Setiap orang pasti memiliki impian atau
cita-cita, begitupun aku. Impianku begitu banyak tapi impian yang terbesarku
cuma satu yaitu menjadi seorang guru. Diawal-awal masuk bangku perkuliahan aku
masih cukup mengingat impian ini, tapi semakin lama semakin memudar. Bahkan aku
melupakannya, hingga diawal tahun kedua perkuliahan ini aku kembali mengingat
impian terbesarku itu. Aku bersyukur aku sudah tersadar pada tujuan awal aku
berada di sini. Universitas Negeri Semarang, jurusan Sejarah, prodi Pendidikan Sejarah.
Banyak faktor yang membuatku terlena,
menjadi mahasiswa dengan segala kebebasan karena berada jauh dari orang tua
dirumah, memegang uang sendiri, memiliki kendaraan dengan bensin yang selalu
mencukupi untuk aku bisa pergi kemanapun sekehendak hatiku. Aku tidak
menyalahkan aku karena aku suka berpetualang, suka berpergian dan suka mbolank,
karena memang sejak dulu itu kesukaanku, hanya sekarang aku rasa tingkatannya
sudah over dosis. Tidak mengenal
waktu bahkan sudah mengganggu kuliahku.
Aku mulai tidak serius kuliah, jika saat
maba (baca:mahasiswa baru) dulu aku selalu bangun jam 3 pagi untuk belajar.
Karena itu memang menjadi kebiasaanku sudah sejak aku masih sekolah. Tapi
sekarang malah jam segitu aku baru memulai tidur. Pergaulan dan pandanganku tentang
kuliah juga sudah melenceng, memang sejak awal bukan IP yang aku kejar, tapi
pengalaman dan banyak teman serta pemahaman. Mungkin aku bisa dibilang cukup
sukses untuk yang pertama dan kedua, tapi yang ketiga? Nol besar alias nihil.
Jika dalam otakku ada ruang yang berjudul materi kuliah sejarah, maka mungkin
isinya hanya satu atau dua larik paragraf tentang sejarah.
"Namaku intan wahyuningsih, saya berasal dari sragen
sekarang saya kuliah di universitas negeri semarang jurusan sejarah. Saya
bersyukur bisa masuk jurusan sejarah, bukan karena saya senang dengan
pelajarannya, tapi disana ada banyak teman-teman yang gokil-gokil..." ini adalah tulisan dari Riwan Sutandi teman kuliahku, sekaligus
aku anggap pendapat dia tentang aku. Jika teman dekatku sendiri menyimpulkan
aku seperti itu maka memangkah aku seperti itu? Begitukah aku? Aku bisa saja
menyalahkan dia “sok tahu” tapi memang itulah pandangan dia mengenai aku.
Mungkin tak semuanya benar, tapi bisa disimpulkan bahwa fakta dilapangan dan
yang dia lihat aku memang seperti itu. Hal ini membuat aku sadar, aku terlalu banyak
bermain-main saat kuliah.
Jika yang lain ditanya “kenapa memilih
sejarah?” pasti diantara sekian banyak jawaban, ada yang bilang “salah klik”
tapi sumpah tak terbersit sedikitpun dibenakku mengenai itu. Aku memilih
sejarah karena aku memang menyukai pelajaran ini. Nilai sejarahku di SMA juga
selalu menjadi yang terbaik. Rasanya sekarang seperti aku lebih baik yang dulu
saat masih dipanggil siswa daripada mahasiswa.
Aku di bangku kuliah: tak sedikitpun
meraup ilmu dan pengetahuan mengenai sejarah, tak suka membaca bukunya, tak
menyimak dengan baik saat dosen menerangkan tentang sejarah, mengerjakan tugas
dengan asal-asalan dan yang paling kacau, aku tak lagi suka belajar sejarah.
Melalaikan semua kewajibanku. Maka masihkah ada yang percaya saat aku katakan
bahwa impianku adalah menjadi seorang guru?
Memang saat ini aku sudah benar berada
di jalur tersebut, jalur untuk menjadi guru. Tetapi ibarat sebuah jalan, aku
memang tengah melewati jalan yang benar tetapi dengan mata yang tertutup dan
pikiranku tidak berada disitu tetapi di jalan yang lain. Konser,
pertandingan bola, dunia perkumpulan yang tak jelas arahnya, pergi-pergi yang
tak jelas manfaatnya. Semua begitu over
dosis!
Aku menangis saat ini, mengingat orang
tuaku yang direwangi rekoso mencari
uang untukku agar aku tetap bisa mengejar cita-citaku. Apalagi dulu ada
pertentangan dari ibuku, saat aku bilang cita-citaku menjadi guru, beliau tidak
suka aku menjadi guru. Keluargaku lebih ingin aku bekerja didunia kesehatan
karena memang banyak dari keluargaku yang bekerja dikesehatan. Bapakku yang
bekerja di Dinas Kesehatan dengan banyak koneksi disana-sini jelas akan lebih
mudah mencarikanku peluang bekerja di dunia itu. Terlebih memang dulu aku sudah
sempat diterima di S1 Apoteker sebuah universitas swasta ternama di Kota Solo
yang notabene sangat sulit untuk dimasuki. Tapi bukan hanya sekedar dengan
omongan namun juga dengan tidakan aku bisa membuat ibuku luluh dan keluargaku
berbalik malah begitu bersyukur saat aku diterima di Unnes untuk menjadi
seorang guru.
Tapi sekarang semua terasa seperti aku
tengah menyia-nyiakan perjuanganku sendiri untuk bisa diterima di Unnes ini
serta perjuanganku untuk meyakinkan orang tuaku agar aku diperbolehkan mengejar
cita-citaku menjadi seorang guru.
Kumulai kembali sekarang, mengingat
impian yang sudah sejak dulu tertanam dan berusaha mewujudkannya. Bisa
membagikan ilmu pada murid-murid ku kelak, mengajar di daerah yang masih
kekurangan dan jauh dari ketercukupan. Murid-murid dengan segala keterbatasan
tetapi memiliki begitu besar keinginan untuk belajar. Aku sungguh ingin berbagi
ilmu dengan mereka, tetapi akan layak kah saat aku sendiri saja masih jauh dari
yang dinamakan guru? Guru dalam istilah Jawa berarti digugu dan ditiru. Sudah pantaskan aku untuk itu?
Perjalanan masih panjang dan aku dengan
menggenggam ketersadaran ini akan berusaha kembali membuka mata serta menaruh
lagi pikiranku pada jalur yang benar. Menata waktu belajarku yang selama ini
sudah mocar-macir tidak karuan. Kembali dengan kemantapan hati untuk mengejar
impian terbesarku yaitu menjadi seorang guru.
Suatu siang selepas ujian akhir semester
setelah menonton lagi Film Laskar Pelangi.
Semarang, 11 Januari 2014

No comments:
Post a Comment