Trauma,
Trauma itu apa? Sedikit penjelasan untuk kalian. Menurut yang aku cari di Wikipedia, trauma dijelaskan sebagai jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.
Trauma itu apa? Sedikit penjelasan untuk kalian. Menurut yang aku cari di Wikipedia, trauma dijelaskan sebagai jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.
Nah cukup membingungkan sih, kata-katanya lumayan susah dipahami bagi mereka yang mulai dari nol memahaminya. Tapi aku rasa bagi mereka yang mengalami atau setidaknya sedikit tau, trauma pasti bukan menjadi kata yang asing.
Dalam entri ini aku tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai trauma, meskipun sedikit banyak ceritaku menyinggung masalah trauma, tapi aku ingin menitik beratkan pada ceritaku, pada masalah yang sedang kuhadapi.
Trauma. Yang muncul lalu tumbuh dari banyak doktrin yang masuk di kepala ini. Semakin mengeras dari aku kecil. Seolah seperti aku ini hidup dan terbuat dari susunan trauma-trauma yang ditumpuk begitu nyata. Rasa takut, gigil dan gemetar mental juga fisik yang selalu aku alami menjadi dampak berkepanjangan yang tak mampu aku atasi dengan logika seberapapun nyatanya. Trauma terhadap suatu hal yang aku sadari betul sesungguhnya hanya ilusi bentukan doktrin masa kacilku dan masih belum mampu aku lawan.
Mungkin dari luar aku terlihat baik-baik saja, tapi satu kelemahan dari sekian banyak kelemahan yang ada pada diriku akan aku buka di sini.
Aku adalah seorang yang penakut, jauh lebih penakut dari kelihatannya. Bagi kalian yang mengenal betul aku, pasti kalian tidak percaya. Tapi memang benar begitu kenyataannya dari dulu yang selalu aku tutupi dan jika kalian tidak percaya juga berarti memang sukses aku menutupi kekuranganku tersebut.
Inilah masalah terbesarku. Aku tidak mampu mengatasi keadaan saat telah berada di muka umum. Saat presentasi di depan kelas atau saat bicara di depan banyak orang dalam keadaan formal. Memang sebelumnya aku telah memupuk keberanian tapi setelah berada di depan layar, ditatap oleh puluhan pasang mata yang melihatku, semua keberanian itu menguap habis, yang datang hanya rasa takut, menggigil dan hati yang bergetar tak karuan. Aku tidak mampu menguasai keadaan. Perasaan rendah diri berkecamuk dalam kepalaku. Bukannya aku kalah pada materinya tapi pada bagaimana aku harus menyampaikannya. Aku bisa bahkan lebih bisa dari siapapun tapi aku takut untuk bicara.
Hal ini sebenarnya sudah aku sadari sejak kecil, saat aku masih sekolah, tentu ada pertanyaan klise dari guru “siapa yang bisa, angkat tangkan?” maka saat itu aku memang bisa dan aku sadar teman-teman aku tidak bisa, tapi membayangkan aku mengangkat tangan saja, keringat dingin sudah keluar dari tubuhku, rasa takut luar biasa tak mampu aku kendalikan dan jantung berdegup lebih cepat dari normalnya. Padahal aku hanya berniat untuk menjawab saja, tapi ketakutan luar biasa sudah menguasai diriku. Akhirnya aku menyerah dalam diam, semua kusimpan sendiri dalam diam. Benar-benar tak beralasan sebenarnya. Mungkin juga menurut kalian aneh? Ya, mungkin aku memang aneh. Jika aku bisa berubah, aku ingin seperti kalian yang memiliki percaya diri tinggi. Terkadang aku begitu iri melihat teman-temanku yang memiliki mental luar biasa berani, tidak seperti aku dikuasai ketakutan yang mati-matian tak pernah sukses aku lawan.
Hal ini benar-benar masalah besar untukku, aku sebut sebagai masalah besar tentu saja karena aku adalah calon guru, mana mungkin seorang guru hanya diam di depan kelas???
Lalu kenapa aku sebut sebagai trauma, karena mamang iya, gak ada sebab pasti dari ketakutan yang terus berulang seperti itu, tapi yang aku yakini hal itu karena memang sejak kecil aku tidak pernah memiliki ruang untuk bicara dan saat aku bicara semua selalu salah atau disalahkan. Intinya aku tidak berhak bicara apapun di rumah. Ibuku dengan didikannya yang keras selalu menyuruhku untuk diam diam dan diam. Pada akhirnya dalam otakku tertera bahwa bicara itu salah!!! Jadi aku harus diam!!! Bahkan sampai aku dewasa dan mampu memahami yang mana yang benar dan yang mana yang salah, yang mana yang harus aku lakukan atau aku harus diam. Tapi sepertinya memang ada bagian dari tubuhku yang telah terlanjur memiliki trauma menolak untuk berbicara di depan umum. Ada bagian dari tubuh aku yang tak bisa aku kontrol dengan logika sebesar apapun. Jadi, aku harus bagaimana? Pernah terpikir olehku untuk datang ke pskiater untuk mengatasi masalahku ini, tapi aku tidak tau kemana bisa kutemui dan aku yakin untuk sekali konsultasi pasti juga mahal. Tapi bagaimanapun aku ingin sembuh mengingat aku adalah calon seorang guru.
Ada yang salah di dalam diriku dan aku harus membenahi hal tersebut. Jika orang tua yang menjadi perentang busur panah dan aku ibarat anak panahnya, maka aku merasa sekarang tengah berada dalam lesatan yang salah. Atau bahkan lebih buruk, aku sedang melesat pada arah yang benar hanya saja aku buta tidak bisa memposisikan diri pada kondisi yang benar. Pathetic!
Lalu aku harus bagaimana? Ketakutan saat berada di muka umum atau saat menjadi pusat perhatian banyak orang, bagaimana mengatasi ketakutan tersebut. Pada saat seperti itu logikaku seakan mati, tertimbun oleh gigil dan gemetar hati yang tak bisa aku kendalikan sendiri. Aku tidak ingin menyerah mengejar cita-citaku menjadi seorang guru tapi aku juga merasa begitu dilemahkan oleh ketakutanku sendiri. Trauma masa kecil yang sudah terlanjur mengeras menjadi bagian dalam diriku sendiri. Aku harus bagaimana?
Dalam hal ini aku tidak ingin menyalahkan ibuku, tidak juga diriku sendiri, tidak juga siapapun. Aku hanya ingin mengatasi trauma ini, aku hanya ingin terbebas dari ketakutan yang tidak mendasar sama sekali ini. Adakah kalian memiliki solusi untukku? Maukah kaluan berbagi itu? Aku harus bagaimana?
No comments:
Post a Comment