Aku
bayangkan wajah kedua orang tuaku yang berada di rumah. Meskipun banyak
pertengkaran tapi sampai sekarang syukurlah semua masih utuh, keluargaku masih
genap. Kedua orang tuaku, yang awalnya beda keyakinan nyatanya bisa bersatu. Tapi
kenapa kita yang sama-sama seiman harus dihadapkan pada kenyataan yang begitu
sulit. Kenapa orang tuamu harus mempersulit dengan syarat yang begitu susah
untuk aku terima. Rasanya tidak adil untuk orang tuaku. Kedua orang tuaku yang
menyekolahkanku setinggi ini tidak pernah sedikitpun mencantumkan syarat untuk
orang yang aku pilih harus PNS, punya rumah, punya mobil, keturunan ningrat
atau apalah. Ibaratnya orang tuaku, sudah ada yang mau sama anaknya saja sudah
bersyukur. Paling orang tuaku hanya berpesan agar dia yang aku pilih tersebut
harus bertanggung jawab dan gemati. Seperti syarat pada umumnya. Tapi kenapa
orang tuamu harus menetapkan syarat yang begitu sulit untuk kupilih. Menyesakkan
rasanya :’( Aku sudah banyak berharap dan mereka-reka masa depan denganmu, tapi
seakan semuanya direnggut tanpa sisa. Tentang ini semua aku hanya pasrah untuk
kedepannya. Aku merasa buntu.
Laman
Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku
♥ Label Monolog ♥
Wednesday, April 6, 2016
Tuesday, April 5, 2016
Koma
Memang
ada yang ikut sakit padahal aku yang tertusuk? Berkali-kali aku tanyakan itu
pada malam yang mengaku-aku kelam. Padahal lampu Ibu Kota tak pernah mati seolah
menjadi pengganti shift bagi matahari. Saat malam mendepak terang dari
tempatnya semula, semesta seolah meredup perlahan. Baiklah aku percaya saja,
malam memang kelam.
Dari
kejauhan ku lihat hujan bintang tak surut-surutnya di langit malam. Bintang warna-warni
yang membuatku takjub untuk sesaat tapi setelahnya menjadi biasa karena
menggemakan suara yang membuat aku iba. Iba pada jumlah rupiah yang telah di
hamburkan pada bintang-bintang sesaat tersebut.
Aku
diam memunguti kerikil yang sedari tadi menusuki kakiku yang tak bersepatu. Apa
seharusnya aku sumpahi saja? Tapi percuma kerikil ini pasti hanya diam tanpa
berontak saat sumpah serapah aku tunjukan padanya. Aku tertawa sendiri, sakit
di kaki seolah telah menumpulkan pikiran. Padahal itu tak seberapa dibandingkan
apa yang telah aku alami selama ini. Dan aku masih terus berjalan menelusuri
aspal berkerangka bintang. Entah kemana tujuan. Lalu kembali pertanyaan itu
menuntut jawaban. Memang ada yang ikut sakit padahal aku yang tertusuk? Aku menantinya
sesaat, tapi tetap tak ada jawaban. Hanya koma yang berderet sepanjang
jalan.
Friday, April 1, 2016
Gerbong Berkarat
Suaranya
parau ditelan gemuruh roda kereta yang beradu dengan rel. Angin yang terhempas
perlahan oleh laju kereta mengibarkan rambutnya yang kusut. Dia susuri lintasan
besi itu setelahnya, setelah memastikan kereta yang lewat tersebut berangsur
menjauh dari pandangannya. Dengan membopong kardus bekas minuman ringan yang
telah ia isi dengan berbagai nasi bungkus. Dia teriakan dagangannya tersebut,
tentulah dengan teriakan dari suaranya yang parau.
Matahari
membiaskan cahaya dari balik gerbong-gerbong kereta yang berkarat, menuju
peraduannya tenggelam di ufuk barat. Memulai warna baru dalam kehidupan, yang
awalnya terang menjadi gelap. Lalu dia umpamakan itu seperti dirinya saat ini.
Dia duduk di pintu salah satu gerbong kereta yang tak terpakai tersebut. Menghalau
penat yang seharian merubungnya tanpa ampun. Tanpa terasa matanya berkaca-kaca.
Membayangkan kembali apa yang telah dia lalui. Seolah segalanya begitu singkat
dan merubahnya dalam sekejap.
Dia
ingat kembali senyum-senyum dari tamu undangan yang menghadiri pesta
pernikahannya. Semuanya berjalan lancar seperti dia dan keluarga harapkan. Diawal
pernikahannya pun juga nyaris tanpa masalah yang berarti. Meskipun setelah
menikah dia ikut suaminya tinggal bersama mertuanya tetapi semua berjalan
dengan harmonis. Suaminya sanggat mencintainya begitupun kedua mertuanya. Namun
karena semua itulah dia merasa hidupnya kurang warna, dia merasa hampa.
Di
tengah-tengah keluarga yang begitu baik, dia merasa menjadi seorang yang ingin
berteriak. Meneriakan bahwa hidup ini bukan hanya terus menatap lurus, bukan
hanya berjalan lurus namun berhenti pada suatu titik dan keesokan harinya
kembali pada satu titik. Melakukan aktifitas yang sama setiap harinya, melulu
sama dan bilapun berubah hanya pada titik yang sama juga. Monoton. Dan dia
bosan.
Dia
seolah dihempaskan pelan pada titik kejenuhan yang perlahan menyekap dia sendiri.
Rumah yang begitu ramah tersebut memaku pikirannya untuk tidak lagi bekerja
seperti dulu. Dia merasakan dirinya tidak lagi maju, tidak juga mundur, namun
stag, berhenti pada waktu dan saat yang sedang memenjarakannya di rumah
tersebut. Itulah yang ia rasakan.
Karena
itu dia memutuskan untuk meminta ijin pada suaminya agar dia diperbolehkan
kembali bekerja di Semarang. Suaminya tidak berkata apa-apa, tidak mengiyakan
atau juga menolak. Berhari-hari suaminya hanya mendiamkannya. Dia bingung, lalu
dia putuskan sendiri bahwa dia akan berangkat ke Semarang dengan atau tanpa
seijin oleh suaminya. Dia berpikir bahwa ini tubuhnya, ini miliknya sendiri dan
dia berhak membawa tubuhnya sendiri kemanapun.
Pada
hari keberangkatan, suaminya tetap diam, hanya ibu mertuanya yang membantunya
mengepak barang-barang. Mereka maklum, kalau menantunya ingin bekerja di kota. Kedua
orang tua itu juga tidak mungkin melarang seseorang yang ingin bekerja mencari
uang untuk tambahan kebutuhan. Hal seperti itu wajar di kampung.
Di
Semarang dia kembali merasa hidup, merasa bisa tertawa keras meski kehidupan di
kota tersebut juga keras. Dua bulan sekali dia akan pulang, kadang jika sedang
ada acara dengan teman-temannya dia akan pulang 3 bulan atau paling lama 5
bulan. Bekerja dari senin sampai sabtu lalu minggu dia gunakan untuk kegiatan
mencuci baju dan membersihkan kost nya atau kadang-kadang untuk berlibur
bersama teman-temannya.
Satu
tahun lebih usia pernikahannya, wajar jika mertuanya menginginkan kehadiran
cucu diantara mereka. Meskipun dia sendiri dan suaminya masih membina hubungan
baik, tapi karena waktu untuk bertemu yang selalu singkat tersebut membuatnya
belum juga mengandung. Hingga ibu mertuanya berinisiatif untuk memeriksakannya
ke dokter. Dia hanya menurut saja, dan sore itu dia bersama ibu mertuanya
menunju ke sebuah rumah sakit.
Matahari
berangsur tenggelam di rimbun pepohonan jauh dari jalan raya di depannya. Dia mematung
di depan sebuah gedung bercat putih. Rumah sakit itu memuntahkan sebuah
kenyataan yang begitu tak mampu ia terima. Air mata tak terbendung meruah dari
pelupuk matanya dan membasahi kedua pipinya. Kenyataan pahit harus dia telan. Setelah
menjalani serangkaian tes, dia hampir-hampir tidak percaya pada apa yang dokter
muda tersebut katakan. Dia terpaku, bukan karena dia mandul tapi karena dia positif
terjangkit HIV.
Atap
rumah sakit yang berada di atasnya seolah runtuh menimpanya pada saat itu juga,
lungkai ia susuri lorong rumah sakit sendiri. Karena ibu mertuanya sudah dulu
pergi, tanpa berkomentar apapun. Entah ibu mertuanya marah, jijik, benci atau
ketiganya. Dia hanya diam mencerna semuanya sendiri. Tapi otaknya serasa mati.
Sampai
di rumah dia hanya mampu menyemburkan semua kemarahannya tersebut pada
suaminya. Suami yang ternyata diam-diam sering tidur dengan pelacur murah di pasar
yang tiap malam dia lewati setelah pulang kerja. Suaminya berdalih tidak tahan
kesepian karena ditinggalnya bekerja di Kota. Suaminya yang menularkan penyakit
yang menjijikan tersebut padanya. Suami yang mengaku mencintainya tapi juga menghianatinya. Dia begitu membenci suaminya dia juga benci
pada dirinya sendiri.
Suara
petir dan guntur malam itu menyambar-nyambar lalu tidak lama setelahnya hujan
deras jatuh ke Bumi. Tangisnya belum juga mereda setelah dia minta cerai pada
suaminya dan membanting pintu kamar. Bantalnya sudah basah seolah ada atap yang
bocor dan air masuk menghujaninya. Dia tidak pernah merasa sehancur ini selama
hidupnya.
Paginya
dia kembali ke rumah ibunya sendiri, dia berpikir akan menemukan semacam
penenang di rumah tersebut. Tapi ternyata itu adalah awal sebuah kehancuran
yang lain. Setelah dia ceritakan semua pada keluarganya tanpa ia tutupi
sedikitpun, ibunya hanya diam sambil menangis lalu berlalu pergi, kakak iparnya
mendekap kedua anaknya dan membawa mereka masuk ke dalam kamar karena takut
tertular, sedangkan kakak laki-lakinya sendiri, pergi keluar sambil berkata
akan membunuh suami yang telah menularkan penyakit menjijikan tersebut pada
adiknya. Menyisakan dia sendiri yang berada di ruang tamu, kembali mematung
sambil menggigit bibir bawahnya menahan pahit namun tak terasa sedikitpun
sakit.
Esoknya
kabar pahit lain datang, saat para tetangga mengabarkan bahwa anak laki-laki
satu-satunya di rumah itu telah ditangkap polisi karena membunuh suami
adiknya. Dia kembali menangis sejadi-jadinya. Lalu sebuah tamparan keras
mendarat di pipinya yang basah, tamparan dari istri kakaknya tersebut. Tatapan kebencian
menusukinya juga dari kedua anak kakaknya itu. Kakak iparnya meneriakinya
sebagai lonthe kudisan. Mereka bilang dialah penyebab semuanya. Mereka menjadikannya
tersangka utama karena telah membuat kakaknya tersebut menjadi pembunuh dan
harus masuk bui.
Semua
kemalangan yang menimpanya hanya dia balas dengan air mata tanpa isak. Ibunya bahkan
tak pernah bicara dengannya walau hanya sepatah. Kakak ipar dan anak-anaknya
memusuhinya, sedangkan tetangga mulai membicarakannya. Tak ada penerimaan di
rumah itu.
Diam-diam
dia pergi kembali ke Semarang, percuma untuk berpamitan pun hanya tatapan
kebencian yang kan dia dapat. Sebenarnya dia sudah goyah dengan apa yang akan
dia hadapi kedepannya tapi yang dia rasakan dia tidak ingin berada di rumah
tersebut. Namun sekali lagi dia harus menelan pil pahit, semua teman
sepekerjanya sudah mengetahui dia seorang positif. Maka pada hari pertama dia
kembali bekerja tersebut juga menjadi hari dimana dia dipecat. Beku dia pulang
ke kostnya.
Uang
tabungan yang dia miliki habis hanya untuk makan beberapa hari, mencari
pekerjaan tidak semudah yang dia bayangkan apalagi dia hanya sendiri di kota
tersebut. Jadilah dia hidup dijalanan saat setelah dia diusir dari kostnya
karena tidak mampu lagi membayar. Dia patah saat itu juga, dia pasrah melangkah
tanpa arah.
Hingga
takdir menghempaskan dia pada gerbong yang dia duduki saat ini. hidup telah
melemparkan dia dari api ke api yang lain, dari luka satu ke luka yang lain. Hingga
luka yang dia miliki bertumpuk dan dia lupa berapa banyak yang dia miliki. Sampai
dia tak lagi paham keberadaan dirinya saat ini. Namun kali ini tak ada air mata
karena semua sudah mengering. Kering tersengat matahari yang setiap hari
menatapnya dengan sorot kebencian. Dia sudah berhenti untuk mencoba berpikir
dia tidak lagi ingin berpikir, hanya dia jalani yang ada di depan matanya saat
ini. Lalu dia tengok kardus berisi nasi bungkus yang dia letakkan di
sampingnya. Dia bopong kembali lalu dia berjalan diantara gelap malam.
Semarang, 1 April 2016
Kado untuk seseorang
yang ditinggal menikah oleh mantannya
Percaya saja, yang
bermain drama akan kena karma
Tuesday, March 29, 2016
Telpon Tengah Malam
Dia
yang setiap tengah malam menelponku, sebenarnya ada apa? Di jauh sana dia
menggeleng, padahal jelas aku tak akan tau itu. Di sudut bibirnya yang pahit
dia mengecap manis kenangan yang pernah ada antara aku dan dia. Apakah malam
yang mengantarkan kenangan itu padanya, karena malam memang biasanya seperti
itu. Dia hanya tersenyum tipis, lagi-lagi aku tidak akan tau senyum itu.
Perlukah
aku tertawa? Saat dia mencoba terbahak pada candaannya sendiri. Mungkin
maksudnya agar mencairkan suasana. Namun dia tak pernah tau, sebeku apa senyum
yang tak seorangpun memeluknya. Jangankan cair, hangat pun tidak. Aku hanya
bergumam, sekedar menghargai suaranya yang tetap serenyah dulu bertanya ini
itu.
Maaf,
hanya itu sebenarnya yang ingin aku ucap. Namun kelu dan tersendat di
kerongkonganku. Aku juga tak kuasa mematikan telponnya, karena aku yakin
canggung yang hadir lambat-lambat juga akan membuat mengakhirinya sendiri. Aku
tinggal menungguinya.
Malam
tak pernah mengantarkan kenangan yang sama padaku, entah padanya. Aku juga
tidak paham, meski semestinya aku tanyakan saja semua padanya. Karena aku yakin
tanpa dia edit sehuruf pun dengan jujur akan dia jawabi semuanya. Namun
lagi-lagi lidahku kelu. Suasana kembali beku.
Aku
tau, di jauh sana dia pasti bingung pada suasana canggung yang
berdengung-dengung melalui hampa udara yang dia sambung. Maaf, lagi-lagi itu
yang tertera saat aku memejamkan mata. Namun tak kuungkap, hanya mewujud lalu
hilang dengan sendirinya. Aku tidak sedang dalam kondisi ingin menghadirkan
pertanyaan darinya. Percayalah, semua sudah jauh berbeda, disadari atau tidak.
Aku hanya terlalu nyaman dipeluki diam saat telpon darinya kembali meraung
tengah malam, tiap tengah malam.
Malam
tak mengantarkan kenangan untukku, malam hanya mengijinkanku untuk diam. Diam yang
berjingkat-jingkat dalam koma yang kemudian hanya dengung mati dari telpon yang
tertempel di telingaku. Entah, aku pun tak pernah menunggui telpon tengah malam
darinya. Namun jika itu terjadi, sudah dipastikan tak akan ada yang berubah.
Keadaan tetap sama, canggung, bingung berdengung-dengung.
Monday, February 22, 2016
Hujan Untuk Febri
Gadis kecil itu bernama
Febri, dan dia mencintai hujan lebih dari siapapun. Senyumnya akan mengembang
ketika hujan mulai merintik satu-satu. Tapi di musim kemarau seperti ini,
kemarau juga senyum Febri.
Gadis kecil itu masih
kelas dua SD, dengan seragam lusuhnya dia akan berlari sepulang sekolah untuk
segera mengambil payungnya yang warna-warni. Iya, dia adalah gadis kecil
penyedia jasa ojek payung. Dari lembar demi lembar yang dia dapat tersebut, dia
gunakan untuk membantu keuangan keluarganya. Tapi di musim kemarau seperti ini,
jelaslah bahwa ia kehilangan rupiah yang dapat membantu asap dapur keluarganya
untuk tetap mengepul. Karena itu gadis kecil tersebut mencintai hujan lebih
dari siapapun.
Namun gadis kecil itu
sudah sebulan ini berkabut, seperti ruam udara di Kota Jambi yang juga berkabut.
Bukan kabut embun dengan titik-titik air yang menyejukan, tapi kabut asap yang
memekat hingga membuat indra penglihatan dan penciuman terganggu. Karena masalah
kabut asap tersebut pulalah sekolah Febri diliburkan selama dua minggu ini. Itu
juga yang membuat senyum seolah dirampas dari wajah mungil Febri.
Padahal untuk gadis
kecil itu, sekolah merupakan tempat belajar sekaligus bermain. Diantara waktu
yang dia habiskan untuk mencari uang membantu Ibunya, sekolah seakan menjadi
satu-satunya tempat dimana dia bisa tersenyum dan bermain dengan
teman-temannya. Hidup miskin yang dia jalani membuatnya harus ikut bekerja. Karena
itu dia begitu merindukan hujan lebih dari siapapun, agar dia dapat mencari
uang dari mengojek payung, agar kabut asap yang menyelimuti kotanya dan membuat
dia tidak dapat bersekolah segera hilang.
Gadis kecil itu memang
hanya tinggal dengan Ibunya, Ibu semata wayang itulah satu-satunya keluarga
yang dia miliki. Tanpa Bapak dia hidup, bapak yang meninggalkan dia saat
usianya masih kecil, bahkan tak ada secuilpun kenangan bersama bapaknya yang dia
ingat. Bapak yang kata Ibunya sudah meninggalkan dia dan ibunya demi perempuan
lain yang lebih muda dan cantik. Bapak yang tidak bertanggung jawab terhadapnya
dan ibunya. Bapak yang tiap kali dimaki-maki ibunya saat ibunya itu marah,
padahal bapaknya tidak akan pernah mendengar makian ibunya tersebut. Karena itu
dia juga tidak peduli lagi ada bapak atau tidak dalam hidupnya, itu tidaklah
penting.
Gadis kecil itu
benar-benar merindukan hujan, merindukan lambaian tangan dari orang-orang yang
ingin dinaungi payungnya. Sambil mengulurkan tangan menerima upah dari jasa
ojek payungnya, bibir mungil Febri akan mengucapkan terima kasih. Lalu sesungging
senyum dari bibirnya yang setelah itu terjadi meskipun belum tentu dibalas
senyum juga dari pelanggan ojek payungnya, tapi dia senang. Dari situ dia mulai
menyukai hujan.
Pernah di suatu siang
terik yang tidak memberikan pertanda sedikitpun untuk hujan akan turun, Febri
mencoba mencari pekerjaan lain. Dia menjual koran di lampu merah yang cukup
ramai di Kota Asap tersebut. Tapi belum sampai sepuluh menit dia berada di
situ, datanglah seorang laki-laki dengan segepok koran ditangannya yang dengan
kasar mengusir Febri. Laki-laki itu berdalih bahwa tempat tersebut adalah lahan
dagangnya. Gadis kecil yang baru kelas dua SD bisa apa melawan seorang
laki-laki. Akhirnya dia berhenti berjualan koran.
Esoknya dia mencari
pekerjaan lain, maka mulailah Febri bekerja di tempat cuci pakaian atau istilah
kerennya itu Laundry. Dia ditempatkan di bagian menjemur pakaian yang telah
selesai di cuci. Maka dari situlah kulitnya yang dulu putih hingga banyak yang
mengira bahwa dia warga keturuan berubah perlahan menjadi hitam disengat
matahari. Meskipun dia betah berlama-lama di bawah terik tapi dia juga tidak
terlalu menyukai pekerjaannya.
Selain itu dia juga
pernah bekerja di tempat pengupasan bawang, yang sukses membuat jari-jari
tangan kecilnya merah perih. Terkadang dia meringis menerima upah yang tak
seberapa dari pekerjaannya menguapas bawang tersebut bukan karena upahnya yang
sedikit tapi lebih karena kulit jari tangannya yang benar-benar perih tak
terperi. Akibat mengupas kiloan kulit bawang tersebut jugalah matanya bening
menjadi mengabur berembun tersengat pedasnya bawang kupasannya tersebut.
Berbagai pekerjaan tak
kenal ampun dia coba satu per satu, namun tetap dia hanya menyukai pekerjaannya
sebagai penyedia jasa ojek payung. Karena itu dia begitu merindukan hujan. Hujan
yang turun menurunkan rezeki untuknya. Hujan yang membasahi tubuh kecilnya tapi
tak sedikitpun pernah membuatnya sakit. Bahkan saat tubuhnya habis dihajar
ibunya dia tetap berlari menembus hujan dengan memeluk payung warna-warninya.
Hujan seakan menjadi
obat yang paling mujarap untuknya saat lebam biru-biru menghiasi lengan, kaki
dan punggungnya. Air hujan yang menyentuh kulit-kulit lebamnya tersebut
memberikan efek sejuk baginya. Juga saat dia begitu kesakitan menerima setiap
pukulan tanpa ampun dari ibunya, hujan seakan memeluknya dalam basah yang
indah. Saat makian dan cacian dari ibunya yang membabi buta dilesatkan
untuknya, hujan yang jatuh dimanapun tempat jatuhnya tersebut seperti bernyanyi
menghiburnya.
Febri gadis kecil yang
baru kelas dua SD itu tentulah akan menangis saat kemarahan ibunya yang
terkadang tidak dia tahu karena apa dan hanya bisa dia terima karena hanya
kepadanyalah ibunya dapat melampiaskan kemarahannya. Segala caci maki yang
keluar dari lorong-lorong jahanam tergelap yang tak pernah dia paham
keberadaannya, tak perlah luput dia terima. Lalu segala macam bentuk pukulan
juga tak luput mendarat di tubuh kecilnya. Dan saat itu dia hanya mampu
menangis.
Lalu saat ibunya sudah
merasa puas melampiaskan semua kemarahannya, Febri dapat tertatih keluar rumah.
Menyambut dan disambut oleh hujan, dia akan menangis sesenggukan tanpa disadari
oleh siapapun. Karena air hujan menyembunyikan air mata Febri yang menetes,
lalu hujan pulalah yang menghapus air matanya tanpa ia sadari air yang menganak
sungai di pipinya hanya air hujan saja. Sedang air matanya sudah terhenti. Dia merasa
sangat diselamatkan oleh hujan.
Gadis kecil itu percaya
setelah hujan pasti akan ada pelangi yang indah, seperti hidupnya yang penuh
lelah, lebam dan tangis pasti akan ada senyum yang indah. Karena itu dia sangat
merindukan hujan. Hujan yang dapat menghadirkan senyum untuknya. Hujan yang
menghapus semua lukanya. Hujan yang akan memeluk tubuh kecilnya.
Gadis kecil itu
benar-benar mencintai hujan lebih dari siapapun, dan sepertinya hujan pun juga
mencintainya. Seperti saat ini, hujan turun dengan derasnya saat tubuh kecil
Febri diusung menuju peristirahatan terakhirnya. Tubuhnya tak lagi bernyawa
saat api melalap dia dan ibunya sekaligus. Himpitan ekonomi membuat ibunya
menyalakan api untuk terlebih dahulu mengguyur tubuhnya sendiri lalu anaknya dengan bensin. Hingga
membuat keduanya tak bernyawa lagi.
Kini gadis kecil yang mencintai
hujan itu telah pergi. Dan berhari-hari hujan yang dia cintai itu turun tak
berhenti. Karena hujan juga mencintainya.
Saturday, February 20, 2016
Maguwoharjo I'm In Love
Kucoba merakit kembali ingatan masa itu, saat siang terik menyapa kost-ku di Semarang. Saat siang mengantarkan seseorang yang memang kutunggu kedatangannya menjemputku. Saat siang juga mulai menggulung awan menjadikannya mendung, aku mulai khawatir kalau hujan. Namun siang ini aku senang karena melihat dia yang tersenyum menjemputku. Rencananya kami memang akan berangkat ke Stadion Jatidiri Semarang untuk mendukung Klub kebanggaan kami, Arema!!!
Setelah Sholat Azar di Masjid kampus, aku dia dan teman-temannya yang juga Aremania dari Gemolong siap tancap gass menuju TKP, walau boleh dibilang kalo stadionnya tidak jauh dari kost-ku. Hanya berjarak sekitar 10 menit mungkin. Apalagi jalannya menurun serasa hanya perlu menstabilkan stang saja.
Setelah sampai di Stadion, keadaan masih belum begitu ramai. Aku dan teman-teman yang lain masih menunggu rombongan dari Aremania Sragen. Cukup lama hingga rombongan yang memang datangnya mepet itu tiba di Stadion Jatidiri, jadi sembari menunggu ASC datang kami foto-foto di Stadion dulu.
Rasanya semua moment gak luput dari jepretan kamera digital yang memang sengaja aku bawa. Dan setelah rombongan ASC tiba kami pun bergabung sama teman-teman yang sekota denganku itu.
Tiket yang sudah ditangan membuatku tidak sabar untuk masuk, karena di dalam pun sudah terdengar riuh sekali. Tapi teman-teman Sragen dengan santainya bilang kalau mau masuk setelah babak kedua mulai atau malah mau masuk kalau sudah menit ke 80 atau setelah perpanjangan waktu. Aku tau itu hanya bercanda tapi aku sendiri tidak suka kalau harus masuk saat sudah hampir dimulai pertandingan, pasti berdesakan. Ya sudah aku paksa saja pacarku David untuk aku ajak masuk, tapi dia bilang juga nanti. Aku marah jadi aku masuk duluan, dia tetap tidak mau dan memaksa aku untuk masuk bareng dia dengan menarik pergelangan tanganku. Tapi aku tetap pengen masuk jadi aku tarik saja tanganku walo aku lihat dia kesakitan, aku tidak peduli, akhirnya dia menyerah dan mengikuti aku masuk stadion.
Di dalam sudah ramai penuh sesak oleh Aremania dan Panser Biru dan juga Snex. Walau Aremania sudah mendapat satu tribun namun hampir full juga akhirnya kami tetap kebagian yang paling ujung yang masih sepi. Disusul setelah itu ASC yang juga masuk.
Puas sekali rasanya hari itu, meskipun laga persahabatan antara PSIS VS AREMA yang berakhir seri. Namun sepanjang pertandingan tidak henti bernyanyi mendukung Arema yang berlaga, seperti menyalurkan semangat. Puas dan sangat menyenangkan, bisa mendukung Arema dengan orang yang kucintai dan dengan teman-temanku, walau sempat diwarnai insiden ricuh maksa-memaksa masuk stadion duluan dan sedikit marah. Tapi memang itu adalah hari yang menyenangkan.
Tidak disangka juga karena laga di Stadion Jatidiri tersebut ada seseorang yang diam-diam memperhatikan aku, yang jelas bukan David pacarku, soalnya kalo pacarku sendiri gak perlu diam-diam memperhatikan aku. Namanya Devid, Aremania Pacitan, aku sendiri tau saat setelah berkenalan cukup dekat dengannya. Bacalah di sini JATIDIRI I'M IN LOVE
Aku sendiri tidak pernah memperhatikannya, jangankan memperhatikannya, mengenalnya saja tidak. Karena memang di Stadion Jatidiri aku sudah bersama pacarku David, jadi selain memperhatikan pertandingan yang sedang berlangsung aku juga memperhatikan pacarku sendiri.
Semua gara-gara wajah konyol dia yang tidak sengaja terjepret kameraku karena memang pada niatannya aku ingin memfoto Ifana temanku. Selain itu jujur saja aku tertarik berteman dengan dia karena namanya yang hampir sama dengan pacarku, David. Namanya Devid hanya berbeda satu huruf saja. Walau diawal aku tidak percaya kalau namanya itu. Di dalam Fesbuk semua hal kan bisa dimanipulasi, apalagi hanya sekedar nama.
Namun setelah cukup lama berteman, cukup lama kenal aku merasa mulai tertarik dengan dia. Walaupun aku sendiri sudah punya David. Namun tidak bisa aku bohongi aku juga memikirkan Devid di sisi lain hatiku.
Hingga pada pertandingan Arema yang di gelar di Stadion Maguwoharjo, disitulah aku benar-benar menyadari kalau hati aku cuma terisi Devid saja, tidak menyisakan tempat untuk David lagi. Saat kedatangan rombongan Aremania Pacitan yang sangat aku tunggu-tunggu, saat aku begitu ingin melihat wajah dia. Hanya sekedar melihat saja karena jujur aku bingung mau mengobrol apa kalau harus beremu. Saat itulah aku sadar kalau pendanganku hanya tentang dia, Devid. Aku yakin pacarku pasti juga menyadari itu, dia berkali-kali menyindirku, berkali-kali memalingkan wajahku dengan tangannya saat melihatku hanya menatap Devid.
Sampai pertandingan di mulai aku bersama Aremannia Sragen mulai memasuki Stadion yang terletak di Sleman tersebut, hanya sekali aku melihat Devid berjalan melewatiku. Saat setelah masuk di Stadion, aku menawarkan dia untuk berfoto denganku, karena aku benar-benar ingin berfoto dengan dia. Entah dia berbicara apa, dengan berjalan dia hanya berbisik dengan mulut yang bergumam. Aku tidak mendengar dia berbicara apa, tapi sepertinya garak bibirnya tersebut cukup menggetarkan hatiku. Dan dari situ aku benar-benar sadar, bahwa otakku pun juga sudah diisi hanya tentang dia.
Sepanjang pertandingan selain memikirkan Arema aku juga terus-terusan memikirkan Aremania Pacitan tersebut. Hingga pertandingan selesai walau tidak dengan peluit panjang wasit tapi dengan hujan botol, aku tidak bertemu juga dengan Devid. Aku keluar dan mencoba menghubungi dia, belum sempat aku mengetik, banyak sms sudah menggetarkan HP-ku. Ternyata sms dari dia, banyak sekali. Sepertinya saat di dalam stadion semua sms-nya tertahan oleh sinyal yang diperebutkan oleh ribuan HP.
Yang masih ku ingat saat itu adalah dia mengajakku menonton Pasar Malam yang memang sedang meriahnya digelar berjajar dengan Stadion Maguwoharjo. Aku terus menanyai dia sedang berada dimana. Aku mengajak pacarku untuk menemui dia, rupanya pacarku ini cukup percaya diri untuk mau aku ajak bertemu dengan Devid. Padahal kami sudah motoran keluar area parkiran Stadion bahkan sudah sampai jalan yang cukup jauh tapi putar balik untuk mencari-cari lokasi Devid. Aku benar-benar ingin bertemu dengan dia. Sekedar melihat dia lagi, dan bertemulah di samping gerobak penjual wedang ronde. Dia sedang menikmati semangkuk wedang ronde dengan teman-temannya, waktu itu dia menyebutnya cimoe, mungkin di daerahnya Pacitan sana wedang ronde dinamakan Cimoe. Tidak banyak yang aku bincangkan dengan dia, karena aku sendiri bingung mau bicara apa, salah tinggah juga aku saat ku intip jaketnya apa dia juga buka atribut seperti pacarku saat keluar stadion. Kerena takut kalau ada sweeping dari suporter lawan. Ternyata dia juga tidak memakai kaos, hanya pakai jaket saja, aku tersenyum kecil dalam hati. Karena bingung dengan situasi dan wedang rondeku juga sudah habis akhirnya aku pamitan dengan dia. Meskipun cukup kecewa juga tidak dapat berfoto dengan dia, tapi aku sendiri bingung saat sudah bertemu dia hanya diam, kalau aku tidak bertanya dulu dia pasti cuma diam. Ya sudah pada akhirnya aku tetap tidak berani meminta berfoto dengan dia.
Sepanjang perjalanan dibonceng pacarku tapi pikiranku hanya dipenuhi oleh Devid saja, meskipun aku hanya berdua dengan pacarku tapi entah kenapa aku begitu jahat karena aku tidak lagi peduli dengan pacarku sendiri. Kami tidak langsung pulang, mampir dulu di Malioboro lalu setelah pagi semakin dini, kami menginaap di SPBU dekat Prambanan, dan rupanya disana juga banyak Aremania yang juga menginap, karena kulihat dari Plat N ditiap motor yang terparkir sedangkan pemiliknya sudah terlelap.
Paginya seperti yang sudah direncanakan kami pergi ke Paralayang Parangendog dan Parangtritis. Itu adalah rencana main kami yang sudah lama, dan itu juga pertama kalinya kami pergi jauh berdua. Hal yang sudah lama sangat aku inginkan tapi tidak bisa aku bohongi, hatiku tidak bahagia.
Aku merasa tidak lagi bisa bersama David, akan sangat sedih kalau waktu yang dihabiskan berdua tapi salah satu tidak bahagia. Akhirnya setelah sampai di Semarang aku katakan semua yang aku rasakan tanpa sedikitpun ada yang aku sembunyikan. Perasaan cintaku yang sudah terkikis sedikit demi sedikit karena semua kecewa yang aku alami saat bersama dia. Semua masalah yang tidak mulus sama sekali dalam penyelesaiannya memberikan efek penghapus yang sukses menghapus nama David. Dan puncaknya nama tersebut benar-benar hilang terganti dengan Devid.
Tidak ada sedikitpun penyesalan saat aku minta putus dengan David. Karena aku tidak ingin membohongi hatiku sendiri, kalau penghuninya sudah berganti dengan Devid. Walaupun aku sendiri tidak akan tahu apakah perasaanku ini akan terbalas, tapi aku cukup percaya untuk berjuang.
Semakin lama kami semakin dekat, semakin lebih mengenal karena banyak perbincangan. Hingga pada tanggal 18 Juni 2015 Devid mengatakan kalau dia ingin aku jadi pacarnya, terus terang aku seneng bercampur bingung juga. Masih banyak masalah perasaan yang belum aku selesaikan selain itu aku juga tau dia hari itu ulang tahun. Aku berpikir kalau biarlah dia bahagia untuk hari yang dia peringati untuk ulang tahunnya itu tidak perlu doble-doble dengan hari dia akan jadian. Jadi kutahan dulu kata "iya"-ku itu, aku sendiri masih ingin menyelesaikan masalahku yang lain. Hingga dua hari setalahnya aku merasa kalau aku takut kehilangan dia jadi aku benar-benar ingin bersama dia terus.
Aku bukan orang yang bisa mencintai seorang hanya dari first sight atau cinta dari pandangan pertama, tapi aku akan bisa mencintai orang tersebut kalau sudah lebih dulu mengenal dia dekat. Tapi terus terang aku benar-benar bisa disadarkan kalau aku mencintai Devid saat berada di Stadion Maguwoharjo, saat dia membisikan kata-kata dari jauh dan gerak bibirnya tersebut benar-benar mampu menggetarkan hatiku. Dari situ aku mulai menyadari hatiku untuknya sepenuhnya. Devidku.
Friday, January 22, 2016
Semar Mesem
Puisi Patah Hati
Oleh Kinanthi Putri
Purbaningrum dari kelas XI IPS 2
Semangat
seakan tercabut dariku
Menghabisi
langkah semalam yang telah ku tertawai sendiri
Bisakah kita simpan saja semua tawa itu bersama
Atau
tidak usah kita punyai sekalian sejak awal
Karena
semua itu semakin sakit
Membuatku
hilang akal, hilang pijakan
Dan
menghadirkan gamang tak terpungkiri
Melihatmu
menjauh memeluki keindahan lain
Aku
hanya bisa terdiam sambil menerawang
Benarkah
takdir sejahat itu
Padahal
tanganku sudah terlanjur kurentangkan untukmu
Kuhitung
kira-kira ada enam orang yang sedang berkerumun di hadapan puisiku yang
tertempel di mading. Bel pulang sekolah sudah berbunyi kira-kira dua jam yang
lalu. Tapi beberapa siswa masih banyak yang mengikuti ekstrakulikuler dan jam
tambahan untuk kelas tiga karena sudah mendekati Ujian Nasional. Aku sendiri
sedang menunggu jemputan yang tidak juga datang. Padahal sudah satu jam.
Di
seberang kulihat Oltaf melambaikan tangannya kearahku. Dengan seragam bola yang
masih kumplit menempel di badannya, dia berlari-lari kecil menghampiriku.
“Setia
banget nungguin aku, Nan.” Canda Oltaf sambil tertawa-tawa mengibaskan keringat
di tangannya ke arah mukaku.
Sepontan
aku menghindar “Hih, jorok banget sih.” Sambil aku cemberut protes pada tingkah
kekanakannya.
“Dih
sok-sokan padahal juga biasanya malah dihirup-hirup bau kringatku.” Oltaf
tertawa puas. Aku hanya diam tak menanggapi. Paham kalo aku sedang tidak ingin
bercanda, kapten tim sepak bola tersebut kembali bertanya “Mas Dirjo belum
datang jam segini?” Aku hanya menggeleng, sambil dia melihat ke arah lapangan
memastikan bahwa tidak ada yang sedang mencarinya, dia menanggapi gelenganku
“Wah minta dipecat tuh supirmu Nan, kebanyakan makan gaji buta. Aku anter aja
yuh, langit mendung tuh bentar lagi magrib lagi.” Oltaf merogoh kantong
celananya pasti mau mengambil HP, sebelum sempat dia meraih alat komunikasi
tersebut, aku menolak tawarannya “Gak usah, tadi aku udah di SMS Mamaku kalo
Mas Dirjo emang agak telat, jadi biar aku tunggu aja.”
“Wah
kalo ini sih udah bukan agak telat lagi Nan, tapi telat banget. Udahlah aku
anter aja lah, biar aku ganti baju dulu.” Paksa Oltaf lalu menggandeng tanganku
mengajakku berdiri.
“Beneran
gak usah Taf, aku juga gak enak sama Fiza kalo dia tau ntar cemburu.” Tolakku
halus sambil kubuang pandang ke arah pintu gerbang sekolah.
Sebelum
Oltaf kembali memaksaku kulihat sebuah mobil Avansa silver berhenti rapi di
depan gerbang yang sudah sepi siswa. “Nah itu Mas Dirjo udah datang, aku duluan
yah. Bye.”
Kudengar
sayup dia menjawab dan berbicara entah apa, tapi aku tidak ingin menengok
karena terasa air mataku segera jatuh. Bersamaan dengan itu rintik hujanpun
juga jatuh. Hujan pertama di bulan November. Aku bergegas menghampiri mobil
jemputanku. Memasukinya dengan perasaan nyeri yang tak seorangpun tau. Mas
Dirjo yang mengatakan permintaan maaf tak kudengarkan. Sepanjang jalan aku
hanya melamun. Bayangan seminggu yang lalu kembali terlintas.
Waktu
itu aku duduk sambil serius mengerjakan tugas Sejarah yang berlembar-lembar
belum juga selesai. Padahal soalnya hanya satu tapi jawabannya bagai menulis
buku. Tiba-tiba Oltaf yang biasanya duduk di belakangku, memilih duduk di
sampingku. Dengan wajah yang berbinar dia bercerita bahwa dia baru saja jadian
dengan Fiza, murid kelas satu yang dulu pernah aku marahi saat Ospek karena
memakai lipstik warna merah dan terlihat tidak pantas. Aku lihat mata Oltaf,
karena aku memang memiliki kelebihan bisa melihat kebohongan atau kejujuran
dari mata orang yang sedang berbicara denganku. Dari mata tersebut aku bisa
mengetahui apakah orang tersebut sedang berkata dengan jujur atau tidak. Dan
dari mata Oltaf aku lihat kejujuran kalau dia benar-benar sedang jatuh cinta.
Selanjutnya
aku tidak mendengarkan lagi kata-kata yang diucapkan oleh seseorang yang sedang
dilanda virus merah jambu tersebut. Aku menekuri buku tulisku seakan sedang
serius mengerjakan padahal entah apa yang aku tuliskan tidak lagi jelas. Oltaf
tetap menggebu-gebu bercerita sampai Guru Sejarah menegurnya dan menyuruhnya
untuk kembali ke tempat duduknya.
Dari
belakang Oltaf tetap memanggiliku dengan mengetuk-ngetuk ujung bulpennya ke
punggungku. Tanpa memalingkan wajah aku hanya memberinya isyarat kepalan
tanggan untuk meninjunya kalo dia tetap menggangguku. Dari belakang kudengar
dia tertawa pelan. Padahal mataku sudah berkaca mencoba menahan air mata.
Rasanya seperti ada sesuatu yang tercabut dari hatiku, lalu bagian yang kosong
tersebut dilintasi ribuan angin yang berbentuk seperti pisau yang
menyilet-nyiletnya. Nyeri.
Sejak
masuk SMA memang teman terdekatku adalah Oltaf, awalnya kami bisa dekat adalah
karena sama-sama suka klub sepak bola dari Inggis yaitu Chelsea. Konyol
sebenarnya tapi dari situ ternyata kami punya banyak kesamaan, itulah mengapa
kami bisa begitu dekat dan dari situ ternyata aku merasakan perasaan yang lebih
dari hanya sekedar sahabat.
Kalo
kata orang Jawa “tresno jalaran soko kulino” atau kalau diartikan dalam bahasa
Indonesia artinya cinta karena sering bersama. Mungkin itu yang membuatku jatuh
hati pada Oltaf, tapi ternyata yang merasakan hal tersebut hanya aku. Sedangkan
Oltaf hanya menganggapku tidak lebih dari seorang sahabat yang nyaman diajaknya
cerita dan bercanda. Dia jugalah yang menjadi maksud dari puisi yang tertempel
di mading sekolah. Tapi kupastikan tidak ada yang tahu.
Tanpa
kusadari Mas Dirjo sudah membukakan pintu untukku, jadi tanpa dikomando aku
keluar dari mobil yang akan segera diparkir. Rumah kulihat sangat sepi, hanya Mbok
Laila pembantu rumah yang menyambutku.
“Yang
lain kemana, Mbok?”
“Semua
sedang di rumah sakit Non.”
“Keadaan
nenek semakin memburuk ya, Mbok?”
“Loh
Non belum diberitahu Mas Dirjo ya? Kalo Neneknya Non tadi sempat meninggal.”
“Mbok
jangan bercanda, maksudnya gimana?”
“Mbok
tidak bercanda Non, tadi memang rumah dapat kabar begitu tapi terus dikabari
lagi kalau Neneknya Non tidak jadi meninggal.”
“Aku
makin bingung Mbok. Udahlah aku mau nyusul ke rumah sakit aja.”
“Mau
Magrib Non gak baik keluar. Sendyakala Non, banyak setan yang bermunculan kalo
waktu seperti ini.”
“Yaelah
Mbok masih aja percaya kaya gitu.”
“Aku
mau mandi dulu, Mas Dirjo suruh siap-siap ya Mbok.”
“Rumah
sakitnya kan jauh Non. Ibu tadi berpesan supaya Non tidak perlu menyusul, kan
besok Non Kinanti juga harus sekolah tho?”
“Aku
kan juga pengen tau keadaan Nenek Mbok, masak gak boleh. Mbok ini gimana.”
“Ya
sudah Non biar Mbok ke Mas Dirjo dulu.”
Tak
perlu waktu lama untuk bersiap-siap aku sudah berada diatas mobil. Perjalanan
menuju rumah sakit tempat nenek dirawat memakan waktu selama dua jam. Karena
berbeda kota. Setelah kakek meninggal, selama itu nenek memang lebih memilih
tinggal dengan Om Anggoro, anak laki-laki satu-satunya, padahal nenek memiliki
4 anak perempuan yang semuanya berkecukupan termasuk salah satunya adalah mamaku.
Mungkin karena Om Anggoro anak ragil alias anak terakhir sekaligus anak
laki-laki yang katanya sudah sangat ditunggu-tunggu kelahirannya oleh nenek.
Sampai
di rumah sakit, kulihat jam besuk pasien sudah di tutup. Tapi karena darurat
dan nenek termasuk pasien VIP jadi pihak rumah sakit memperlonggar peraturan,
sehingga aku diperbolehkan membesuk. Di dalam ruangan hanya ada mama dan Bulek
Diah yang menunggui. Sedangkan papa dan Om Anggoro menunggui di luar. Aneh
menurutku, karena kamar inap nenek termasuk VIP yang memiliki ruang tamu
sendiri.
Kulihat
wajah mama dan Tante Diah yang kuyu, kelelahan.
“Ma,
mama udah makan?” sambil kusodorkan roti yang sempat kubeli di Alfamart saat
menuju rumah sakit tadi.
Mama
hanya menggeleng, lalu Bulek Diah yang menjawab, “Kita tadi udah makan Nan,
kamu memang besok tidak sekolah?”
“Kinanthi
bisa ijin sehari kog Bulek, ya kan Mah?” aku minta persetujuan mama. “Aku
pengen nungguin Nenek.”
Kulihat
mama hanya mengangguk. Mata mama terlihat seperti habis menangis tapi lebih
dari itu kulihat mama seperti sedang memikul pikiran yang sangat berat. Jadi Bulek
Diah istrinya Om Anggoro lagi yang berbicara seolah menjadi juru bicara dari
mama. “Mama kamu sepertinya capek Nan, gimana kalo kamu sama papa mama kamu
sekarang menginap ke rumah Bulek saja Nan, biar diantar Om kamu yah. Malam ini
Bulek yang menjaga nenek.”
“Tapi
Kinanthi pengen sama nenek Bulek, jadi biar Kinan yang malam ini jaga nenek.
Bulek saja sama mama papa yang pulang. Sepertinya semua capek.”
Kulihat
Bulek Diah sedikit berpikir, “kamu gak papa jaga nenek sendirian Kinan?”
“Iya
Bulek gak papa.”
Mama
tiba-tiba memegang tangan Bulek Diah. Lalu seolah mengisyaratkan untuk tidak
membolehkan aku menunggui nenek di sini.
“Em
biar Bulek temani saja ya Kinan.”
“Ya
udah berdua juga gak papa kog Bulek.”
Bulek
Diah tersenyum tipis, lalu aku berjalan keluar. “Loh kamu mau kemana Kinan?”
“Manggil
papa sam Om Anggoro masuk, Bulek.”
Tiba-tiba
saja mama berlari kearahku, tangan mama mencengkeram tanganku dengan sangkat
keras, menghalangiku keluar kamar.
“Aduh
sakit Mah.” Tak lama mama langsung melepas tangannya dari pergelangan lenganku.
“Tidak
usah.” Kata mama dengan wajah datar.
Aku
benar-benar merasa ada yang aneh dengan mama, kulihat mama yang keluar kamar
tanpa berpamitan. Lalu aku kembali ke Bulek Diah meminta penjelasan tentang
keadaan yang sebenarnya terjadi seperti apa. Selama ini aku memang paling dekat
dengan Bulek Diah ketimbang saudari-saudari kandung mama. Pasalnya tiap aku
sedang libur atau sekedar ingin membuang sumpek di kota aku pasti lebih memilih
ke rumah Bulek Diah, selain itu juga karena ada nenek. Jika nenek anak laki-lakinya
hanya satu, maka kebalikannya cucu nenek yang perempuan cuma satu, yaitu aku.
Bulek
menatap nenek yang lelap dengan nafasnya satu-satu. Mata nenek berkantung hitam
terlihat semakin cekung terkatup rapi seolah tak akan mampu terbuka lagi
selamanya. Selang oksigen masih ditempatnya membantu pernafasan nenek yang
entah tujuannya sampai mana. Aku melihat tubuh nenek yang begitu kurus
terbaring tak berdaya, tak kuasa menahan air mata.
“Nenek
masih terlihat cantik kan walaupun sudah setua ini?” tanya Bulek Diah tanpa
melepas pandangnya pada nenek.
Aku
hanya mengangguk meniyakan. Memang masih terlihat sisa-sisa semburat kecantikan
diwajah nenekku ini. “Nenek pasti waktu masih muda dia sangat cantik.”
“Kamu
tau Nan kenapa Mamamu tidak memperbolehkanmu memanggil papamu dan Om-mu masuk
kesini?”
Aku
menatap Bulek Diah, tidak mengerti.
“Iya
semua karena kecantikan nenek ini.” Jawab Bulek Diah sendiri.
Aku
semakin tidak mengerti dengan maksud kata-kata Bulekku ini.
“Kinan,
dengarkan Bulek baik-baik, Bulek ingin bercerita tapi kamu harus bisa menjaga
rahasia ini.”
“Sebenarnya
ada apa Bulek?” Aku menatap Bulekku.
Sambil
memegang tangan nenekku, Bulek seolah meminta ijin pada nenek. “Ibu, bolehkan
Diah ceritakan semua pada Kinanthi. Kinan berhak tau.” Sambil tersenyum sedih
bulek melanjutkan ceritanya kepadaku. “Sebenarnya papamu dan Om-mu tidak boleh
mendekati nenek.
“Kenapa
Bulek?”
“Bukan
hanya mereka, tapi semua laki-laki tidak diperbolehkan mendekati nenek. Bahkan
untuk dokter dan perawat nenek, Om Ang-mu sudah meminta untuk diganti dengan
perempuan. Semua demi kelancaran nenekmu. Sebenarnya ini sudah menjadi batas
hidup nenek, Kinan. Tapi nenek belum bisa meninggal.”
Aku
hanya diam mendengarkan, berusaha tidak menyela cerita Bulekku, meskipun aku
belum benar-benar paham maksudnya.
“Semua
karena susuk pengasihan yang dipakai nenek.” Lanjut bulek sambil melihat nenek.
“Kinan lihatlah dagu nenekmu, disitu terletak susuk yang dipakai nenek.”
Aku
tersentak serasa tidak percaya dengan cerita bulek Diah. Aku tidak percaya
nenekku memakai barang seperti itu, terlebih dijaman modern seperti ini
masihkan hal semacam itu ada. Tapi jika kuamati wajah nenek yang cantik. Kecantikan
diwajahnya, tapi lebih dari itu dagu nenek memang bagus. Aku bayangkan dulu
pasti banyak yang menyukai nenek. Nenek terlihat manis dengan dagu yang lancip.
“Pada
saat nenek masih muda, nenek juga seorang penari yang sangat terkenal. Nenekmu
penari yang sangat laris dimanapun. Nenek memakai susuk memang agar dirinya
menjadi penari yang sukses, banyak panggilan diberbagai tempat. Selain itu,
karena susuk itu juga banyak laki-laki yang tergila-gila pada nenek.”
Aku
terdiam masih tidak percaya dengan cerita bulek Diah. Tapi aku mencoba
menanggapi “Apakah susuk itu tidak bisa diambil dari tubuh nenek, Bulek?”
“Kami
sudah mendatangi orang pintar Kinan. Ada dua cara agar susuk itu bisa
dihilangkan dari tubuh nenek. Yang pertama adalah orang yang memasangkannya
yang bisa mengambilnya. Lalu yang kedua adalah memindahkan susuk tersebut
kepada orang lain.”
“Lalu
bagaimana Bulek? Kasihan nenek tidak bisa pergi dengan tenang.” Aku merasa sedih
sekaligus tidak suka juga. Sedih karena kasihan melihat kondisi nenek, tapi benci kenapa nenek harus memakai hal semacam itu.
Kasihan sudah menderita sakit begitu lama. Bertahun-tahun hanya mampu tergeletak di ranjang rumah sakit dan berbulan-bulan ini sudah tidak dapat merespon apapun. Hanya tinggal nafas yang disokong oleh selang oksigen. Sepertinya hanya dari situ kehidupan nenek digantungkan.
Kasihan sudah menderita sakit begitu lama. Bertahun-tahun hanya mampu tergeletak di ranjang rumah sakit dan berbulan-bulan ini sudah tidak dapat merespon apapun. Hanya tinggal nafas yang disokong oleh selang oksigen. Sepertinya hanya dari situ kehidupan nenek digantungkan.
Bulekku
kembali berbicara, “Sayangnya orang pintar yang dulunya memasangkan susuk untuk
nenekmu tersebut sudah meninggal, Kinan. Kami juga sudah mencoba memindahkan
susuk tersebut ke orang lain yang memang ingin memakai susuk, tapi ternyata
tubuhnya menolak. Sementara ini Om Anggoro masih mencoba mencari orang pintar
lain yang bisa menghilangkan susuk tersebut dari tubuh nenekmu, Kinan. Semoga ada cara lain. Kasihan nenekmu harus menderita seperti itu.”
Jujur
aku sendiri tidak begitu paham dengan hal semacam itu, tapi aku berusaha
mencerna cerita bulekku. “Jadi karena itu nenek susah meninggal, Bulek?”
“Iya
Kinan. Mamamu kaget mendengar cerita ini, dia juga baru tau. Aku harap kamu tidak membenci nenekmu, jaman dulu kehidupan begitu susah
Kinan.”
Aku
pandang wajah nenek begitu renta, ringkih hanya mampu memejam. Banyak hal yang
ingin aku tanyakan padanya. Lalu bergantian aku lihat wajah bulekku yang
matanya mendakan sudah ingin terpejam. “Bulek ngantuk ya? Pasti bulek capek.”
Bulek
tersenyum tipis “Kinanthi, kamu juga sebaiknya istirahat. Tidurlah di sofa sana.”
“Iya
Bulek.” Kulirik jam di dinding sudah jam dua dini hari.
Paginya
aku sudah terbangun dengan mama duduk disampingku. “Udah bolos sehari,
sebaiknya hari ini kamu pulang Kinan.”
Kuikuti
perintah mama, aku pulang sama Mas Dirjo dan papa. Karena besok papa juga harus
kerja. Sampai di rumah hari sudah siang. Teman-teman banyak yang BBM menanyakan
kenapa aku tidak masuk sekolah. Aku rebahkan tubuhku di kasur sambil membalas
BBM temanku satu per satu. Dan esoknya seperti biasa kukenakan seragam putih
abu-abuku. Dengan diantar supirku Mas Dirjo, aku berangkat sekolah.
Kulihat
jam tanganku, kurang 15 menit bel sekolah akan berbunyi, mobil sudah berbelok
di depan gerbang sekolah. Tanpa disuruh aku turun, dari kejauhan
terlihat sosok Oltaf dan Fiza sedang berbicara berdua. Entah apa yang mereka
bicarakan tapi tiba-tiba setelah melihat aku. Oltaf malah berjalan menghampiriku.
Aku
sendiri berjalan menuju ruang kelas di lantai dua. Oltaf berusaha menjajari
langkahku. “Selamat pagi Kinanthi Putri Purbaningrum.” Aku hanya mendengus, sambil
tetap berjalan. Berusaha mengabaikan keusilan Oltaf. “Dih sombong amat tuan
putri. Hehe.” Aku duduk di tempat dudukku, lalu Oltaf duduk di depanku tapi
menghadap ke aku. “Kemarin kemana gak masuk sekolah, bolos gak ngajak-ngajak.”
Aku
lihat dia dengan wajah memelas memohon untuk tidak menggangguku pagi-pagi, tapi
dia malah tersenyum. Melihat wajahnya yang kemarin tidak aku temui sehari, seperti
muncul rasa kangen. Aku coba halau perasaan itu, aku harus sadar diri lagipula
dia sudah pacar orang. Tidak bisa kalau seakrab dulu, harus menjaga perasaan
orang lain. Karena itu aku mulai menjaga jarak sejak tau dia sudah pacaran
dengan Fiza. Selain itu juga karena aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku
pada Oltaf.
“Aku
kangen sama kamu, Nan.”
Deg!
Jantungku rasanya mau loncat keluar dari tempatnya. Aku tidak berani menatap
Oltaf, tapi rasanya tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
“Gak
usah becanda. Dah sana! Ganggu aja pagi-pagi, Taf.”
“Aku
gak becanda, Nan. Kamu beda ya sekarang?”
“Apa’an?”
“Gak
tau, kamu tambah cantik aja.”
“Hemb.”
“Aku
serius, Nan. Kayanya aku suka sama kamu.”
Deg!
Kali ini jantungku bener-bener keluar dari tempatnya. Kutatap mata Oltaf,
memastikan kejujuran di sana. Dan aku lihat dalam manik mata bening tersebut
yang tergambar adalah wajahku. Dia jujur berkata begitu.
“Aku
jatuh cinta sama kamu, Kinan.”
Jantungku
sudah tidak karuan rasanya, berbarengan dengan itu, HP-ku bergetar. Telepon
dari Mama. Karena bel masuk sekolah belum terdengar jadi kuangkat saja.
“Iya
Mah.”
“Nenek
meninggal, Kinan. Kamu ijin pulang yah.”
Belum
sempat aku jawab, dibelakang terdengar suara Bulek Diah sedang berbicara entah
dengan siapa. Tapi aku mampu menangkap pembicaraannya walaupun samar.
“Semar Mesem hanya bisa dipindah pada keturunan perempuan yang sedarah. Tenanglah, nanti kita mencari jalan keluarnya.” Begitu kira-kira yang diucapkan Bulek Diah. Lalu telepon ditutup.
“Semar Mesem hanya bisa dipindah pada keturunan perempuan yang sedarah. Tenanglah, nanti kita mencari jalan keluarnya.” Begitu kira-kira yang diucapkan Bulek Diah. Lalu telepon ditutup.
Kepalaku
rasanya dipenuhi dengan teka-teki silang.
Nenek
pakai susuk. Tiba-tiba Oltaf bilang cinta sama aku. Dan nenek meninggal. Lalu
kata-kata samar Bulek Diah.
Apa maksudnya?
Apa maksudnya?
Subscribe to:
Posts (Atom)










