan becek. Mungkinkah dia sudah lelah dengan guyuran air kran saat aku berwudhu.

Meskipun hanya sendal jepit tapi itu sudah mampu membuatku sedih. Tanpa sendal jepit itu, bisa saja kakiku tertancap paku, beling, ataupun benda lainnya yang bisa membuat kaki berdarah. Benda yang hanya menjadi alas bagi kaki. Benda yang setiap kali aku melangkah berarti aku menginjaknya, namun ternyata begitu berjasa.

Sendal jepitku yang sama sekali tak mewah. Hanya sendal jepit berharga murah, dibeli dari penjual lapak kaki lima diseputaran alun-alun daerah. Sendal jepitku yang sudah begitu berjasa mengalasi kakiku dalam melangkah. Pastilah dia sudah lelah. Atau mungkin jengah.



Monday, December 19, 2016

Hujan Kita

Untuk Devid

Hujan
Sungguh
Meski beribu kali paksaanpun aku tak akan sanggup
Tak akan sanggup merangkai hujan dalam kata-kata
Meski hujan
Selalu mewujudkanmu dalam rinainya
Dalam setiap tetesnya
Dalam setiap rintiknya
Adalah sabda
Kebeningan rindu yang tak terjumlah banyaknya
Dan hujan
Aku sungguh tak mampu berkata-kata

Sragen, 15 Desember 2016
17:41 Waktu Indonesia Hujan



Dari Devid

Karena hujan tak akan diam
Hujan akan mengalirkan rasa rindu yang selalu aku rasakan
Aku titipkan pada setiap tetes hujan

Sukoharjo, 15 Desember 2016
17:46 Waktu Indonesia Masih Hujan




Tapi Kamu

Aku memperhatikanmu, tapi kamu?
Aku melihatmu, tapi kamu?
Aku merindukanmu, tapi kamu?
Aku menyayangimu, tapi kamu?
Aku mencintaimu, tapi kamu?

Entah...


Sragen, 19 Desember 2016


Monday, December 12, 2016

Kepik Emas

Ada seekor kepik emas, menempel pada daun, daun yang entah apa namanya berada di pinggir pematang sawah. Di tepi sebuah sungai kecil, atau boleh disebut dengan selokan tempat air yang mengaliri tiap petak sawah. Kepik emas kecil tak cuma satu dua, tapi banyak sekali jumlahnya. Dan menempel pada tiap daun-daun yang ada. Daun yang kian hari bolong-bolong. Mungkin kepik emas tersebut yang memakan daun itu hingga bolong dimana-mana. Begitu dari yang kuamati.

Aku tak begitu paham dengan kehidupan kepik emas yang terlihat hanya diam saja, padahal dibalik cangkang emasnya yang kaca tersebut terdapat sayap. Sayap yang tiap saat bisa membawanya terbang ketika merasa terancam. Kepik emas mungkin sejenis serangga. Serangga kecil diantara luasnya semesta. Tak banyak yang menghiraukan serangga kecil bersayap tersebut. Jika dibandingkan serangga yang lain, yang lebih besar lebih indah, seperti kupu-kupu dengan sayapnya yang menawan.

Kepik emas hanya binatang kecil entah apa gunanya bagi dunia yang begitu luas ini. Terik matahari yang menyengat perlahan bergerak ke barat dan kepik emas tetap diam di tempatnya. Pun ketika segerombolan anak-anak kampung yang bertanjang dada memburu mereka. Satu per satu ditangkapi. Habis sudah kepik-kepik emas hari itu. Puas anak-anak tersebut memperoleh banyak kepik dalam plastik beningnya masing-masing. Entah untuk apa kepik emas itu bagi mereka nanti.

Senjakala melembayung, biasnya mengantarkan capung-capung yang terbang melesat diatas selokan sawah. Satu kepik emas terjatuh dari tangan seorang anak. Mungkin terlewat oleh anak tersebut. Satu kepik emas yang tak mampu kembali terbang ke atas daun. Mungkin tubuhnya hancur digenggam terlampau kuat oleh sang anak kampung. Satu kepik kecil yang berwarna keemasan tersebut tak mampu melawan takdirnya untuk hidup barang sehari lagi melewati malam yang sebentar lagi datang. Satu kepik emas mati. Dalam diam aku hanya bertanya sendiri. Adakah artinya kematian satu kepik emas kecil diantara luasnya semesta raya ini? Lalu angin mendesau mengantarkan jawab pada sepi.




Mendung

Satu hari yang banyak orang menunggunya dalam setahun penuh. Bagiku telah berlalu begitu saja tanpa sisa. Seperti hari-hari yang lain, terlewati.
Mungkin bedanya, hanya dari macam-macam ucapan yang diberikan oleh orang lain untukku. Yang menguap bersama detik yang juga berlalu.
Menggelayut dalam selaput mendung.
Di langit.
Langit manapun.


12 Desember 2016
Sragen penuh mendung


Saturday, December 3, 2016

Kepada Teman

Kepada teman,
sebenarnya kurang mengalah seperti apa aku. Sejak dulu, sejak dari kecil, aku selalu mengalah, semuanya demi agar aku punya teman. Biarlah lelah aku tahan, tapi setidaknya temanku nyaman. Biarlah aku yang tidak berpunya tapi setidaknya temanku ada. Selalu itu yang aku utamakan. Tapi entah sampai sekarang rasanya memang aku terus yang bagaikan menggendong teman-temanku dengan pundak yang sudah begitu kesakitan, dengan kaki yang terus-terusan tersaruk sepanjang jalan. Aku mengalah.

Kepada teman,
aku melewati masa taman kanak-kanak dengan banyak ketakutan, dengan banyak rasa malu, dengan banyak rasa tidak percaya diri. Tapi aku terus saja berusaha menggandeng satu persatu tangan-tangan kecil dari tiap bangku yang juga kecil. Aku mencoba ingin memiliki setidaknya satu saja balasan dari gandengan tangan kecil tersebut. Iya memang ada, tapi kenapa sampai hati gandengan tersebut menyeretku pada rasa ketakutan yang lain, pada rasa rendah diri yang lain. Tak ada secuilpun cacatku tersebut yang terhapus, malah terasa semakin tergenapkan, bertambah-tambah. Tapi apa pernah aku lepas gandengan tersebut? Tidak pernah! Susah payah aku memilikinya, maka akan berusaha bagaimanapun aku pertahankan.

Kepada teman,
memasuki masa sekolah dasar, aku tetap anak yang sama. Anak yang ingin memiliki teman, banyak teman! Namun dari gandengan sepertinya perlahan berubah menjadi seretan. Entah aku sadari entah tidak tapi aku perlahan hanya menjadi pengikut. Apakah disitu aku masih dipanggil dengan sebutan teman oleh temanku? Entahlah, tapi yang jelas aku tetap menganggapnya teman. Segala hal aku lalukan agar dapat bersama dalam linggakaran pertemanan tersebut. Segala hal! Tapi sepertinya itu saja tidak cukup. Aku semakin tertinggal jauh oleh teman-temanku. Aku terlalu dibelakang untuk bisa mengejar. Karena aku memang tak pernah sejajar. Dari awal sekalipun, hanya aku sendiri yang mati-matian menjajari mereka, tapi kenyataan memang yang akhirnya menyadarkanku. Berdiri aku sendiri, memandangi yang tak pernah terlihat lagi. Memaku langkah, sempatkah diantara temanku yang akan menengokku?

Kepada teman,
aku sudah benar-benar lelah pada masa ini, masa putih biru. Biarlah masa yang kali ini aku habisan untuk sendiri, tanpa harus mati-matian mencari teman. Aku tidak lagi percaya bahwa teman bisa menghapus kesakitan dari rasa sepi. Aku menyerah saja, lebih baik diam. Namun, ternyata satu gapaian tangan yang malah meraih tanganku. Tangan itu, merentangkan setangkap pertemanan. Dia bilang akan manis jika dimakan berdua. Hari-hari, aku merasa seperti memiliki penyangga saat aku lelah dalam senja, aku seperti memiliki pendorong tiap pagi, aku seperti memiliki pengungkit kala siang terik menyusutkanku, dan aku seperti memiliki penggandeng dalam hari-hari itu. Apalagi yang aku kurangkan. Aku pun lakukan hal yang sama. Aku begitu bersyukur aku memiliki teman. Atau sudah seharusnya aku sebut sabahat, iya aku memiliki sahabat. Segala milikku adalah miliknya, tak ada tanda titik sekecil apapun aku sembunyikan darinya. Semua pintu serba terbuka untuknya. Bahkan pintu terlemahku pun terbuka hanya untuknya. Dia sahabatku, satu-satunya sahabatku sampai pada detik itu. Sampai pada satu titik dimana dia menggempurku habis dalam satu pukulan telak. Tanpa sempat dia lepaskan tanganku, rupanya seperti itu cara seorang yang telah kuanggap sebagai sahabat menghancurkan satu persahabatan. Aku kalah! Kalah oleh rasa perih yang yang tak terperi. Aku hanya mampu diam dalam jatuhku. Aku masih berusaha mencerna semuanya, memahami satu persatu yang ditimpakan padaku, sendiri. Hingga aku sadar seharusnya memang sejak awal aku pilih sendiri, tidak perlu teman, apalagi sahabat. Bukankah dari sekian banyak waktu memang sendiri. Lalu mengapa butuh teman. Maka begitulah, kuhabiskan masa putih biruku hanya dengan buku dan dunia khayalku sendiri. Teman? Silahkan kalian bisa anggap aku teman, tapi aku tidak.

Kepada teman,
entah haruskah aku memiliki pengharapan tentang teman diakhir masa sekolahku ini? Awal masa putih abu-abu rasanya cacatku kembali bertambah memenuhi mukaku. Adakah yang seperti ini aku akan memiliki teman? Tidak! Aku tidak akan lagi berharap-harap yang hanya akan semakin mencederai hatiku sendiri. Biarlah semua seperti biasanya, diam, sepi, sendiri. Namun memang perlahan kembali aku harus berpikir, begitu perlahan, sangat perlahan. Lambat! Hingga benar-benar tiba di masa terakhir sekolah. Semua teman bisa aku raih, semua! Entah aku sadari atau tidak, tapi ternyata begitu menyenangkan bisa memiliki teman sebanyak ini. Dan begitu bodohnya aku terlambat menyadari itu. Tapi tidak apa, akan aku pertahankan. Bukankah itu bagian dari yang sulit? Mempertahankan suatu hubungan! Apalagi hubungan pertemanan.

Kepada teman,
kita menempuh perjalanan masing-masing, kita memilih jalan kita sendiri-sendiri, dan melaluinya juga sendiri-sendiri. Hingga sapaankku dari jalan ini, satu persatu tak lagi kalian balas. Satu persatu, setiap pagi, tak pernah terlewat barang satupun sapaanku untuk kalian. Hingga aku malu, malu mengganggu kalian yang telah sebuk dengan rutinitas kalian sendiri. Mungkin masa ini, teman memang harus yang serutinitas dengan diri kita. Bukankah aku sudah pernah bisa memiliki teman yang banyak, lalu kenapa tidak aku coba kembali. Dan memang iya, teman tak terhitung aku miliki. Yang malam bisa satu kopi dalam gelas yeng sama, yang paginya bisa dalam satu kelas, yang siangnya bisa dalam satu perjalanan, yang setiap saat memenuhi segala jungkir balikku. Hingga kesepian terkadang bisa berubah menjadi benda asing yang tak kukenal sama sekali. Begitu beraneka segala pertemanan yang disuguhkan untukku. Dari berbagai sudut. Hingga terkadang aku begitu kuwalahan. Senang, sedih, susah, lelah, tertawa terbagi rata bersama. Pertemanan yang berupa-rupa. Tak lupa  aku bersyukur atas semua itu. Tiap harinya adalah hari yang selalu hidup. Selalu dengan berbagai lembar yang penuh rasa. Begitu menyenangkan.

Teman,
hal-hal yang menyenangkanpun juga mampu surut ternyata. Satu demi satu, meniti jalannya masing-masing. Hingga hari-hari kesepian kembali memunculkan dirinya, menjadi tak lagi asing untukku. Tinggal satu dua teman yang aku miliki. Dan tanpa aku sadari bodohnya aku dimasa anak-anak kembali pada aku saat ini. Saking takutnya kehilangan yang satu dua tersebut, aku selalu mengalah habis-habisan. Sakitnya rasa kesepian membuatku kapok untuk merasakannya lagi. Kusodorkan punggungku saat ada temanku yang perlu gendongan, kurelakan pundakku saat ada temanku yang ingin bersandar. Ku ulur tanganku bagitu melihat temanku terjatuh dan kurentangkan tangganku saat temanku rapuh perlu sebuah pelukan. Mataku siap tetap terjaga saat temanku membutuhkan untuk terlelap, mulutku siap memberikan senyum meski dalam keadaan terpahit sekalipun dan kupingku siap mendengar olok-olok buruk bahkan untuk diriku sendiri.

Teman,
aku pikir memang seharusnya seperti itu kan agar aku dapat tetap berteman. Mengorbankan banyak hal, mengalah banyak hal, merelakan banyak hal. Untuk dapat memiliki teman. Agar kesepian bisa menjauh sejauh-jauhnya. Karena memang seperti yang selalu aku ingat, kesepian jauh lebih sakit daripada rasa sakit itu sendiri. Aku hanya tidak ingin kesepian, jadi biarlah aku korbankan sedikit demi sedikit meski terkadang sakit. Aku hanya tidak ingin kesepian, jadi biarlah aku yang terus mengalah. Entah sampai kapan.

Teman,
aku hanya tidak ingin kesepian. Itu saja.



Semarang, 3 Desember 2016
kamar kost-ku yang sepi
Gunungpati yang menggigil dalam pagi


Friday, November 25, 2016

Kesepian?

“Bisakah kau ceritakan bagaimana rasanya kesepian?”

“Mengapa?”

“Karena sepertinya kau begitu akrab dengannya?”

“Dengan kesepian?”

“Iya”

“Sebaiknya kau tidak perlu mengetahuinya?”

“Mengapa?”

“Itu sungguh menyakitkan, bahkan lebih sakit daripada menderita sakit itu sendiri”

“Benarkah?”


“. . . .”



Wednesday, November 23, 2016

Dari Telinga Turun Ke Hati

Banyak yang bilang kalau cinta itu dari mata turun ke hati. Tapi sepertinya untuk kasusku agak berbeda, cinta yang aku alami malahan dari telinga turun ke hati. Itu terjadi pada cinta pertamaku. Dia adalah seorang penyiar radio, sebuah radio desa kecil. Bukan radio swasta atau radio pemerintah melainkan sebuah radio yang dipancarkan dengan jangkauan frekuensi yang dekat, radio milik sendiri. Radio yang jika terkena angin sedikit saja sudah mampu menghadirkan suara kemresek dengan sempurnanya. Jadi, tidak salah jika cinta pertama milikku dikatakan dari telinga turun ke hati. Karena penyiar radio tersebut memang belum pernah sekalipun kulihat wajahnya, hanya dari suaranya aku bisa merasakan getar menyenangkan di dalam hatiku.

Masaku saat itu memang mungkin bisa disebut dengan masa demam radio, mulai dari radio swasta dari kota tetangga yang siarannya begitu terprogram rapi sampai radio-radio kecil yang saling berebut tempat di udara. Semua memenuhi udara dan hanya dengan tape radio kecil milikku dulu aku sudah dapat menikmati siang hingga malam menjadi pagi dengan mendengarkan radio. Bahkan setelah tape kecilku menjadi rongsokan karena tak sengaja terbanting, aku tetap bisa menikmati siaran radio dengan hape cetuk, hape jaman dulu. Aku masih ingat hape pertama yang kumiliki saat aku memasuki SMP dulu, merk-nya Siemens dengan layar berwarna orens. Hanya dengan dipasangi hetset sudah mampu tersambung dengan ribuan chennel radio yang bebas untuk dipilih. Atau mungkin saat itu aku juga menggunakan wokmen sebagai radio, karena pada jamanku alat tersebut sudah mampu membuatku terkagum-kagum. Hanya dengan sebuah alat sebesar telapak tangan orang dewasa kita sudah mampu mendengarkan musik dari alat tersebut. Kita hanya perlu memasukan kaset pita ke dalam alat tersebut dan dengan hetset lagu dari kaset tersebut sudah bisa kita dengarkan. Atau jika bosan, wokmen juga bisa beralih fungsi menjadi radio, yang bisa kita bawa kemana-mana. Karena dalam penggunaannya, wokmen hanya butuh dua batre, atau mungkin 4 batre, aku sudah lumayan lupa. Entahlah, rasanya memiliki wokmen saat itu memang menjadi hal yang sangat menyenangkan, walaupun tidak bisa disebut barang mewah. Pasalnya, hampir semua teman SD-ku pada tingkat akhir saat itu memiliki wokmen. Karena barang tersebut dijual saat darmawisata ke jogja. Aku ingat sekali, teman-teman semua membeli di bus dan akupun juga ikut membeli, wokmen sekaligus hetsetnya, lalu ditambah dengan kaset pita sebagai pelengkap. Kaset dari lagu-lagunya Peterpan, grub band tersebut memang sedang naik daun pada masa itu. Semua anak pada masa itu hampir hafal semua lagu-lagu Paterpan.


Memasuki masa SMP, seperti murahnya harga wokmen beserta perangkatnya, mudah juga untuk cepat rusaknya. Alat yang begitu menakjubkanku tersebut tidak mampu bertahan lama, dua sampai tiga kali aku mencoba membeli lagi, tapi lagi-lagi tidak sampai lama sudah tidak mau berfungsi, meskipun aku dalam penggunaannya sudah sangat berhati-hati sekali. Tapi pada akhirnya wokmen dan kaset pita tetap punah seiring waktu, terganti dengan alat-alat lebih canggih lainnya. Seperti hape, meskipun pada saat itu hape masih sangat sederhana kalau dibandingkan dengan hape jaman sekarang: smartphone.


Namun dari hape yang berlayar orens tersebut, sebagian kecil dunia pra-remajaku dibentuk. Radio menjadi teman yang begitu setia tentu diantara buku-buku novel, satu dua teman sekelas dan berbagai kesibukan sekolah dan pekerjaan di rumah. Namun radio memang menjadi satu-satunya teman di malam hari, bahkan saat-saat terkritis dari insomniaku, radio mampu menjadi teman tersetia sampai pagi. Awalnya memang hanya sebatas mendengarkan radio yang memberikan lagu-lagu teman tidur siang hari, tapi ternyata siaran radio di malam hari jauh lebih seru. Dalam hal ini aku lebih suka radio-radio kampung, karena pembahasannya bebas, guyonanya juga seenaknya sendiri, lagu-lagu yang diputar lebih beragam, bahkan penyiarnya lebih sering menggunakan bahasa jawa ngoko asal-asalan, dan yang paling penting tidak ada yang namanya iklan. Tidak seperti pada radio swasta yang ngobrolnya sedikit, lagu yang diputar sedikit tapi iklannya seabrek. Radio swasta memang tidak seseru radio-radio kampung yang penyiarnya kadang sama sekali tidak mengerti unggah-ungguh berbahasa. Tapi memang kenapa, justru itu yang menyenangkan, karena memang dalam dunia sehari-hari unggah-ungguh sudah sangat ditekankan, jika dalam dunia radio aku juga harus mencari hal yang formal semacam itu, dimana letak hiburannya. Jadi bagiku, radio ibarat obat penyembuh, obat penambah tenaga, obat pelarian dari dunia biasa yang biasa-biasa. Bisa tertawa dari guyonan orang yang sama sekali tidak kita kenal, tapi rasanya kita juga terlibat dalam guyonan tersebut adalah suatu kesenangan yang tak mampu terjelaskan.

Awalnya memang hanya sekedar mendengarkan radio, menikmati lagu-lagu yang diputar atau ikut tertawa kalau si penyiar menggoda si penelepon di radio tersebut. Tapi lama-lama aku juga ingin kalau lagu yang ingin aku dengarkan dapat di putar, jadi dengan hati yang berdebar aku mencoba mengirim sms ke stasiun radio tersebut. Berbagai perasaan tidak enak melingkupi hati, takut rasanya. Iya karena untuk pertama kali aku mengirim sms ke sebuah stasiun radio dengan tingkat detak jantung yang tak terkira cepatnya. Bahkan saat mengetik sms berulang-ulang kali aku membacanya kembali agar tak ada satu huruf pun yang kurang atau salah ketik. Tidak terhenti sampai disitu saja tersiksanya jantungku bahkan sampai membuat tanganku basah keringat dingin. Dan penyiksaan tersebut hampir berlangsung cukup lama sampai smsku terbaca oleh si penyiar. Mungkin kalian yang sekarang sedang membaca mengatakan bahwa aku lebay, tapi memang itu yang aku alami pada saat tersebut. Betapa tidak, coba kalian bayangkan, seorang anak SMP yang baru pertama memegang hape, yang biasanya hepe tersebut hanya untuk bermain game ular-ularan saja tiba-tiba harus mengirim sms ke sebuah stasiun radio untuk pertama kali dan akan dibacakan oleh seorang penyiar dan akan didengarkan oleh seluruh pendengar radio tersebut dan lain sebagainya dan lain sebagainya pemikiran-pemikiranku. Tidak salah jika, aku merasakan penyiksaan sebagaimana rupa. Terlebih pada masa itu, jumlah orang yang memiliki hape belumlah semerata sekarang, sekalipun pada masa tersebut hape hanya secanggih untuk sms dan telpon saja. Jika kalian masih menganggapku lebay, coba bandingkan keadaan dulu dengan sekarang, sekarang anak paud bahkan yang baru mau dititipkan ke playgroub saja sudah mampu menguasai tablet atau smartphone. Merk-merk hape legend seperti siemens, sony ericsson atau nokia sudah surut dari peredaran, padahal dulu merk-merk tersebutlah yang pertama kali merajai pasar perdagangan di Indonesia. Jika diingat aku sendiri, hape pertama yang kumiliki bermerk siemens. Jadi bisa dibandingkan pertama kali memegang hape dengan hape merk pertama yang masuk di Indonesia dengan situasi saat ini yang menggunakan alat komunikasi yang sudah canggih dan semua kalangan semua lapisan masyarakat sudah mampu memiliki dan menggunakannya. Jadi sms bukan menjadi barang begitu krusial lagi karena semua orang menjadi biasa dan terbiasa, terlebih saat ini sms malah sudah tergusur oleh pengirim pesan-pengirim pesan yang lebih disempurnakan, seperti bbm, wa, line, dan lain sebagainya yang dapat kalian cari dan unduh di playstore.


Pada awal pertama mengirim sms di radio memang guncangan seperti itu tetap terulang aku rasakan, dua tiga kali tidak hilang, memang sepertinya tidak mudah untuk hilang. Tapi setelah sekian kali berkirim sms lambat-lambat perasaan semacam itu cukup mereda. Dan setelah terbiasa hilang sama sekali, selain itu juga karena kusiasati dengan menggunakan nama samaran. Nami, nama itu aku pilih karena aku merasa itu nama yang cukup unik, dalam bahasa jawa kata tersebut artinya ya nama namun diperhalus penggunaannya dalam bahasa jawa kromo lugu. Jadi, aku tidak perlu mengarang-arang nama lain untukku, karena ketika aku cantumkan dari pengirim untuk sebuah sms di radio tersebut, aku hanya mencantumkan nama tapi dalam bahasa kromo lugu. Awalnya sebenarnya aku memilih hal tersebut untuk sekedar mensiasati agar aku tidak kuwalat kepada bapakku yang telah memberiku nama Intan, apalagi di Sragen merubah nama harusnya dengan cara dibancaki dan akan sangat ribet, jadi aku dengan kesadaran penuh merasa bahwa aku tidak berganti nama, hanya mencantumkan kata nama (dalam bahasa jawa kromo lugu artinya nami) saja sebagai identitas. Tapi pada perjalanannya ternyata Nami bukan hanya sekedar aku gunakan sebagai identitas untuk sms di radio. Tapi juga setiap akun yang aku gunakan. Mulai dari friendster, mig33, mixit, nimbuzz, facebook, twitter, email, instagram, bbm bahkan blogku ini. Meskipun pada masa sekarang, nama untuk akun bbm dan facebook sudah aku ganti dengan nama asli. Tapi aku baru sadar bahwa Nami sudah turut serta dalam perjalanan panjang sejarah hidupku di dunia maya, malah terseret juga dalam dunia nyata, buktinya masih banyak teman-temanku yang memanggilku Nami. Begitulah sejarah singkat asal mula nama Nami menjadi identitas lain dalam diriku.

Kembali ke persoalan awal tentang radio, aku yang semakin terbiasa mengirim sms ke berbagai stasiun radio rupanya tidak membuatku ingin bertelpon ria untuk sekedar meriques lagu. Aku tetap tidak bergeser sedikitpun, karena aku merasa cukup dengan riques lagu hanya dari sms saja. Tapi sesuai perkembangannya ternyata periques semakin banyak yang meminta lagu langsung lewat telpon, dan lebih spesialnya lagi, riques yang lewat telpon lagunya diputar lebih dulu. Semakin merasa seru dengan radio, bagiku tidak menjadi soal laguku akan diputar lebih dulu atau malah tidak diputar sekalipun juga tidak apa, karena smsku yang berisi permintaan lagu dan kiriman salam tersebut sudah cukup hanya dengan dibaca oleh penyiarnya, tapi yang menjadi soal adalah biasanya penelpon begitu genitnya meladeni candaan dari si penyiar. Apalagi jika penyiar tersebut adalah penyiar yang aku spesialkan. Penyiar yang begitu menarik pada awal perkenalan karena dia juga entah kenapa tertarik dengan nama samaranku, katanya Nami nama tersebut mirip dengan tokoh anime yang dia suka, aku tidak tahu itu siapa. Dengan suara yang renyah dengan tertawa yang juga begitu renyah enak didengar, bahkan tertawanya pun juga menarik buatku. Tidak seperti penyiar-penyiar yang lain. Dia cukup unik dengan lagu-lagu yang dia pilih untuk diputar, dengan wawasan music dan band-band yang tidak lagi dalam pasaran. Wawasan umum dia juga begitu luas, karena setiap siaran pasti akan banyak hal yang dia bahas. Kembali aku katakan dia tidak seperti penyiar-penyiar radio kampung kebanyakan. Meskipun dia siaran pada radio kampung tapi pengetahuan dan pembahasan yang dia bawa saat siaran tidak kalah dari radio formal. Dan lebih unggulnya dia bawakan dengan tidak formal sama sekali, tapi tetap dengan unggah-ungguh yang pas, dengan bercandanya yang tidak berlebih, dan tidak meladeni genitnya penelpon dengan berlebih juga tapi tetap bisa membuat suasana yang semangat. Boleh dibilang dia penyiar yang cerdas untuk ukuran radio kampung.

Nama penyiar itu adalah Eno, begitu yang dia kenalkan setiap kali mengudara. Belakangan aku tau itu bukan nama aslinya, dia memakai nama tersebut karena ngefans dengan drummer-nya Netral. Begitu banyak hal yang aku sukai dari dia. Lalu pada suatu waktu saat dia siaran, dia menggunakan nomer hape pribadinya sendiri untuk melayani periques. Aku hanya menyimpannya, tidak ada keberanian untuk meng-sms sekalipun itu hanya untuk meriques lagu. Tapi selang beberapa lama dia jarang sekali siaran. Terus terang meskipun tetap menyenangkan mendengarkan radio, tapi rasa-rasanya tetap ada yang kurang.

Ingin sekali aku tanyakan langsung kenapa sudah tidak pernah siaran, tapi banyak hal yang membuat takut. Akhirnya daripada tersiksa batin karena rasa takut dan sebagainya, tidak aku sms juga. Aku hanya menunggu sambil berharap dia akan siaran lagi.

Begitu lama aku menunggu tidak juga sekalipun terdengar suara dia di radio, bahkan saking takutnya kalau-kalau aku terlewat saat dia siaran dan aku tidak tahu, maka aku pasang frekuensi hanya pada chennel radio miliknya, suara kemresek pun juga aku dengarkan, saat ada yang mengudara aku pusatkan pendengaranku, tapi terlalu sering kupingku dikecewakan karena ternyata yang siaran bukan dia. Lalu aku ceritakan kesedihanku pada sahabatku yang sedang tiduran kasurku, sambil aku ikut tiduran disampingnya, aku minta tanggapan apa yang harus aku lakukan. Lalu tiba-tiba dia menyambar hapeku, dia mau mengirim sms untuk penyiar tersebut. Terjadilah saling rebut merebut hape, rasanya aku belum punya nyali kalau harus sms dulu. Tapi sahabatku tersebut bilang kalau sms pun juga tidak apa-apa dia tidak akan tahu siapa yang sms. Setelah aku pikirkan benar juga omongannya, jadi aku putuskan untuk meng-sms Mas Eno. Satu sms yang berbuntut rasa takut begitu lama. Tapi karena sedang bersama seorang sahabat yang ada di dekatku jadi hal tersebut tidak terlalu mengganggu pikiranku, hanya pada saat-saat teringat saja aku kembali deg-degan. Karena sepertinya smsku tidak akan mendapat balasan.

Kemudian selang cukup lama, mungkin berminggu-minggu kemudian smsku baru terbalas. Aku begitu ingat keadaan pada saat itu, aku sedang studytour ke Jakarta pada waktu kelas 2 SMP, mungkin pada saat itu belum ada jalan tol yang panjang karena bus berhenti disebuah rumah makan dalam wilayah Jawa Barat. Udara begitu dingin padahal jam masih menunjukan pukul 8 malam, langit gelap tanpa arakan awan, hanya hitam pekat tapi dengan pijar satu bintang yang sangat cerah. Saking cerahnya bintang tersebut tak kuasa untuk mengedipkan dirinya sendiri. Berdiam diri menjadi satu satunya penghuni langit. Indah sekali ditambah dengan satu getar dari layar hp yang berkedip memunculkan sebuah pesan. Cukup satu pesan yang juga menggetarkan hatiku, satu pesan dari Mas Eno. Mas penyiar. Perlu beberapa menit untuk aku menenangkan diri agar dapat membuka pesan tersebut, dan perlu beberapa menit pula untuk aku dapat membalas smsnya itupun setelah aku baca berulang-ulang smsku sendiri agar tidak ada kesalahan untuk setelah itu dapat aku kirim. Aku pandang langit malam di Jawa Barat rasanya jadi ribuan kali indahnya. Tapi juga dengan detak jantung yang luar biasa cepat. Berada dalam bus yang bergerak sampai tiba di Jakarta, tak sekejap pun aku mampu memejamkan mata. Kejadian tersebut masih melekat secara detail dalam ingatan, menjadi salah satu kenangan indah yang tak mungkin terlupa. Meskipun kalau dari sekarang mungkin terhitung sudah 10 tahun, tapi mengingatnya kembali seperti masih tersisa segala indahnya, suasananya, hawa dinginnya juga getar di jantung yang menyenangkan. Selaksa malam yang menakjubkan bahkan jika hanya sekedar dikenang.


Ternyata sms-an kami berlanjut lebih panjang, sebagai teman dia adalah orang yang menyenangkan. Seru jika diajak cerita, membahas apapun rasanya menjadi sangat menyenangkan. Orang yang supel, dengan berbagai pembahasan yang tidak pernah membosankan. Bahkan dia juga sering telpon aku, awalnya memang canggung dan aku lebih banyak diam, tapi dia memang orang yang pintar mencairkan suasana, membuat orang menjadi nyaman untuk bicara. Aku yang biasanya takut-takut kalau telpon menjadi terbiasa setelah dengan dia. Seperti yang aku bilang dia memang orang yang cerdas. Banyak hal yang tidak pernah aku tahu, aku pelajari dari dia. Mulai dari band-band yang bagus dan tidak pasaran. Karena itu seleranya unik, memang dari awal akupun juga suka pada yang tidak sering-sering aku dengar, karena pada masa itu memang band-band melayu sedang naik daun. Aku bahkan ingat kata-kata dia kalau “Aku memang suka lagu-lagu yang slow melow kendow, asal tidak cengeng”. Dia bilang dia suka band-band yang beraliran melodick punk, dia juga yang mengenalkan aku pada band-band tersebut. Aku juga mulai suka pada Blink-182, Endank Soekamti, Netral, SID, Green Day, dll. Meskipun setelah itu aku juga lebih menyukai yang beraliran keras; Slipknot, System Of Down, Betrayer, Bandoso, Burger Kill, dll. Dia bilang aliranku malah kebablasan jadi Metal Gedruck. Entahlah, memang musik-musik seperti itu menjadi lebih enak didengar diantara band-band metal yang sering sekali diputar di radio. Jadilah, aku satu-satunya pendengar yang meriques lagu-lagu keras diantara mereka yang meminta lagu-lagu dari band melayu.

Selain itu juga dia yang membuat aku menyukai One Piece sampai sekarang, meskipun pada dasarnya aku memang menyukai anime sejak SD. Bahkan aku punya dua buku berisi lyric lagu-lagu anime, sayangnya kedua-duanya sekarang sudah jadi abu. Kami bahkan berdebat tentang anime mana yang lebih seru antara Naruto atau One Piece. Aku sama sekali tidak menyukai One Piece karena tokoh utamanya memiliki kekuatan yang aneh, tidak seperti Naruto. Tapi dia tetap memaksa agar aku menonton One Piece dulu, dia bilang kalau aku pasti suka. Tapi karena penasaran pada satu tokoh yang dia bilang namanya juga Nami seperti namaku, maka aku putuskan untuk sekali menonton. Pada saat itu One Piece memang masih tayang di TV. Jadi mudah saja untuk bisa menonton, dan benar kata Mas Eno, bahkan aku akui lebih seru daripada Naruto. Tanpa sadar tak pernah satu episode pun terlewat, anime yang penuh petualangan seru. Menyenangkan bisa berpetualang dan mendapat teman yang banyak, sahabat yang banyak dan bisa pergi kemanapun ke berbagai tempat yang belum pernah didatangi. Dari situ juga mungkin saat SMA aku ingin punya teman yang banyak, tidak seperti saat SMP, boleh dibilang aku tidak punya teman, di sekolah temanku nyaris hanya buku dan teman sebangku ku saja. Selain itu aku juga jadi mulai menyukai berpetualang ke tempat-tempat yang baru dan menantang. Aku suka berpergian kemana pun bersama teman-temanku. Membuat kenangan yang bisa dikenang saat tua nanti, saat sudah tidak mampu kemana-mana lagi.


Setelah sekian lama berteman dengan Mas Eno, sudah tidak membuatku ragu lagi kalau aku memang menyukai dia, cinta petamaku. Padahal kami belum pernah sekalipun bertemu. Lalu dia menyuruhku membuat akun friendster. Pada masa itu memang belum ada facebook, dia bilang kalau mau melihat wajahnya aku bisa lihat di friendster miliknya. Ada fotonya disana. Awalnya aku ragu, tapi diam-diam aku buat juga, bahkan friendsterku penuh dengan berbagai keakuan tentang aku. Segala hal yang aku suka aku tulis dalam friendster, aku telah memiliki friendster yang sempurna. Tapi aku belum juga mengintip friendster miliknya, bukan karena takut wajahnya mengecewakan, sama sekali bukan. Tapi memang karena aku belum bisa mengendalikan hatiku sendiri, debar jantungku selalu memuncak setiap aku melihat hapeku memunculkan nama Mas Eno dilayarnya. Sekedar mendapat sms dari dia saja hatiku bisa begitu terbang, membaca-baca kembali sms dari dia bisa menerbitkan senyum yang tak berkesudahan, apalagi ketika ditelpon rasanya aku seperti terlonjak-lonjak menaiki kora-kora. Maka jika harus melihat friendster miliknya aku juga harus benar-benar siap kejatuhan bintang-bintang.

Setelah lama, aku akhirnya melihat friendsternya juga, melihat foto dia. Tepat seperti dugaan, suara yang renyah itu juga milik laki-laki yang menawan, yang menawan hatiku hingga menahun. Apapun itu, aku bertambah menyukainya. Meskipun temanku berkomentar dia tidak ganteng-ganteng banget, dia juga pendek, tapi apapun aku tetap menghamba pada dia. Tapi  dari situ aku juga mulai berpikir aku harus menghentikan les berenangku, karena dengan berenang aku bisa bertambah tinggi, sedangkan aku tidak ingin lebih tinggi dari dia.

Selain di friendster dia ternyata juga sama-sama pengguna mig33, siapa sangka, jadilah akun Nami selalu setia menunggu dia di room Sragen, siapa tau suatu waktu dia login mig33 dan bisa chatting bareng. Untuk semua akun sosmed aku gunakan nama Nami, itu semua juga untuk dia, nama yang dia sukai. Dan aku berharap dia akan menemukanku dengan nama itu, setidaknya di dunia maya. Karena memang sampai sekarang kami berteman juga dalam dunia itu saja. Tapi aku pastikan perasaanku ke dia tidak maya, perasaanku ke dia benar-benar nyata. Meskipun tidak sekalipun kami pernah bertemu secara langsung, meskipun setelah 3 tahun kami telah berteman akrab dan 2 tahun sitelahnya aku tidak pernah sedikitpun menghubungi dia, tapi memang selama 5 tahun itu perasaan cintaku ke dia benar-benar nyata. 3 tahun berteman tanpa sekalipun pernah bertemu langsung, dan karena ulah sahabatku sendiri aku harus menangisi dia dan berkata kalau lebih baik tidak perlu lagi saling menghubungi, awalnya dia terus-terusan berusaha menolak, tapi akhirnya dia menerima juga keputusanku. Jadilah 2 tahun sisanya adalah hari-hari hampa aku berusaha untuk bisa melupakan dia. Cinta pertamaku, yang tidak akan pernah mengetahui perasaanku ini.


Kalau dipikir memang banyak hal dari diriku yang berkiblat dari Mas Eno, mulai dari selera bermusik, band-band kesukaan, anime kesukaan, pandangan tentang kehidupan, keakuan tentang aku bahkan sedikit banyak berasal dari dia, mungkin kehidupan sepanjang remaja yang mengantarkan aku pada masa sekarang juga tidak lepas dari pengaruhnya. Dia tidak mungkin tau dan selamanya dia tidak akan tau, tapi aku bersyukur pernah memiliki bahagia meski hanya menjadi temannya. Dan aku bangga memiliki cinta pertama dari orang yang cerdas. Aku cukup sadar meski hanya sebatas ini yang aku peroleh dari dia. Pada akhirnya aku benar-benar bersyukur pernah memiliki dia cinta dalam diam.