Terkadang aku sangat ingin menjadi orang yang pendendam. Ketika
hati porak-poranda tersapu makian dan cacian dari orang lain, ingin sekali kuludahi
wajah orang tersebut lalu pergi dengan menggenggam api. Namun semua tau aku
lemah dalam hal itu, hingga telah jatuh pun malah semakin terinjak. Aku benci
menjadi orang begitu murah memberi maaf pada orang lain. Begitu gampang
melupakan luka yang digores baik dalam maupun luar. Begitu mudah mengelupasi
sakit lapis sakit.
Siang itu ku tata kembali hatiku pada tempatnya, meredam segala
gundah yang sempat meracuni hingga terbawa ke lorong-lorong antah brantah yang
paling tak tersapa cahaya. Kutarik nafas dalam sekedar mengambil oksigen
terbaik untuk menenangkan diri. Siang itu, kembali aku dihampiri untuk menyelesaikan
urusan yang telah berminggu-minggu tak selesai. Kamu yang kulihat dengan wajah
kuyu menyapa kedua orang tuaku, begitu ramah meski aku tau dalam hati kamu
merasa bersalah.
Tak ingin lama-lama menyiksa perasaan bersalahmu jadi kugandeng
saja kamu, melesat pergi di belakang boncenganmu. Dengan membawa urusan yang terbongkar
tanpa bisa terpasang. Aku diam sambil menyiapkan segala keluh kesah yang akan
aku muntahkan pada si pembuat masalah. Aku hanya diam di belakang boncenganmu,
kamu juga hanya memaku sambil menarik tanganku berharap aku mau melingkarkan
tanganku pada perutmu. Maaf sayang, aku bukan perempuan manja yang terbiasa
bergelayut mesra seperti mantan-mantanmu. Mungkin terasa merobot aku ikuti saja
maumu dengan sedikit kaku. Tak terbiasa.
Siang begitu terik, sampai di tempat yang kita tuju. Keadaan
begitu ramai, bising melebihi pasar dan sumpek terdesak sinar matahari hingga
keringat membanjir. Dalam hati aku bersyukur bukan perempuan dengan gincu dan
tebaran bedak memenuhi muka hingga putih melebihi mayat pucat karena jantung
yang berhenti memompa darah keseluruh tubuhnya. Jadi aku tidak begitu
kebingungan memikirkan bedak yang luntur, yang dapat membuat muka cemong-cemong
belang tak karuan.
Kembali dihadapkan pada stasiun kesabaran dan aku harus menaiki
lokomotif paling belakang. Baiklah sepertinya itu menjadi keputusan
termenyakitkan selanjutnya, kuikuti saja mau si membuat masalah ini. Kutengok
di sampingku, kamu begitu layu sambil merebahkan kepalamu di pundakku. Aku yang
menghiburmu, melagu seceria mungkin sambil sesekali melucu. Kamu tertawa atau
sedang pura-pura tertawa, aku juga tidak pernah mengerti. Yang jelas aku tidak
ingin melihat mendung di wajahmu, jadi kuputuskan aku yang mengambil alih peran
penyanyi pelawak penghibur. Meski sesungguhnya aku juga lelah, juga marah, tapi
tak apalah harus aku yang merengkuhmu seperti biasa-biasanya.
Hal ini membuatku ingat, akan masa yang bagitu banyak memberiku
luka. Saat itu tangis yang kutahan pada akhirnya tidak jatuh juga, itu karena
sudah kamu dahului. Iya kamu dulu yang menangis. Kupikir, tidak akan pernah selesai jika
kita sama-sama menghanyutkan air mata yang entah bermuara di mana. Jadi aku
mengalah, ku usap pipimu sambil memberikan begitu banyak kata-kata penenang.
Aku yang dalam beberapa detik lalu ingin berubah menjadi pohon bambu, tiba-tiba
harus menjadi pohon oak yang rindang, teduh dan harus kuat menahan angin
beliung sekalipun.
Malam merambat turun, aku tersenyum getir memikirkan itu, aku
bersamamu jadi terbiasa mengambil peran sebagai si penguat. Walau terkadang aku
begitu ingin menjadi perempuan yang lemah saja. Yang akan menyandar pada
pundakmu saat benar-benar lelah. Namun sepertinya jika aku seperti itu, maka
kita berdua yang akan jatuh. Seperti saat ini, saat si pembuat masalah dan
pasangannya memuntahkan segala caci maki. Segala bentakan di depan wajahku
bagai topan yang menghantam hingga akarku. Nanar aku menatap lidah-lidah api
yang menjulur-julur hendak membakar dedaunanku dan ranting-rantingku, namun aku
tetap kokoh tak goyah sedikit pun. Bahkan aku mampu melantahkan balik setiap
makian yang menghujaniku. Di sampingku, kamu hanya diam entah apa yang ada
dalam pikiranmu, sebagai orang yang harusnya menjagaku dan melindungiku kamu
hanya mampu diam. Baiklah aku yang menghadapi semuanya sendiri, aku tau memang
harus aku.
Aku tetap kokoh, satu orang, dua orang bertambah pada beberapa
orang, seolah menatapku seperti begitu ingin merobohkanku. Aku tetap kokoh, menahan
berbagai terpaan dari segala sudut. Hingga kulihat orang-orang tersebut diam sendiri,
mungkin lelah. Aku pasrah, bukan karena menang atau bukan juga karena kalah.
Tapi memang tak lagi ada yang bisa aku lakukan.
Malam melarut, semakin berkerut-kerut dan kamu pun beringsut surut
dengan mata meredup. Aku menatapmu cemberut, ingin protes kenapa kamu begitu
lemah Sayang? Aku sejak dulu berharap lebih padamu, memandang kamu masa
depanku. Tapi kamu ternyata sekedar meramu dedaunanku. Aku kecewa, melebihi
apapun. Sekokoh apapun aku, aku tetap tumbang karena ternyata kamu sendiri yang
seolah menebangku.
Dalam beberapa detik saja aku telah jatuh, merebah tanah. Apa kamu
sengaja Sayang? Tapi kulihat kamu bagitu menyayangiku, mungkin kamu tidak sengaja. Iya kamu tidak menebangku, hanya saja kamu meracuniku hingga akarku mati tak mampu menopang kokoh tubuhku. Aku tidak lagi sama atau kita yang memang telah menemukan perbedaan kita, yang begitu tidak cocok hingga sama-sama meracuni dari kita masing-masing.
Kamu tetap diam, namun kulihat dari wajahmu kamu juga sama, merasa sakit seperti yang kurasa. Jadi kita sama-sama jatuh? Tolong jangan dulu sayang, aku ingin diantar pulang. Setidaknya biarkan aku seperti siang tadi berada di belakang boncenganmu. Kamu diam, aku lebih diam, aku sendiri sakit. Lebih tepatnya kecewa. Kecewa pada sifatmu, kecewa pada keadaan yang begitu menamparku, meracuniku, menjatuhkanku pada tanah yang begitu busuk. Mematikan setiap sendi benih-benih bintang yang pernah kuterbangkan hanya padamu. Aku tak lagi sama, aku tak lagi memiliki teduh untukmu, karena aku telah jatuh, bukan karena mereka, tapi karena kamu sendiri yang menjatuhkanku. Aku bisa apa? Lapuk?
Kamu tetap diam, namun kulihat dari wajahmu kamu juga sama, merasa sakit seperti yang kurasa. Jadi kita sama-sama jatuh? Tolong jangan dulu sayang, aku ingin diantar pulang. Setidaknya biarkan aku seperti siang tadi berada di belakang boncenganmu. Kamu diam, aku lebih diam, aku sendiri sakit. Lebih tepatnya kecewa. Kecewa pada sifatmu, kecewa pada keadaan yang begitu menamparku, meracuniku, menjatuhkanku pada tanah yang begitu busuk. Mematikan setiap sendi benih-benih bintang yang pernah kuterbangkan hanya padamu. Aku tak lagi sama, aku tak lagi memiliki teduh untukmu, karena aku telah jatuh, bukan karena mereka, tapi karena kamu sendiri yang menjatuhkanku. Aku bisa apa? Lapuk?

No comments:
Post a Comment