Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Wednesday, March 26, 2014

Beranda Sepi

Fato kusam, menghadirkan gambar aku yang berdiri mematung tanpa ekspresi dengan adikku yang berada di sampingku. Foto kusam yang membawaku pada kenangan masa itu. Setelah berfoto aku lalu dibelikan jajan wafer oleh bapakku, wafernya banyak sampai berbungkus-bungkus. Aku makan dan berbagi dengan adikku. Aku yang berumur 7 tahun  dan adikku kira-kira berumur 5 tahun, begitu bahagiya memakan wafer kami sambil tertawa-tawa.

Rasanya kami sudah makan banyak wafer tapi tetap masih banyak juga sisanya, tidak habis-habis. Sampai kami tidak ingin makan lagi. Aku beresi sisa wafer tersebut lalu kumasukan dalam kaleng yang membukanya sungguh harus dengan tenaga ekstra. Kulihat ibu keluar dari arah dapur ingin memandikan adikku sambil membawa handuk yang setengah kering. Ibu melihat ruang tamu yang begitu berantakan dengan remah-remah wafer disana sini. Lalu ibu perintahkan aku untuk membersihkannya. Aku yang tetap mencoba membuka kaleng tersebut menolak perintah ibu. Karena aku rasa itu bukan tanggung jawabku, adikku yang selain makan berceceran juga sekaligus mengotori lantai dengan menginjak wafer yang tidak ia makan lagi. Jadi itu bukan salahku, bukan aku yang seharusnya membersihkan remah-remah wafer tersebut.

Tapi ternyata karena jawaban tidak mau dari aku tersebut membuat ibuku sangat marah. Dia keluarkan seluruh kata-kata umpatan dan segala nama-nama binatang yang tidak pantas didengarkan oleh kuping kecilku yang masih berumur 7 tahun ini. Lalu karena aku begitu kaget melihat ibu ternyata sangat marah seperti itu, aku hanya diam tetap keukeuh tidak mau membersihkan kekotoran yang dibuat oleh adikku. Ibu menghampiriku siap melayangkan handuk basah tersebut kearahku, terkena handuk yang begitu berat membuat kepalaku terhuyung sakit rasanya. Seperti terkena sabetan berkilo-kilo buku yang dijatuhkan dari atas menimpa kepalaku, mungkin tidak meniggalkan goresan luka tapi cukup membuat aku pusing dan mata yang berkunang-kunang.

Dari situlah aku begitu membenci wafer dan aku bersumpah tidak akan memakan wafer lagi seumur hidupku. Dan memang benar kenyataannya sampai sekarang aku tidak pernah lagi menyentuh yang namanya wafer. Aku benci wafer! Selain itu ternyata juga menghadirkan ketakutan pada handuk, sampai tiap kali habis mandi aku tidak pernah lagi menggunakan handuk. Banyak alasan aku keluarkan, lupa membawa, ribet, atau tidak tahu handuknya dimana atau apalah yang jelas hal tersebut dapat menjauhkan aku dari handuk. Sampai saat kuliah dan teman-teman yang sehabis mandi di kostku menanyai handukku untuk dipinjampun aku juga menjawabnya dengan fariasi jawaban terkadang kujawab sedang kotor, sedang dilaundry atau sudah hilang. Yang jelas aku tidak pernah lagi memakai handuk. Ya aku takut pada handuk!

Konyol memang, hal sepele tersebut sudah mampu mebuatku benci dan takut. Bukannya tidak pernah aku mencoba melawan ketakutanku, pernah suatu kali saat pertama pindah ke kost aku dibelikan handuk baru oleh ibuku. Aku keluarkan dari dalam tas, cukup membuatku deg-degan setengah mati. Tapi aku mencoba berpikir rasional, handuk tidak akan membunuhku, begitulah hingga sorenya setelah aku mandi aku sampirkan handuk tersebut dipundakku lalu selesai mandi kucoba menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuhku. Namun tiba-tiba yang terpikir adalah handuk ini tidak hanya menyerap air yang membasahi tubuhku tapi juga menyerapku masuk ke dalam setiap pori-pori handuk. Aku ketakutan luar biasa, terasa ngilu di sekujur tubuhku. Kakiku mulai gemetar tidak karuan, kejadian masa kecilku kembali membayang di pelupuk mata. Tersabet oleh handuk besar yang lumayan basah dan membuat  kepalaku pusing sekaligus melahirkan banyak kunang-kunang dimataku. Tidak dapat lagi aku menguasai diriku sendiri. Aku gagal melawan ketakutanku pada handuk!

Masih mematung aku menatap foto yang sudah hampir tidak jelas tersebut, foto yang ada dalam dompet bapakku, yaitu foto dengan aku dan adikku di dalamnya. Saat kami masih kecil, dengan kisah yang kualami dan masih kuingat jelas sampai sekarang. Setelah disabet berkali-kali dengan handuk basah tersebut, tentu aku menangis. Bukan hanya karena rasa sakit karena sabetan yang membuat kupingku hampir budek berdengung-dengung tapi juga kerena umpatan dan makian yang keluar dari mulut ibuku sudah sampai batas nama-nama jahanam yang entah terenggut dari lorong-lorong gelap nan kotor yang antar brantah.

Karena mungkin ibu sudah capek menyabeti aku dengan handuk basah yang jelas berat tersebut, ibu lalu gantian menendangku dan mencubitiku atau isitilahnya dalam bahasa Jawa yaitu ‘nyiweli’ sampai pahaku terasa begitu perih sakit. Aku tahu setelah ini pasti akan meninggalkan bekas biru-biru kehitaman di pahaku, karena hal tersebut sudah sangat sering aku alami. Ibu menyuruh aku berhenti menangis, namun bukannya berhenti menangis aku malah menjadi-jadi. Air mata berleleran keluar membasahi pipi dan sesenggukan aku lalu diseret ibu keluar dari rumah. Tangan besar ibu mencengkeram pergelangan tangan kecilku, terasa kasar dan sakit. “Minggato wae neng omah malah mung gawe perkoro kowe, anak setan!” Ya itu berarti aku telah diusir ibuku, “kono rasah neng kene, aku wegah mbok eloni meneh, minggato!” sambil berkata seperti itu ibu membanting pintu rumah. Lalu terdengar suara klik dari dalam rumah, suara pintu dikunci!

Aku tetap menangis di beranda rumah, namun hanya air mata yang berleleran dengan hidung yang juga basah oleh ingusku, tanpa suara. Hari sudah menjelang magrib, tapi tidak kujumpai bapakku juga. Aku hanya menunggu bapak pulang, aku tahu cuma bapak yang sayang kepadaku. Aku anggap begitu karena ibu begitu jahatnya tega telah mengusirku.

Jalanan dipetang hari begitu sepi, ibu tidak juga membukakan pintu untukku dan bapak juga belum kelihatan tidak tahu dimana. Yang terlihat didepanku hanyalah pekarangan rumah yang berdiri dua pohon yaitu pohon rambutan dan pohon mangga, diantanya berdiri tiang listrik besar yang tiangnya dari beton, jadi saat aku lingkarkan tangan kecilku tidak juga cukup merangkul penuh tiang listrik yang menyambungkan listrik satu desa tersebut. Lalu terdapat sungai yang arusnya kadang deras saat hujan turun, diatasnya ada jembatan bambu atau kami sering menyebutnya dengan ‘sesek’ yang menyambungkan pekarangan rumahku dengan jalan raya kecil. Rumahku menghadap ketimur dengan bertetangga rumah megah milik seorang pengusaha kayu. Rumah megah dengan tembok pembatas yang tinggi dan diatasnya terdapat kawat duri, rumah yang berada di samping kiri rumahku. Karena di depan rumah hanya ada kebun luas dengan ditumbuhi berbagai macam pepohonan rimbun, yang kami menyebutnya dengan ‘alas cilik’ alias hutan kecil. Agak jauh di utara ada gereja dan di selatannya ada tembok menjulang tinggi bangunan penjara peninggalan jaman Belanda yang di atasnya juga terdapat tempat mengintai berikut lonceng besar. Lonceng yang jarang sekali terdengar, aku pernah mendengarnya sekali itu saat ada narapidana yang kabur melarikan diri lewat lubang pembuangan yang tembus ke sungai.

Di sudut belakang tembok yang mengitari penjara tersebut kalau dari cerita nenekku adalah tempat penjagalan manusia pada peristiwa 65 dulu. Aku cukup ngeri membayangkannya, ketika kepala manusia dalam hitungan detik sudah terlepas dari tubuhnya ditebas oleh parang dengan darah yang menyelimutinya. Aku tidak tahu cerita tersebut benar atau tidak, tapi yang jelas kalau dari cerita tetangga sekitar memang sering melihat banaspati, yaitu kepala yang terbakar terbang di antara pepohonan kelapa. Aku juga tidak tahu hal tersebut benar atau tidak, aku belum pernah melihanya.

Dilangit timur mulai muncul bintang kecil, sandyakala sudah hampir menghilang. Sandyakala yaitu senjakala atau dalam kebudayaan Jawa mengandung muatan keramat dan gaib, karena menandai masa antara siang dan malam, terang dan gelap. Di bawah suasana warna langit kemerahan dan sebagian petang, mulai berkeliaranlah makhluk-makhluk kegelapan, termasuk roh-jahat yang diperhebat lagi oleh kata ‘ala’ yang berarti jahat atau buruk. Bahkan saat sandyakala seperti ini biasanya anak-anak yang bermain harus pulang kerumah masing-masing, tidak ada yang boleh keluar rumah. Begitu pantangan dan kepercayaan dari orang Jawa.

Namun aku sekarang, tetap diluar sambil menangis sesenggukan. Air mata belum juga berhenti mengalir. Awet sekali tangisku hingga terdengar suara pintu terbuka, ternyata nenekku. Nenek berusaha mendiamkan aku agar tidak menangis lagi dan mengajakku masuk, tapi aku takut kalau di dalam akan dihajar oleh ibuku lagi. Jadi aku tetap tidak mau masuk rumah, berharap bapak yang akan datang menolongku dan melindungi aku dari amukan ibu. Nenek dengan kebaya dan jarit yang ia pakai menghapus air mataku yang membasahi pipi.

Nenek tetap membujukku masuk karena hari sudah hampir malam, sayup-sayup adzan magrib saja sudah berganti dengan adzan isya. Aku tetap tidak ingin masuk rumah, karena aku rasa wajah marah ibuku jauh lebih menakutkan daripada makhluk dunia lain yang paling seram sekalipun. Lalu nenek duduk di belakangku, dia bercerita bahwa dulu sewaktu ia kecil juga pernah diusir ibunya keluar dari rumah, menangis sendiri dalam gelap malam di beranda rumah, dan tiba-tiba ada tangan dengan jari-jari sebesar pisang yang menyentuh pundak nenek. Kata nenek lagi, tangan tersebut sangat dingin seperti es batu, dengan bulu-bulu yang lebat, namun saat nenek menengok kebelakang tidak ada siapapun. Setelah bercerita tersebut nenek lalu masuk rumah meninggalkanku sendiri. Pintu tertutup rapat, tapi aku tahu pintu tidak lagi dikunci. Setelah menghapus sekenanya air mata di pipi, aku masuk rumah. Aku melihat ibu berdiri menyandar di tembok samping kamarku dengan menatapku dingin “wis kesel nangise?” hanya itu yang keluar dari mulut ibuku.


Ingatan masa kecilku, aku tidak menangis menatap foto kusam masa laluku ini. Hatiku sudah cukup mengeras, dingin terasa walau kadang masih sakit. Ku taruh lagi dompet bapak di meja rias ibu. Setelah mengambil uang seratus ribuan untuk membeli bunga tabur. Aku lalu keluar, diluar orang-orang sudah sibuk menata kursi di pekarangan rumah dan tetangga juga sanak saudara dekat sudah berdatangan. Bapak duduk di tikar sambil menangis, tidak kulihat adikku entah dia menangis dimana. Di depan bapak, dalam tutupan jarit ibuku terbujur kaku tidak bergerak. Terbungkam diam membungkam serta seluruh keangkuhannya semasa hidup.


Tuesday, March 25, 2014

Aku Takut Pulang

Hatiku terus terasa sakit jika mengingatnya, sumpah serapah dari ibuku sendiri. Wanita yang telah mengandungku dan melahirkanku. Perih rasanya mendapati kenyataan ini. Air mataku tak henti meleleh saat mengingat perlakuan ibuku sendiri kepadaku, rasanya seperti hatiku ditusuki oleh ribuan jarum kecil, ngilu di ulu hari, terasa desir menyakitkan yang menyerbu hatiku, menyesak di dada.

Kubuang pandang ke luar jendela agar penumpang yang duduk di sebelahku ini tidak melihatku. Bus tetap melaju membawaku menuju  tempatku dalam mencari ilmu selama hampir dua tahun ini, yaitu Kota Semarang. Yang hari jumatnya aku dilanda rasa bingung di kost ku sendiri, ingin pulang ke Sragen, tempat kelahiranku, karena aku begitu rindu pada bapakku, sekaligus karena beras juga sudah habis. Tapi rasa takut juga mengantuiku, teringat kepulanganku yang terakhir dulu merupakan kepulangan yang begitu menyakitkan, lagi-lagi dengan genangan air mata mendengar caci maki dari mulut ibuku. Aku begitu bingung, tidak pulang tapi kangen sama bapakku, kalo pulang tapi takut pada ibuku. Akhirnya yang terjadi di dalam pergulatan rasa bingung tersebut hanya ledakan tangis dari mataku. Hingga lelah aku menangis sampai aku tertidur dan terbangun karena mendengar suara HP ku berbunyi.

Ternyata telpon dari bapakku, yang menanyakan kepulanganku karena memang sehari sebelumya aku SMS mengabari kalo hari jumat aku pulang. Kuputuskan untuk pulang besok pagi, mengingat ternyata hari sudah petang dan mataku yang juga sudah sembab, aku takut mendengar kata jijik saat ibuku melihatku dengan mata habis menangis seperti ini.

Sabtunya aku memang pulang, masih dengan rasa takut jika kepulanganku dengan hasil yang sama dengan kepulanganku yang dulu. Namun karena ditelpon oleh bapakku membuat sedikit rasa percaya diri jika ‘orang rumah’ memang mengharapkanku pulang. Kupacu motor metik ku menuju Kota Sragen.

Sampai di rumah sudah hampir tengah hari, padahal aku menggembok kamar kost sekitar jam tujuh pagi. Disambut senyum oleh bapakku sambil menanyakan aku dari Semarang jam berapa, aku jawab jam tujuh tapi bapak tidak percaya, karena biasanya Semarang-Sragen bisa ditempuh dengan motor sekitaran 4 jam saja. Tapi aku bilang karena jalanan macet tadi ada kampanye partai di Salatiga bapak percaya, yah memang tadi itulah yang terjadi.

Hari minggunya aku bilang jam satu aku akan balik ke Semarang pada ibuku yang menanyaiku setelah sarapan bersama. Seperti biasa hari minggu adalah kegiatan mencuci pakaian dan dibantu dengan bapak yang juga membantu untuk menjemur pakaian-pakaian itu. Lalu dilanjut dengan ke pasar membeli dagangan untuk dimasak dan di jual di pagi harinya. Ibuku adalah seorang pedagang nasi dan bapakku seorang pegawai negeri sipil rendahan saja. Namun aku rasa semua itu cukup untuk kebutuhan kami juga untuk menyekolahkan adikku dan menguliahkan aku. Meskipun cukup tersebut juga harus ditambah dengan datangnya ‘mas-mas bank titil’ setiap hari ke rumahku.

Namun jam sepuluh saja aku sudah diusir ibu dari rumah, cukup bingung rasanya ketika masalah kecil sudah bisa membuat ibuku mengeluarkan caci maki sekasar itu. Cuma karena aku tetap seperti biasa ke Semarang ingin naik motor tapi tidak dibolehkan karena adikku juga ingin ke sekolang naik motor, padahal adikku kelas tiga SMP, sedang dalam masa-masa ujian. Konyol rasanya. Tapi begitulah kenyataannya.

Cukup membingungkan, aku bilang begitu karena sebelumnya beras dan rambutan yang akan aku bawa ke Semarang sudah di tata dalam dua kresek plastik besar dan ibu bilang tinggal ditaruh dijok depan motor. Tapi kenapa tiba-tiba aku tidak boleh membawa motor. Jika tidak membawa bermacam bawaan dalam jumlah banyak seperti itu mungkin aku akan manut saja sama ibuku, namun ternyata penolakanku malah di balas dengan kemarahan besar dari ibuku. Hingga hafal telingaku merekam perkataan menyakitkan ibuku tersebut.

Hanya karena masalah yang kubilang kecil tersebut sudah mampu menyulut kemarahan ibuku, membuatnya seperti kesetanan hingga melupakan bahwa anak perempuannya ini juga punya hati dan perasaan, yang kali itu begitu terluka karena perkataannya. Sebenarnya bukan kali itu saja ibuku bicara kasar, sudah sejak aku kecil aku sudah paham tempramen ibuku. Jadi kupingku memang sudah terbiasa dengan caci maki ibuku, tapi kali ini aku rasa sudah keterlaluan. Hal tersebut sudah cukup membuatku untuk merasa bahwa aku memang sudah tidak diharapkan lagi.

Sambil memberikan aku uang ibu menyuruhku pergi dari rumah. Terkadang sampai aku berpikir apakah aku memang seburuk itu, tidak pantas untuk disebut seorang anak? Sudah sesalahkah itu aku? Sejelekkah itu aku? Aku benci dengan diriku sendiri!

Tapi memang kuputuskan untuk menurut saja, meskipun ibu sudah marah besar. Diantar oleh adiku ke terminal, aku kembali ke Semarang, untuk terlebih dahulu naik bus ke Solo, dilanjut naik bus lagi ke Semarang. Di terminal yang sepi, karena boleh dibilang hari sudah sore sekitar jam 3 aku duduk dikursi tunggu terminal sendirian. Rasa sesak di dada menyerbu membuat mataku panas, aku lihat ke atas demi menahan air mata agar tidak jatuh.

Cukup lama aku menunggu bus jurusan Solo, namun setelah mendapatkan bus tersebut, keadaan di dalam bus sudah penuh sesak. Hasilnya aku dari Sragen ke Solo berdiri sambil menggendong tas yang cukup berat karena berisi leptop, ditambah dengan gendongan tas yang sudah hampir putus membuatku cukup was-was jika nanti benar-benar putus. Untungnya  rambutan dan juga beras jatah untuk aku masak dikost aku tinggal di rumah, tidak jadi aku bawa. Padahal bapak sengaja ‘menekke’ rambutan di depan rumah buatku biar buat oleh-oleh teman-temam kost, bapak juga sudah mengambil jatah beras satu sak dari simbahku agar dapat aku bawa ke Semarang. Cukup buat makan aku satu bulan kedepan. Tapi terpaksa aku tinggal semua.

Sampai Terminal Tirtonadi Solo sudah hujan lebat, sedikit basah karena harus menunggu bus jurusan Semarang. Setelah naik bus dan sampai Ungaran barulah hujan berhenti, namun hujan di hatiku tetap belum berhenti.  Aku sadar aku bukan penyimpan dendam namun rasa sakit jika mengingat begitu rupa caci maki dan sumpah serapah yang meluncur dengan mudahnya dari mulut ibuku tetap saja terasa sakit dan memberikan rasa takut luar biasa. Rasa penolakan akan diri sendiri yang begitu tertancap dipikirku begitu mencekikku sendiri. Sampai sekarang selalu membuatku takut pulang. Takut membuat kecewa dan marah ibuku meskipun aku sudah berbuat sebaik mungkin namun tetap saja selalu salah di mata ibuku. Takut kembali mendapatkan umpatan dan kata-kata kotor. Aku takut pulang ke rumah.


Tuesday, February 4, 2014

Monstrologist

Aku tidak begitu kenal dengan sosok ini, hanya secuil yang aku tahu tentang dia. Tapi dari yang secuil itu aku sudah mampu meraup banyak sekali pelajaran tentang hidup. Sosok yang boleh dibilang misterius karena selain kelahirannya di Pontianak dan kesukaannya pada laba-laba, tidak banyak lagi yang aku dan Monster Jackers lain  ketahui tentang dia. Nama aslinya pun kami tidak tahu.

Bagiku selain Rasulullah dan Bapakku, ada dua orang lagi yang bagitu aku idolakan dari pemikiran-pemikirannya, yaitu Bang Jrx (drummer Superman Is Dead) dan Bang Momo (vocalist Captain Jack Band) dan kali ini sosok yang aku bilang diatas tersebut adalah Bang Momo atau Mo Monstrologist nama yang dia pakai. Hingga nama belakang tersebut juga aku sandang.


Berikut ini adalah ide-ide serta kata-kata motivasi dari Bang Momo yang mungkin bisa kita ambil pelajarannya. (Jangan dimakan mentah!!) Aku pun bukan menjadikan ini sebagai inspirasi tapi kujadikan sebuah referensi.

Ini aku copas dari Facebooknya Bang Momo dari tahun 2010 sampai 2012 :

menyuarakan sesuatu bisa lewat apa aja…tertulis ataupun tidak…punya kesempatan yg sama untk buat perubahan…yg penting punya ide dan semangat buat menginspirasi siapapun..

btw…bknnya aku ga punya selera humor…tp klo ditanya tntang hal2 lucu aku ga terlalu bisa jawab…aku bukan “ikon” yg bisa menghibur kalian dgn jawaban2 humor…sekali2 oke lah…aku cuma ga mau jadi yg bukan identitasku…lagi pula tiap orang harus punya cara berfikir masing2 kan??….dan ini caraku…

Tanggapan Tentang ‘’  Anti captainjack”

hmmm…ketika semua bebas berfikir, pasti ada kata setuju dan tidak setuju…wajar aja…bahkan harus ada yg tidak setuju…dari situ kita belajar tentang kekurangan…asalkan…yg benci punya argumentasi bagus buat membenci…jika tidak??…tidak perlu di dengar…

Ketika ditanya : “apa pendapapat tentang Menyalahkan takdir” 

jangankan takdir…mnurutku klo mau jd kuat…jgn pernah salahkan apapun…

Ketika Ditanya :  “ apa  Pendapat abang tentang Musik Hiphop “

aku mencoba respect sama musik apapun…pribadi…aku tipe yg bisa nikmatin musik apapun itu..

SETELAH SEDIKIT INTERVIEW DGN BEBERAPA TEMAN…TERNYATA BEBERAPA UNIVERSITAS DI JOGJA SUDAH LAMA MENUTUP JALAN2 BUAT MAHASISWANYA UNTUK LEBIH BERKEMBANG DI ORGANISASI…KNAPA INI??…APAKAH INI SALAH SATU SEBAB MENGAPA “MAHASISWA” SAAT INI LEBIH MILIH TOPIK “LIFESTYLE” SAAT NGOBROL…BUKAN LAGI PEMIKIRAN2 BARU DARI KESADARAN YG KRITIS…

musik itu kebebasan…jd aku sangat hargai kebebasan… yg mungkin tidak aku hargai adalah jika si “musik” membawakan sebuah ide yg merusak…tp aku pikir itu tidak perlu di umbar…karna tidak semua bisa berpikir lebih

DARI SEGI BAHASA…MONSTER DARI BAHASA LATIN KUNO…”MONSTROS”…YG ARTINYA “PERTANDA”, “MENGINGATKAN”, ATAU JUGA “KEAJAIBAN” DAN DIGAMBARKAN SEBAGAI SESUATU YG JAUH DARI NORMA2 EKOSISTEM…WALAUPUN SELALU DIKONOTASIKAN SBAGAI SESUATU YG JAHAT…TP ITU CMA PANDANGAN SEPIHAK…MONSTER JG BISA BRARTI SESUATU YG “BESAR”…KARNA AKU BERHARAP SUATU SAAT “KITA BISA JADI SEBUAH IDE YG SANGAT BESAR”…WALAUPUN KITA HARUS KELUAR DARI NORMA EKOSISTEM…MARI SATUKAN SUARA TEMAN2!!!…WE ARE MONSTERS…

yg pasti apapun halnya…semua ga 100% buruk…tp aku yakin pertelevisian indonesia…butuh bnyk koreksi…ga boleh jd ajang pembodohan, dan harus jd yg memperkuat bukan yg melemahkan.

PEMANDANGAN PALING MENAKJUBKAN ADALAH KETIKA…”BERDIRI DI LUAR LINGKARAN DAN MELIHAT SEMUA YG TERJADI DI DALAM…LUCU, MENYEDIHKAN, GELI, CAMPUR ADUK JD SATU”…SHOULD I RE-ENTER THE CIRCLE AGAIN??…I DON’T THINK SO..

PERUBAHAN HARUS…TP JIKA DISUSUPI KEPENTINGAN DAN EGO PRIBADI??…SORRY!!…SIAPAPUN TIDAK AKAN DAPATKAN KATA “YA” DARI MULUT KU!!!…

BERHATI2 DGN KATA “TAU”…”TAU” HARUSNYA BERASAL DARI SEBUAH FAKTA, BUKTI, HIPOTESA, DAN KEMUDIAN DISIMPULKAN DGN TINGKAT KEBENARAN DIATAS 80%…”TAU” BUKAN BERASAL DARI “PERASAAN”, KABAR ANGIN, ATAU SEBUAH DUGAAN…”PELIHARA LOGIKA”

JIKA KALIAN MENGHARAPKAN PERUBAHAN DAN MARAH AKAN SITUASI SEKARANG…USAHAKAN ITU DARI PEMIKIRAN SENDIRI DAN DALAM KEADAAN YG JERNIH…BUKAN DARI IDEALISME CONTEKAN DAN BUKAN HASIL “IKUT2AN”…(BERSAMA BUAT JOGJA YG DAMAI)…

AKU JARANG DENGARKAN RADIO…DAN SETELAH AKU AMATI???…KENAPA HAMPIR SEMUA LAGU SEKARANG SELALU “BILANG”…”AKU TAK BISA”…”TAK AKAN BISA”…”TAK MAMPU”…DAN TAK..TAK LAINNYA…HMMM??…BUAT HAL KECIL AJA NYERAH…APA LAGI MERUBAH HAL2 YG ORNG BANYAK BILANG MUSTAHIL??…SEPERTINYA ADA YG GA BERES MA ORANG2 SEKARANG???

TAPI JIKA KALIAN MENDEVINISIKAN KE-3 STATEMENT DIBAWAH INI SEBAGAI SEBUAH “IDEA”…SEBUAH IDE…SEBUAH PRINSIP HIDUP YG LAYAK DIBAGI…MUNGKIN AKU AKAN BERKATA : “MUNGKIN, AKU SEORANG IDEALIST??”…KARNA AKU AKAN SELALU MENCOBA MENERAPKAN SEMUA DALAM MENJALANI HIDUP…MARI SODARA2!!!…DEVINISIKAN ARTI “IDEALISME” MU MASING2…TANPA HARUS MENYERANG “IDEALISME” ORANG LAIN…KEEP THE FIGHT IN A SMART WAYS…

JIKA “IDEALIS” BERARTI HANYA BERKUTAT, BERGELUT, DAN BERDIRI DI TEMPAT YG SAMA…TANPA MENCOBA HAL2 BARU…DAN MEMAKI SEMUA HAL BARU YG DATANG…SEKALI LAGI AKU KATAKAN : “MAAF, AKU BUKAN SEORANG IDEALIST”..KARNA AKU AKAN TERUS BERPETUALANG, BEREKSPERIMEN, DAN MENCOBA HAL2 BARU YG AKU TEMUKAN…KARNA MANUSIA PUNYA KEBEBASAN MEMILIH.

JIKA “IDEALIS” BERARTI MEMPERTAHANKAN SEMUA KESALAHAN YG ADA DALAM DIRI DAN MEMAKI ORANG YG MEMBERI PANDANGAN LAIN…AKU AKAN BERKATA LAGI : “MAAF, AKU BUKAN SEORANG IDEALIST…KARNA AKU AKAN SELALU MEMPERBAIKI APAPUN YG BUTUH PERBAIKAN DALAM DIRI..DAN BERUSAHA MENDENGARKAN SEMUA SUARA YG DATANG DGN SOPAN…

JIKA “IDEALIS” BERARTI TIDAK MAU MENERIMA DAN MENGHORMATI APAPUN YG ADA DI LUAR “KOTAK” KU….AKU AKAN BERKATA : “MAAF, AKU BUKAN ORANG IDEASLIS”…KARNA AKU AKAN TERUS BERUSAHA MENGHORMATI APAPUN..BAHKAN YG BERSEBERANGAN DGN PAHAM KU…

KADANG YG DIBUTUHKAN BUKAN SEKEDAR PERUBAHAN…TP REVOLUSI DIRI…

STOP MEMAKI, MENYALAHKAN, MERENDAHKAN NEGERI INI…YG UDAH NGASI KALIAN TEMPAT HIDUP!!!!…MAKILAH DIRI SENDIRI YG TELAH JADI BODOH, TAK PEDULI, RAKUS, DAN BANYAK LAGI HAL2 BURUK YG TIDAK DISADARI!!!!….TIDAK AKAN ADA KEMERDEKAAN SEBELUM SEMUA BISA BERPIKIR…HAPPY BIRTHDAY INDONESIA.

SEPERTINYA “GALAU” UDAH JADI PIARAAN PALING “NGETREND” BUAT SEKARANG…DIRASAKAN TERUS MENERUS…SAMPE HAL PENTING BERNAMA “SOLUSI”…SAMA SEKALI TIDAK DI CARI…WHAT THE HELL IS HAPPENING??

pemberontak itu seperti tukang sampah…yg membersihkan sampah2 yg sudah lama menumpuk…dan tukang sampah adalah pekerjaan yg mulia…

MENURUTKU AGAMA ADALAH HUBUNGAN PRIBADI ANTARA CIPTAAN DAN PENCIPTA…ITU ADALAH HAK ISTIMEWA DAN SEBUAH PILIHAN…JADI AKU KATAKAN…”AKU MENGHORMATI KALIAN SECARA SAMA, APAPUN AGAMA DAN KEPERCAYAAN KALIAN”…BUAT SEMUA PERBEDAAN LEBIH HARMONIS…JGN MAU DI ADU DOMBA…KITA SEMUA SAUDARA..

ga semua orang slalu menang…coba pelajari devinisi “pecundang”…mnurutku itu bkn hal yg buruk…tidak ada kata “tidak punya nyali”…yg ada “blum punya nyali”…jadi tidak salah kan..klo aku sedikit memotivasi orang2 yg blm punya nyali untuk punya nyali melawan apapun yg menindas mereka

klo masih ada kata “peluang kecil”…itu cuma buat yg ga berusaha…(nonton sinetron ga bakal membantu)…aku yakin, kalian2 masih bisa makan ma tidur di tempat layak…itu aja udah cukup buat datangin pemikiran2 baru buat maju…stop liat keatas dan fokus ma apa yg mau kalian buat…sikap manja ga akan bawa kalian kmana – mana…

kalian kalah..karna kebanyakan “alasan”…nyalahin orang lain dan situasi ga kan bikin kmu jd kuat…boleh percaya boleh tidak..

KITA BERSAMA – SAMA DISINI BUKAN HANYA UNTUK BERSENANG – SENANG, MELEPAS EMOSI, DAN BERKUMPUL… SIAPKAN DIRI KALIAN SEMUA BUAT TUJUAN YG LEBIH BESAR…SIAPA TAU SUATU SAAT KE DEPAN KITA HARUS AMBIL BAGIAN MENJATUHKAN ORANG – ORANG BESAR YG TIDAK SEHARUSNYA DIATAS…SIAPKAN DIRI SODARA2 KU…MUNGKIN SUATU SAAT…

buatku…agama itu hubungan individual antara seseorang dgn penciptanya…jd tidak ada yg berhak men”judge”…

APA DEVINISI KUAT SALAH SATUNYA ADALAH : “TIDAK MERASAKAN SAKIT ATAS APAPUN HAL MENYAKITKAN YG SEDANG BERLAKU PADA FISIK ATAUPUN MENTALMU”??…TERKADANG TIDAK SEMUA HAL BISA DIUKUR DGN PENDAPAT “UMUM” DAN PENJELASAN NORMATIF…A BIT FUCKED UP BUT THATS LIFE.

I AM WHAT I AM…I DO WHAT I DO…JADI JGN BANYAK MULUT, AKU YAKIN ANDA PUNYA URUSAN SENDIRI UNTUK DIURUS…??…KLO TERNYATA TIDAK PUNYA??…MUNGKIN ANDA PATUT DIKASIHANI…GET A JOB MAN!!!…I THINK THATS A GOOD ADVICE..

“Perkuat misi kalian di musik, sekarang banyak anak muda yang tidak percaya dengan politik, usahakan mereka mengidolakan musisi yang cerdas”

KEBUNTUAN CMA TERJADI KTIKA ORANG BERHENTI BERFIKIR DAN TIDAK FOKUS DGN YG DIKERJAKAN…BERAPA BULAN KEDEPAN TIDAK AKAN ADA RUANG UNTUK “KEBUNTUAN”

SEPERTI KATA SAYA SEBELUMNYA….”BUANG YG TIDAK PERLU”….

AKU LIHAT YG INGIN AKU LIHAT, DENGAR YG INGIN KU DENGAR, LAKUKAN YG INGIN AKU LAKUKAN..DAN TAK ADA YG BISA MELARANG…WHAT A LIFE..

WAKTU TIDAK MUNDUR..

SEPERTINYA SEMAKIN BANYAK MANUSIA BERGENDER LAKI2 YG SUDAH TIDAK TERTARIK MENJADI “LAKI2 SEJATI” ATAU SETIDAKNYA BERBUAT SEPERTI SEORANG LAKI2???…PATHETIC!!!..

ALBERT EINSTEIN PERNAH DIANGGAP GILA KARNA TEORI RELATIVITAS, THOMAS ALVA EDISON DAN FRIEDRICH NIETZCHE JG MENGALAMI PENGHAKIMAN SERUPA DR BANYAK ORANG…HMMMM??…KENAPA BANYAK ORANG SELALU TAKUT DGN SESUATU YG BARU DAN BEDA??…DAN BAGI YG “BERBEDA” AKU HARAP KALIAN TIDAK PERLU TAKUT DICEMOOH, DIHINA, ATAU APAPUN…KANA MUNGKIN??…MEREKA CUMA TAKUT DAN “TIDAK MENGERTI”..

KADANG JALAN TERAKHIR UNTUK MERUBAH SEBUAH DUNIA YG BUSUK ADALAH MEMBAKARNYA, MERATAKANNYA DGN TANAH, MEMBUANG SISANYA…LALU MEMBANGUNNYA DARI AWAL DGN DETAIL TANPA MEMBUAT KESALAHAN2 YG PERNAH DIBUAT…

tetep melakukan hal sama saat hinaan yg datang…”diam” dan “berpikir”…lalu memutuskan apakah ada hal yg bisa diambil…

tangan cma simbol…kepalin tangan dalam kepala udh cukup buat motivasi..semoga lebih kuat

APA YG ANDA LAKUKAN KETIKA ADA ORANG2 DENGKI MULAI CEREWET SANA SINI??…KLO SAYA??…I’LL SAY “FUCK EM”…DAN BERSUKUR TERNYATA SAYA DI BERI SESUATU YG LEBIH…

APA  YG ANDA LAKUKAN KETIKA BEBAN DI PUNDAK ANDA SUDAH BERLEBIHAN???…….MENURUT SAYA?? ……”BUANG YANG TIDAK PERLU!!!”

hal paling bodoh yg dilakukan manusia kadang adalah nyiksa diri dan ngorbanin diri buat “rasa”…menurutku yg terpenting adalah hidup harus tetap maju dan lebih besar…itu cma pembatas kecil…satu kata…dobrak!

masa depan selalu penuh dgn teori probabilitas…dgn skill, jati diri, di campur dgn prinsip bisa memperkecil persentase probabilitas….dan aku rasa tanda seru tidak diperlukan

klo itu yg kmu cari…silahkan cari di tempat lain…maksudku banyk band lain yg bisa jd referensi buat itu…tapi kami adalah apa yg kami tulis…menurut kami dunia harus “balance”…jika semua putih..biar kmi tetap jadi hitam..:)

bukan…tp tiap orang harus tau tempatnya dmana…kmi cma penyeimbang…krna ktidak puasan jg punya tempat dlm hidup..itu salah satu hal yg bikin manusia menjadi lebih “aware”…contoh…bahkan belatung yg menjijikan buat sebagian orang pun punya tugas di alam yg mungkin sam penting dgn lebah madu…that’s balance

manusia adalah makhluk sosial dan “INDIVIDUAL”…jgn lupa itu!!..mau sendiri atau ada orang lain HARUS tetep bisa hidup…udh mengerti sifat pengecut menyebalkan bukan??..di diri sendiri atopun orang lain..brarti ga ada kata MEREKA disini..HARUSNYA ada usaha buat jadi lebih berani…JALAN DI TEMPAT bukan hal bagus menurutku bro…kadang keberanian, kekuatan, dan teman2nya itu musti dpaksakan…dan sifat2 laennya yg berlawanan jgn sampe DI PIARA..

.kmi mungkin terlihat seperti orang2 marah..tp kami berusaha marah dgn sopan dan penuh pemikiran…itu yg disebut MONSTER’S…jd aku jg minta maaf atas reaksi teman2 sepemikiranku..klo mereka menggunakan kata kasar…mungkin kita semua suatu saat bisa lebih bijak dalam bersuara..

di politik isinya cma orang2 tua yg sudah sulit dirubah…budaya buruk yg sudah mendarah daging…aku lebih fokus memancing generasi kalian buat keluar dari budaya2 lama…karena itulah captain jack..

jgn jadikan aku inspirasi bro…jadikan aku cma orang2 pemberi referensi sama sperti orng2 laen yg ngasi kmu referensi tiap hari…

berantakan sekarang..apa jg berantakan nanti??..klo berantakan udh coba buat dibenerin??..karna klo kita terus teriak idup berantakan tanpa kita teriak “pasti bisa bener lagi”…brarti aku ga bisa kasi saran apa2 bro…masalhnya bukan di idupmu…tp di KAMU… 


Monday, February 3, 2014

Puisi kiriman tentang ilalang

Ini adalah puisi kiriman dari temanku yang kukenal lewat we chat, pertama aku tidak begitu peduli pada dia bahkan setelah gak sengaja bertemu dengan dia. Hey dia juga yang pertama ngenalin wajahku lho ya. Busyet peduli amat ya?? Padahal aku sih cuek. #lihatkearahlain

Ditambah karena wajahnya yang cakep berkesan playboy bikin alarm 'cuekin' yang ada pada mataku langsung aktif begitu aku lihat dia. (emot ngupil)
Well, tapi semua berubah saat negara api menyerang *ehh salah
semua berubah saat aku gak sengaja baca statusnya di facebook, apa yang terjadi? Hell, aku jatuh cinta sama puisinya!
Berikut adalah puisi yang dia kirim ke aku J


Hei..
Apa kau ilalang itu.??

Benarkah kau ilalang.??

Semenit yang lalu q memandanginya.

Benar benar penuh tekanan.

Ayunan itu..

Apa kau kuat.??

Apa memang kau sudah terbiasa.??

aku tetap memandangnya,berharap mendengar keluhannya..

Detik seperti menderu..

Rangka langit mulai terasa kosong..

Mendung..

Dan rintik hujan yang mungkin dirindukan seseorang dari alam lain mulai terjun..

Aku masih saja memandanginya,mulai bersahabat entah beberapa waktu yang lalu..

Apa kau masih kuat.??

Kau seperti lelah.??

Bicaralah.!!

Aku akan tersenyum menopangmu..

Dia tetap diam..

Dia tetap kokoh dengan badan yang ramping itu.

Langit seperti kasihan..

Mendung menggulung,sedikit cahaya hangat mulai melongok..

Aku yang sedari tadi bersama sahabat baruku..

Aku yang sedari tadi bersama ilalang..

Mulai mengerti persamaan..

Mulai mengerti apa itu kuat..

Mulai mengerti apa itu rindu..

Mulai mengerti apa itu indah..

Dan biarlah pelangi yang mulai mempercantik diri itu ku selipkan diantara rapuh putikmu..

Aku merindukannya ilalang..

Dan kami terdiam..


by  : Luminous Arc (Mas Mudji)


Saturday, February 1, 2014

Puncak Pertamaku pada 2050 mdpl

Dilatar belakangi karena buku-buku lyric lagu OST. Anime ku jaman aku masih SMP yang sukses jadi bahan bakar memasak, maka kuciptakan blog ini. Aku rasa buku-buku antologi puisi dan buku cerpen ku tidak boleh mengalami nasip yang sama seperti buku lyric lagu yang di dalamnya juga terdapat gambar-gambar anime buatanku sendiri. Sungguh sedih :( hikz hikz
Jadi setiap kisah memang haruslah dirumahkan. Agar tidak jadi gelandangan atau lebih kerennya tuna wisma. Duh Jangan deh.
So This is it, Rumah Monolog.

Kali ini aku akan bercerita tentang pendakian pertamaku, yaitu di Gunung Ungaran. 



Pendakian pertama dan Alhamdulillah dapat puncak pertama juga, dengan ketinggian 2050 mdpl, kembali kuucapkan Alhamdulillah lagi karena menjadi pengalaman yang bagitu istimebret buatku. Karena yang pertama memang selalu menjadi yang paling istimewa.


Pendakian ini dalam rangka merayakan Ulang Tahun Exsara yang ke-3, pada waktu itu aku sebagai calon anggota Exsara wajib mengikuti kegiatan ini. Meskipun pada saat itu aku dihadapkan pada pilihan yang sulit, tapi inilah pilihan yang kuambil, ikut dalam pendakian, dan tidak mengecewakan dengan kata lain aku memilih pilihan yang tepat akurat.


Perjalanan dimulai dengan armada truk dari kampus tercinta UNNES sampai kami diturunkan di samping sebuah SD yang kulupa namanya. Lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai Post Mawar.


Dan di Post Mawar ini ternyata terdapat warung makanan. Sekedar mengisi perut, es marimas dan tempe mendoan pun tiba-tiba sudah berpindah tempat. Selesai maksiat (baca : makan, istirahat dan sholat) kami pun disiapkan untuk memulai pendakian. Melewati medan dengan track naik dan turunan, melewati jurang, melewati kolam renang, air terjun, kebun kopi, kebun teh. Dan setiap moment tak lupa kami sejarahkan dalam bentuk poto-poto ^^


Lelah perjalanan dengan dahaga yang menyekat tenggorokan, Alhamdulillah banget dipertengahan sebelum kolam renang terdapat sumber mata air. Mengambil secara manual langsung dari sumbernya dan ketika air tersebut mengalir melewati kerongkongan gleg ahhh terdengar bunyi "suegeree" secara ajaib. Hahaha itulah yang melatari jargon Exsara Suegeree.



Kurang sempurna kalo setelah perjalanan nan membanjirkan keringat tersebut kami tidak menikmati segarnya air kolam renang. Tapi rupanya ini hanya dilakukan oleh kaum dengan gaya pipis berdiri saja, kami para kaum wanita sudah harus cukup puas dengan hanya mencelupkan kaki di kolam dengan air warna hijau tersebut.



Selesai jeblur-jeblur kami pun kembali melangkahkan kaki menapaki jalan dengan pemandangan kanan kiri kebun kopi lalu kebun teh. Hingga tiba di penginapan-penuh-dengan-rasa-kebersamaan-dan-kekeluargaan yaitu di Desa Promasan. Selesai meletakan bawaan, kami pun diajak mengelilingi goa. Kegiatan yang ini dinamai Menelusuri Jejak Imperialis Jepang di Desa Promasan Lereng Gunung Ungaran dalam kurung Goa Jepang. Begitulah.


Selesai menelusuri jejak imperialis Jepang, kami dipersialahkan untuk bebas melakukan apa saja. Babas asal tidak membahayakan dan tidak merugikan. Ada yang sholat (nah yang ini wajib didahulukan) ada yang tidur, ada yang ngobrol. Bagi yang kelaparan, ya memasak bekalnya. Bagi yang penasaran, dia akan jalan-jalan disetapak dengan pemandangan kebun teh. Bagi yang gadis sekali maka dia buru-buru ke kamar mandi terdekat, buat apa lagi kalo bukan buat mandi. Bagi yang narsis maka akan menggunakan pemandangan yang mempesona tersebut untuk poto-poto. Disinilah terlihat gerombolan-gerombolan dengan jenis masing-masing. Aku termasuk komplotan yang duduk di lapangan ngobrol, jajan, becanda-becanda dan poto-poto itu jelas. Walaupun begitu setelah itu ya tetap antri buat mandi bersih diri.




Acara selanjutnya adalah makan malam dilanjut kearaban, kami berkumpul bersama. Ada pengenalan divisi, pengenalan tentang sejarah Exsara, ada stand up comedy, ada bercanda-bercanda bersama, seru pokoknya.


Poto diatas itu aku yang tiba-tiba jadi jayengan dadakan :) hehe


Ada yang bobo imut juga diantara senior-senior yang sedang menjelaskan alias mengisi acara. Yah dimaklumi mungkin sudah sangat capek.


Tapi kalo untuk aku pribadi sebagai penderita insomnia-akud jelas tidur pada jam yang bahkan belum menunjuk angka 8 pasti akan ditertawakan oleh bantal. Huhu belum ngantuk sekaligus karena aku sangat antusias dengan acara yang disuguhkan tersebut jadi mata melek dan masih sangat semangat. Fire~

Kami yang berniat bulat untuk naik ke puncak dibangunkan Pukul 01.00 WIB untuk memulai perjalanan. Aku sih jelas ikut karena memang benar-benar menggebu, aku pikir semua yang mengikuti acara ini pastilah ikut, tetapi ternyata ada juga yang merasa tidak enak badan dan tidak ikut ke puncak, yah rugi sekali. Tapi memang lebih baik begitu daripada memaksakan diri, karena memang malamnya hujan mengguyur dan memberikan hawa dingin yang menusuk. Ditambah medan yang akan dilewati pastilah becek dan licin hasil dari hujan kemarin.


Untukku pribadi ini adalah pendakian pertama yang jelas begitu kunikmati setiap langkah kaki yang harus pintar-pintar dalam memilih pijakan. Hawa dingin tak terasa karena terus berjalan sambil mengobrol dengan teman. Pemandangan gelap dengan hanya bersinarkan cahaya senter. Diantara kata "kurang lima menit lagi" yang diucapkan oleh senior juga teriakan "Exsara" yang harus kami sambut dengan teriakan "Suegeree" sesemangat mungkin semua itu memacu kami untuk terus mendaki.

Dan taraaa . . . .
Aku yang banyak berhenti istirahat ternyata menjadi salah satu yang tercepat sampai puncak. *angkat topi*


Yey itulah ekspresi kegembiraanku, meskipun sampai puncak pun masih saja gelap. Mataharinya masih tidur, jadi kami harus menunggu untuk melihat sunrise. Sembari menunggu kami pun mencari yang bisa dibakar, kayu kering, daun kering, bungkus mie, sampah, kenangan *ehh
Pokoknya yang bisa dibakar untuk membuat api unggun kecil. Karena di puncak dingin bbbrrrr~


Menghangatkan diri men, gak lucu kan kalo tiba-tiba aku jadi Nami beku.
Dan yang kami tunggu akhirnya datang juga. Menantikan detik-detiknya dengan poto-poto bersama. Mengabudikan *ehh salah maksudnya mengabadikan moment bersejarah kami di puncak Gunung Ungaran.


Selain poto-poto juga membuat video, maaf jika video dari hape The Riwan's tidak bisa aku bagi disini, karena aku rasa itu cukup menjadi video kenangan pribadi saja, hehehe ngeles. Padahal sih emang aku belum ngerti cara upload video dalam blog. Ribet juga (maybe)


Kebersamaan yang kami bingkai dalam setiap poto dan kenangan manis dikepala.



Segala makna dari mendaki sepertinya sudah kuceritakan gamblang dalam diary onlenku yang sebelumnya, yang berjudul Failed Mt. Lawu 3265 mdpl 
Jadi tidak kupanjang lebarkan lagi segala bla bla bla tentang tujuan, fungsi, manfaat, hasil, keuntungan, semua yang berbentuk keformilan.



Menatap matahari terbit yang Subhanallah indahnya. Penantian yang kunamai Ngenteni Srengenge Jedul ini ternyata lebih indah dari yang kubayangkan. Gak bisa diungkapkan dengan kata-kata, semua tercekat ditenggorokan namun tergambar jelas dalam ingatan.


Bagaimana sebuah perasaan harus melukiskan pemandangan yang luar biasa indahnya? Yah ini pun baru secuil yang bisa kami nikmati dari seluruh keindahan yang Allah ciptakan.


Mamandang suguhan alam yang menakjubkan sambil mencipta sepotong puisi. Bermonolog ria yang kujuduli Negri Diatas Awan :)


Dan sesi poto-poto pun masih belum usai, ternyata kami memilih tempat yang sangat bagus untuk berpoto. Yah meskipun dengan kata lain kami cukup jauh terpisah dari rombongan lain.




Menciptakan sejarah secara langsung, dengan slogan "tidak mengambil apapun kecuali poto dan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak"



Waktu bercinta sekoead tenaga dengan pemandangan indah Puncak Ungaran pun harus disudahi dan harus lambaikan tangan pada suasana di puncak. *cium jauh n' daa daa*