Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Sunday, January 26, 2014

The Rampoks ke Pulau Nusakambangan


Ini adalah program The Rampoks ke Golden Water alias Banyumas J

Pertama kami semua janjian kumpul di depan ATM BNI Unnes, pukul 06.00 Waktu Insya Allah molor, dan bener aja molor sampe jam 8an lebih kita baru memulai perjalanan. Pada tanggal 15 Januari 2014 kami berduabelas yaitu Aku semotor dengan Riwan, Bahol yang semotor dengan Sulthon, Ardit ma Yanrika, Amri sama Prita, Eko boncengan ma Muadi, dan dua sejoli Reza-Jambi, kami ber-6 motor pun siap tancap gas melewati macetnya Ungaran, naik turunnya Temanggung, menembus dinginnya Wonosobo, disengat panasnya Banjarnegara, nostalgia dengan Kota Purbalingga dan Purwokerto lalu menginjak Cilacap untuk pertama kalinya. 


Dalam perjalanan pun selain jadi objek bully, aku juga sempat di buat galau karena omongan Riwan hap-hap. Huhu
Jujur aku jadi bengong dibelakang boncengan Hap
tanpa sadar air mata keluar hikz hikz  
Ampun dah, yah kalian harus tau, aku memang cengeng kawan.

Tapi aku gampang nangis juga gampang ketawa, gampang sedih gampang juga bahagiyanya.
Beda dari orang yang jarang dibuat sedih, tapi sekalinya dibuat sedih duh sedihnya bisa tahunan, marahnya bisa tujuh turunan. (Bukan aku)
Yang begini namanya pendendam, penyakit hati, hidup sekali thu harus dinikmati men, bukan buat menebar kebencian. Rugi dah !! (bukan aku)

Jadi meskipun dibikin nangis juga setelah itu bisa langsung cepat cubit perut gendut Hap, bercanda sama driverku yang 'nganyelke'

(nah yang ini baru aku)
Begitu aku. Begitu sifatku. Sanguin sekaligus Sagitarius.



Dan inilah saat kami berhenti untuk makan siang, buang air kecil, buang air besar, dan tak lupa narsis poto-poto. Di Alun-alun Temanggung.


Saat ada motor teman kami Bahol yang mengalami masalah pada ban belakangnya, kami berhenti di jalan Wonosobo. Jalan yang berada diantara dua gunung, yaitu Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, dan ternyata bengkelnya pun dekat dengan BC Pendakian Gunung Sindoro.
Duh pemandangannya fix subhanallah bingits   :p


Brreemmm... brreeemmmm... motor boleh minjem nih. Punya Eko, temenku se-Karisidenan Surakarta, asal Kleten.


Di Wonosobo pun kami terkena hujan, meskipun rintik tapi hawa yang dingin membuat badan cukup menggigil juga. Karena itu aku meminta diantar driverku Kakak Riwan untuk membeli mantel.
Yey jajan mantel baru di Pasar Wonosobo, tapi setelah membeli mantel ternyata udah gak ujan lagi men -____-

Perjalanan pun dilanjutkan dan tujuan pertama kami adalah Kota Purbalingga. Hemb tak terlalu meledak-meledak di hati, karena memang aku sudah pernah mBolank ke Purbalingga jadi ini bukan kali pertama aku maen ke Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga dan Purwokerto.

Inilah saat kami 'ngerampok' di rumah Bahol. Namanya juga The Rampoks, beda dari mBoloank, jadi pasti ada rumah teman kami yang dirampok. Eh ralat, mBolank pun dulu juga 'ngrampok' J
Makasih Bahol udah menjamu kami.


Nah kalo yang ini di Purwokerto, rumahnya Reza yang juga sukses kami ‘rampok’ sekaligus tempat kami menginap. Makasih iya Za udah mau nampung kita-kita J


Persiapan tenaga buat tancap gass besok pagi, kami pun tidur terlelap dalam mimpi.
Tarik selimut, peluk mimpi, berdoa mulai, gutnet n' hevnesdrim


Nah perjalanan dari Purwokerto ke Cilacapnya pun di lanjut keesokan harinya, tanggal 16 Januari 2014


Sangat menjiwai kan yang mau ke pulau yang sering buat nahan teroris, pada ekting jadi teroris nih, maksudnya biar gratis masuknya -___-


Yehaaaa sebenarnya bukan hanya acara The Rampoks nih tapi mBolank juga ngeksis men (emot mringis) bahkan kalo Ardit bilank "track rengkot mBolank lebih tinggi men" sambil berbangga karena kami udah pernah mBolank sampe Purwokerto.

Dan inilah kami (mBolank) yang selalu menyempatkan diri poto bertiga. Sahabatku, angka 8 ku ^_^







Personil kumplit dan yeah mBolank ngerangkap The Rampoks siap berlayar. Eh tapi sebelumnya kami cikitau cikitau dulu dijalan. Begitu bahasanya Hap-hap menanggapi jalan-jalan berlubang di sepanjang Purwokerto menuju Cilacap. 



Yah meskipun ngidam motor Supra ku gak kesampean, paling nggak aku diboncengkan motor Supra nya Hap-hap. Bilang apa? Makasih Hap :))


Nah inilah poto-poto sesaat sebelum kami berlayar menuju Pulau Nusakambangan. Ngelobby bapak-bapak pemilik kapal dengan bahasa dan logat ngapak. Kami hanya kena 12Rb/orang PP. 



 Yohs kami pun siap berlayar ke pulau negri para tahanan, Pulau Nusakambangan, dan sensasinya men, cikitau cikitau :)

Cikitau-cikitau nya pindah ke laut men :)




Menginjak Pulau Nusakambangan, dengan pasir putihnya yang mempesona. Juga misteri dari benteng yang ada di pulau tersebut, memberikan aura yang berbeda. Namun tak mengurangi keindahan dari pulau para tahanan ini.



Berjalan mengelilingi sebagian pulau, melangkahkan kaki disetapak juga diantara kanan-kiri pepohohonan yang lebat, jalan yang becek, dan dinding-dinding benteng yang telah di selimuti tumbuhan. Juga lorong-lorong benteng yang gelap. 







Selain itu juga pemandangan indah pantainya dengan batu karang di sepanjang bibir pantai. Andai aku tidak sedang menstruasi, aku pasti sudah ikut melebur dengan air pantai di negri tahanan ini. Seperti kedua temanku Ardit n' Riwan yang sudah basah-basahan. Aku paling tidak tahan sebenarnya kalo gak ikut basah kuyup nyebur di pantai.




Ciyee suit suit ihirr ada yang pacaran nih, Reza Rafi Fadilah dan Fitria Susilowati alias Jambi.
Poto dipantai berdua, dengan pasirnya, air lautnya, karangnya jadi keinget dulu ada yang pernah nyatain cinta di pinggir pantai juga.
wkwkwkwk ngggg ya sudah lah
masa lalu men :))


Nih aku poto ekting galau dulu :))


Nah adegan ini jangan ditiru, emang aku anaknya gak bisa diem, jadi ada batang pohon meskipun itu tinggi juga wajib di coba.


Ini teman-teman yang sedang menikmati jajanan piknik, dan aku poto mereka dari atas pohon. Pada makan kacang n' pisang, nah aku yang diatas jelas jadi sasaran dari kedua makanan tersebut.
Moment tepat, makanannya pun tepat, posisiku juga tepat.
Siap deh di bully lagi -____-


Zzzztttttt nunggu yang lagi pada bersih-bersih diri, mending aku tiduran. 
Hikz gak puas rasanya karena gak ikut nyebur di pantai.


Belum puas satu pantai, kita jelajah pantai di Pulau Nusakambangan yang sebelahnya, kalo gak salah namanya Pulau KarangBolonk (maybe)
Meskipun cuma sebentar tapi paling tidak, karena jauh-jauh sudah nyebrang ke pulau tetangga ini, akan sangat rugi jika tidak melihat pantai yang disuguhkan.


Saatnya say good bye pada Pulau Nusakambangan dan keluar dari pulau, perahu Antonio diterpa hujan rintik-rintik ditambah dengan kecepatan perahu motor yang melaju membuat kami basah dan mata perih karena air laut.



Menginjak lagi Pulau Jawa, kami jajan tahu masak, makanan khas Cilacap, kalo di Sragen mungkin namanya tahu kupat. Rasanya enak dan murah, tapi tetap saja aku gak habis. Satu piring porsinya banyak men.
Kami jajan di pinggir pantai, sembari di bully -____-
huft gak di Semarang, di Blora, di Wonosobo, sepanjang perjalanan, Purbalingga, Purwokerto, dimana-mana, sampe Pulau Nusakambangan
dimanapun tempatnya, aku dibully adalah hiburannya. Hemb... (Kluthik kepala teman satu-satu)
Terkadang ada rasa sebal juga, tapi aku adalah orang yang tidak bisa marah. Kalo sudah seperti itu aku hanya bisa bilang Bully Tanda Sayang (emot melet)

Inilah saat kami di Benteng Pendem, kebersamaan kami dengan poto-poto.
Yey poto depat menyatukan kami :))






Nih poto-poto koplak kami, kampret aku malu gaya begitu. Tapi buat seru-seruan sih. Ardit juga udah berusaha sekoad tenaga men, ngatur camdig biar bisa otomatis berdiri moto sendiri, biar kita semua kumplit poto barengnya. 


Dan benginilah hasilnya miring-miring kaya orangnya :))
Tapi kebersamaan dan keseruannya memang tiada duanya kawan. 




Disinilah kami juga mengalami kenangan buruk, sayangnya aku tidak mengalami langsung karena saat itu aku tidak ikut sholat di mushola museum, aku ditemani Bahol jajan baju untuk adikku. Beh ketinggalan satu cerita nih?


Dan badan yang begitu lelah rupanya tak membuat semangat kami lelah juga, istirahat sebentar sambil bercanda-bercanda sudah mampu memelekkan kembali mata kami yang sempat sayu dan mengembangkan kembali mata kami.



 Perjalanan pun kami tutup, saatnya cuci piring untuk The Rampoks yang udah ngerampok di Rumah Reza. (sambil nempelin sticker di pintu rumah Reza, bertuliskan "rumah ini telah didatangi The Rampoks") hehe


Puas ngerampok sembari mBolank di Purbalingga, Purwokerto sampai Cilacap dan Pulau Nusakambangan.

Selanjutnya ke pulau mana lagi yah? Apakah, yang terdekat dan sudah menjadi target kami yaitu Karimun Jawa? Atau malah pulau impianku sejak dulu, Pulaunya Laskar Pelangi, Pulau Belitong? Atau mengikuti jejak kakak tingkatku, pergi ke Pulau Lombok? Kita lihat saja nanti kawan.
Sekarang saatnya gass pulank kembali ke Semarang :))
Bismillah....


Yehaaa salam sendok dan piring dari The Rampoks. Tunggu kisah perjalanan kami selanjutnya kawan.


To Be Continued . . . .


Tuesday, January 21, 2014

Laki-Laki Penyimpan Api

Kau laki-laki yang menyimpan api di kepalamu
Kau laki-laki yang menyapih rindu untukku
Kau laki-laki yang menggembala hatiku untukmu
Kau laki-laki yang terlanjur merentang spasi
Laki-laki yang memilih menggali air dalam mataku
Kau laki-laki itu
Yang berkali membuatku mengejanya dalam hati
Dan merasakannya dalam setiap inchi di hati
: L U K A


Sunday, January 12, 2014

Karena Sebuah Ruang


Wanita itu berjalan dengan menundukan kepalanya, melewati setiap bangsal-bangsal penuh raungan kesakitan yang terdengar begitu menyayat hati. Lalu saat dia telah berada di ujung lorong, ditatapnya pintu keluar yang berwarna putih dengan catnya yang masih baru. Sejenak dia betulkan genggaman tas yang ia pegang dan memastikan kunci mobilnya sudah ia masukan dalam tas. Menuju mobil putih yang terparkir diantara deretan mobilnya yang lain. Mengendarai dalam keadaan yang luar biasa carut-marut pikirannya tanpa ia sadari telah ada tangan jahat yang memotong rem mobilnya. Hingga saat mobilnya melaju dengan kencang di jalan tol dan rem yang jelas tidak berfungsi itu membuatnya menghantam pembatas jalan. Darah mengalir melewati pelipisnya dan malam naas itulah menjadi akhir cerita hidupnya.

Di sudut lain seorang wanita sedang berlari sekencangnya, hingga tersengal-sengal ia kehabisan nafas. Dibelakangnya beberapa laki-laki dengan postur dan perawakan besar mengejarnya dengan dipersenjatai pistol. Lalu beberapa detik kemudian terdengar bunyi ‘doorrr’ yang memecah hening malam. Sekejap saja wanita tadi sudah tergeletak dengan dada yang berlumuran darah. Melemahkan pandanganannya dan seluruh kesadarannya hingga dengan mudahnya jasad wanita tersebut dilemparkan ke sungai oleh pengejarnya.

Sudah hampir tengah malam saat Nindia menyelesaikan kedua cerpennya, dengan ending yang sama, yaitu kematian tokoh wanita. Dia klik tombol shut down lalu beranjak ketempat tidur dengan pikiran yang sudah diperas habis karena kegiatan seharian penuh yang begitu menyita tenaganya. Dan kasur empuk nyamannya dengan boneka beruang pink yang sudah sedari tadi merayunya. Namun dari ruang tengah terdengar suara benda keras dibanting lalu isakan tangis seorang wanita. Gadis yang sekarang masih duduk dibangku sma itu tak juga bergeming dengan keributan yang ada, karena memang ia sudah sangat terbiasa dengan suara-suara itu. Di atas meja belajarnya terdengar ada suara sms yang masuk, dengan sangat enggan dia bangun dan mengambil ponselnya. “Nin orang tua lu kurang kerjaan banget sih, jam segini berantem. Berisik tauk!!” begitu sms dari Agnes teman sekolahnya sekaligus rivalnya yang rumah mereka hanya dipisahkan dengan tembok setinggi pundak.

Begitu geram Nindia hingga ia banting ponselnya sendiri, malu jengkel dan begitu benci ia pada orang tuanya. Dibukanya pintu kamar dan dibantingnya. Didapatinya ruangan yang sudah sangat berantakan, perabot yang tak seberapa jumlahnya pecah berantakan dilantai, televisi juga sudah berpindah tempat. Ibunya meringkuk dipojokan sambil menangis memegangi perutnya. Bapaknya yang bau alkohol membentak-bentak sambil memukul ibunya. Nindia yang sudah mengenggam pisau mengacungkannya pada bapaknya, menyuruh diam dan berhenti. Namun bapaknya malah semakin marah dan kesetanan tidak bergeming pada ancaman anaknya sendiri.

Hingga dengan mudah pisau itu direbutnya lalu menikamnya keperut anaknya sendiri. Si ibu berteriak histeris sejadinya dan sang bapak terkaget karena darah keluar begitu banyaknya dari perut putri semata wayangnya. Seketika sang ibu memeluk anaknya lalu menangis memohon anaknya untuk berbicara namun percuma saja karena anaknya sudah tidak bernafas lagi.

Terbangun karena mimpi buruk, cukup membuat dia bercucuran air mata. Dia kembali mengalami mimpi-mimpi yang aneh, melihat begitu banyak kematian didalamnya. Dan dia seolah selalu menjadi tokoh pada setiap kematian itu dengan berbagai adegan. Tetapi dia jelas betul merasakan setiap ketakutan dan rasa sakitnya seperti nyata. Dia bangkit dari tempat tidur lalu ke dapur, menuangkan air putih memenuhi gelas dan meneguknya hingga tandas. Dilihatnya jam dinding yang menunjukan pukul dua dini hari, lalu dia lanjutkan tidurnya. Disampingnya suaminya masih dengan nyenyaknya tidur tak sedikitpun terganggu oleh dirinya yang terbangun karena mimpi buruk.

Paginya setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan dipamiti oleh suaminya untuk pergi ke kantor. Dia pun berdandan lalu pergi ke sebuah apartemen kamar nomor B76 seperti biasanya saat telah ditinggal suaminya. Disanalah dia bertemu dengan kekasihnya tanpa sepengetahuan suaminya. Setelah mengeluhkan berbagai hal pada kekasihnya dia pun menghempaskan diri di kasur. Laki-kali teman sekantornya dulu itu membuatkan segelas air sirup dan menyodorkannya untuk diminum. “Makasih sayang, emang cuma kamu yang ngerti aku” sambil diminumnya isi dalam gelas tersebut hingga habis. Tak lama setelah itupun dia terjatuh tak sadarkan diri. Laki-laki selingkuhannya itu ternyata belum puas dengan hanya membuatnya mati meminum racun tetapi juga berulang kali menikamnya dan memutilasinya. Mamotong-motong tubuh wanita selingkuhannya dengan dingin tanpa perasaan seperti ia sedang memotong wortel.


Disebuah ruangan berukuran kotak, seorang gadis menangis. Dia berlari kearah pintu dan mengoyak-oyak pintu yang berbentuk seperti jeruji besi kurungan penjara. “Tolong saya, saya baru saja mendapat mukjizat. Saya bisa melihat seorang dokter aborsi yang mati karena kecelakaan tapi sebenarnya dia dibunuh. Lalu saya juga melihat wanita mafia itu dibunuh dan mayatnya dibuang di kali. Juga gadis yang dibunuh oleh bapaknya sendiri. Dan juga seorang wanita yang diracun lalu dimutilasi selingkuhannya di sebuah kamar apartemen. Tolong keluarkan saya dokter, suster kalian harus percaya.” Sambil berteriak-teriak gadis yang berpakaian putih itu mulai membentur-benturkan kepalanya ke pintu besi.

Dokter yang melihat itu langsung membuka kunci pintu dan setelah masuk dengan beberapa suster, dia pun menyuntikan semacam obat penenang. Tak pelak membuat gadis yang sudah 6 tahun menderita penyakit mental yang dinamakan skizofrenia itu pun tertidur.


“Kemarin ia berpikir bahwa dia ikut tenggelam dalam Kapal Titanic, sekarang dia berpikir bahwa dia bisa melihat banyak pembunuhan. Tolong Suster Ani jangan ajak dia menonton berita kriminal di TV lagi.” Kata dokter Rumah Sakit Jiwa Tangerang Pusat pada salah satu bawahannya.
“Iya Dok, maafkan saya.” Jawab suster berwajah keibuan itu.


Menata kembali impianku

Setiap orang pasti memiliki impian atau cita-cita, begitupun aku. Impianku begitu banyak tapi impian yang terbesarku cuma satu yaitu menjadi seorang guru. Diawal-awal masuk bangku perkuliahan aku masih cukup mengingat impian ini, tapi semakin lama semakin memudar. Bahkan aku melupakannya, hingga diawal tahun kedua perkuliahan ini aku kembali mengingat impian terbesarku itu. Aku bersyukur aku sudah tersadar pada tujuan awal aku berada di sini. Universitas Negeri Semarang, jurusan Sejarah, prodi Pendidikan Sejarah.

Banyak faktor yang membuatku terlena, menjadi mahasiswa dengan segala kebebasan karena berada jauh dari orang tua dirumah, memegang uang sendiri, memiliki kendaraan dengan bensin yang selalu mencukupi untuk aku bisa pergi kemanapun sekehendak hatiku. Aku tidak menyalahkan aku karena aku suka berpetualang, suka berpergian dan suka mbolank, karena memang sejak dulu itu kesukaanku, hanya sekarang aku rasa tingkatannya sudah over dosis. Tidak mengenal waktu bahkan sudah mengganggu kuliahku.

Aku mulai tidak serius kuliah, jika saat maba (baca:mahasiswa baru) dulu aku selalu bangun jam 3 pagi untuk belajar. Karena itu memang menjadi kebiasaanku sudah sejak aku masih sekolah. Tapi sekarang malah jam segitu aku baru memulai tidur. Pergaulan dan pandanganku tentang kuliah juga sudah melenceng, memang sejak awal bukan IP yang aku kejar, tapi pengalaman dan banyak teman serta pemahaman. Mungkin aku bisa dibilang cukup sukses untuk yang pertama dan kedua, tapi yang ketiga? Nol besar alias nihil. Jika dalam otakku ada ruang yang berjudul materi kuliah sejarah, maka mungkin isinya hanya satu atau dua larik paragraf tentang sejarah.

"Namaku intan wahyuningsih, saya berasal dari sragen sekarang saya kuliah di universitas negeri semarang jurusan sejarah. Saya bersyukur bisa masuk jurusan sejarah, bukan karena saya senang dengan pelajarannya, tapi disana ada banyak teman-teman yang gokil-gokil..." ini adalah tulisan dari Riwan Sutandi teman kuliahku, sekaligus aku anggap pendapat dia tentang aku. Jika teman dekatku sendiri menyimpulkan aku seperti itu maka memangkah aku seperti itu? Begitukah aku? Aku bisa saja menyalahkan dia “sok tahu” tapi memang itulah pandangan dia mengenai aku. Mungkin tak semuanya benar, tapi bisa disimpulkan bahwa fakta dilapangan dan yang dia lihat aku memang seperti itu. Hal ini membuat aku sadar, aku terlalu banyak bermain-main saat kuliah.

Jika yang lain ditanya “kenapa memilih sejarah?” pasti diantara sekian banyak jawaban, ada yang bilang “salah klik” tapi sumpah tak terbersit sedikitpun dibenakku mengenai itu. Aku memilih sejarah karena aku memang menyukai pelajaran ini. Nilai sejarahku di SMA juga selalu menjadi yang terbaik. Rasanya sekarang seperti aku lebih baik yang dulu saat masih dipanggil siswa daripada mahasiswa.

Aku di bangku kuliah: tak sedikitpun meraup ilmu dan pengetahuan mengenai sejarah, tak suka membaca bukunya, tak menyimak dengan baik saat dosen menerangkan tentang sejarah, mengerjakan tugas dengan asal-asalan dan yang paling kacau, aku tak lagi suka belajar sejarah. Melalaikan semua kewajibanku. Maka masihkah ada yang percaya saat aku katakan bahwa impianku adalah menjadi seorang guru?

Memang saat ini aku sudah benar berada di jalur tersebut, jalur untuk menjadi guru. Tetapi ibarat sebuah jalan, aku memang tengah melewati jalan yang benar tetapi dengan mata yang tertutup dan pikiranku tidak berada disitu tetapi di jalan yang lain. Konser, pertandingan bola, dunia perkumpulan yang tak jelas arahnya, pergi-pergi yang tak jelas manfaatnya. Semua begitu over dosis!

Aku menangis saat ini, mengingat orang tuaku yang direwangi rekoso mencari uang untukku agar aku tetap bisa mengejar cita-citaku. Apalagi dulu ada pertentangan dari ibuku, saat aku bilang cita-citaku menjadi guru, beliau tidak suka aku menjadi guru. Keluargaku lebih ingin aku bekerja didunia kesehatan karena memang banyak dari keluargaku yang bekerja dikesehatan. Bapakku yang bekerja di Dinas Kesehatan dengan banyak koneksi disana-sini jelas akan lebih mudah mencarikanku peluang bekerja di dunia itu. Terlebih memang dulu aku sudah sempat diterima di S1 Apoteker sebuah universitas swasta ternama di Kota Solo yang notabene sangat sulit untuk dimasuki. Tapi bukan hanya sekedar dengan omongan namun juga dengan tidakan aku bisa membuat ibuku luluh dan keluargaku berbalik malah begitu bersyukur saat aku diterima di Unnes untuk menjadi seorang guru.

Tapi sekarang semua terasa seperti aku tengah menyia-nyiakan perjuanganku sendiri untuk bisa diterima di Unnes ini serta perjuanganku untuk meyakinkan orang tuaku agar aku diperbolehkan mengejar cita-citaku menjadi seorang guru.

Kumulai kembali sekarang, mengingat impian yang sudah sejak dulu tertanam dan berusaha mewujudkannya. Bisa membagikan ilmu pada murid-murid ku kelak, mengajar di daerah yang masih kekurangan dan jauh dari ketercukupan. Murid-murid dengan segala keterbatasan tetapi memiliki begitu besar keinginan untuk belajar. Aku sungguh ingin berbagi ilmu dengan mereka, tetapi akan layak kah saat aku sendiri saja masih jauh dari yang dinamakan guru? Guru dalam istilah Jawa berarti digugu dan ditiru. Sudah pantaskan aku untuk itu?

Perjalanan masih panjang dan aku dengan menggenggam ketersadaran ini akan berusaha kembali membuka mata serta menaruh lagi pikiranku pada jalur yang benar. Menata waktu belajarku yang selama ini sudah mocar-macir tidak karuan. Kembali dengan kemantapan hati untuk mengejar impian terbesarku yaitu menjadi seorang guru.








Suatu siang selepas ujian akhir semester setelah menonton lagi Film Laskar Pelangi.


Semarang, 11 Januari 2014

Wednesday, January 8, 2014

Penghianat

Ternyata orang lain yang berusaha menghancurkan kita itu tidak semudah ketika orang terdekat kita yang berusaha menghancurkan kita. Aku sudah cukup mengalami dan merasakan tentang hal ini, orang yang sudah benar-benar dekat dengan aku, paham segala keburukanku, paham segala yang membuat aku senang dan sedih. Dengan gampang mampu menghancurkan aku daripada orang yang sama sekali tidak mengetahui tentang aku.

Kasusnya begini, kamu perlu waspada ketika ada seorang teman yang dengan mudahnya menjelek-jelekan teman yang notabene teman dia sendiri di depan kamu. Bukan tidak mungkin dia juga akan menjelek-jelekan kamu didepan orang lain. Akan sangat mudah hal seperti itu terjadi, dulu aku pernah terseret dalam kebusukan seperti itu. Ketika seorang teman yang bercerita kejelekan temannya sendiri didepanku, aku percaya saja pada ceritanya, tanpa paham betul sifat orang dalam cerita tersebut. Hingga aku ikut membenci orang tersebut, namun kenyataannya dia serang balik aku ke temannya tersebut dengan hal yang sama. Disebut adu domba kah yang seperti itu? Devide et impera seperti mereka Bangsa Belanda terhadap Indonesia? Disebut penghianat kah yang seperti itu?

Jadi intinya orang yang mudah membuka keburukan orang lain didepan kita, akan sangat mudah juga membuka keburukan kita didepan orang lain.


Monday, January 6, 2014

Survey Blora



Meskipun aku bukan dari Divisi Rajawali atau Divisi Penjelajahan namun aku diajak ketua dari divisi tersebut untuk ikut dalam survey ke Blora. Karena memang tugas dari divisi ini adalah melakukan survey tempat sebelum lawatan.

Setelah acara Pelatsa (Pelatihan Kesehatan Exsara) selesai, kami berunding tentang keberangkatan survey siang nanti sehabis Zuhur. Sebenarnya aku tidak ada rencana sama sekali pergi ke Blora, bahkan aku baru tahu saat diajak oleh Ketua Divisi Rajawali (Mas Bayu). Rasanya mendadak sekali, aku juga tidak langsung mengiyakan ajakan tersebut “Aku kan Merpati mas, mosok yo melu survey” kataku dengan spontan menanggapi ajakan dari Mas Bayu. Namun setelah aku pikir, aku belum pernah ke Blora dan aku juga sangat ingin pergi menghilangan penat yang memekat lekat di pikiran minggu belakangan ini. Jadi kuputuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut.

Pergi dengan tiga motor dan kami berenam pun menembus gerimis dari Unnes. Kata Mas Buduk “Jangan jadikan hujan sebagai halangan, tapi jadikan hujan sebagai tantangan” dan saat kata ‘tantangan’ tersebut aku pun ikut berkata. Karena kalimat tersebut memang sudah sering aku dengar dari dia. Dalam survey ini ada aku, Ardit, Riwan, Bahol, Mas Bayu dan Mas Buduk.

Pemberhentian pertama adalah SPBU Sampangan yang letaknya dibawah kampusku, untuk pengisian energi motor-motor kami. Lalu setelah itu tancap gas menuju Kota Sweikee Purwodadi. Selain mengisi bensin lagi juga untuk Sholat Ashar dan yang tak pernah kulupakan saat wudhu air krannya berasa seperti air belerang, berbau dan berasa. Cukup ragu apakah harus sholat disitu atau tidak, tetapi aku rasa Allah akan memaklumi dan daripada menunda sholat jadi kulakukan 4 raka’at di mushola SPBU tersebut.

Hujan tetap saja menderas sepanjang perjalanan hingga sampai di Alun-Alun Purwodadi, kali memarkirkan motor di parkiran masjid sebelah alun-alun. Lalu makan nasi kucing yang ada di dekat masjid. “Gak di Semarang, Gak di Purwodadi, makannya nasi kucing lagi” candaan dari Hap alias Riwan. Namun aku rasa memang beginilah Exsara dengan kesederhanaannya, karena nasi kucing memang porsiku. Meski ada celetuk juga “Nasi kucing aja tidak abis.” Yahh.. mau bagaimana kouta perutku memang segitu. Tak ketinggalan kami memutari alun-alun dibawah gerimis, tak lupa juga untuk mengabadikan sejarah pertama di Purwodadi dengan berpoto.


Sudah cukup malam ketika memasuki Blora. Ardit yang memboncengkan aku pun berteriak girang dengan semangatnya ketika melihat gapura yang bertuliskan BLORA MUSTIKA. Rasanya seperti menghapus segala lelah perjalanan karena kami melewati jalan yang begitu banyak lubang disana sini ditambah dengan hujan yang tak henti. Cukup memberikan rasa ngeri juga saat berkali-kali motor menerjang lubang. Namun kewaspadaan dan selalu percaya pada perlindungan-Nya tak pernah kami lepas.

Yang pertama kami tuju adalah Masjid Agung Blora yang berada di sebelah Alun-Alun Blora, beristirahat dengan baju dan celana yang basah.

Setelah sholat dan meminta izin dari takmir untuk menginap di masjid, kami pun jalan-jalan dibawah gerimis. Dan ternyata sedang ada konser Edane di sana, nonton sebentar lalu lanjut ke kucingan lagi. The Real Exsara J





Menuju tengah malam kami membahas objek-objek mana saja yang akan dijadikan tempat lawatan.

Tidur di beranda masjid dan mendapat kebaikan hati dari takmirnya yang meminjami kami tikar untuk tidur.

Paginya kami dapat CFD di alun-alun Blora, lari-lari pagi sambil foto-foto juga dan sarapan nasi kuning.



Bercanda, saling bercerita namun juga menjadi bahan bully-an, cukup menyenangkan sekaligus menyebalkan. Dari alun-alun Blora Hap hap beli keong lukis sampai sepuluh ribu. Entah sekarang masih hidup atau sudah mati semua.


Setelah dengan perundingan, kami pun menuju tempat pertama yaitu Perpustakaan Pataba. Disana kebetulan sekali bertemu pemilik dari Museum Mahameru yang mendaji tujuan kedua. Di Pataba kami benar-benar disambut dengan kehangatan dan keramahan dari Pak Soes adik Pramodya, selain itu juga disuguhi nasi pecel untuk sarapan. Mendapatkan banyak sekali pengetahuan, semoga tidak mengukung pemikiran tapi menjadi pencerah.


Selanjutnya survey ke Mahameru lalu perjalanan jauh ke Cepu di Situs Wura-wuri dan Pesanggrahan Arya Panangsang. Jarak dari Blora ke Cepu ternyata sangat jauh. Disana pun tidak ketemu Situs Wura-wuri yang dicari, hanya sampai di pesanggrahan namun juga tidak banyak yang bisa didapat dari sana.


Capek dengan perjalanan Blora-Cepu yang ternyata jauh, maka kami putuskan untuk bertamasya ke Waduk, dan Waduk Tempuran adalah pilihan kami.





Setelah puas poto-poto dan jajan di waduk kupikir kami akan pulang, ternyata masih mampir di Waduk Greneng. Lalu baru pulang kembali ke Semarang.



Meskipun dengan perjalanan yang begitu melelahkan namun aku rasa pergi dengan orang-orang yang tepat menjadikan semua rasa lelah tidak terasa. Canda tawa yang selalu ada, sungguh menjadi obat paling ampuh :)

Teruntuk Cinta

Teruntuk cinta yang tergesa mengemasi diri dari hati
Sebaiknya jangan pergi
Cukup sembunyi di sisi sini
Dalam hati




(Mencintai dalam diam)

Rindukan Puisi

Rindu aku berpuisi, merias kata
dengan metafora.

Namun puisi, rindukah kau padaku?



Sunday, January 5, 2014

Malas pun bertugas

Malam kembali menghujam dan meski sudah selarut ini tak juga satupun tugas kuliah yang kusentuh.
Hampir tengah malam, hati yang terusik untuk segera menyelesaikan tugas yang akan dikumpulkan besok semakin mengganggu.
Namun aku yang berkawan rasa malas jauh lebih berkuasa daripada rasa takut jika tugas tak mampu kelar tepat waktu.
Alhasil yang kukerjakan meski didepan leptop adalah membuka layar facebook, twitter, berbenah blog, bahkan membuat akun tumblr. 
Intinya aku malah bermain-main dengan apa yang ditawarkan internet.
Jika seperti ini aku jadi teringat dengan kartun pagi yang tokohnya berwarna kuning, yupz right, namanya Spongebob.
Dia juga sama seperti aku menunda-nunda tugas.
Bisa disebut santaikah yang seperti itu?
Sepertinya bukan itu, tapi aku pemalas.
Sebuah sifat yang tidak terpuji, yang dapat menghasilkan dan membuat pribadiku buruk.
Bagaimana cara membunuhnya?
Sampai saat ini aku belum tahu caranya dan aku rasa itu adalah musuh terbesarku sejak dulu.
Sedangkan detik semakin menyusut, mengingatkanku pada lembar-lembar tugas yang masih bersih.
Juga pada ujian akhir semester tiga yang datang besok, sama sekali tak terpikir karena aku begitu tersita oleh pikiran-pikiran tentang tugas.
Saat seperti ini, tepat sekali kalimat klise yang sering diucapkan temanku, bahwa "tugas itu bukan dipikirkan, tapi dikerjakan."
(Menghela nafas) malas rasanya mau ngerjain tugas. Tapi sepertinya rasa malas yang lebih rajin bertugas membuatku tak mampu melawan kemalasan dalam diriku sendiri.



Kau Seperti Angin


Biar kusimak, segala rayuan hembus angin dari balik sudut mataku
Aku cemas, justru ketika angin tiba-tiba diam saat kurayu balik ia
Namun isyarat itu tak pernah mampu aku tebak kebenarannya
Hanya mampu kureka-reka kemana arah angin ini berhembus
Akankah menjadi beliung nan anggun atau topan badai
Aku tak pernah benar-benar tahu
Sampai kapan ini hanya akan menjadi rasa tanpa mampu kukecap
Manjadi tiupan yang terasa tanpa mampu kulihat
Hanya merasakan tanpa benar-benar mampu ku genggam, atau sekedar menyentuhnya
Entah
Dimana ujungnya, bahkan awalnya pun aku tak tahu
Angin bisakah kau beritahu aku
Dimana harus kucari jawaban itu
Jika dalam potongan monolog yang lalu peranku bersama air lalu api
Maka sudah kupastikan kau itu selalu seperti angin
Angin, yang mampu membasuh memandikan luka-lukaku
Namun juga angin yang datang dan pergi sekehendaknya
Yang terkadang meninggalkan ku tanpa candaan sepoi menggelitik itu
Enyah tak berbekas begitu lalu berlalu
Lenyap tak berpamit
Hingga tiba-tiba datang menyapaku dengan sejuta misteri
Dan memberiku efek bahagiya tiada tara
Selalu seperti itu
Bergulir bergantian sesukamu



Dari sudut mataku di Gedung A3 FIP UNNES
"ternyata ini malam minggu"
Semarang, 04 Januari 2014


Saturday, January 4, 2014

inilah aku dan perjalanan: Kebumen 2013 the rampok's

Karena dalam perjalanan yang sama, jadi sukses membuat aku malas menuliskannya lagi.
Untuk kisah selengkapnya silahkan baca di blog dari teman seperjalananku ini, blog milik Riwan Sutandi
Klik =>> inilah aku dan perjalanan: Kebumen 2013 the rampok's:


inilah aku dan perjalanan: Temanggung 2013 the rampok's

Karena kisahnya sama jadi aku numpang cerita saja dari blog milik Riwan Sutandi.
Klik =>> inilah aku dan perjalanan: Temanggung 2013 the rampok's