Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Sunday, January 12, 2014

Menata kembali impianku

Setiap orang pasti memiliki impian atau cita-cita, begitupun aku. Impianku begitu banyak tapi impian yang terbesarku cuma satu yaitu menjadi seorang guru. Diawal-awal masuk bangku perkuliahan aku masih cukup mengingat impian ini, tapi semakin lama semakin memudar. Bahkan aku melupakannya, hingga diawal tahun kedua perkuliahan ini aku kembali mengingat impian terbesarku itu. Aku bersyukur aku sudah tersadar pada tujuan awal aku berada di sini. Universitas Negeri Semarang, jurusan Sejarah, prodi Pendidikan Sejarah.

Banyak faktor yang membuatku terlena, menjadi mahasiswa dengan segala kebebasan karena berada jauh dari orang tua dirumah, memegang uang sendiri, memiliki kendaraan dengan bensin yang selalu mencukupi untuk aku bisa pergi kemanapun sekehendak hatiku. Aku tidak menyalahkan aku karena aku suka berpetualang, suka berpergian dan suka mbolank, karena memang sejak dulu itu kesukaanku, hanya sekarang aku rasa tingkatannya sudah over dosis. Tidak mengenal waktu bahkan sudah mengganggu kuliahku.

Aku mulai tidak serius kuliah, jika saat maba (baca:mahasiswa baru) dulu aku selalu bangun jam 3 pagi untuk belajar. Karena itu memang menjadi kebiasaanku sudah sejak aku masih sekolah. Tapi sekarang malah jam segitu aku baru memulai tidur. Pergaulan dan pandanganku tentang kuliah juga sudah melenceng, memang sejak awal bukan IP yang aku kejar, tapi pengalaman dan banyak teman serta pemahaman. Mungkin aku bisa dibilang cukup sukses untuk yang pertama dan kedua, tapi yang ketiga? Nol besar alias nihil. Jika dalam otakku ada ruang yang berjudul materi kuliah sejarah, maka mungkin isinya hanya satu atau dua larik paragraf tentang sejarah.

"Namaku intan wahyuningsih, saya berasal dari sragen sekarang saya kuliah di universitas negeri semarang jurusan sejarah. Saya bersyukur bisa masuk jurusan sejarah, bukan karena saya senang dengan pelajarannya, tapi disana ada banyak teman-teman yang gokil-gokil..." ini adalah tulisan dari Riwan Sutandi teman kuliahku, sekaligus aku anggap pendapat dia tentang aku. Jika teman dekatku sendiri menyimpulkan aku seperti itu maka memangkah aku seperti itu? Begitukah aku? Aku bisa saja menyalahkan dia “sok tahu” tapi memang itulah pandangan dia mengenai aku. Mungkin tak semuanya benar, tapi bisa disimpulkan bahwa fakta dilapangan dan yang dia lihat aku memang seperti itu. Hal ini membuat aku sadar, aku terlalu banyak bermain-main saat kuliah.

Jika yang lain ditanya “kenapa memilih sejarah?” pasti diantara sekian banyak jawaban, ada yang bilang “salah klik” tapi sumpah tak terbersit sedikitpun dibenakku mengenai itu. Aku memilih sejarah karena aku memang menyukai pelajaran ini. Nilai sejarahku di SMA juga selalu menjadi yang terbaik. Rasanya sekarang seperti aku lebih baik yang dulu saat masih dipanggil siswa daripada mahasiswa.

Aku di bangku kuliah: tak sedikitpun meraup ilmu dan pengetahuan mengenai sejarah, tak suka membaca bukunya, tak menyimak dengan baik saat dosen menerangkan tentang sejarah, mengerjakan tugas dengan asal-asalan dan yang paling kacau, aku tak lagi suka belajar sejarah. Melalaikan semua kewajibanku. Maka masihkah ada yang percaya saat aku katakan bahwa impianku adalah menjadi seorang guru?

Memang saat ini aku sudah benar berada di jalur tersebut, jalur untuk menjadi guru. Tetapi ibarat sebuah jalan, aku memang tengah melewati jalan yang benar tetapi dengan mata yang tertutup dan pikiranku tidak berada disitu tetapi di jalan yang lain. Konser, pertandingan bola, dunia perkumpulan yang tak jelas arahnya, pergi-pergi yang tak jelas manfaatnya. Semua begitu over dosis!

Aku menangis saat ini, mengingat orang tuaku yang direwangi rekoso mencari uang untukku agar aku tetap bisa mengejar cita-citaku. Apalagi dulu ada pertentangan dari ibuku, saat aku bilang cita-citaku menjadi guru, beliau tidak suka aku menjadi guru. Keluargaku lebih ingin aku bekerja didunia kesehatan karena memang banyak dari keluargaku yang bekerja dikesehatan. Bapakku yang bekerja di Dinas Kesehatan dengan banyak koneksi disana-sini jelas akan lebih mudah mencarikanku peluang bekerja di dunia itu. Terlebih memang dulu aku sudah sempat diterima di S1 Apoteker sebuah universitas swasta ternama di Kota Solo yang notabene sangat sulit untuk dimasuki. Tapi bukan hanya sekedar dengan omongan namun juga dengan tidakan aku bisa membuat ibuku luluh dan keluargaku berbalik malah begitu bersyukur saat aku diterima di Unnes untuk menjadi seorang guru.

Tapi sekarang semua terasa seperti aku tengah menyia-nyiakan perjuanganku sendiri untuk bisa diterima di Unnes ini serta perjuanganku untuk meyakinkan orang tuaku agar aku diperbolehkan mengejar cita-citaku menjadi seorang guru.

Kumulai kembali sekarang, mengingat impian yang sudah sejak dulu tertanam dan berusaha mewujudkannya. Bisa membagikan ilmu pada murid-murid ku kelak, mengajar di daerah yang masih kekurangan dan jauh dari ketercukupan. Murid-murid dengan segala keterbatasan tetapi memiliki begitu besar keinginan untuk belajar. Aku sungguh ingin berbagi ilmu dengan mereka, tetapi akan layak kah saat aku sendiri saja masih jauh dari yang dinamakan guru? Guru dalam istilah Jawa berarti digugu dan ditiru. Sudah pantaskan aku untuk itu?

Perjalanan masih panjang dan aku dengan menggenggam ketersadaran ini akan berusaha kembali membuka mata serta menaruh lagi pikiranku pada jalur yang benar. Menata waktu belajarku yang selama ini sudah mocar-macir tidak karuan. Kembali dengan kemantapan hati untuk mengejar impian terbesarku yaitu menjadi seorang guru.








Suatu siang selepas ujian akhir semester setelah menonton lagi Film Laskar Pelangi.


Semarang, 11 Januari 2014

No comments:

Post a Comment