Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Sunday, May 10, 2015

Radio Dalam Kepalaku

Pulang, menjadi satu kata yang begitu penuh arti buatku. Sambil memandangi sudut lemari yang di dalamnya sudah kosong tanpa isi, karena memang sudah berpindah semua dalam dua koper yang berukuran cukup besar. Aku duduk di samping tempat tidur sambil memilin-milin seprainya yang putih bersih karena selalu rutin dicuci seminggu sekali. Berbagai perasaan berkecamuk dalam pikiranku.

Dua jam aku menunggu penjemputanku, tapi aku rasa memang aku yang berlabihan dalam menunggu. Karena memang mereka mengabariku akan menjemputku sore nanti selepas Isyak tapi sepagi ini aku sudah selesai bersiap-siap. Aku rasa memang sejak kecil aku adalah orang tergesa-gesa, aku lebih baik menungu daripada membuat orang lain menunggu. Meskipun sebenarnya aku paling tidak suka menunggu tapi aku adalah orang yang paling sabar jika disuruh menunggu. Entahlah, tapi dari situ aku teringat kata-kata dari nenekku “mending nyegat ketimbang kelewat”.

Bosan duduk mematung di pinggiran tempat tidur aku beralih duduk di bawah sambil memegangi buku dengan sampul coklat yang diberikan oleh Ayahku. Kubuka halaman pertamanya, hanya terdapat satu bulatan hitam yang tidak jelas juga bercak-bercak darah. Lalu bergantian aku melihat pergelangan tanganku, yang karena inilah bercak darah tersebut ada.

Aku sangat paham sekali seluruh isi dari buku ini. Mulai dari halaman pertama sampai saat ini hampir penuh aku sendiri yang mengisi buku sampul coklat. Kuanggap buku ini adalah buku harianku, walau pada awalnya aku tidak punya selera sama sekali untuk menulis.

Membuka halaman demi halaman membuatku kembali mengingat awal yang bagitu muram pada suatu siang jauh sebelum aku berada di sini. Pada saat itu entah sudah kesekian kalinya aku gagal diterima menjadi seorang penyiar radio. Aneh mungkin bagi kebanyakan orang, disaat orang lain bercita-cita tinggi dan besar tapi aku hanya memiliki satu cita-cita yaitu sebagai penyiar radio. Tetapi ternyata cita-cita sesederhana itu saja aku tidak dapat menggapainya meskipun aku sendiri sudah mengambil kuliah penyiaran di salah satu Universitas Swasta yang terbaik di Kota Solo.


Mungkin dari situlah awal mula aku berteman dengan suara-suara yang aku temui sepulang dari interview di Stasiun Radio di kota kecilku. Aku berpikir dengan mendaftar kerja di radio kecil di kota tinggalku yang juga cukup kecil dapat menjadi awal yang baik untukku memulai menjadi penyiar, karena aku rasa persaingannya tidak terlalu ketat dan dengan begitu artinya peluangku untuk diterima cukup besar. Tetapi ternyata bahkan untuk lingkup yang kecil saja aku tidak bisa diterima, aku benar-benar kecewa.

Sambil memeluk berkas-berkas pendaftaran dalam satu map berwarna merah jambu aku berjalan dengan tatapan kosong. Bukanya menyegat angkot, aku malah memilih untuk terus berjalan sambil berpikir lalu diakhiri dengan menghela nafas dan menghembuskannya seolah itu adalah hembusan terakhirku. Saat itulah suara itu pertama kali datang, keluar dari sudut map yang aku peluk. “Kamu benar-benar tidak kompeten, cuma disuruh bicara di radio saja tidak becus” suara itu benar-benar keras, aku melihat orang di sekitarku apakah mereka juga mendengar suara itu atau tidak, tetapi aku melihat mereka mengacuhkanku. Lalu seperti mengerti jalan pikiranku suara tersebut kembali menyahut “tidak ada satupun dari mereka yang mendengarku, hanya kamu yang dapat mendengarku.” Tanpa henti suara itu terus-terusan berbicara, “Kamu tahu kenapa? Karena aku adalah suara dari kegagalanmu. Mereka bukan orang yang gagal jadi mereka tidak dapat mendengarku.” Aku rasa aku sudah gila mendengar map merah jambu dapat berbicara, jadi tanpa pikir panjang kubuang map tersebut hingga berserakan isinya. Orang-orang disekitarku melihatku, mereka pasti berpikir kalau aku membuang sampah sembarangan. Sebenarnya aku cukup malu tapi aku tidak ingin menyentuh map aneh itu lagi, jadi aku berlalu saja melanjutkan perjalanan.

Sampai rumah sudah cukup larut, tak kuhiraukan pertanyaan ibuku dan adik perempuanku, Arini yang cerewet menanyaiku macam-macam. Meskipun mereka pastinya sudah tahu jawabannya karena bukan sekali dua kali aku tidak diterima kerja menjadi penyiar tetapi mereka tetap saja menanyaiku dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan ingin sekali aku masuk kamar lalu mengunci pintunya dari dalam, tetapi teringat bahwa kamar tersebut bukan hanya kamarku melainkan juga kamar adikku, membuatku semakin sesak. Aku hanya diam sambil kuputuskan masuk ke kamar mandi belakang. Duduk di toilet duduk meskipun aku tidak merasa ingin buang air besar.

Aku hanya ingin ketenangan, kalau aku melilih ke kamar tidur pasti kutemui lagi Arini yang biasanya jam segini adalah jadwalnya telpon-telponan dengan pacarnya, membuatku begitu muak mendengarkan dia akan berbicara seolah dia seperti Upik Abu yang seharian harus bekerja, dan tentu saja aku seolah kakak tiri yang seharian hanya ongkang-ongkang nonton TV. Aku dan Arini memang hanya terpaut satu tahun, meskipun begitu sejak dulu aku tidak pernah akrab dengannya. Arini adalah orang yang sangat suka mencari perhatian dan kedua orang tuaku memang memanjakan Arini. Bahkan aku sering merasa Arini lebih disukai oleh orang tuaku ketimbang aku. Karena itu saat di rumah aku lebih banyak diam.

Masuk ke kamar tidur aku melihat Arini sudah tidur di kasurnya sendiri. Aku berpikir tumben sekali dia tidak telponan dengan pacarnya. Akupun juga merebahkan diri di kasurku, melihat langit-langit putih diterangi lampu tidur yang redup. Aku begitu lelah seharian ini, “Memang kamu lelah kenapa, Mira?” dan suara yang entah dari mana itu muncul lagi, tapi kali ini suara itu terdengar seperti suara perempuan. Aku melihat ke arah kasur Arini yang diatasnya Arini tetap tertidur dengan mata tertutup dan mulut yang juga terkatup. Aku rasa itu bukan suara Arini, “Hahaha... aku kan sudah bilang, kalau aku adalah suara dari kegagalanmu, percuma kamu mencariku.” Aku hanya diam mendengarkan suara tersebut, “Anggap saja aku seperti radio dalam kepalamu sendiri, selama kamu terus-terusan gagal maka aku juga akan terus kamu dengar.”

Aku melihat ke arah Arini berharap dia bangun, karena biasanya mendengar suara sekecil apapun dia pasti akan terusik dari tidurnya, “Dia tidak akan bangun, dia sangat kelelahan bekerja seharian ini. Tidak seperti kamu yang hanya pengangguran Mira.” Suara itu semakin keras dan jelas di telingaku, kutengok kanan kiri berharap menemukan seseorang yang bersembunyi di kamarku. “Bodoh sekali kau Mira, padahal sudah kujelaskan siapa aku. Tetapi sepertinya percuma menjelaskan pada orang bodoh seperti kamu. Pantas saja tidak ada yang menyukaimu, bahkan orang tuamu juga lebih sayang pada adikmu.” Kututup kedua telingaku, berharap tidak mendengar suara-suara aneh itu lagi dan sepertinya suara itu memang sudah tidak terdengar. Hari ini benar-benar aneh dan kucoba menutup mata memulai untuk tidur, tapi sepertinya tidak begitu mudah karena aku terus memikirkan suara-suara aneh itu.

Keesokan harinya aku terbangun dengan kantong mata yang begitu hitam, kulihat kasur Arini sudah tertata rapi ditinggal penguhuninya. Ibuku masuk sambil melihatku dengan muka yang begitu masam, aku sudah tau apa yang selanjutnya terjadi. Omelan yang begitu pedas keluar dari mulut ibuku, keluar juga berbagai macam umpatan yang tidak sedap didengar. Lalu yang paling tidak aku sukai adalah katika dia kemudian mulai membanding-bandingkanku dengan Arini, dan tak kusangka suara aneh itu muncul lagi “Betul yang dikatakan ibumu Mira, kamu benar-benar tidak berguna. Seharusnya kamu tidak pernah dilahirkan.”

“Seharusnya kamu mati sejak dulu saat kamu mulai kejang-kejang waktu bayi Mira. Karena kamu penyakitan ibumu jadi kerepotan mengurusmu. Karena sibuk mengurusmu ibumu tidak jadi diterima sebagai Pegawai Negeri. Lihat Mira, ibumu saja menyesal sudah melahirkanmu. Masih bayi saja kamu sudah sangat merepotkan, apalagi sekarang. Kamu seharusnya mati Mira, kenapa kamu tidak bunuh diri?”

“Diam!” satu kata yang keluar dari mulutku dengan begitu keras, di depan pintu ibuku dengan wajah merah padam menghampiriku lalu menamparku. Aku hanya diam berusaha mengurai apa yang terjadi. Lalu ibuku pergi dari kamar sambil membanting pintu, aku tetap hanya diam. Sekarang kepalaku seolah memang seperti ada radio yang tidak menyiarkan apa-apa, hanya kemresek yang terdengar. Apa karena tamparan tadi radionya rusak?

“Bodoh sekali berpikir seperti itu.” Suara itu muncul lagi, “Seharusnya kamu sadar, dari kejadian ini kamu bahkan sudah gagal sebagai anak. Mira Mira, bukankah lebih baik kamu bunuh diri saja?” kututup telingaku, tapi sepertinya itu tidak berefek apapun. Suara itu tetap terdengar, “Akan kuajarkan Mira, bagaimana kalau kau ambil pisau lalu tusukan ke dadamu sendiri. Tapi kamu kan orang yang tidak kuat sakit ya? Hemmmm.... bagaimana kalau gantung diri saja, sakitnya tidak akan terlalu terasa? Atau minum racun tikus, ibumu menyimpannya dilemari gudang.”

Peluh bercucuran di dahiku, aku tutup telingaku tapi kedaaan tidak pernah berubah, berhari-hari suara itu terus menyuruhku untuk bunuh diri lengkap dengan bagaimana caranya aku bisa mati. Hingga pada suatu malam, aku benar-benar mengambil gunting. “Bunuh dia Mira, bukannya dia adalah pengganggu dalam hidupmu. Kalau dia mati, kamu tidak akan pernah dibanding-bandingkan dengan siapapun lagi. Bunuh saja bodoh! Lihat dia, tikam bagian jantungnya! Cepat bodoh!” suara itu menyuruhku untuk membunuh Arini, “Cepat atau kamu yang akan dibunuh dia, dia tidak ingin kamu ada. Cepat bunuh dia!”

Dan akupun melompat ke atas Arini, dia memekik kaget tapi sebelum dia memberontak atau berteriak aku segera menusuk perut Arini, dia menjerit kesakitan. Ke dua orang tuaku terlihat kaget di depan pintu dan mendekati tubuh Arini yang bersimbah darah. Aku menjatuhkan gunting yang sudah berlumuran darah. Diam memandangi semua yang sibuk menolong Arini, juga ketika Ayah menggoncang-goncang bahuku, aku tetap hanya diam. Radio dalam kepalaku kembali hanya kemresek, tapi aku tahu itu hanya sesaat, dan sesaat kemudia muncul lagi suara itu. Aku pikir suara itu akan senang dan memujiku tetapi tidak, “Bodoh sekali kamu, membunuh saja tidak bisa. Menjadi pembunuh saja gagal. Lihat dia, dia tidak akan mati hanya karena tusukan kecil di perut. Setelah dijahit beberapa jahitan dia sudah akan sembuh. Dan dia akan menjadi pengganggumu lagi. Bodoh!”


Air mataku menetes mengingatnya, setelah kejadian itu aku memang dikirim ke rumah sakit ini. Jiwaku sakit, jadi aku harus berada di sini. Menjalani perawatan selama 3 tahun, berperang melawan suara-suara yang terus mencaci maki, mencemooh dan menyuruhku untuk bunuh diri. Hingga sampai pada hari ini aku dinyatakan sembuh setidaknya aku sudah 2 kali mencoba bunuh diri, yang pertama dengan mencoba meminum seluruh obat milik pasien lain, dan yang kedua adalah saat aku mencuri cermin milik dokter wanita yang baru ditugaskan di rumah sakit ini, aku mencoba menggoreskan cermin yang telah kupecahkan tersebut ke pergelanganku. Namun usaha itu gagal karena selalu ketahuan oleh suster.

Dan hari ini aku telah diperbolehkan pulang. Pulang, menjadi kata yang begitu berarti. Aku akan kembali ke rumah, aku akan bertemu dengan keluargaku, aku akan hidup dengan normal lagi. Setelah radio itu tidak lagi berada di kepalaku, tapi apakah aku akan diterima oleh mereka? Jawaban itu tidak kutemukan bahkan setelah hari kembali berganti malam.

Seorang dokter laki-laki dengan kacamata masuk diikuti oleh seorang suster, “Kenapa seharian kamu tidak keluar dari kamar?” suara dokter tersebut ternyata begitu halus menanyaiku, lalu sambil tersenyum aku balik bertanya, “Apakah keluargaku sudah menjemputku?” dokter itu balas tersenyum kepadaku dan berkata “Kamu baru tiga hari di sini, apakah dalam tiga hari kamu sudah bisa sembuh?” Aku ingin bertanya lagi, tapi mulutku begitu berat setelah suster menyuntikkan sesuatu di lenganku. Lalu gantian mataku yang memberat dan tiba-tiba gelap.



Semarang, 10 Mei 2015


No comments:

Post a Comment