Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Saturday, February 20, 2016

Maguwoharjo I'm In Love

Kucoba merakit kembali ingatan masa itu, saat siang terik menyapa kost-ku di Semarang. Saat siang mengantarkan seseorang yang memang kutunggu kedatangannya menjemputku. Saat siang juga mulai menggulung awan menjadikannya mendung, aku mulai khawatir kalau hujan. Namun siang ini aku senang karena melihat dia yang tersenyum menjemputku. Rencananya kami memang akan berangkat ke Stadion Jatidiri Semarang untuk mendukung Klub kebanggaan kami, Arema!!!

Setelah Sholat Azar di Masjid kampus, aku dia dan teman-temannya yang juga Aremania dari Gemolong siap tancap gass menuju TKP, walau boleh dibilang kalo stadionnya tidak jauh dari kost-ku. Hanya berjarak sekitar 10 menit mungkin. Apalagi jalannya menurun serasa hanya perlu menstabilkan stang saja.

Setelah sampai di Stadion, keadaan masih belum begitu ramai. Aku dan teman-teman yang lain masih menunggu rombongan dari Aremania Sragen. Cukup lama hingga rombongan yang memang datangnya mepet itu tiba di Stadion Jatidiri, jadi sembari menunggu ASC datang kami foto-foto di Stadion dulu.


Rasanya semua moment gak luput dari jepretan kamera digital yang memang sengaja aku bawa. Dan setelah rombongan ASC tiba kami pun bergabung sama teman-teman yang sekota denganku itu. 



Tiket yang sudah ditangan membuatku tidak sabar untuk masuk, karena di dalam pun sudah terdengar riuh sekali. Tapi teman-teman Sragen dengan santainya bilang kalau mau masuk setelah babak kedua mulai atau malah mau masuk kalau sudah menit ke 80 atau setelah perpanjangan waktu. Aku tau itu hanya bercanda tapi aku sendiri tidak suka kalau harus masuk saat sudah hampir dimulai pertandingan, pasti berdesakan. Ya sudah aku paksa saja pacarku David untuk aku ajak masuk, tapi dia bilang juga nanti. Aku marah jadi aku masuk duluan, dia tetap tidak mau dan memaksa aku untuk masuk bareng dia dengan menarik pergelangan tanganku. Tapi aku tetap pengen masuk jadi aku tarik saja tanganku walo aku lihat dia kesakitan, aku tidak peduli, akhirnya dia menyerah dan mengikuti aku masuk stadion.

Di dalam sudah ramai penuh sesak oleh Aremania dan Panser Biru dan juga Snex. Walau Aremania sudah mendapat satu tribun namun hampir full juga akhirnya kami tetap kebagian yang paling ujung yang masih sepi. Disusul setelah itu ASC yang juga masuk.

Puas sekali rasanya hari itu, meskipun laga persahabatan antara PSIS VS AREMA yang berakhir seri. Namun sepanjang pertandingan tidak henti bernyanyi mendukung Arema yang berlaga, seperti menyalurkan semangat. Puas dan sangat menyenangkan, bisa mendukung Arema dengan orang yang kucintai dan dengan teman-temanku, walau sempat diwarnai insiden ricuh maksa-memaksa masuk stadion duluan dan sedikit marah. Tapi memang itu adalah hari yang menyenangkan.


Tidak disangka juga karena laga di Stadion Jatidiri tersebut ada seseorang yang diam-diam memperhatikan aku, yang jelas bukan David pacarku, soalnya kalo pacarku sendiri gak perlu diam-diam memperhatikan aku. Namanya Devid, Aremania Pacitan, aku sendiri tau saat setelah berkenalan cukup dekat dengannya. Bacalah di sini JATIDIRI I'M IN LOVE 


Aku sendiri tidak pernah memperhatikannya, jangankan memperhatikannya, mengenalnya saja tidak. Karena memang di Stadion Jatidiri aku sudah bersama pacarku David, jadi selain memperhatikan pertandingan yang sedang berlangsung aku juga memperhatikan pacarku sendiri.

Semua gara-gara wajah konyol dia yang tidak sengaja terjepret kameraku karena memang pada niatannya aku ingin memfoto Ifana temanku. Selain itu jujur saja aku tertarik berteman dengan dia karena namanya yang hampir sama dengan pacarku, David. Namanya Devid hanya berbeda satu huruf saja. Walau diawal aku tidak percaya kalau namanya itu. Di dalam Fesbuk semua hal kan bisa dimanipulasi, apalagi hanya sekedar nama.

Namun setelah cukup lama berteman, cukup lama kenal aku merasa mulai tertarik dengan dia. Walaupun aku sendiri sudah punya David. Namun tidak bisa aku bohongi aku juga memikirkan Devid di sisi lain hatiku.


Hingga pada pertandingan Arema yang di gelar di Stadion Maguwoharjo, disitulah aku benar-benar menyadari kalau hati aku cuma terisi Devid saja, tidak menyisakan tempat untuk David lagi. Saat kedatangan rombongan Aremania Pacitan yang sangat aku tunggu-tunggu, saat aku begitu ingin melihat wajah dia. Hanya sekedar melihat saja karena jujur aku bingung mau mengobrol apa kalau harus beremu. Saat itulah aku sadar kalau pendanganku hanya tentang dia, Devid. Aku yakin pacarku pasti juga menyadari itu, dia berkali-kali menyindirku, berkali-kali memalingkan wajahku dengan tangannya saat melihatku hanya menatap Devid.



Sampai pertandingan di mulai aku bersama Aremannia Sragen mulai memasuki Stadion yang terletak di Sleman tersebut, hanya sekali aku melihat Devid berjalan melewatiku. Saat setelah masuk di Stadion, aku menawarkan dia untuk berfoto denganku, karena aku benar-benar ingin berfoto dengan dia. Entah dia berbicara apa, dengan berjalan dia hanya berbisik dengan mulut yang bergumam. Aku tidak mendengar dia berbicara apa, tapi sepertinya garak bibirnya tersebut cukup menggetarkan hatiku. Dan dari situ aku benar-benar sadar, bahwa otakku pun juga sudah diisi hanya tentang dia.

Sepanjang pertandingan selain memikirkan Arema aku juga terus-terusan memikirkan Aremania Pacitan tersebut. Hingga pertandingan selesai walau tidak dengan peluit panjang wasit tapi dengan hujan botol, aku tidak bertemu juga dengan Devid. Aku keluar dan mencoba menghubungi dia, belum sempat aku mengetik, banyak sms sudah menggetarkan HP-ku. Ternyata sms dari dia, banyak sekali. Sepertinya saat di dalam stadion semua sms-nya tertahan oleh sinyal yang diperebutkan oleh ribuan HP.

Yang masih ku ingat saat itu adalah dia mengajakku menonton Pasar Malam yang memang sedang meriahnya digelar berjajar dengan Stadion Maguwoharjo. Aku terus menanyai dia sedang berada dimana. Aku mengajak pacarku untuk menemui dia, rupanya pacarku ini cukup percaya diri untuk mau aku ajak bertemu dengan Devid. Padahal kami sudah motoran keluar area parkiran Stadion bahkan sudah sampai jalan yang cukup jauh tapi putar balik untuk mencari-cari lokasi Devid. Aku benar-benar ingin bertemu dengan dia. Sekedar melihat dia lagi, dan bertemulah di samping gerobak penjual wedang ronde. Dia sedang menikmati semangkuk wedang ronde dengan teman-temannya, waktu itu dia menyebutnya cimoe, mungkin di daerahnya Pacitan sana wedang ronde dinamakan Cimoe. Tidak banyak yang aku bincangkan dengan dia, karena aku sendiri bingung mau bicara apa, salah tinggah juga aku saat ku intip jaketnya apa dia juga buka atribut seperti pacarku saat keluar stadion. Kerena takut kalau ada sweeping dari suporter lawan. Ternyata dia juga tidak memakai kaos, hanya pakai jaket saja, aku tersenyum kecil dalam hati. Karena bingung dengan situasi dan wedang rondeku juga sudah habis akhirnya aku pamitan dengan dia. Meskipun cukup kecewa juga tidak dapat berfoto dengan dia, tapi aku sendiri bingung saat sudah bertemu dia hanya diam, kalau aku tidak bertanya dulu dia pasti cuma diam. Ya sudah pada akhirnya aku tetap tidak berani meminta berfoto dengan dia.

Sepanjang perjalanan dibonceng pacarku tapi pikiranku hanya dipenuhi oleh Devid saja, meskipun aku hanya berdua dengan pacarku tapi entah kenapa aku begitu jahat karena aku tidak lagi peduli dengan pacarku sendiri. Kami tidak langsung pulang, mampir dulu di Malioboro lalu setelah pagi semakin dini, kami menginaap di SPBU dekat Prambanan, dan rupanya disana juga banyak Aremania yang juga menginap, karena kulihat dari Plat N ditiap motor yang terparkir sedangkan pemiliknya sudah terlelap.

Paginya seperti yang sudah direncanakan kami pergi ke Paralayang Parangendog dan Parangtritis. Itu adalah rencana main kami yang sudah lama, dan itu juga pertama kalinya kami pergi jauh berdua. Hal yang sudah lama sangat aku inginkan tapi tidak bisa aku bohongi, hatiku tidak bahagia.


Aku merasa tidak lagi bisa bersama David, akan sangat sedih kalau waktu yang dihabiskan berdua tapi salah satu tidak bahagia. Akhirnya setelah sampai di Semarang aku katakan semua yang aku rasakan tanpa sedikitpun ada yang aku sembunyikan. Perasaan cintaku yang sudah terkikis sedikit demi sedikit karena semua kecewa yang aku alami saat bersama dia. Semua masalah yang tidak mulus sama sekali dalam penyelesaiannya memberikan efek penghapus yang sukses menghapus nama David. Dan puncaknya nama tersebut benar-benar hilang terganti dengan Devid.

Tidak ada sedikitpun penyesalan saat aku minta putus dengan David. Karena aku tidak ingin membohongi hatiku sendiri, kalau penghuninya sudah berganti dengan Devid. Walaupun aku sendiri tidak akan tahu apakah perasaanku ini akan terbalas, tapi aku cukup percaya untuk berjuang.



Semakin lama kami semakin dekat, semakin lebih mengenal karena banyak perbincangan. Hingga pada tanggal 18 Juni 2015 Devid mengatakan kalau dia ingin aku jadi pacarnya, terus terang aku seneng bercampur bingung juga. Masih banyak masalah perasaan yang belum aku selesaikan selain itu aku juga tau dia hari itu ulang tahun. Aku berpikir kalau biarlah dia bahagia untuk hari yang dia peringati untuk ulang tahunnya itu tidak perlu doble-doble dengan hari dia akan jadian. Jadi kutahan dulu kata "iya"-ku itu, aku sendiri masih ingin menyelesaikan masalahku yang lain. Hingga dua hari setalahnya aku merasa kalau aku takut kehilangan dia jadi aku benar-benar ingin bersama dia terus.

Aku bukan orang yang bisa mencintai seorang hanya dari first sight atau cinta dari pandangan pertama, tapi aku akan bisa mencintai orang tersebut kalau sudah lebih dulu mengenal dia dekat. Tapi terus terang aku benar-benar bisa disadarkan kalau aku mencintai Devid saat berada di Stadion Maguwoharjo, saat dia membisikan kata-kata dari jauh dan gerak bibirnya tersebut benar-benar mampu menggetarkan hatiku. Dari situ aku mulai menyadari hatiku untuknya sepenuhnya. Devidku.



Friday, January 22, 2016

Semar Mesem


Puisi Patah Hati
Oleh Kinanthi Putri Purbaningrum dari kelas XI IPS 2

Semangat seakan tercabut dariku
Menghabisi langkah semalam yang telah ku tertawai sendiri
Bisakah kita simpan saja semua tawa itu bersama
Atau tidak usah kita punyai sekalian sejak awal
Karena semua itu semakin sakit
Membuatku hilang akal, hilang pijakan
Dan menghadirkan gamang tak terpungkiri
Melihatmu menjauh memeluki keindahan lain
Aku hanya bisa terdiam sambil menerawang
Benarkah takdir sejahat itu
Padahal tanganku sudah terlanjur kurentangkan untukmu

Kuhitung kira-kira ada enam orang yang sedang berkerumun di hadapan puisiku yang tertempel di mading. Bel pulang sekolah sudah berbunyi kira-kira dua jam yang lalu. Tapi beberapa siswa masih banyak yang mengikuti ekstrakulikuler dan jam tambahan untuk kelas tiga karena sudah mendekati Ujian Nasional. Aku sendiri sedang menunggu jemputan yang tidak juga datang. Padahal sudah satu jam.

Di seberang kulihat Oltaf melambaikan tangannya kearahku. Dengan seragam bola yang masih kumplit menempel di badannya, dia berlari-lari kecil menghampiriku.

“Setia banget nungguin aku, Nan.” Canda Oltaf sambil tertawa-tawa mengibaskan keringat di tangannya ke arah mukaku.

Sepontan aku menghindar “Hih, jorok banget sih.” Sambil aku cemberut protes pada tingkah kekanakannya.

“Dih sok-sokan padahal juga biasanya malah dihirup-hirup bau kringatku.” Oltaf tertawa puas. Aku hanya diam tak menanggapi. Paham kalo aku sedang tidak ingin bercanda, kapten tim sepak bola tersebut kembali bertanya “Mas Dirjo belum datang jam segini?” Aku hanya menggeleng, sambil dia melihat ke arah lapangan memastikan bahwa tidak ada yang sedang mencarinya, dia menanggapi gelenganku “Wah minta dipecat tuh supirmu Nan, kebanyakan makan gaji buta. Aku anter aja yuh, langit mendung tuh bentar lagi magrib lagi.” Oltaf merogoh kantong celananya pasti mau mengambil HP, sebelum sempat dia meraih alat komunikasi tersebut, aku menolak tawarannya “Gak usah, tadi aku udah di SMS Mamaku kalo Mas Dirjo emang agak telat, jadi biar aku tunggu aja.”

“Wah kalo ini sih udah bukan agak telat lagi Nan, tapi telat banget. Udahlah aku anter aja lah, biar aku ganti baju dulu.” Paksa Oltaf lalu menggandeng tanganku mengajakku berdiri.

“Beneran gak usah Taf, aku juga gak enak sama Fiza kalo dia tau ntar cemburu.” Tolakku halus sambil kubuang pandang ke arah pintu gerbang sekolah.

Sebelum Oltaf kembali memaksaku kulihat sebuah mobil Avansa silver berhenti rapi di depan gerbang yang sudah sepi siswa. “Nah itu Mas Dirjo udah datang, aku duluan yah. Bye.”

Kudengar sayup dia menjawab dan berbicara entah apa, tapi aku tidak ingin menengok karena terasa air mataku segera jatuh. Bersamaan dengan itu rintik hujanpun juga jatuh. Hujan pertama di bulan November. Aku bergegas menghampiri mobil jemputanku. Memasukinya dengan perasaan nyeri yang tak seorangpun tau. Mas Dirjo yang mengatakan permintaan maaf tak kudengarkan. Sepanjang jalan aku hanya melamun. Bayangan seminggu yang lalu kembali terlintas.

Waktu itu aku duduk sambil serius mengerjakan tugas Sejarah yang berlembar-lembar belum juga selesai. Padahal soalnya hanya satu tapi jawabannya bagai menulis buku. Tiba-tiba Oltaf yang biasanya duduk di belakangku, memilih duduk di sampingku. Dengan wajah yang berbinar dia bercerita bahwa dia baru saja jadian dengan Fiza, murid kelas satu yang dulu pernah aku marahi saat Ospek karena memakai lipstik warna merah dan terlihat tidak pantas. Aku lihat mata Oltaf, karena aku memang memiliki kelebihan bisa melihat kebohongan atau kejujuran dari mata orang yang sedang berbicara denganku. Dari mata tersebut aku bisa mengetahui apakah orang tersebut sedang berkata dengan jujur atau tidak. Dan dari mata Oltaf aku lihat kejujuran kalau dia benar-benar sedang jatuh cinta.

Selanjutnya aku tidak mendengarkan lagi kata-kata yang diucapkan oleh seseorang yang sedang dilanda virus merah jambu tersebut. Aku menekuri buku tulisku seakan sedang serius mengerjakan padahal entah apa yang aku tuliskan tidak lagi jelas. Oltaf tetap menggebu-gebu bercerita sampai Guru Sejarah menegurnya dan menyuruhnya untuk kembali ke tempat duduknya.

Dari belakang Oltaf tetap memanggiliku dengan mengetuk-ngetuk ujung bulpennya ke punggungku. Tanpa memalingkan wajah aku hanya memberinya isyarat kepalan tanggan untuk meninjunya kalo dia tetap menggangguku. Dari belakang kudengar dia tertawa pelan. Padahal mataku sudah berkaca mencoba menahan air mata. Rasanya seperti ada sesuatu yang tercabut dari hatiku, lalu bagian yang kosong tersebut dilintasi ribuan angin yang berbentuk seperti pisau yang menyilet-nyiletnya. Nyeri.

Sejak masuk SMA memang teman terdekatku adalah Oltaf, awalnya kami bisa dekat adalah karena sama-sama suka klub sepak bola dari Inggis yaitu Chelsea. Konyol sebenarnya tapi dari situ ternyata kami punya banyak kesamaan, itulah mengapa kami bisa begitu dekat dan dari situ ternyata aku merasakan perasaan yang lebih dari hanya sekedar sahabat.

Kalo kata orang Jawa “tresno jalaran soko kulino” atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya cinta karena sering bersama. Mungkin itu yang membuatku jatuh hati pada Oltaf, tapi ternyata yang merasakan hal tersebut hanya aku. Sedangkan Oltaf hanya menganggapku tidak lebih dari seorang sahabat yang nyaman diajaknya cerita dan bercanda. Dia jugalah yang menjadi maksud dari puisi yang tertempel di mading sekolah. Tapi kupastikan tidak ada yang tahu.

Tanpa kusadari Mas Dirjo sudah membukakan pintu untukku, jadi tanpa dikomando aku keluar dari mobil yang akan segera diparkir. Rumah kulihat sangat sepi, hanya Mbok Laila pembantu rumah yang menyambutku.

“Yang lain kemana, Mbok?”

“Semua sedang di rumah sakit Non.”

“Keadaan nenek semakin memburuk ya, Mbok?”

“Loh Non belum diberitahu Mas Dirjo ya? Kalo Neneknya Non tadi sempat meninggal.”

“Mbok jangan bercanda, maksudnya gimana?”

“Mbok tidak bercanda Non, tadi memang rumah dapat kabar begitu tapi terus dikabari lagi kalau Neneknya Non tidak jadi meninggal.”

“Aku makin bingung Mbok. Udahlah aku mau nyusul ke rumah sakit aja.”

“Mau Magrib Non gak baik keluar. Sendyakala Non, banyak setan yang bermunculan kalo waktu seperti ini.”

“Yaelah Mbok masih aja percaya kaya gitu.”

“Aku mau mandi dulu, Mas Dirjo suruh siap-siap ya Mbok.”

“Rumah sakitnya kan jauh Non. Ibu tadi berpesan supaya Non tidak perlu menyusul, kan besok Non Kinanti juga harus sekolah tho?”

“Aku kan juga pengen tau keadaan Nenek Mbok, masak gak boleh. Mbok ini gimana.”

“Ya sudah Non biar Mbok ke Mas Dirjo dulu.”

Tak perlu waktu lama untuk bersiap-siap aku sudah berada diatas mobil. Perjalanan menuju rumah sakit tempat nenek dirawat memakan waktu selama dua jam. Karena berbeda kota. Setelah kakek meninggal, selama itu nenek memang lebih memilih tinggal dengan Om Anggoro, anak laki-laki satu-satunya, padahal nenek memiliki 4 anak perempuan yang semuanya berkecukupan termasuk salah satunya adalah mamaku. Mungkin karena Om Anggoro anak ragil alias anak terakhir sekaligus anak laki-laki yang katanya sudah sangat ditunggu-tunggu kelahirannya oleh nenek.

Sampai di rumah sakit, kulihat jam besuk pasien sudah di tutup. Tapi karena darurat dan nenek termasuk pasien VIP jadi pihak rumah sakit memperlonggar peraturan, sehingga aku diperbolehkan membesuk. Di dalam ruangan hanya ada mama dan Bulek Diah yang menunggui. Sedangkan papa dan Om Anggoro menunggui di luar. Aneh menurutku, karena kamar inap nenek termasuk VIP yang memiliki ruang tamu sendiri.

Kulihat wajah mama dan Tante Diah yang kuyu, kelelahan.

“Ma, mama udah makan?” sambil kusodorkan roti yang sempat kubeli di Alfamart saat menuju rumah sakit tadi.

Mama hanya menggeleng, lalu Bulek Diah yang menjawab, “Kita tadi udah makan Nan, kamu memang besok tidak sekolah?”

“Kinanthi bisa ijin sehari kog Bulek, ya kan Mah?” aku minta persetujuan mama. “Aku pengen nungguin Nenek.”

Kulihat mama hanya mengangguk. Mata mama terlihat seperti habis menangis tapi lebih dari itu kulihat mama seperti sedang memikul pikiran yang sangat berat. Jadi Bulek Diah istrinya Om Anggoro lagi yang berbicara seolah menjadi juru bicara dari mama. “Mama kamu sepertinya capek Nan, gimana kalo kamu sama papa mama kamu sekarang menginap ke rumah Bulek saja Nan, biar diantar Om kamu yah. Malam ini Bulek yang menjaga nenek.”

“Tapi Kinanthi pengen sama nenek Bulek, jadi biar Kinan yang malam ini jaga nenek. Bulek saja sama mama papa yang pulang. Sepertinya semua capek.”

Kulihat Bulek Diah sedikit berpikir, “kamu gak papa jaga nenek sendirian Kinan?”

“Iya Bulek gak papa.”

Mama tiba-tiba memegang tangan Bulek Diah. Lalu seolah mengisyaratkan untuk tidak membolehkan aku menunggui nenek di sini.

“Em biar Bulek temani saja ya Kinan.”

“Ya udah berdua juga gak papa kog Bulek.”

Bulek Diah tersenyum tipis, lalu aku berjalan keluar. “Loh kamu mau kemana Kinan?”

“Manggil papa sam Om Anggoro masuk, Bulek.”

Tiba-tiba saja mama berlari kearahku, tangan mama mencengkeram tanganku dengan sangkat keras, menghalangiku keluar kamar.

“Aduh sakit Mah.” Tak lama mama langsung melepas tangannya dari pergelangan lenganku.

“Tidak usah.” Kata mama dengan wajah datar.

Aku benar-benar merasa ada yang aneh dengan mama, kulihat mama yang keluar kamar tanpa berpamitan. Lalu aku kembali ke Bulek Diah meminta penjelasan tentang keadaan yang sebenarnya terjadi seperti apa. Selama ini aku memang paling dekat dengan Bulek Diah ketimbang saudari-saudari kandung mama. Pasalnya tiap aku sedang libur atau sekedar ingin membuang sumpek di kota aku pasti lebih memilih ke rumah Bulek Diah, selain itu juga karena ada nenek. Jika nenek anak laki-lakinya hanya satu, maka kebalikannya cucu nenek yang perempuan cuma satu, yaitu aku.

Bulek menatap nenek yang lelap dengan nafasnya satu-satu. Mata nenek berkantung hitam terlihat semakin cekung terkatup rapi seolah tak akan mampu terbuka lagi selamanya. Selang oksigen masih ditempatnya membantu pernafasan nenek yang entah tujuannya sampai mana. Aku melihat tubuh nenek yang begitu kurus terbaring tak berdaya, tak kuasa menahan air mata.

“Nenek masih terlihat cantik kan walaupun sudah setua ini?” tanya Bulek Diah tanpa melepas pandangnya pada nenek.

Aku hanya mengangguk meniyakan. Memang masih terlihat sisa-sisa semburat kecantikan diwajah nenekku ini. “Nenek pasti waktu masih muda dia sangat cantik.”

“Kamu tau Nan kenapa Mamamu tidak memperbolehkanmu memanggil papamu dan Om-mu masuk kesini?”

Aku menatap Bulek Diah, tidak mengerti.

“Iya semua karena kecantikan nenek ini.” Jawab Bulek Diah sendiri.

Aku semakin tidak mengerti dengan maksud kata-kata Bulekku ini.

“Kinan, dengarkan Bulek baik-baik, Bulek ingin bercerita tapi kamu harus bisa menjaga rahasia ini.”

“Sebenarnya ada apa Bulek?” Aku menatap Bulekku.

Sambil memegang tangan nenekku, Bulek seolah meminta ijin pada nenek. “Ibu, bolehkan Diah ceritakan semua pada Kinanthi. Kinan berhak tau.” Sambil tersenyum sedih bulek melanjutkan ceritanya kepadaku. “Sebenarnya papamu dan Om-mu tidak boleh mendekati nenek.

“Kenapa Bulek?”

“Bukan hanya mereka, tapi semua laki-laki tidak diperbolehkan mendekati nenek. Bahkan untuk dokter dan perawat nenek, Om Ang-mu sudah meminta untuk diganti dengan perempuan. Semua demi kelancaran nenekmu. Sebenarnya ini sudah menjadi batas hidup nenek, Kinan. Tapi nenek belum bisa meninggal.”

Aku hanya diam mendengarkan, berusaha tidak menyela cerita Bulekku, meskipun aku belum benar-benar paham maksudnya.

“Semua karena susuk pengasihan yang dipakai nenek.” Lanjut bulek sambil melihat nenek. “Kinan lihatlah dagu nenekmu, disitu terletak susuk yang dipakai nenek.”

Aku tersentak serasa tidak percaya dengan cerita bulek Diah. Aku tidak percaya nenekku memakai barang seperti itu, terlebih dijaman modern seperti ini masihkan hal semacam itu ada. Tapi jika kuamati wajah nenek yang cantik. Kecantikan diwajahnya, tapi lebih dari itu dagu nenek memang bagus. Aku bayangkan dulu pasti banyak yang menyukai nenek. Nenek terlihat manis dengan dagu yang lancip.

“Pada saat nenek masih muda, nenek juga seorang penari yang sangat terkenal. Nenekmu penari yang sangat laris dimanapun. Nenek memakai susuk memang agar dirinya menjadi penari yang sukses, banyak panggilan diberbagai tempat. Selain itu, karena susuk itu juga banyak laki-laki yang tergila-gila pada nenek.”

Aku terdiam masih tidak percaya dengan cerita bulek Diah. Tapi aku mencoba menanggapi “Apakah susuk itu tidak bisa diambil dari tubuh nenek, Bulek?”

“Kami sudah mendatangi orang pintar Kinan. Ada dua cara agar susuk itu bisa dihilangkan dari tubuh nenek. Yang pertama adalah orang yang memasangkannya yang bisa mengambilnya. Lalu yang kedua adalah memindahkan susuk tersebut kepada orang lain.”

“Lalu bagaimana Bulek? Kasihan nenek tidak bisa pergi dengan tenang.” Aku merasa sedih sekaligus tidak suka juga. Sedih karena kasihan melihat kondisi nenek, tapi benci kenapa nenek harus memakai hal semacam itu.

Kasihan sudah menderita sakit begitu lama. Bertahun-tahun hanya mampu tergeletak di ranjang rumah sakit dan berbulan-bulan ini sudah tidak dapat merespon apapun. Hanya tinggal nafas yang disokong oleh selang oksigen. Sepertinya hanya dari situ kehidupan nenek digantungkan.

Bulekku kembali berbicara, “Sayangnya orang pintar yang dulunya memasangkan susuk untuk nenekmu tersebut sudah meninggal, Kinan. Kami juga sudah mencoba memindahkan susuk tersebut ke orang lain yang memang ingin memakai susuk, tapi ternyata tubuhnya menolak. Sementara ini Om Anggoro masih mencoba mencari orang pintar lain yang bisa menghilangkan susuk tersebut dari tubuh nenekmu, Kinan. Semoga ada cara lain. Kasihan nenekmu harus menderita seperti itu.”

Jujur aku sendiri tidak begitu paham dengan hal semacam itu, tapi aku berusaha mencerna cerita bulekku. “Jadi karena itu nenek susah meninggal, Bulek?”

“Iya Kinan. Mamamu kaget mendengar cerita ini, dia juga baru tau. Aku harap kamu tidak membenci nenekmu, jaman dulu kehidupan begitu susah Kinan.”

Aku pandang wajah nenek begitu renta, ringkih hanya mampu memejam. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Lalu bergantian aku lihat wajah bulekku yang matanya mendakan sudah ingin terpejam. “Bulek ngantuk ya? Pasti bulek capek.”

Bulek tersenyum tipis “Kinanthi, kamu juga sebaiknya istirahat. Tidurlah di sofa sana.”

“Iya Bulek.” Kulirik jam di dinding sudah jam dua dini hari.

Paginya aku sudah terbangun dengan mama duduk disampingku. “Udah bolos sehari, sebaiknya hari ini kamu pulang Kinan.”

Kuikuti perintah mama, aku pulang sama Mas Dirjo dan papa. Karena besok papa juga harus kerja. Sampai di rumah hari sudah siang. Teman-teman banyak yang BBM menanyakan kenapa aku tidak masuk sekolah. Aku rebahkan tubuhku di kasur sambil membalas BBM temanku satu per satu. Dan esoknya seperti biasa kukenakan seragam putih abu-abuku. Dengan diantar supirku Mas Dirjo, aku berangkat sekolah.

Kulihat jam tanganku, kurang 15 menit bel sekolah akan berbunyi, mobil sudah berbelok di depan gerbang sekolah. Tanpa disuruh aku turun, dari kejauhan terlihat sosok Oltaf dan Fiza sedang berbicara berdua. Entah apa yang mereka bicarakan tapi tiba-tiba setelah melihat aku. Oltaf malah berjalan menghampiriku.

Aku sendiri berjalan menuju ruang kelas di lantai dua. Oltaf berusaha menjajari langkahku. “Selamat pagi Kinanthi Putri Purbaningrum.” Aku hanya mendengus, sambil tetap berjalan. Berusaha mengabaikan keusilan Oltaf. “Dih sombong amat tuan putri. Hehe.” Aku duduk di tempat dudukku, lalu Oltaf duduk di depanku tapi menghadap ke aku. “Kemarin kemana gak masuk sekolah, bolos gak ngajak-ngajak.”

Aku lihat dia dengan wajah memelas memohon untuk tidak menggangguku pagi-pagi, tapi dia malah tersenyum. Melihat wajahnya yang kemarin tidak aku temui sehari, seperti muncul rasa kangen. Aku coba halau perasaan itu, aku harus sadar diri lagipula dia sudah pacar orang. Tidak bisa kalau seakrab dulu, harus menjaga perasaan orang lain. Karena itu aku mulai menjaga jarak sejak tau dia sudah pacaran dengan Fiza. Selain itu juga karena aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku pada Oltaf.

“Aku kangen sama kamu, Nan.”

Deg! Jantungku rasanya mau loncat keluar dari tempatnya. Aku tidak berani menatap Oltaf, tapi rasanya tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Gak usah becanda. Dah sana! Ganggu aja pagi-pagi, Taf.”

“Aku gak becanda, Nan. Kamu beda ya sekarang?”

“Apa’an?”

“Gak tau, kamu tambah cantik aja.”

“Hemb.”

“Aku serius, Nan. Kayanya aku suka sama kamu.”

Deg! Kali ini jantungku bener-bener keluar dari tempatnya. Kutatap mata Oltaf, memastikan kejujuran di sana. Dan aku lihat dalam manik mata bening tersebut yang tergambar adalah wajahku. Dia jujur berkata begitu.

“Aku jatuh cinta sama kamu, Kinan.”

Jantungku sudah tidak karuan rasanya, berbarengan dengan itu, HP-ku bergetar. Telepon dari Mama. Karena bel masuk sekolah belum terdengar jadi kuangkat saja.

“Iya Mah.”

“Nenek meninggal, Kinan. Kamu ijin pulang yah.”

Belum sempat aku jawab, dibelakang terdengar suara Bulek Diah sedang berbicara entah dengan siapa. Tapi aku mampu menangkap pembicaraannya walaupun samar. 

“Semar Mesem hanya bisa dipindah pada keturunan perempuan yang sedarah. Tenanglah, nanti kita mencari jalan keluarnya.” Begitu kira-kira yang diucapkan Bulek Diah. Lalu telepon ditutup.

Kepalaku rasanya dipenuhi dengan teka-teki silang.

Nenek pakai susuk. Tiba-tiba Oltaf bilang cinta sama aku. Dan nenek meninggal. Lalu kata-kata samar Bulek Diah.

Apa maksudnya?

Ting...ting...tingggg..... bel tanda masuk sekolah berbunyi.







Wednesday, November 25, 2015

Selamanya Kawan

Beranjak kau pergi tinggalkan masa-masa bersama
Kau pergi berlari sesaat tinggalkan semua
Kawan perjalananmu akan sepi tanpa kawan
Langkahkan lah perlahan
Raihlah mimpimu dan rebut kemenangan
Aku tak akan pernah terhenti
Tuk terus semangati diri
Tetaplah berjalan dan tetaplah perlahan
Ku akan terus menunggumu
Hingga semua kan seperti dulu
Selamanya kawan*
*Selamanya Kawan lagu After School Before Sunset



Ada satu masa dimana semua yang selalu bersama tidak lagi bersama. Mencari jalan masing-masing atau harus berpisah karena suatu keadaan. Mungkin begitulah yang menggambarkan keadaan sekarang ini. Aku merindukan kalian, kawan-kawan seperjuanganku.

Mengingat kita sekarang harus mencari jalan masing-masing, mencari kesuksesan kita masing-masing. Aku hanya berharap semoga kalian tidak melupakan semua yang pernah kita lewati bersama. Malam-malam gila yang melelahkan, begadang main poker disela-sela tugas mengerjakan pembuatan video KKL. Tertawa bersama sampai perut benar-benar kaku, di malam-malam saat kalian berjoget di stand gila Bulan Pahlawan. Atau juga saat kita menghadapi masalah-masalah pelik. Tawa canda yang tak kan pernah terlupa. Semoga kalian masih menyimpan kenangan tersebut dalam ingatan kalian dengan baik. Masa-masa yang membuat masing-masing dari kita menjadi lebih dewasa dan semakin dewasa.

Jika terlupa, maka ingatlah kembali kawan. Ingatlah kita pernah bersama menempuh perjalanan-perjalanan yang jauh menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah sama sekali kita datangi. Ingatlah kita pernah bersama-sama bercanda dalam perjalanan tersebut, kita pernah kedinginan karena kehujanan bersama. Ingatlah kita pernah berebut jas hujan bersama, sampai-sampai aku harus membeli jas hujan baru di Wonosobo. Ingatlah juga saat kita tertidur di kursi taman depan Grand Mall Solo. Atau makan nasi kuning di pinggir alun-alun Blora. Ingatlah itu kawan, kita pernah merasakan itu semua bersama. Merasakan pantat-pantat kita panas karena menempel di atas motor dari Semarang melintasi Bali hingga keliling Pulau Lombok. Sungguh petualangan yang tak pernah kulupakan. Ingatlah bahwa kita sudah seperti saudara saat kita pergi pada suatu tempat dan kita pasti memiliki tempat berteduh atau sekedar makan gratis. Ingatlah kawan The Rampoxs J

Ingatlah juga saat menangis dan tertawaku menjadi satu dalam suatu keadaan yang sangat ingin aku skip dari sejarah kehidupanku. Tapi kalian jelas merekam semua itu dalam ingatan kalian masing-masing, jadi pahit manis semuanya akan tetap aku kenang dan tak mungkin bisa satu pun ku hapus. Bagiku semua yang pahit dulu, saat ini sudah menjadi cerita lucu walau juga memalukan. Ingatlah kalian kawan saat bercanda kalian sudah sangat keterlaluan, tapi aku tidak akan marah. Karena bully tanda sayang, iya kan kawan? Jadi, meskipun aku pernah sampai akan dipenjarakan oleh suatu kekonyolan, disitu kalian yang akan merubah tangis sedihku menjadi tangis haru biru bahagia. Dengan cara kalian masing-masing. Aku bersyukur memiliki kalian kawan, dan semoga juga sebaliknya. Terima kasih atas masa yang penuh bahagia, tawa maupun air mata akan menjadi kenangan yang membuatku kaya.

Ingatlah kawan, saat aku benar-benar terbuang karena satu kekonyolan yang dinamakan cinta. Saat aku benar-benar jatuh, selalu ada kalian yang rela mengajakku berdiri walau sambil memarahiku karena kebodohanku sendiri. Aku bersyukur atas itu semua, kalian kawanku, sahabatku, mBolank J

Semoga kalian tak pernah melupakan semua itu. Masa dimana kita pernah bersama-sama tidur dalam satu kamar yang sempit, karena kelelahan begadang membuat video KKL. Walau aku selalu menjadi cewek satu-satunya. Tapi tak menjadi penghalang kebersamaan kita kawan. Sampai perut terasa kembung dan paginya tetap harus bangun dengan badan yang remuk, ditambah ternyata video kita tidak dapat diputar. Disitu kita pernah sama-sama merasa tertusuk, merasa wajah tertampar oleh segala orang yang telah mengamanati kita tugas tersebut. Tetapi dengan rangkulan tangan kita masing-masing, kita berdiri bersama. Kita bersama menghalau galau dan berjanji bahwa suatu hari kesalahan tersebut akan kita tebus. Itu semua menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita.

Semua malam-malam yang pernah kita lewati dengan begadang bersama sampai pagi, masih tersimpan baik dalam stand-stand Bulan Pahlawan yang kita isi dengan canda tawa canda tawa dan begitu seterusnya. Dalam embun pagi yang menempel di rumput. Juga dalam lingkar bulan yang diarak awan-awan malam. Indah dalam bingkai ingatan. Ingatlah juga kawan, saat rapat-rapat membosankan mengembungkan perutku karena harus duduk di lantai yang dingin hingga malam menghampiri dini hari. Tapi ingatlah juga, saat kita berangkulan dan berjingkrak bersama hingga keringat yang mengucur menjadi satu. Bernyanyi hingga parau. Kita pernah merasakan semua itu kawan.

Mengingat kalian yang sampai dengan rajinnya memaksaku makan, menyeretku menaiki motor, kita bertiga melaju. Tak peduli orang-orang yang melihat akan mengatakan cabe-cabean, kita hanya tertawa. Buat kalian yang penting aku tidak lupa makan, mengajakku ke warung, agar asam lambungku yang biasanya naik tidak lagi naik. Kalian yang mengajarkanku serunya ruang karaoke, kalian yang mengajarkanku bahwa aku juga bisa berteman dekat dengan kawan-kawan sesama cewek. Dan kalian yang juga sering menyeretku menggosipkan segala hal tentang orang lain. Meskipun aku lebih sering hanya mendengarkan, tapi kalian yang mengajarkanku tentang banyak hal membuatku mengerti hidup tak hanya tentang hitam dan putih saja. Kalian yang menganggapku ada, memberikanku tempat diantara kalian. Kalian yang membelaku dan bersama menghadapi berbagai picik pandangan orang lain. Ingatlah kalian, Cocomers J

Ingatlah juga kawan, kalian yang pernah satu piring denganku. Kita masak bersama, lalu dengan tawa kita makan bersama. Kesederhanaan yang tak pernah ternilai dengan apapun. Meskipun lauk yang ada hanya ala kadarnya tapi tangan-tangan yang saling mengambil bersama menjadi penikmat yang kenangannya sampai sekarang masih sangat ingin bisa aku ulangi.

Ingatlah kalian yang pernah satu ruang denganku, bahkan duduk disampingku. Yang pernah aku coreti tangannya, karena bosan mendengarkan dosen memberikan materi Sejarah yang kalian balas dengan menguap. Atau terfoto wajahnya saat ketahuan tertidur. Yang membalas keusilanku dengan menyembunyikan sepatuku dilemari depan, atau buku binderku dibawah bangku, atau malah tasku yang kalian masukan ke dalam tas kawan yang lain. Ingatkah itu kawan? Semua itu masih terekam baik dalam ingatanku, bahkan dalam buku binderku pun masih banyak coretan-coretan usil kalian.


Aku akan mengenang semuanya baik-baik, kalian yang pernah akrab, kalian yang pernah mesra. Semoga tak akan pernah terlupa akan kebersamaan kita. Dan jika keberuntungan masih berada di pihakku aku juga berharap semoga kita bisa mengualangi semua itu dengan kebersamaan yang jauh lebih indah lagi. Semoga kita bisa menemukan kesuksesan kita masing-masing. Pada akhirnya kalian yang tidak mampu aku sebutkan satu per satu, semoga kalian selalu mengenang semuanya dengan baik.

Batang, 25 November 2015