Tiba-Tiba Hening
Dia masih dengan logat Pontianaknya sedang video call-an dengan keluarganya di pulau seberang sana. Saat kuintip sedikit sepertinya itu ibunya yang ada dilayar leptop. Sambil aku pura-pura sibuk dengan leptopku sendiri, aku mencoba mencerna apa yang mereka bicarakan. Tapi percuma karena tak satupun kata yang kumengerti. Dulu pernah sempat aku cari-cari di internet tentang bahasa daerah Pontianak sana, karena buatku segala hal yang berhubungan dengan dia adalah menarik.
Karena hari libur kampus cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang mencari gratisan internet di kampus. Aku sendiri setelah menerima sms dari dia, langsung saja ke kampus. Dia bilang juga ngajak teman yang tidak pulang kampung untuk wifian bareng, tapi ternyata cuma aku dan dia saja yang menghuni gedung perkuliahan ini sambil menatap leptop masing-masing.
"Haha kamu pasti gak ngertikan tadi aku ngomong apa?" kata dia setelah mengakhiri kangen-kangenannya dengan ibunya di rumah. "Jelas aja aku gak ngerti bahasamu, Tan." jawabku setengah malas, karena pertanyaan seperti itu sudah jelas adalah sebuah lelucon dari dia. Lalu gantian handphoneQ yang berkedip-kedip. Di layar hape mengeluarkan nama yang sudah sangat aku kenal, ingin rasanya tidak kuangkat lalu aku matikan tapi dia terlanjur bilang "angkat saja" malah akan terkesan aneh jika tidak kuangkat. Tapi tidak begitu lama percakapan sudah aku tekan tombol akhiri panggilan. Sungguh membosankan saat aku mendengar kalimat "kamu pasti lagi sama dia kan?" dari seberang percakapan sana. Sebuah pertanyaan yang menyelidik dengan rasa marah dan cemburu yang begitu tidak aku sukai.
"Pacar ya?" tanya dia sambil ngelirik aku yang kembali pada kesibukanku facebookan. "Iyee" jawabku singkat saja. Tapi setelah itu kuamati apakah ada perubahan dari wajahnya. 'hemb' tetap sama, biasa saja begitulah dia yang hanya menganggapku sebagai teman. Menemani dia wifian di sini.
"Kamu suka ya sama aku, Jen?"
'Deg!' jantungku dengan kampretnya berdetak gak karuan. "Maksunya apa Tan? Ngawur ah" kujawab sekenanya mencoba menutupi perasaanku yang sebenarnya.
"Gak usah bohong Jen, kelihatan kog hehehe" sambil dia nyengir kuda. "Gak usah ditutupi lah, aku bisa baca pikiranmu lhow"
'Sialan jantungku rasanya mau loncat dari tempatnya' bibirku benar-benar dibuat beku karena dia. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan dia.
"Apanya yang mau loncat?" tanya dia sambil senyum-senyum.
'Jadi apa benar rumor yang beredar selama ini kalo dia bisa baca pikiran orang, karena dari tadi aku tidak bilang apa-apa, hanya mampu kujawab dalam hati saja'
Lagi-lagi dia hanya tersenyum dan tiba-tiba semua jadi hening.
.jpg)
No comments:
Post a Comment