Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Friday, June 12, 2015

Teras, Rumah dan Pekarangan Belakang

Di sebuah salon kecantikan.

Kupandangi wajah pelangganku ini, mungkin seumuran dengan ibuku yang ada di kampung. Ah aku sudah lama tidak pulang menengok ibu dan bapak di kampung. Tapi kalau pulang juga pasti sangat menyebalkan, mendengarkan mereka berdua mengomelkan banyak hal tentang dandananku. Yang katanya aku menor, aku terlihat tua dari umurku, aku berdandan seperti perempuan tidak benar, rambutku yang ku cat merah sepertinya sangat mencemarkan nama baik mereka di kampung. Ditambah lagi dengan komentar mereka tentang pakaianku. Ah aku tidak mau mengingat mereka, membuat sakit hati saja.

Padahal tiap kali aku pulang, aku pasti tidak pernah absen membawakan duit yang bisa memenuhi kebutuhan mereka sampai berbulan-bulan. Rumah di kampung juga bisa diperbaiki semua berkat duit dari kerja kerasku. Tapi mereka tidak pernah peduli, yang mereka pedulikan adalah omongan dari tetangga yang berkomentar macam-macam tentang pekerjaanku dan pakaianku.

Mereka harusnya tahu, aku bekerja di salon. Kalau aku tidak berdandan cantik dan mengenakan pakaian yang tidak modis tentu pelangganku tidak akan percaya pada keterampilanku merias wajah dan menata rambut. Ah mereka tahu apa, hanya bisa bergosip tiap hari. Padahal di kampung mereka sangat miskin, seharusnya mereka bekerja bukannya hanya bergosip di warung-warung makan dan di pekarangan rumah. Muak aku, tapi aku juga tidak peduli. Sejak aku pergi ke kota, aku tahu di sini aku harus merubah nasipku. Aku tidak ingin miskin terus, aku harus bekerja keras. Disini tuntutannya sangat tinggi, jika ingin dihormati dan tidak dipandang rendah, aku harus mengikuti zaman.

Pertama adalah merubah gaya berpakaianku, lalu membeli SmartPhone dengan layar yang lebar seperti milik teman-temanku. Aku juga ingin makan di restoran-restoran mewah atau sekedar minum di kafe sambil berfoto selfi dengan minuman yang dari harganya tidak mungkin untuk tetangga-tetanggaku di kampung membelinya. Masuk di kafe-nya saja mereka pasti sudah minder. Tapi aku berbeda, aku cantik dan aku pantas!

Semua bisa terwujud karena laki-laki itu. Awalnya memang tidak begitu kupedulikan. Terlebih ketika ku ingat kata-kata ibuku “Secinta apapun kamu, secantik apapun kamu dan sepintar apapun juga kalau kamu merebut lelaki milik perempuan lain, kamu dinamakan: binatang!” Kata ibu keras sambil melempar senyum getir, aku menggigil. “Hanya perempuan yang tidak punya hati yang dapat melakukan itu. Semua ada karmanya. Jangan sampai mengganggu rumah tangga orang lain. Balasannya lebih berat!” Tambah ibu lagi, matanya menerawang entah apa yang dia pikirkan, seolah dia tidak sedang berada ditempatnya saat ini. Aku hanya diam tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi itu dulu sekali, kata-kata ibu seolah seperti tertelan segala bentuk kemewahan yang aku miliki. Juga segala limpahan kasih sayang yang laki-laki itu berikan untukku, dia begitu perhatian lebih dari bapakku atau laki-laki manapun. Aku tidak pernah merasa sebegitu tersanjung ketika dia berikan bunga mawar dan cincin. Meskipun aku dengar dari teman-teman yang lain bahwa selain punya istri dan empat anak, laki-laki tersebut juga tidak begitu kaya. Tapi aku tidak peduli, teman-temanku hanya iri. Yang terpenting adalah aku bisa hidup enak sekarang, tidak hanya mengandalkan duit gaji kerja di salon yang tidak seberapa. Aku sadar duit itu hanya akan habis untuk mengirimi bapak ibuku di kampung saja. Sedangkan jika dari laki-laki ini aku bisa berdandan dengan kosmetik bermerk, baju-baju bermerk dan tentu aku bisa memamerkan foto-foto kelas atas ke sosial media yang akan membuat teman-temanku iri.


Aku rasa semua ini juga bukan murni karena kesalahnku saja, kenyataannya istri laki-laki itu tidak secantik aku, tentu lah suaminya mencari perempuan lain. Istrinya itu gembrot, tubuhnya dipenuhi lemak disana-sini dan laki-laki mana yang mau tidur dengan perempuan yang baunya selalu seperti bumbu dapur. Tidak seperti aku yang selalu menjaga penampilan dan juga wangi. Pantaslah kalau suaminya lebih memilih tidur denganku. Jadi jangan salahkan aku, aku memang cantik dan langsing. Dan jika suaminya menyukai aku dengan segala kasih sayang yang dia berikan, masak aku tolak?

Di sebuah kamar tidur.

Kupandangi cermin di depanku, yang nampak adalah seorang perempuan dengan tubuh telanjang. Tanpa secuil pun kain yang melekat. Kulitnya tak lagi semulus dulu, sekarang berbagai guratan yang menandakan bekas dapur dan sumur begitu melekat. Ditambah dengan gumpalan-gumpalan lemak disekitar paha dan perut, padahal dulu aku begitu sintal, tidak terlalu gemuk tapi tidak terlalu kurus, pas saja dan segar. Sekarang banyak bagian yang tidak begitu sedap dipandang. Beralih ke bagian wajah, dulu bibir yang merah itu begitu indah, sekarang legam padahal aku tidak merokok. Pipiku yang dulu juga bersih, tiba-tiba menjelma menjadi rawa, banyak bercak-bercak hitam yang berkerumun menghuninya.


Ini semua gara-gara KB! Namanya perempuan, kalau tidak pakai KB, ratusan anak bisa lahir. Yang repot siapa? Perempuan juga. Katanya kalau pakai IUD, lebih aman. Tapi aku takut, masak ada benda yang terbuat dari plastik dan tembaga berbentuk T dimasukan ke dalam rahim, pemakaiannya bisa 4-5 tahun. Ketika alat itu dipasang kita harus menaikan kaki tinggi-tinggi. Mengangkang! Yang buat aku ngeri, kita harus memeriksa diri sendiri apakah alat kontrasepsi itu masih berada dalam rahim dengan cara meraba benang IUD tersebut ke dalam vagina. Ngeri kalau harus memasukan jari sendiri ke dalam vagina. (Novel Tempurung - Oka Rusmini, dengan sedikit edit).

Selain itu, segala macam pekerjaan rumah juga aku sendiri yang mengurus tanpa pembantu. Jangankan menyewa pembantu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja aku juga harus bekerja berjualan nasi dan lauk-pauk tiap pagi. Mengurus 4 orang anak yang semuanya butuh makan. Mengurus rumah yang tiap hari selalu saja kotor. Mencuci, memasak, menyetrika, mengepel, menyapu, bagai babu di rumah sendiri. Kamu ingin aku tetap cantik seperti dulu? Semua tergerus perlahan terlebih dengan pekerjaan yang mengharuskanku bekerja keras siang malam di dapur demi menambah pemasukan tiap hari. Kamu begitu ingin aku selalu wangi? Bau asap dapur yang akan kau cium!

Berbeda sekali dengan kamu yang bekerja kantoran, mungkin hanya pegawai negeri rendahan, tapi kenyataannya duit gajimu malah kamu tukar dengan mobil. Yang harus kamu cicil dengan duit gajimu tiap bulan, hingga minus. Dan harus aku yang memenuhi segala kebutuhan rumah perharinya, pintar sekali kamu. Jelas kamu bisa kelihatan rapi bersih dan wangi tiap hari sehingga dapat digoda perempuan muda di luar sana. Apalagi dengan setelan seragam pegawai negerimu, lengkaplah untuk perempuan lain mengangapmu laki-laki sukses. Sedangkan aku hanya di belakangmu sambil merapikan segala kegagalanmu sebagai suami.

Memang sudah kodratnya sebagai perempuan, aku tidak ingin menyalahkan takdir. Tapi kenapa aku yang selalu disalahkan saat suamiku ketahuan memiliki perempuan lain di luar? Mereka menyalahkanku karena aku gembrot, tidak bisa menjaga tubuh, bau ku seperti bumbu dapur dan selalu cerewet. Mereka juga bilang aku perempuan goblok, yang mau saja dibohongi suaminya terus. Andai saja mereka tahu, aku juga sakit hati tiap kali membayangkan suamiku tidur dengan perempuan lain. Pertengkaran demi pertengkaran tiap hari, barang-barang yang dibanting ke lantai dan juga anak-anak yang ketakutan. Aku mulai lelah dan sadar bahwa semua itu tidak ada gunanya. Sekarang bagiku aku sudah tidak dapat egois lagi, tubuh ini sudah bukan lagi milikku sendiri tapi juga milik anak-anakku. Banyak yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak ingin memberikan keluarga yang tidak utuh bagi mereka, setidaknya saat mereka pulang sekolah mereka akan menjumpai bapak ibunya ada di rumah.

Menjadi seorang perempuan terlebih seorang ibu, sudah bukan waktunya lagi memikirkan diri sendiri. Buatku melihat anak-anakku tumbuh adalah kebahagiaan yang luar biasa, yang terpenting sekarang adalah anak-anakku. Dan suamiku? Yang penting dia tidak membawa perempuan lacur itu ke dalam rumah tangga ini bagiku perempuan tersebut hanya pekarangan belakang yang tidak perlu aku tahu, aku ingin tutup mata saja soal itu. Selain itu juga suamiku tetap memikirkan kebutuhan anak-anak, itu sudah cukup.

Di sebrang sebuah jalan

Di pandangi teman-temanku, rasanya risih sekali. Mereka mengamati mataku yang bengap hasil dari menangis semalaman. Aku hanya diam saat teman-teman menanyaiku macam-macam. Beruntun!

Aku bercerita pun mereka belum tentu akan mengerti keadaanku. Jadi aku hanya diam saja, aku juga tidak ingin berbagi duka untuk mereka, buatku teman-teman hanya cukup tau suka ku saja. Kenyataannya aku masih lengkap dengan tawaku dan ceria sepanjang bersama mereka meskipun mata sepertinya tidak dapat membohongi. Tak apalah biar semua sesak kumiliki sendiri.

Segala hal yang begitu menyakitkan, ketika melihat kedua orang tuaku saling membantingi barang-barang rumah, saling memaki satu sama lain. Aku yang hanya mampu menangis terisak diam-diam, hal yang sepertinya bukan terjadi sekali dua kali di rumah, tapi begitu sering bahkan aku lupa sejak kapan dimulainya. Sepertinya sudah sejak aku masih kecil, aku juga lupa kapan. Entah!

Aku hanya kadang bingung harus bagaimana saat kedua orang tuaku sudah saling memaki satu sama lain. Berbagai perasaan tiba-tiba saja menyerbuku, membuatku seolah menjadi patung, diam beku ditempatnya. Hanya melihat sambil air mata meleleh dan beku sendiri.

Pernah suatu ketika aku berharap kenapa mereka tidak bercerai saja sekalian, daripada hanya tiap hari bertengkar terus, barang-barang di rumah pecah rusak. Apalagi saat itu yang dibanting adalah radio kesayanganku, hanya itu hiburanku di rumah. Tapi sampai sekarang mereka tidak bercerai juga, entah aku harus bersyukur atau tidak bagiku semua sama saja. Mereka masih rajin perang dingin kalau sekarang. Membuatku bingung dan ikut dingin hingga membeku di rumah.


Jadi kuputuskan untuk pergi saja, pulang hanya sekedar untuk menengok adikku yang terkecil yang masih sering berlarian mengikutiku kalau aku keluar rumah. Tidak ada lagi yang peduli padaku, ibu juga hanya akan marah-marah membuat kupingku panas, sebaliknya bapak malah hanya diam seolah aku adalah makhluk transparan yang tidak pernah ada keberadaannya. Saat pulang aku hanya kasihan pada adik-adikku yang masih kecil. Melihat mereka seperti melihat diriku sendiri saat itu. Hanya menangis sesenggukan.

Kuputuskan untuk tidak lagi peduli, entah ibu yang salah karena jelek, gendut, dan cerewet atau kerena bapak yang punya perempuan lain di luar, atau malah si perempuan jahat yang sudah menggoda bapak. Aku benar-benar tidak peduli, kenyataannya hanya aku dan adik-adikku yang menjadi korbannya. Rumahku surgaku sudah tidak lagi kami mengerti maknanya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi kami sudah tidak lagi berfungsi. Dan aku lebih memilih panas terik matahari sebagai tempatku berlindungku.

Kurapikan kembali tumpukan koran yang ada disebelahku, lalu kupeluk mereka dalam dadaku seolah mereka seperti seorang bayi yang akan terjatuh lepas satu satu kalau tidak aman dalam pelukanku. Dari sinilah aku bisa makan tiap hari, bersama teman-teman yang juga mencari sesuap nasi di bawah lampu merah. Diseberang jalan kulihat bapak berlalu dengan perempuan cantik yang seumuran denganku, begitu bahagia menaiki Avansanya.



Monday, June 1, 2015

Rok Polos

Ternyata dia duluan yang mengingatku, teman sesama suporter bola yang ternyata juga teman mengajiku saat masih kecil. Yang teringat dalam ingatan masa kecilku adalah saat seorang anak laki-laki yang usianya lebih muda setahun dari aku memberiku surat merah jambu dengan malu-malu. Aku sendiri malu menerimanya, dari situ teman-teman yang lain mengejekku pacaran dengan anak laki-laki tersebut. Setelahnya aku sudah tidak mau mengaji lagi. Malu. Padahal Pak Ustad sampai ke rumahku untuk membujukku ikut mengaji, tapi aku tidak pernah datang ke masjid. Malu.


Mengingat itu aku jadi tersenyum lalu tertawa. Aku lupa berapa usiaku, saat itu aku masih kelas tiga SD. Setelah selesai giliran mengaji iqro satu persatu, tanpa dikomando kami anak perempuan berkumpul untuk mengobrol. Di depan Pak Ustad kulihat seorang anak laki-laki sudah memegang Al-Qur’an, aku cukup kagum padanya. Diusia yang lebih muda dari aku satu tahun tapi dia sudah sampai membaca Al-Qur’an. Arif namanya, solatnya juga khusuk, tidak seperti anak laki-laki seumuran Arif yang lainnya. Mereka kalau sholat sering pecicilan, usil, suka mlotrokne sarung teman disebelahnya.

“Kamu melihat siapa Mi?” Tanya seorang teman disebelahku.

“Wah pasti sedang melihat Arif ya?” Goda seorang teman yang sepertinya memang mulutnya didesain untuk bergosip.

“Tidak.” Jawabku singkat.

“Halah mengaku saja, iya juga tidak apa-apa.” Sambung temanku yang lainnya lagi.

“Kalo memperhatikan cowok itu tidak apa-apa, wajar kog” kata Mbak Warsiti yang umurnya memang sudah lumayan jauh di atasku, dia sudah SMP.

“Tami lagi jatuh cinta ya?”

“Jatuh cinta?” aku bingung tidak mengerti yang dimaksudkan temanku, belum terjangkau oleh otakku yang berumur masih muda.

“Iya, jatuh cinta Tami, masak kamu tidak pernah menonton sinetron.”

“Aku tidak mengerti Mbak?”

“Biasanya kalau sudah jatuh cinta nanti tubuhmu akan mengeluarkan darah. Kamu akan pipis darah.”

“Hah!” yang benar saja kog mengerikan begitu, aku begidik memikirkan darah yang keluar dari tubuhku, apa aku akan mati?

“Apa itu sakit Mbak?” tanya temanku yang lain, yang juga penasaran sepertinya.

“Kata simbokku itu biasa.”

“Biasa bagaimana, mengeluarkan darah kog biasa? Mengerikan!”

“Apa kita akan mati?”

“Semua perempuan akan mengalaminya.”

“Aku tidak mau!” kataku sedikit keras sampai Arif menengok kearahku. Dia yang sudah selesai mengaji duduk kembali di tempat duduknya yang berada dibelakangku, sambil menyandar di tembok masjid yang berpapan kayu, aku lihat dia mulai mengatupkan matanya. Tidur?

“Jangan keras-keras ini di masjid.”

“Aku juga tidak mau berdarah.” Kata temanku yang satu SD denganku.

“Kalau tidak mau berdarah berarti kamu bukan anak perempuan.”

“Masa harus seperti itu?”

“Kamu juga berdarah Mbak?”

“Iya.”

“Kapan mbak? Mbak tidak takut?”

“Tentu saja takut, aku bingung, waktu itu pas pertama aku lulus SD. Simbokku yang bilang kalau tidak apa-apa aku sudah dewasa. Semua anak perempuan pasti mengeluarkan darah. Pertama rasanya sakit dan risih. Aku harus memakai busa putih di celanaku agar darahnya tidak jatuh keman-mana. Namanya softex, tapi kata simbok kalau ke warung belinya roti, begitu. Aku juga dibelikan sprite oleh simbokku katanya biar tidak nyeri. Simbok juga bilang kalau aku akan mengalaminya setiap bulan.” Kata mbak Warsiti panjang lebar.

“Aku masih belum mengerti Mbak?”

“Apa itu tidak bahaya Mbak, kok ya aneh perempuan harus mengeluarkan darah?”

“Kalau darahnya habis gimana Mbak? Ibuku kog tidak pernah cerita yang seperti itu. Mengerikan sekali.”

“Aku juga bingung, simbokku awalnya juga tidak pernah cerita. Tapi setelah itu simbokku mengatakan bahwa aku sudah besar sekarang, aku harus bisa jaga diri dari laki-laki.”

“Memang kenapa Mbak? Sudah sering kamu berdarah mbak?”

“Kata simbok agar aku tidak diperkosa laki-laki. Jadi aku harus jaga diri, baru dua kali ini aku berdarah, terakhir minggu lalu sampai 7 hari.”

“Jangan menakut-nakuti Mbak.”

“Sakit sekali Mbak?”

“Kadang.”

“Kadang gimana Mbak?”

“Pokoknya tidak enak. Darah itu bisa muncul berhari-hari. Pokoknya tidak enak. Kalau kita jalan dia mengalir dan terus keluar.”

“Apa kita tidak akan kehabisan darah Mbak, kog sampai berhari-hari gitu?”

“Rasanya bagaimana? Apa seperti pipis?”

“Tidak juga, dia keluar sendiri.”

“Apa tidak bisa kita tahan agar tidak keluar pas sedang sibuk Mbak?”

“Ya tidak.”

“Waduh kog ya merepotkan sekali tho.”

“Aku tidak mau mengalami itu.” Kata temanku yang mulai pucat membayangkan dia juga akan berdarah seperti Mbak Warsiti.

“Kamu tidak bisa menolaknya.”

“Apa tidak ada obat yang bisa diminum biar tidak berdarah Mbak?” Tanyaku sambil membetulkan letak dudukku yang begitu tidak nyaman karena saat mengaji harus memakai rok panjang polos berwarna biru muda.

“Tidak ada obat yang seperti itu, sudah jatahnya perempuan harus mengeluarkan darah.”

“Apa anak laki-laki juga mengeluarkan darah?”

“Tidak.”

“Kenapa kog tidak Mbak?”

“Aku juga tidak tahu, mungkin karena kelaminnya beda. Kamu pernah melihat kelamin anak laki-laki kan?”

“Pernah Mbak, adikku kan laki-laki.” Jawabku polos.

Belum sempat Mbak Warsiti berbicara lagi, kerumunan kami dibubarkan oleh Pak Ustad. Ternyata semua yang bergiliran mengaji sudah selesai. Kami kembali duduk rapi sambil berdoa mengakhiri pertemuan. Masjid berlantai kayu sederhana ini seolah terasa basah olehku. Basah oleh keringat atau aku ngompol atau malah aku sudah berdarah. Mengerikan sekali, tapi ternyata hanya tumpahan air minum dari teman disebelahku yang membasahi sebagian kakiku.

Dalam pikiranku masih belum sepenuhnya mencerna apa yang dimaksudkan oleh Mbak Warsiti. Yang ada hanya takut kalau nanti aku berdarah. Apalagi tidak ada obatnya. Tapi tadi kata Mbak Warsiti kalau aku jatuh cinta, aku akan berdarah. Kuputuskan aku tidak akan jatuh cinta. Berarti aku tidak boleh memperhatikan anak laki-laki, aku tidak boleh memperhatikan Arif agar aku tidak jatuh cinta. Aku tidak boleh jatuh cinta agar aku tidak berdarah. Tapi aku masih bingung, jatuh cinta itu seperti apa? Aku harus nonton sinetron biar mengerti.




Sunday, May 31, 2015

Salam Sukaria

Kembali malam ketika titipanmu baru kutata dalam blogku, semoga menjadi baik ketika kita sama-sama membagikan kebaikan. Niat tidak akan pernah mengkhianati hasil. Dan proses adalah perjalanan yang paling luar biasa untuk kita raup saripatinya agar menjadi manusia yang lebih baik atau setidaknya dari situ kita bisa berproses menjadi manusia. Tulisan yang ku lebeli Kisah Sahabat ini, kiriman dari Ichsan Yudha Karuniawan J  Selamat membaca


Aku bahagia atau kah bersedih saya tidak faham aku jalani saja mengalir dari atas kebawah mulai perlahan, meskipun sering aku tersangkut di bebatuan atau di pinggir bibir sungai, namun aku yakin ini cuma sebentar dan aku yakin aku pasti terdorong oleh air yang begitu deras mengalir dari atas ke bawah. Sangat tidak mudah memang, tapi aku yakin pada diriku sendiri jika aku pasti bisa sampai ke tempat yang ku tuju tadi. Aku cuma mengandalkan waktu yang mendorong ku ketika aku berhenti dan teringat kejadian sewaktu aku ada di atas. Harapan ku ketika sesampainya aku di bawah, aku akan lakukan hal yang baik, lalu aku akan melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan ketika aku berada di atas "waktu itu" dengan  baik, dan aku yakin aku akan bahagia, "karena" aku sudah menanamkan rasa percaya di dalam otak dan hati ku, bahwa aku akan bahagia dan bersenang-senang karena bersenang-senang itu HARUS.

Aku tidak ingin lagi bersedih, karena jika aku bersedih aku tidak akan menjadi lebih baik dan selamanya akan berada di titik tersebut dengan berlumuran darah karena bersedih.

Jadi keluarkanlah dirimu jika kamu berada di lingkaran yang membuat mu menjadi tidak lebih baik, karena yang bisa merubah dirimu itu adalah lingkungan mu.
Dan bertemanlah kepada semua orang, cintailah mereka, anggaplah dia sebagai saudaramu, jika suatu saat kamu mengalami kesusahan, maka saudaramu akan datang untuk membantu.

Dan janganlah takut untuk lakukan hal yang baik.

Ini adalah pelajaran soal kehidupan yang saya pelajari. Jadi berbuatlah baik dan bersenang-senanglah, karena bersenang-senang itu HARUS.


SALAM SUKARIA




Saturday, May 30, 2015

Jangan Tilang Aku Pak! (Part 2)

Lama juga ya rentang penulisan part 2, lanjutan dari cerita Jangan Tilang Aku Pak! (Part 1) dan inilah kisahku selanjutnya bersama Pak Polisi.

Ceritanya begini. Pagi itu sudah cukup terik di Semarang, sekitar Pukul 09.00 WIB aku dan pacarku (yang sekarang sudah kuedit menjadi mantan) kita berdua melakukan perjalan ke Jogja untuk menonton bola, pertandingan antara PSS Sleman vs Arema. Karena kami berdua sama-sama Suporter Aremania, jadi yah kompak saja dari Sragen dia menghampiri aku ke Semarang terus lanjut ke Stadion Maguwoharjo Jogja.


Perjalanan sampai Ungaran lancar saja, lalu berbelok jalur Ambarawa. Di Terminal Bawen aku sempatkan bertanya apa gak sebaiknya gantian aja, biar aku yang di depan boncengin dia. Karena memang sudah terbiasa kita gantian boncengan. Tapi dia jawab tidak katanya belum lelah. Ya sudah, padahal aku mengajukan diri buat bergantian bonceng bukan masalah karena dia sudah lelah perjalanan Sragen-Semarang terus harus lanjut Semarang-Jogja, tapi memang karena dia belum hafal jalan dan medannya Ambarawa-Temanggung sampai Magelang yang berkelok-kelok naik turun bersebelahan dengan truk-truk besar yang harus disalipi satu-persatu. Tapi berhubung dia menolaknya ya sudah aku nurut saja, toh aku juga tidak begitu terampil mengendarai motor gigi (sebut saja aku spesialis racing motor metic, heheheh).


Sampai di jalan alternatif yang cukup lenggang karena di kanan kiri hanya sawah dan Rawa Pening, maka terlihatlah dari kejauhan ada segerombolan Pak Polisi dan motor-motor yang berhentikan. Panik lalu menepi, pacarku terlihat bingung harus bagaimana karena dia tidak punya SIM. Aku yang memang memiliki kelengkapan surat-surat seperti SIM dan STNK jelas tidak terlalu bingung harus bagaimana, jadi kugantikan dia di depan. Tapi dia tetap saja ngotot mengajak balik arah. Resiko jika nanti dikejar Pak Polisi, jadi kuputuskan tetap jalan saja, dia aku suruh jalan kaki di kanan jalan. Aku sendiri tidak berani memboncengkan dia karena jelas helm yang dia pakai tidak SNI. Kalo kengkapan surat ada tapi helm yang dipakai tidak yang seharusnya kan sama juga bo’ong, pasti surat tilang juga ketemunya. Jadi aku suruh dia jalan kaki dan aku melaju menghampiri operasi tersebut.

Sampai di TKP (Tempat Kejadian Penilangan) aku cukup heran Pak Polisi tidak bilang apa-apa seperti skenario biasanya (hormat kepada pengendara lalu menanyakan kelengkapan surat-surat) mungkin Pak Polisinya sedang betmut atau sedang sariawan. Tapi ya sudah toh aku juga mengerti apa yang seharusnya aku lakukan (menunjukan SIM beserta STNK-ku) beres dilihat-lihat oleh Pak Polisi jadi aku rasa sudah lolos, tanpa dipersilahkan melanjutkan perjalanan karena kulihat Pak Polisinya balik badan ngeluyur pergi meninggalkan ku sendiri, kan sedih huhuhu L

Motor yang ku jalankan tidak juga mau nyala, sudah ku pancal-pancal berulang-ulang tidak juga menyala. Ckckck pingsan mungkin ini motor karena takut berhadapan dengan Pak Polisi atau malah jangan-jangan terkena serangan jantung mendadak. Menyebalkan menghadapi motor yang cemen seperti pemiliknya, upsss sengaja J

Tanpa pikir panjang aku minta tolong saja pada Pak Polisi untuk membantu menyalakan motor pacarku ini, kan memang tugas polisi adalah melayani dan menafkahi masyarakat, ehhh salah maksudku menanyai masyarakat, duh salah lagi yah, sampai lupa apa ya tugas Volisi? Melayani dan mengayomi masyarakat, bener gak? 


Yupss, Pak Polisi baru berjalan menghampiriku, malah disalip duluan oleh pacarku yang juga berjalan kaki mendekatiku. Dalam hati aku sudah nyumpah-nyumpah gobl*k kenapa malah dia menghampiriku? Apa karena gak rela aku dibantuin polisi? Atau kangen berlama-lama aku tinggal? Atau bagaimana? Pak Polisinya jadi curuga dah, sebelum ketahuan jadi aku ngacir duluan.

Dipertengahan jalan yang cukup jauh, aku berhenti untuk menunggu pacarku. Tapi tidak datang juga si pejalan yang membawa helm batok. Yang akhirnya datang adalah suara dering telpon dari pacarku, yang katanya aku disuruh balik lagi ke pos. Aku merasa sebal, kenapa harus balik, kan tinggal dia yang menghampiriku, karena aku sudah lolos pemeriksaan dan sudah dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Tapi dari seberang telepon, pacarku ngotot katanya malah dicurigai kalo motornya colongan -___- kan konyol, terus yang memeriksa STNK tadi serius atau tidak?


Ya sudah kuputuskan kembali ke TKP tadi, sampai disana ditanyai macam-macam, aku jelaskan semuanya tanpa aku kurangi dan aku tambahi. Pak Polisinya sudah menyiapkan slip merahnya. Aku yang merasa tidak salah jadi kutanyakan, atas dasar apa ditilang? Pak Polisi menjawab katanya karena aku tidak mematuhi petugas, disuruh berhenti malah nyelonong pergi. Aku jelaskan saja meski sedikit emosi, bahwa tadi sudah melewati pemeriksaan dari polisi yang aku masih hafal wajahnya bahkan aku tunjuk orangnya. Pak Polisinya tetap ngotot dengan alasan karena gantian boncengan itu tidak boleh. Dan pacarku juga tetap ngotot untuk sudah berdamai saja. Ini kenapa semua pada ngotot ke aku? Mentang-mentang pada punya otot?

Debat dengan petugas pun berlangsung cukup pelik, adu argumentasi antara aku dan Pak Polisi yang mulai memasang muka galak tidak juga menemui titik terang. Hingga bertambah dengan polisi lain juga mulai ikut-ikutan, jadi aku dikeroyok nih? Mungkin kehabisan stok kesabaran Pak Polisinya akhirnya mengeluarkan juga kata-kata yang menghina kerudungku. Dalam hati aku terbahak, lucu rasanya jika aku memang salah ya silahkan monggo untuk menyalahkanku bukan malah menyalahkan kerudungku. Dari situ aku mulai paham, aku menang argumen satu kosong dengan Pak Polisi di depanku, terlihat dari Pak Polisinya sudah keluar jalur debat dan tidak logis lagi pembicaraannya K

Aku masih ingin maju membela diri, pacarku tetap keukeuh untuk mengakhiri “sudah sudah” hanya itu yang dia katakan padaku. Pak Polisi tetap ngotot menyalahkanku karena bergantian boncengan. Aku tetap pada pendirianku bahwa aku tidak salah, karena memang tidak bergantian boncengan tapi malah meninggalkan pacarku untuk berjalan kaki dan aku yang mengendarai motor dengan surat yang lengkap. Hingga tahap ini Pak Polisi sampai mengajakku buat berjabat tangan (bukan untuk berkenalan tapi untuk bersumpah kalo aku tidak salah) sambil bilang kalo aku salah nanti di jalan aku tidak akan selamat, dengan kata lain Pak Polisi menyumpahi aku akan mengalami kecelakaan. Dalam hati aku semakin bingung, bukankah yang seperti itu semua adalah kehendak Allah, terus kenapa polisi ini yang berhak menentukan aku akan mengalami kecelakaan?

Sudah kuulurkan tanganku hendak menyalami Pak Polisi. Tapi dicegah oleh pacarku yang langsung mengajakku untuk berdiskusi sendiri, katanya “sudah sudah” dalam hati aku begitu kecewa kenapa dia mempunyai sikap sepayah itu? Dan hanya bisa berkata sudah, yang memang dia pasrah menyerah dari awal. Baiklah aku ikut mengalah saja (mengalah bukan berarti mengakui kesalahan tapi dalam arti kata ini mengalah artinya ng-Allah atau ke Allah maksudnya adalah kukembalian semua kepada Allah yang Maha Mengatur). Toh yang mengurusi segala urusan pertilangan/peruangan adalah pacarku bukan aku. Ya silahkan saja, aku hanya bertanya pada Pak Polisi “ditilang karena apa Pak?” Pak Polisi tanpa melihatku karena sibuk menulisi slip merah menjawab “tidak punya SIM”.

The Power of Kepepet-ku kembali keluar, aku nyeletuk saja ke Pak Polisi “percuma Pak saya punya SIM mahal-mahal akhirnya ditilang juga”, Pak Polisinya menyahut “Mas-nya ini yang ditilang”.

Aku kembali terbahak dalam hati, ”baru pertama ini saya melihat pejalan kaki ditilang karena tidak punya SIM. Kalau bisa slip biru saja Pak”. Pak Polisi menjawab “Oke kalo slip biru denda maksimal ya!” sambil memberi lingkaran pada nominal satu juta. Aku menghampiri motor dan menyalakan motor, karena aku rasa aku sudah tidak ada urusan, yang kubela habis-habisan saja sudah nyerah untuk apa aku tetap mengurusi urusannya. Dari depan pos (yang sebenarnya adalah pos tiket masuk tempat wisata Kampung Rawa tapi dijadikan tempat operasi dadakan) pacarku kembali menanyaiku slip merah atau slip biru, aku jawab acuh terserah saja toh dia yang berurusan.


Kulirik slip merah yang ditulisi entah apa tulisannya karena memang yang terlihat hanya oret-oretan tidak jelas, lalu aku bertanya dalam hati 'ini surat tilang atau resep obat?' muncul juga pertanyaan 'jangan-jangan itu bukan Volisi tapi Dokter yang menyamar sebagai Volisi?' ahh membuat vusing saja, kuputuskan aku tidak harus menafsirkan tulisannya karena aku kuliah di keguruan bukan apoteker.

Setelah mengantongi slip merah dan STNK yang ditahan, aku boncengkan pacarku sampai di Jogja. Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti misuh-misuh ke pacarku (ingat, sekarang sudah jadi mantan). Kalo seperti itu kasusnya, yang bodoh sebenarnya siapa?


Berurusan dengan slip biru dan slip merah sebenarnya tidak hanya kali ini saja. Dulu saat aku akan pulang kampung juga pernah menemui operasi di tengah-tengah jalan hutan yang sepi. Belum juga masuk di jalan raya dan baru juga keluar dari kawasan UNNES sudah dicegat oleh begal siang hari. Dan celakanya saat itu aku masih belum punya SIM, dari situ aku tetap ngotot meminta slip biru karena memang aku tidak punya duit sepeserpun, hanya dua puluh ribu rupiah dalam dompet. Karena memang rencananya aku pulang kampung untuk mengambil uang. Dan yang teringat di otakku adalah saldo ATM bapakku yang mencapai tiga jeti, so pasti dari sini aku berani meminta slip biru saja meski dendanya adalah satu juta. Entah kenapa aku lebih ikhlas memberikan uang pada kas negara bukannya pada petugas, padahal kalo petugas tak perlu sampai jutaan beres di tempat.

Pak Polisi yang tetap ngotot bahkan sampai membentak-bentakku katanya aku pasti akan datang mencari rumahnya untuk minta maaf dan berdamai. Aku tetap pada keinginanku meminta slip biru, karena mau bagaimana lagi aku benar-benar tidak ada duit. Akhirnya polisi yang lain menghampiriku dan mengajakku bisik-bisik tetangga berdua, dia memintaku untuk tidak membantah polisi dan aku dipersilahkan untuk melakukan perjalanan. Aku benar-benar terima kasih lahir batin pada Pak Polisi yang satu ini, yang sudah memahami kantong anak kost ngenesnya seperti apa. Berbeda dari kisah pertama yang berakhir bencana, kisah yang ini berakhir manis dengan aku berteriak-teriak kegirangan sudah bisa lolos dari tilangan J

Kisahku bersama Pak Polisi masih belum habis sebenarnya jadi aku sambung di tulisanku selanjutnya yah.

To Be Continued


Thursday, May 28, 2015

Merebah Tanah

Terkadang aku sangat ingin menjadi orang yang pendendam. Ketika hati porak-poranda tersapu makian dan cacian dari orang lain, ingin sekali kuludahi wajah orang tersebut lalu pergi dengan menggenggam api. Namun semua tau aku lemah dalam hal itu, hingga telah jatuh pun malah semakin terinjak. Aku benci menjadi orang begitu murah memberi maaf pada orang lain. Begitu gampang melupakan luka yang digores baik dalam maupun luar. Begitu mudah mengelupasi sakit lapis sakit.


Siang itu ku tata kembali hatiku pada tempatnya, meredam segala gundah yang sempat meracuni hingga terbawa ke lorong-lorong antah brantah yang paling tak tersapa cahaya. Kutarik nafas dalam sekedar mengambil oksigen terbaik untuk menenangkan diri. Siang itu, kembali aku dihampiri untuk menyelesaikan urusan yang telah berminggu-minggu tak selesai. Kamu yang kulihat dengan wajah kuyu menyapa kedua orang tuaku, begitu ramah meski aku tau dalam hati kamu merasa bersalah.

Tak ingin lama-lama menyiksa perasaan bersalahmu jadi kugandeng saja kamu, melesat pergi di belakang boncenganmu. Dengan membawa urusan yang terbongkar tanpa bisa terpasang. Aku diam sambil menyiapkan segala keluh kesah yang akan aku muntahkan pada si pembuat masalah. Aku hanya diam di belakang boncenganmu, kamu juga hanya memaku sambil menarik tanganku berharap aku mau melingkarkan tanganku pada perutmu. Maaf sayang, aku bukan perempuan manja yang terbiasa bergelayut mesra seperti mantan-mantanmu. Mungkin terasa merobot aku ikuti saja maumu dengan sedikit kaku. Tak terbiasa.

Siang begitu terik, sampai di tempat yang kita tuju. Keadaan begitu ramai, bising melebihi pasar dan sumpek terdesak sinar matahari hingga keringat membanjir. Dalam hati aku bersyukur bukan perempuan dengan gincu dan tebaran bedak memenuhi muka hingga putih melebihi mayat pucat karena jantung yang berhenti memompa darah keseluruh tubuhnya. Jadi aku tidak begitu kebingungan memikirkan bedak yang luntur, yang dapat membuat muka cemong-cemong belang tak karuan.

Kembali dihadapkan pada stasiun kesabaran dan aku harus menaiki lokomotif paling belakang. Baiklah sepertinya itu menjadi keputusan termenyakitkan selanjutnya, kuikuti saja mau si membuat masalah ini. Kutengok di sampingku, kamu begitu layu sambil merebahkan kepalamu di pundakku. Aku yang menghiburmu, melagu seceria mungkin sambil sesekali melucu. Kamu tertawa atau sedang pura-pura tertawa, aku juga tidak pernah mengerti. Yang jelas aku tidak ingin melihat mendung di wajahmu, jadi kuputuskan aku yang mengambil alih peran penyanyi pelawak penghibur. Meski sesungguhnya aku juga lelah, juga marah, tapi tak apalah harus aku yang merengkuhmu seperti biasa-biasanya.

Hal ini membuatku ingat, akan masa yang bagitu banyak memberiku luka. Saat itu tangis yang kutahan pada akhirnya tidak jatuh juga, itu karena sudah kamu dahului. Iya kamu dulu yang menangis. Kupikir, tidak akan pernah selesai jika kita sama-sama menghanyutkan air mata yang entah bermuara di mana. Jadi aku mengalah, ku usap pipimu sambil memberikan begitu banyak kata-kata penenang. Aku yang dalam beberapa detik lalu ingin berubah menjadi pohon bambu, tiba-tiba harus menjadi pohon oak yang rindang, teduh dan harus kuat menahan angin beliung sekalipun.


Malam merambat turun, aku tersenyum getir memikirkan itu, aku bersamamu jadi terbiasa mengambil peran sebagai si penguat. Walau terkadang aku begitu ingin menjadi perempuan yang lemah saja. Yang akan menyandar pada pundakmu saat benar-benar lelah. Namun sepertinya jika aku seperti itu, maka kita berdua yang akan jatuh. Seperti saat ini, saat si pembuat masalah dan pasangannya memuntahkan segala caci maki. Segala bentakan di depan wajahku bagai topan yang menghantam hingga akarku. Nanar aku menatap lidah-lidah api yang menjulur-julur hendak membakar dedaunanku dan ranting-rantingku, namun aku tetap kokoh tak goyah sedikit pun. Bahkan aku mampu melantahkan balik setiap makian yang menghujaniku. Di sampingku, kamu hanya diam entah apa yang ada dalam pikiranmu, sebagai orang yang harusnya menjagaku dan melindungiku kamu hanya mampu diam. Baiklah aku yang menghadapi semuanya sendiri, aku tau memang harus aku.

Aku tetap kokoh, satu orang, dua orang bertambah pada beberapa orang, seolah menatapku seperti begitu ingin merobohkanku. Aku tetap kokoh, menahan berbagai terpaan dari segala sudut. Hingga kulihat orang-orang tersebut diam sendiri, mungkin lelah. Aku pasrah, bukan karena menang atau bukan juga karena kalah. Tapi memang tak lagi ada yang bisa aku lakukan.

Malam melarut, semakin berkerut-kerut dan kamu pun beringsut surut dengan mata meredup. Aku menatapmu cemberut, ingin protes kenapa kamu begitu lemah Sayang? Aku sejak dulu berharap lebih padamu, memandang kamu masa depanku. Tapi kamu ternyata sekedar meramu dedaunanku. Aku kecewa, melebihi apapun. Sekokoh apapun aku, aku tetap tumbang karena ternyata kamu sendiri yang seolah menebangku. 

Dalam beberapa detik saja aku telah jatuh, merebah tanah. Apa kamu sengaja Sayang? Tapi kulihat kamu bagitu menyayangiku, mungkin kamu tidak sengaja. Iya kamu tidak menebangku, hanya saja kamu meracuniku hingga akarku mati tak mampu menopang kokoh tubuhku. Aku tidak lagi sama atau kita yang memang telah menemukan perbedaan kita, yang begitu tidak cocok hingga sama-sama meracuni dari kita masing-masing.

Kamu tetap diam, namun kulihat dari wajahmu kamu juga sama, merasa sakit seperti yang kurasa. Jadi kita sama-sama jatuh? Tolong jangan dulu sayang, aku ingin diantar pulang. Setidaknya biarkan aku seperti siang tadi berada di belakang boncenganmu. Kamu diam, aku lebih diam, aku sendiri sakit. Lebih tepatnya kecewa. Kecewa pada sifatmu, kecewa pada keadaan yang begitu menamparku, meracuniku, menjatuhkanku pada tanah yang begitu busuk. Mematikan setiap sendi benih-benih bintang yang pernah kuterbangkan hanya padamu. Aku tak lagi sama, aku tak lagi memiliki teduh untukmu, karena aku telah jatuh, bukan karena mereka, tapi karena kamu sendiri yang menjatuhkanku. Aku bisa apa? Lapuk?