Laman
Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku
♥ Label Monolog ♥
Friday, April 13, 2018
Diam Yang Kita Sepakati
Entahlah
Tersisa sedikit debar
Meski samar pikiranku tercemar
Oleh seletup bara dari dadamu yang gusar
Semalaman hatiku memar
Dan kau tetap pada diammu
Tak bergeming pada tiap panggilanku
Membuat hatiku makin karam
Aku takut
Akankah jemari takdir kembali menghitung kehilangan?
Aku tak tahu
Aku lelah aku pasrah aku kalah
Aku menyerah
Pada diam yang akhirnya kupilih juga
Dalam diam yang diam-diam kita sepakati bersama
Aku berhenti meraihmu
Sragen, 6 April 2018
Kebetulan Kecil
Hanya kebetulan kecil dari skenario Tuhan pada sepenggal episode hidupmu
Tapi terima kasih
Karena telah membawaku serta
Mengajakku menjenguk kisi-kisi masa lalumu
Mungkinkah ada denyut rindu?
Aku tidak tahu
Karena itu antara kamu dan kenanganmu
Sedang aku, hanya berhenti di depan pintu
Sambil mendengarkan lagu kirimanmu
Dan akhirnya yang aku tahu
Selamanya aku hanya semu bagimu
Sragen, 2 April 2018
Tuesday, March 13, 2018
Koma Dan Tunggu
Aku mulai lelah menunggu
Terpincang-pincang dalam ketidakpastian
Sendu bersandar dalam koma yang tak sesaat
Dan keputusasaan mendesak berjingkat-jingkat
Dalam ruang yang semua putih
Juga asing bau warna udara
Aku menyerah menunggu
Jarak yang terenggang retak-retak
Melumat jiwaku koyak
Sragen, 10 Maret 2018
Terpincang-pincang dalam ketidakpastian
Sendu bersandar dalam koma yang tak sesaat
Dan keputusasaan mendesak berjingkat-jingkat
Dalam ruang yang semua putih
Juga asing bau warna udara
Aku menyerah menunggu
Jarak yang terenggang retak-retak
Melumat jiwaku koyak
Sragen, 10 Maret 2018
Pada Kehendak-Mu
Kini aku berhenti menghitung waktu
Toh penyakit telah menjadi belukar yang mendekapku
Memasung langkah tubuh
Menyeringai perlahan tiap detik lapis detik
Dengan angkuhnya mengemasi asaku
Tapi sujud menyalakan lagi aku
Nyala kecil, fana dan ragu
Sepintas aku tersadar
Ada kehendak-Mu yang samar
Menyapih pedih nafas yang tersengal
Sragen, 9 Maret 2018
Monday, March 12, 2018
Kau Yang Menunggu Si Pengembara
Aku pengembara
Pada tiap-tiap cinta yang sementara;
palsu, semu dan penuh tipu
tapi aku bersedia tertipu
Derak-derak waktu semakin penat
Menggempal dalam usia yang semakin genap
Manggulirkan bias kabut khayal
Menjernihkan pikiranku yang bebal
Pada ujung, mengapa selalu ada kamu?
Kamu, mencanangkan kokoh hari mendatang
Kamu, merapikan egoku yang jalang
Kamu yang menatap lurus padaku
Sedang mataku masih saja menari kesana-kemari
Aku jadi malu, pada teduh rentang tanganmu yang menunggu
Hingga pada ceruk waktu
Aku menujumu
Sragen, 8 Maret 2018
Kau Yang Abu-abu
Untukmu yang menaut bisu
Aku rindu
Menyapa ragu diammu
Apakah kau memang selalu begitu?
Begitu abu-abu
Sragen, 6 Maret 2018
Tuesday, February 13, 2018
Pada Raut Kesunyian
Dan telah tiba pada suatu masa
yang teramat biasa
Pada suatu titik henti yang bukan koma
Pada itu
Hari berubah sepi
Semua terlihat muram
Sedang belum beranjak pada malam
Semua yang pernah akrab terasa asing
Bahkan pergi tak berpamit
Menggamit serta asa
Yang tertinggal hanya kenangan
di sudut ingatan
begitu dingin dalam gigil dan degil
Dan aku
Hanya terpaku pada raut kesunyian
Sragen, 13 Februari 2018
Friday, August 18, 2017
Aku Saat Ini
Hidup ini sepi sekali Tuhan? Tidakkah aku masih memiliki kisahku sendiri untuk bisa aku tulis. Terkadang aku lelah membaca kisah-kisah orang lain. Tapi jika yang kumiliki hanya terus-terusan rasa sepi dengan hari yang tiap harinya sama. Apa bedanya aku dengan mayat? Tak memiliki jalan keluar dari kebuntuanku sendiri. Tak mampu memiliki kertas baru dalam lembaran-lembaranku. Tiap hari adalah kertas yang sama. Lalu apa yang harus kutulis jika semua seragam?
Sungguh aku lelah Tuhan. Tak ada bedanya aku dari orang mati. Tak lagi memiliki arti tak lagi memiliki guna. Bagi siapapun.
Betapa menyedihkannya hidup semacam ini. Hilang dari orang-orang. Hilang dari hiruk pikuk manusia yang dulu pernah aku kenal. Masa-masa itu. Aku sebenarnya rindu. Masa saat tak ada sedetikpun waktu untuk aku bisa berpikir bahwa hidup ini sepi. Bahkan tak pernah terpikirkan aku akan mengalami masa sesepi ini. Aku harus mengalami masa dengan kesendirian yang sangat panjang. Masa dimana aku menjadi manusia yang tak memiliki arti dan guna sedikitpun bagi orang lain bahkan untuk diri sendiri sekalipun. Masa aku benar-benar menjadi sang pecundang. Sepi dan suwung.
Entah kapan aku akan keluar dari kebuntuanku sendiri. Entah kapan.
Tuhan, tolong kasihanilah aku.
Monday, June 12, 2017
Puisi Dalam Pulau Buru Tanah Air Beta
Dan geraham terkunci
Tidak lebih dari seorang bandit
Ketika ia diseret
Kedepan penguasa di bumi
Dengan dada telanjang
Tidak lebih dari bertaruh mati
Karena dia anak dewasa, anak dewasa
Di depan altar pengadilan dia disiksa, bukan diperiksa
Dia diperkosa, bukan ditanya
Bisa apa dia?
Selain bertahan
Di dalam mulut terkatup, sobekan koran dia telan
Melecut merobek tubuh darah mengucur
Bisa apa dia?
Selain bertahan
Dan berkata sepatah
Aku anak dewasa yang berjanji berani
Mengangkat sumpah
Ekor ikan pari
Gagang karabin
Cincin listrik
Gilir berganti
Dan ia rebah
Ujung telunjukmu bergetar
Terbayang menuding ke udara
Bersama suaramu, penghabisan
Aku anak kemenangan, anak kemenangan
Dia sudah bertahan
Dia sudah berlawan
Kemudian ia rebah
Pada kompas dalam nafas
Gelung bergulung dalam gugur
Ada amanat dalam maut
Kumandang nyaring dari gugur
Pantai Sanleko,
Aku mencium angin pantai
Asin laut berdebur mengusap bibir
Getaran sepi melibur datang besama
Gelombang bergulung
Bayangan seragam loreng
Mata tentara dendam kesumat
Bayangan gagang karabin
Bersambar di atas kepala
Oleh rasa sendiri
Basah tampuk mataku
Dua puluh tahun lalu
Delapan ratus lima puluh tapol-tapol tak berdaya
Merangkak dipanasnya pasir
Masing-masing hanya bisa mencoba bertahan
Angka-angka nomor deportasi
Hitam di dada dan pantat seragam
Seperti komunis-komunis dan yahudi
Musuh-musuh Hitler yang harus mati
Tangan-tangan dan kaki-kaki kurus
Melindungi dada dan kepala mereka
Dari sambaran gagang-gagang karabin
Kenangan dua puluh tahun
Kembali mengalir bersama tetes air mata
Ziarah,
Papan-papan mati
Lebih hitam dari tanah
Tenggelam dalam sejarah
Tanah sejarah
Berjajar-jajar terpahat nama-nama
Di atas tanah
Tanda kematian
Tetanam tegak-tegak
Makin dipandang makin membisu
Makin terdiam
Makin berseru
Membisikan pesan
Papan-papan mati, tanda kehidupan
Orang-orang kalah kembali berpisah
Pantang menyerah, pantang menyerah
Wednesday, March 15, 2017
Air Mata
Apa yang kumiliki dari kesendirian?
Selain hanya air mata yang berkata-kata
Mengatakan segala sakit
Sragen, 15 Maret 2017
Selain hanya air mata yang berkata-kata
Mengatakan segala sakit
Sragen, 15 Maret 2017
Saturday, March 11, 2017
Jangan Kau Ramu Pilu
Kulihat kau begitu kalut
Lalu kudengar kau mengutuk kabut
Gelap merambat lembut
Nyala matamu lalu terenggut
Kenapa sayang?
Sini duduk cerita
Jangan terus kau peluk diam
Karena kau jelas tahu
Diammu adalah suwung malam-malamku
Dan murammu meramu pilu untukku
Memadamkan juga nyala mataku
Sinilah sayang
Sedih jangan kau timang
Buang
Buanglah yang jauh
Biar lekuk sabit bibirmu kembali utuh
Biar gelak tawamu yang lucu kembali utuh
Sragen, 11 Maret 2017
Pagi tadi masih kau cumbu tawa
Dalam malam kenapa kau biarkan sirna?
Lalu kudengar kau mengutuk kabut
Gelap merambat lembut
Nyala matamu lalu terenggut
Kenapa sayang?
Sini duduk cerita
Jangan terus kau peluk diam
Karena kau jelas tahu
Diammu adalah suwung malam-malamku
Dan murammu meramu pilu untukku
Memadamkan juga nyala mataku
Sinilah sayang
Sedih jangan kau timang
Buang
Buanglah yang jauh
Biar lekuk sabit bibirmu kembali utuh
Biar gelak tawamu yang lucu kembali utuh
Sragen, 11 Maret 2017
Pagi tadi masih kau cumbu tawa
Dalam malam kenapa kau biarkan sirna?
Kiriman Sihir Darimu
Kiriman sihir tawa darimu
Menyelinap dalam bantalku
Jika tidak begitu
Orang tuaku bisa tahu
Betapa gaduh ombak di hatiku
Deburnya sampai menggelitiki kaki
Tapi biarlah
Karena aku menikmatinya
Di situ terselip sebait bahagia
Membuai diri
Tanpa tidur tapi aku mampu bermimpi
Saat ini
Di sini detik jam mematri
Saat ini
Di sini detik jam mematri
Dan malam mulai menjemput pagi
Pagi yang masih bagitu dini
Pagi pucat pasi
Dan kirimanmu datang lagi
Pagi pucat pasi
Dan kirimanmu datang lagi
Segelas kopi dan semanis janji
Kirimanmu telah kumiliki
Seluruhnya
Seutuhnya
Tak bercedera
Tak berdera
Seutuhnya
Tak bercedera
Tak berdera
Sragen, 11 Maret 2017
Tuesday, March 7, 2017
Berugak Tua
Tanah basah diresapi embun
Kicau kenari melintas di atas kebun
Terendus bau panggang ayam semalam
Anjing liar berlari mengejar
Dalam sapuan liur karena lapar
Aku masih duduk di atas berugak tua
Melihat kenari terbang menjauh
Melihat anjing liar menjilat tulang separuh
Di bawah berugak tua
Cericit anak ayam kehilangan induknya
Sepagi ini mengais remah nasi
Mondar mandir sendiri
Induknya belum ketemu juga
Tapi dia tidak terlalu peduli
Terus mengais mencari remah nasi
Berugak tua teduh di bawah pohon mahoni
Dan aku bersandar pada tiangnya merapuh
Sambil berpikir tentang perjalanan yang jauh
Tentang nyiur dan bau ikan di Pelabuhan Lembar
Tentang silau matahari senja di pantai
Tentang bukit hijau dan langit yang biru jernih
Tentang roda-roda motor yang menggilas kenangan sepanjang Semarang-Lombok
Berugak tua yang teduh
Menghalau panas dan peluh
Penghimpun lamunan yang membasuh
Dalam diam dalam angan yang bersimpuh
Dan berugak tua menagih
Akan aku duduk di atasnya lagi
Sragen, 7 Maret 2017
Terkenang tentang suasana di Lombok
Subscribe to:
Posts (Atom)


















