Aku diolah dengan berbagai keinginan, hasrat serta proses pencapaian yang tak pernah kuduga, bukan sekedar ujungnya tapi saat proses pencapaian tersebut. Hingga angan-angan yang ada membentuk kekuatan tersendiri yang entah. Terkadang mengantarkanku pada bosan sesaat akan hidup atau jenuh luar biasa yang memang menuntutku dalam menyalurkan angan-angan tersebut.
Aku yang terlahir sebagai Si Pemanah, Sang Sagitarius yang gemar pada petualangan bahkan yang menjurus ekstrim tentu tak mengherankan jika selalu berusaha memenuhi hasrat akan petualangan tersebut. Perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah kaki ini menginjakkannya atau dalam pengembaraan yang mampu membawa pikir menjadi musafir bahkan tanpa sendal jepit.
Terkadang ini membuatku tersenyum juga, apakah bahkan dalam pemaknaan langkah hidup sekalipun aku juga memperhitungkannya sebagai petualangan yang haruslah seperti bianglala dalam kepala, kepalaku sendiri. Inikah aku? inikah yang aku mau? inikah yang harus aku mau? dan dari inikah semua yang harus aku lakukan?
Aku seperti puluhan tatapan kalian dan aku menyambungnya dalam kepalaku menjadikan itu sebagai pondasi jembatan, yang akan menjembatani aku pada petualanganku. Mereka petualangan-petualangan yang diseberang jembatan itu melambaikan tangan mengajakku kesana dan saat aku selesai membangun jembatan menuju mereka maka mereka akan merentangan tangan. Terkadang memelukku hangat, dengan harum wangi dan manis membuatku tak capeknya melengkungkan sabit dibibir. Atau terkadang dalam pelukan itu juga terdapat pisau-pisau yang mengirisi aku hingga kulit yang terdalam. Terkadang bukan pelukan yang kudapat tapi melempar aku pada jurang yang begitu pekat gelap. Namun terkadang setelah itu mengajakku berlari pada taman begitu rupa tak terbagayangkan. Atau terkadangan percampuran dari semuanya. Apapun itu tak pernah kusalahkan mereka, karena memang begitulah watak yang dinamakan petualangan. Tak harus berawal manis berujung manis, karena pasti malah akan menghempaskanku pada bosan yang menyudahi aku untuk jatuh cinta pada petualangan tersebut.
Sedikit catatan ini adalah sedikit tentang pendefinisian aku beserta hasrat akan petualangan-petualangan yang aku.
Laman
Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku
♥ Label Monolog ♥
Saturday, November 9, 2013
Failed Mt. Lawu 3265 mdpl
Ini adalah foto bersama saat kami di basecamp Cemoro Kandang 29 Maret 2013. Sesaat sebelum kami memulai perjalan menuju Puncak Gunung Lawu 3265 mdpl. Perjalanan yang jujur saja kutempuh dengan perjuangan yang luar biasa. Dua kali aku muntah-muntah karena magh yang memang menjadi penyakit kambuhan buatku. Dan dari judulnya saja sudah jelas bahwa aku gagal mencapai puncak Lawu, terhenti di Post 3 lah kaki ku, kekuatanku sudah menghilang dari tempatnya, dan hanya mampu mendekam dalam tenda ditemani temanku.
Kecewa? Jelas luar biasa kurasakan namun aku tidak ingin memaksakan tubuh yang memang benar-benar belum mampu ini. Tapi dari situ aku berjanji akan mencapai puncak Lawu suatu saat nanti. Sedikit tips mulailah mendaki dari Basecamp Cemoro Sewu di Magetan saja, karena dengar2 dari sana lebih enak tracknya tidak terlalu berat, lalu bisa turun melalui jalur pendakian Cemoro Kandang. Hahaha... mungkin saat itu kami salah memilih jalur. Tapi tak apalah mendaki bersama kakak tingkat tak pernah aku sesali, karena menjadi pengalaman yang luar biasa nano-nano. Solidaritas mereka, guyonan bersama, perhatian antara satu sama lain, kekonyolan yang ada, sifat kekeluargaan dan yang jelas aku jadi nambah teman nambah kenalan juga nambah koneksi.
Tak banyak yang ingin aku tulis, malah saat belum selesai kupublikasikan tulisan ini aku sudah ingin berganti dengan bercerita tentang pendakian pertamaku di Puncak Ungaran sebelumnya, karena sudah dua kali aku mencapai Puncak Ungaran 2050 mdpl. Namun biar kusimpan dulu yang itu.
Mungkin tulisanku yang ini tidak begitu runtut, jujur saja aku masih meraba-raba bagaimana cara penulisanku, motifnya, gaya penulisan yang sepenuhnya ala aku sendiri, karena aku percaya setiap penulis memiliki cara penulisannya masing-masing, memiliki gaya mereka sendiri. Hemb... Kalo aku mungkin biar mengalir menyampaikan segala yang hati ucapkan saja yaaa??? hahahaha....
Saat TM di kost kakak tingkat, waktu itu malam, bahkan untuk kesana saja kami dijemput. Rasanya tidak enakan orang jawa lah yang aku rasakan, merepotkan, sungkan, gak enak, padahal baru awal tapi aku sudah merepotkan. Karena pada saat itu juga kami masih belum akrab betul, kenal juga baru kali itu. Tapi nekat saja ikut pendakian acara rombel mereka. Jujur mendaki Gunung Lawu itu juga sebenarnya setengah hati, demi menemani temanku, atas bujukan dia aku mau mengikuti pendakian. Gunung Lawu yang ada di Karanganyar dan Magetan, perbatasan Jawa Tengah Jawa Timur ini dari kota kelahiranku Sragen selalu terlihat sangat agung dan indah, namun jujur saja sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bisa berada dipuncaknya. Kalaupun aku suka kesana dulu juga paling mentok ke Grojogan Sewu Tawangmangu, Karanganyar di Jawa Tengah ataupun ke Telaga Sarangan, Magetan di Jawa Timur. Namun kali ini aku akan kesana, mendaki dengan upaya dan kekuatan yang kumiliki. Mampukah? Jawabannya sudah diatas.
Namun demi melaksanakan kewajiban sebagai orang Islam saat adzan berkumandang, kami meminggirkan sepeda motor dan memarkirkannya di Masjid Agung Salatiga. Selain itu juga kewajiban para laki-laki di hari jumat yaitu Sholat Jumat. Karena memang rombongan kami paling banyak adalah kaum adam tersebut. Seusai sholat dan beristirahat perjalanan pun dilanjutkan melewati kota Boyolali, sedikit arah Klaten, lalu Sukoharjo, Kartosuro dan makan kucingan bersama di samping Stadion Manahan Solo.
Memasuki kawasan Karanganyar mendung yang memang sudah memayungi sejak siang pun menampakan hasilnya, yaitu hujan nun lebat. Berhenti sebentar di sebuah SPBU didaerah entah tak tau namanya untuk sholat, mengisi amunisi motor dan juga memakai mantel alias jas hujan. Setelah itu melanjutkan perjalanan kembali dengan udara dan hawa yang mendingin karena sepeda motor telah melaju didaerah yang memiliki jalanan berliku naik turun dengan pemandangan pedesaan dikanan-kiri.
Sampai di Basecamp Cemoro Kandang, waktu sudah magrib, kami beristirahat dan badan tak cukup kuat menerima air yang dingin minta ampun karena itu tubuh terkena air hanya untuk wudhu dan menggosok gigi. Lalu dilanjut mengobrol dan tidur di mushola dengan gigi yang saling beradu karena dingin. Berselimut SB milik kakak tingkat ku mencoba memejamkan mata.
Paginya kami sarapan roti dan melakukan doa bersama lalu melangkahkan kaki memulai pendakian. Di sepanjang perjalan awal pun badan terasa sudah sangat berat karena kondisi perut yang terserang magh terasa begitu sangat sakit bahkan untuk bernafas sekalipun. Kakak tingkat mencoba selalu menyemangati dengan kondisiku yang seperti ini, loyalitas dan perhatian mereka yang sungguh besar sebenarnya cukup membuatku senang sekaligus tidak enak hati karena sudah sangat menyusahkan mereka. Hingga muntah muntah juga tangan kakak tingkat tak lepas dari leher belakang untuk sekedar melegakan seluruh isi perut yang harus aku keluarkan dari mulut. Namun meski begitu aku tetap ingin berjuang sampai atas, dan ternyata setelah muntah memang badan terasa sangat enteng. Berlari saja sudah mampu, magh diperut sudah tidak terasa dan aku merasakan sudah sehat. Hingga mencapai post tiga. Kami putuskan untuk menginap bermalam karena hujan yang tak henti-hentinya.
Dari post tiga saat hujan mereda, terlihat kota-kota dibawah kaki Gunung Lawu. Lampu-lampu yang menyala bagai bintang namun berada dibawah kami, seperti para bintang gemintang itu berpindah kebawah. Ada yang runtut searah jalan, mungkin seperti ular yang dipakaikan lampu-lampu kecil diselurh tubuhnya. Ada juga daerah yang gelap sebagian, lalu ada lampu-lampu yang bergerombol dibagian yang lain. Intinya aku begitu takjub memandang pemandangan tersebut. Hal yang tidak aku temukan saat pendakianku yang pertama di Gunung Ungaran, padahal saat itu juga mendaki di malam hari, tapi karena pendakian yang dilakukan dengan sangat terburu-buru dan tanpa menikmati pemandangan seperti ini jadi pemandangan seperti ini tak sempat kudapat di pendakian ku yang pertama.
Paginya entah jam berapa yang jelas matahari belum muncul menghangatkan dan gelap masih menyelimuti, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Namun badanku terasa begitu berat bahkan untuk menopang kaki ku sendiri terasa tak mampu. Dalam perjalanan ke post 4 pun aku tumbang, muntah-muntah lagi jadi diputuskan untuk aku tidak usah melanjutkan perjalanan dan kusetujui usulan itu, aku tidak ingin lebih merepotkan lagi dari ini jika aku memaksakan diri. Ditemani temanku yang juga tidak kuat, kami berdua pun tidur dalam tenda dan SB di pos 3.
Hingga pagi menghangatkan tenda kami, aku bangun lalu membuat sarapan mie instan dengan kompor gas kecil yang sebelumnya diajarkan oleh kakak tinggat cara menggunakannya sebelum mereka pergi melanjutkan perjalanan ke Puncak Lawu. Meski pada saat itu aku hanya sayup-sayup mendengarkan karena badan yang lemas, namun aku rasa aku cukup bisa menggunakan kompor gas untuk pendaki ini.
Memandang pemandangan yang tadi malam kami lihat, berbeda sekali meski kami melihat dari sudut yang sama. Gumpalan awan dengan sinar matahari yang hangat, meski sang matahari itu sendiri tidak terlihat karena tertutup bukit namun pemandangan ini juga Subhanallah dipandang. Sambil merasakan betapa Agungnya Tuhan Yang Maha Kuasa, tak terasa mata menitikkan air juga. Dibasahi oleh rasa haru luar biasa, rasa syukur mampu sampai di titik ini ternyata menghapus rasa kecewa yang sebelumnya sampai terbawa dalam mimpi karena gagal sampai Puncak Hargo Dumilah. Namun meski begitu jika ada kesempatan lagi aku pasti akan mendaki lagi gunung ini. Entah kapan namun perjuangan dan petualanganku pasti akan mengantarkanku juga ke puncak-puncak tertinggi negri ini, juga ke tempat-tempat yang belum kukunjungi. Semoga Engkau selalu meridhoi ya Robb Pemilik semesta raya ini.
Pahami mereka dengan cinta
"itu bintangmu!!" sambil Ia menunjuk langit terik siang ini. Matahari bertengger tepat diatas kepala tapi Ia dengan percaya dirinya menunjuk gumpalan awan dilangit siang yang perlahan mengulas cahaya matahari. Sedangkan Bagas hanya mengikuti tunjukan telunjuk Ia mengarah. Demi menyenangkan gadis kecil disampingnya itu pun Bagas mengangguk sambil tersenyum tulus. Lalu Bagas menatap buku gambar yang sedari tadi tergeletak dirumput, anak laki-laki yang usianya tak terpaut jauh dari Ia itu pun tiba-tiba memungut buku gambar tersebut lalu membantingnya, memungutnya lagi sambil berjongkok lalu membuangnya lagi ke rumput. Begitu diulangnya sampai berkali-kali, memastikan gambar wanita dan laki-laki berkemeja hitam yang ada dibuku gambar tersebut akan rusak dengan caranya itu. Dengan wajah cemberut dan pipinya yang tirus penuh dengan luka lebam-lebam disana sini, Bagas tak bosannya membanting dan memungut buku gambar itu berulang-ulang. Hingga wanita dengan seragam putih-putih mendatanginya, mengajaknya dengan bujukan sehalus mungkin untuk minum obat.
RSJ Anak siang itu
RSJ Anak siang itu
Friday, November 8, 2013
Monday, November 4, 2013
Racauan Part 2
Apa yang kumiliki?
Mungkin jawabannya adalah garis lurus dari apa yang telah aku perjuangkan selama ini
Dan apa yang ku miliki sekarang jika ternyata nihil
Aku rasa juga adalah hasil dari apa yang aku sia-siakan bahkan aku buang di episode yang lalu
Entah betul atau salah
Karena pengembaraan ini masih belum kutemui ujungnya
Mungkin juga tak berujung, yang jelas yang kurasa sekarang adalah suwung
Kekosongan
Layak telur tanpa isi hanya cangkang membungkus angin
Ingin rasanya kuarungi lagi petualangan-petualangan liarku
Yang terkadang menghempaskanku pada bingung setelah itu
Namun aku tau, itu adalah candu
Maka biar kumiliki sebentar peng'stop' ini, biar kuberdiri dibalik portalku sejenak
Lalu saat aku siap dengan segenggam energi melawan bingung
Maka aku akan melebur lagi
Mungkin benar jika kupikir bisa saja aku menjadi racun
Yang meracuni diriku sendiri
Tapi tak perlu kalian hakimi
Karena aku sudah cukup mengerti
Jika aku racun maka aku juga adalah penawar itu sendiri
Racun sekaligus penawar
Dan aku juga memiliki portalku sendiri
Jadi kalian tak perlu repot-repot menghakimi aku
Atas apa yang tidak kalian tau
Kembali pada kekosongan yang aku rasa
Biar dalam racauan ini aku urai lagi
Mencoba memahami apa yang pikir aku ingin
Bukan sekedar memahami apa yang pikir aku butuh
Jika dalam teguk racauan ini tak juga kutemukan jawaban
Tak apa karena bagiku semua berepisode
Rasa takut kehilangan? bukan !
Karena aku tahu aku tidak mungkin akan merasa kehilangan jika bahkan memiliki saja tidak
Berada di titik jenuh?? Entah !
Bahkan aku sedang melangkah lalu terjun ke dalam titik jenuh luar biasa ku dulu
Agar saat ku 'start' lagi pengembaraanku, rasanya bisa meletup-meletup tak terduga
Rasa ingin memiliki? hemb kurasa tidak juga !
Karena aku cukup berlogika, logika ku kuat
Aku paham mana yang mampu aku gapai dan mana yang harus kuabai karena sudah jelas tak mungkin
Kecewa?? Jelas bukan
Apa yang aku kecewakan? Diri aku sendiri? Tidak !
Yang jelas aku tidak sedang berada dalam kecewa atau menyesal !
Huft masih belum paham
Mungkin waktu yang kan menjawab
Dan aku masih yakini semua ini berproses
Jikapun waktu tidak mampu menjawab, tidak akan aku salahkan
Karena lagi-lagi aku yakini bahwa mungkin hidup akan lebih indah bersama dengan misterinya
Dalam senja dengan kicauan parkit
Sragen, 04 Nov 2013
Mungkin jawabannya adalah garis lurus dari apa yang telah aku perjuangkan selama ini
Dan apa yang ku miliki sekarang jika ternyata nihil
Aku rasa juga adalah hasil dari apa yang aku sia-siakan bahkan aku buang di episode yang lalu
Entah betul atau salah
Karena pengembaraan ini masih belum kutemui ujungnya
Mungkin juga tak berujung, yang jelas yang kurasa sekarang adalah suwung
Kekosongan
Layak telur tanpa isi hanya cangkang membungkus angin
Ingin rasanya kuarungi lagi petualangan-petualangan liarku
Yang terkadang menghempaskanku pada bingung setelah itu
Namun aku tau, itu adalah candu
Maka biar kumiliki sebentar peng'stop' ini, biar kuberdiri dibalik portalku sejenak
Lalu saat aku siap dengan segenggam energi melawan bingung
Maka aku akan melebur lagi
Mungkin benar jika kupikir bisa saja aku menjadi racun
Yang meracuni diriku sendiri
Tapi tak perlu kalian hakimi
Karena aku sudah cukup mengerti
Jika aku racun maka aku juga adalah penawar itu sendiri
Racun sekaligus penawar
Dan aku juga memiliki portalku sendiri
Jadi kalian tak perlu repot-repot menghakimi aku
Atas apa yang tidak kalian tau
Kembali pada kekosongan yang aku rasa
Biar dalam racauan ini aku urai lagi
Mencoba memahami apa yang pikir aku ingin
Bukan sekedar memahami apa yang pikir aku butuh
Jika dalam teguk racauan ini tak juga kutemukan jawaban
Tak apa karena bagiku semua berepisode
Rasa takut kehilangan? bukan !
Karena aku tahu aku tidak mungkin akan merasa kehilangan jika bahkan memiliki saja tidak
Berada di titik jenuh?? Entah !
Bahkan aku sedang melangkah lalu terjun ke dalam titik jenuh luar biasa ku dulu
Agar saat ku 'start' lagi pengembaraanku, rasanya bisa meletup-meletup tak terduga
Rasa ingin memiliki? hemb kurasa tidak juga !
Karena aku cukup berlogika, logika ku kuat
Aku paham mana yang mampu aku gapai dan mana yang harus kuabai karena sudah jelas tak mungkin
Kecewa?? Jelas bukan
Apa yang aku kecewakan? Diri aku sendiri? Tidak !
Yang jelas aku tidak sedang berada dalam kecewa atau menyesal !
Huft masih belum paham
Mungkin waktu yang kan menjawab
Dan aku masih yakini semua ini berproses
Jikapun waktu tidak mampu menjawab, tidak akan aku salahkan
Karena lagi-lagi aku yakini bahwa mungkin hidup akan lebih indah bersama dengan misterinya
Guratan Rumah Senja
Dalam senja dengan kicauan parkit
Sragen, 04 Nov 2013
Saturday, November 2, 2013
Diam mu
Sungguh aku tak mengerti arti diam mu
Jika nafas ini mengartikan banyak hal
Maka nafas ini gagal mengartikan kamu
Jika nafas ini mengartikan banyak hal
Maka nafas ini gagal mengartikan kamu
Friday, October 25, 2013
Tour Aremania Sragen Community
Sekitar jam delapan malam kupacu motorku dari Semarang menuju Sragen, kota kelahiranku.
Diguyur hujan dijalan juga sehingga membuatku harus menepi sejenak untuk ngiyup, padahal teman di Sragen sudah sms terus agar aku segera merapat ke Stadion Taruna Sragen, karena kita memang kumpul disitu dulu sebelum berangkat.
Mendukung AREMA secara langsung di Stadion Kanjuruhan Malang adalah tujuanku, hingga membuat aku nekat bermotoran malam-malam menuju Kota Sragen, karena memang aku akan berangkat bersama ASC a.k.a Aremania Sragen Community.
Gak peduli hujan, gak peduli malam, motoran sendirian.
Tapi kuakui aku sedikit takut juga karena melewati Jalan Boyolali yang gelap, apalagi ku lirik jam tanganku sudah menunjukan Pukul 21.00 waktu itu. Entah sekedar ilusi rasa takut atau sugesti diri, tercium bau bacin kalo kata orang sih berarti itu ada pocong.
Memikirkan itu, cukup serem juga sampai kuhabiskan jog motorku kebelakang biar gak dibocengin pocong, haha mungkin terdengar konyol
Tapi jujur seandainya tu pocong muncul didepanku secara langsung sih aku masih bisa melawan, kujorokin biar jatuh kek, kugetok pake kayo kek atau ku tendang pas dibagian kakinya kek.
Perlawanan haruslah ada dan mudah saja.
Tapi jika sudah diboncengi? yok po rek?
Oke itu hanya pemikiran konyolku saja, sambil kubaca doa sehapalku, kukebut motorku menembus pekat malam Kota Boyolali, lalu sepinya jalanan Sukoharjo hingga macetnya jalan raya Solo-Sragen akibat ada tabrakan tronton ternyata.
Sampai TKP sudah hampir tengah malam waktu itu.
Dilanda rasa pegal luar biasa, ku manfaatkan saja tikar yang memang sengaja digelar oleh arek-arek di Stadion Taruna.
Sambil tiduran, sambil dengerin arek-arek yang ngobrol lucu.
Sepengalamanku 'kumpul bocah' selama ini, kumpul dengan Kamtis bercanda ria, saling bully, saling ejek gak karu-karuan meski kadang berlebihan juga tapi tak pernah ada rasa marah atau dendam dalam hati, karena memang begitulah Kamtis, membuang segala batas status demi keakraban tanpa batas.
Lalu kumpul dengan Monster Jackers yang membicarakan tentang segala realita dunia yang sakit ini. Mungkin sedikit serius namun realita lapangan memang begitu,
dan aku cukup setuju karena manusia memang harus berpikir tentang segala hal yang kadang tersisih, atau bahkan memang sengaja disisihkan.
Dan kumpul bocah dengan berbagai kumpulan yang memang satu pandangan, satu visi misi.
Dari situlah banyak aku simpulkan, disini kumpul dengan Aremania Sragen yang terdengar olehku waktu itu meraka sedang membicarakan tentang lowongan pekerjaan, atau apalagi entah sayup saja terdengar olehku karena terlindas rasa ngantuk.
Tidak begitu nyenyak tidurku, garuk sini garuk sana, ulah nakal nyamuk-nyamuk taruna yang cukup membuat gatal.
Sehabis subuh kita berangkat dengan menggunakan dua mobil.
Senang rasanya bisa bertolak lagi ke Kota Malang tercinta, setelah cukup lama tidak kesana, dan ini pertama kalinya juga aku ke Bhumi Arema dalam acara tour. Jadi intinya dobel-dobel lah kebahagiyaanku.
Tapi gak tau kenapa, dijalan yang ada aku cuma tidur ngiler aja, padahal aku adalah orang yang selalu menikmati melek mengamati jalanan dalam tiap perjalananku.
Sebentar-sebentar tidur, sebentar-sebentar bangun, sebentar-sebentar lihat pemandangan diluar.
Hingga sampai di Blitar, berhenti untuk sarapan.
Dengan menu masakan ala jawa timuran, kurasakan sensasi masakan yang seperti masakan ibuk ku.
Bahkan setelah menginjak Bhumi Arema, atmosphere yang begitu hangat dihati dengan jutaan rasa yang tak mampu ku urai satu per satu.
Kota yang dipenuhi rasa begitu rupa.
Hingga mengalun lagu milik D'Kross yang Welcome Home.
Sampai di Stadion Kanjuruhan juga akhirnya, meskipun yang sebelumnya harus belok kanan tapi karena pak supir yang lupa jalan jadi lurus, dan dengan aba-aba teman disampingku mobil pun balik arah.
Dan parkirlah di parkiran Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang.
Sembari menunggu untuk masuk stadion,
kita poto-poto demi kepercayaan kita tentang pentingnya sebuah sejarah, namanya Aremania narsis ini.
Tak boleh terlewat juga untuk membeli kaos Aremania, syal, dan segala hal yang berbau Arema mumpung sedang dikandanganya. Namun entah aku seperti sedang bukan seperti aku, tak serakus biasanya boleh dibilang begitu, padahal hanya sekedar melihat kaos arema onlen saja pengen beli minta ampun, tapi ini dikandangnya aku malah hanya menemani temanku jajan kaos. Aremania Suping.
Sambil kufoto temanku yang sedang pilih-pilih kaos sesuai keinginan dia. Dan aku hanya lihat-lihat saja tanpa rasa keinginan buat membawa pulang salah satu kaos yang terpajang tersebut. Meskipun tetap sebagai Aremanita tak dipungkiri olehku semua itu sangat menggiurkan.
Setalah mendapat tiket masuk stadion pertandingan antara Arema Indonesia vs Barito Putera, baris berbaris rapi ala Aremania pun dimulai.
Dan tak lupa kuabadikan juga moment tersebut dibawah ini.
Hingga masuk stadion disuguhi oleh band-band malang, kita masih putar-putar mencari tempat duduk ternyaman.
Yang waktu itu stadion Kanjuruhan cukup dipenuhi Aremania.
Dan meskipun bareng-bareng masuk, tapi aku ditemanani dua ongis nganal yang manis mencari tempat lain. sate timur. ania Sragen yang lain di gate sebelah, membentangan spanduk besar bertuliskan Aremania Gen, karena memang sedang dalam proses pengerjaan baru setengah jadi tapi sudah nekat dibawa tour. Gokilun!
Meskipun ekspresiku seperti itu tercipta karena Arema yang tidak berhasil membawa kemenangan, karena hanya berakhir seri, ditahan imbang oleh Barito Putra. Namun buatku tour dengan ASC itu sangatlah istimewa.
Tak pernah kutulis kata lelah dalam mendukung Arema, dan kutekat untuk ke Malang lagi dalam kesempatan pertandingan selanjutnya.
Sedang pertandingan yang berlangsung tak aku ceritakan karena memang biar aku menjadi komentator pribadi untuk diri sendiri.
Bagiku meskipun Aremania/ta harus menjadi suporter yang dewasa tetapi dalam pandanganku selalu Arema tanpa cela.
Sebenarnya masih banyak hal-hal yang tak kutulis, biarlah menjadi bagian yang kugaris bawahi dihati.
Dan tak kan kuakhiri catatanku ini dengan the end karena memang aku begitu mengaharapkan catatan tentang perjalananku selanjutnya.
Puisi ini milik Sulthon Muzaki
deru hujan menjerit, memecah sepi dengan luka
pelangi sendupun merangkulnya meski luka jua
hujan terobati, pelangi kian masuk ke hati
terus menyeret dengan pegas rasa sedih...
kini, sang hujan telah berganti rupa
rintik gerimis kian manis menyapa
sedang pelangi memudar warnanya
teriris dalam lembutnya senyum palsu...
semburatpun muncul lagi
jejak gerimis mulai berlalu
tapi pelangi meragu, hilang warna coba mengejarnya ?
sang jejak menganga, menunggu langit menumpahkan sari...
lagi pelangi layu, terus berlari mengejar perih
kini jejak mulai kering mati rupa, menghibur diri dalam asa
merangkai mimpi di peluknya yang mati
pelangi masih menangis, merontah di ambang bimbang
sinarnya hidup dalam dilema
coba menyirami tapi terus mendambanya ?
tapi, lembayung pagi menularkan senyum
keronta hilang, ciptakan yang subur berbunga harap
menengok ke arah yang lebih cerah
senyum bimbang dari hati yang temaram
menghias pelangi menahan paradoks diri
mengharap ia mampu mengerti.
By Sulthon Muzaki
pelangi sendupun merangkulnya meski luka jua
hujan terobati, pelangi kian masuk ke hati
terus menyeret dengan pegas rasa sedih...
kini, sang hujan telah berganti rupa
rintik gerimis kian manis menyapa
sedang pelangi memudar warnanya
teriris dalam lembutnya senyum palsu...
semburatpun muncul lagi
jejak gerimis mulai berlalu
tapi pelangi meragu, hilang warna coba mengejarnya ?
sang jejak menganga, menunggu langit menumpahkan sari...
lagi pelangi layu, terus berlari mengejar perih
kini jejak mulai kering mati rupa, menghibur diri dalam asa
merangkai mimpi di peluknya yang mati
pelangi masih menangis, merontah di ambang bimbang
sinarnya hidup dalam dilema
coba menyirami tapi terus mendambanya ?
tapi, lembayung pagi menularkan senyum
keronta hilang, ciptakan yang subur berbunga harap
menengok ke arah yang lebih cerah
senyum bimbang dari hati yang temaram
menghias pelangi menahan paradoks diri
mengharap ia mampu mengerti.
By Sulthon Muzaki
Thursday, October 24, 2013
Lawatan pertamaku bersama Exsara
Akibat pamflet yang tertempel di mading sejarah ini nih aku jadi merasakan bagaimana rasanya bahagiya itu diciptakan dengan kesederhanaan.
Meskipun diawal dulu aku pikir Exsara (Ekspedisi Sejarah Indonesia) adalah sebuah organisasi jurnalistik karena saat pengenalan pertama waktu itu aku membaca Buleexs (Buletin Exsara) dan karena kolom art yang ada di Buleexs itulah aku begitu tertarik mesuk Exsara. Namun bukan hanya sebatas karena aku suka dunia tulis-menulis saja aku jatuh cinta pada Exsara, tapi karena memang Exsara adalah jiwaku.
Jiwaku adalah Exsara.

Inilah pertama kalinya lawatanku bersama Exsara atau boleh dibilang awal karirku. Menjelajah Kota Magelang sampai Kota Jogja.
Istimewa atau jika di Exsara disebut istimebret.
Inilah cara makan ala Exsara, diatas daun pisang. Dengan kebersamaan yang begitu hangat.
Entah karena memang benar-benar lapar atau karena memang doyan, nasi yang ditaburi mie instan pun ludes masuk dalam perut.
Aku pikir hanya lawatan di candi-candi saja, tetapi petualangan kami juga begitu seru di Pantai Parangtritis dan Malioboro.
Aku diceburkan sama kakak tingkat Exsara, padahal rencana hanya poto-poto saja dipinggir pantai tapi aku malah basah kuyup karena diceburin.
Kepalang basah,
ya sudah aku nikmati saja pantai yang begitu indah dan terasa belum lengkap jika ke Jogja tanpa datang ke pantai ini.
Dan saat perjalanan pulank kami beristirahat di Alun-alun Kota Magelang, masak mie di rotowarnya lalu dimakan bareng-bareng. Tak terketinggalan juga berpoto-poto ditempat itu, mengakhiri lawatan Exsara yang saat itu diberi judul Temple Expedition ; Menapaki Sejarah Candi Hindu-Budha di Magelang-Jogja.
Saking begitu mengesankannya lawatan saat itu sampai aku bingung harus menuliskannya sebanyak apa, intinya lawatan pertama dengan Exsara menjadi candu yang luar biasa bagiku.
Exsara sudah menjadi bagian yang sangat berarti bagi hidupku.
Disebelah sini untuk poto-poto lengkapya
Silahkan klik =>> https://www.facebook.com/terdengar/media_set?set=a.488581661174134.116821.100000669138729&type=3
Disebelah sini untuk poto-poto lengkapya
Silahkan klik =>> https://www.facebook.com/terdengar/media_set?set=a.488581661174134.116821.100000669138729&type=3
Lihatlah Negeri Ini
Di bumi sebelah sini kueja kata pertiwi
Diantara daun-daun hijau berkemeja embun pagi
Juga kecipak riak ombak pantai menyibak pasir berbulir
Hingga malam menyulam parodi jangkrik yang riang mengerik
Di bumi sebelah sini kueja kata merdeka
Di bawah lampu lalu lintas para bocah mereka-reka mimpi mereka
Samar terlihat juga sesosok manusia menjelma tikus berdasi
Serta ribuan raut muka manusia yang warna warni
Di selembar kertas ini kembali kueja pertiwi yang merdeka
Berharap dalam genangan air mata dan doa
Janganlah sang saka merah putih terkafani luka
Intan_Div.Merpati
Wednesday, October 23, 2013
JILU
"Emmm kowe anak pertama soko dua bersaudara yo?" pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu tetap beliau tanyakan. Aku sendiri akan merasa tidak sopan jika tidak menjawab "injih buk" sambil mata tetap mengamati lantai rumah.
Entah hanya perasaanku saja atau memang terjadi perubahan tingkat keramahan dari ibu pacarku ini, tapi sejak mengetahui kenyataan itu sikapnya sedikit berubah.
Setelah 10 menit mengobrol denganku beliau masuk keruang tengah, gantian mengobrol dengan anak laki-lakinya, entah apa yg mereka obrolkan, hanya terdengar bisik-bisik saja.
Baru setelah dua hari dari kunjungan itu, aku ketahui kalo ibu pacarku benar-benar menentang hubunganku karena satu hal
JILU !!
Nb : Jilu merupakan sepotong mitos yang berkembang disebagian sedikit tanah Jawa sekitaran Kota Solo. Mitos dimana jika anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga. Sebabnya adalah karena diibaratkan seperti gotong mayit atau menggotong jenazah dalam kubur yang dilakukan oleh tiga orang. Jadi, jika anak pertama menikah dengan anak ketiga, 'katanya' akan ada salah satu yang meninggal tidak lama setelah pernikahan, atau akan seret rejeki, mendapat banyak kesialan dan segala hal buruk yang akan mendatangi rumah tangganya. Sebagian sangat percaya akan hal tersebut karena telah mengalami atau sekedar mendengar cerita dari mulut ke mulut.
Entah hanya perasaanku saja atau memang terjadi perubahan tingkat keramahan dari ibu pacarku ini, tapi sejak mengetahui kenyataan itu sikapnya sedikit berubah.
Setelah 10 menit mengobrol denganku beliau masuk keruang tengah, gantian mengobrol dengan anak laki-lakinya, entah apa yg mereka obrolkan, hanya terdengar bisik-bisik saja.
Baru setelah dua hari dari kunjungan itu, aku ketahui kalo ibu pacarku benar-benar menentang hubunganku karena satu hal
JILU !!
Nb : Jilu merupakan sepotong mitos yang berkembang disebagian sedikit tanah Jawa sekitaran Kota Solo. Mitos dimana jika anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga. Sebabnya adalah karena diibaratkan seperti gotong mayit atau menggotong jenazah dalam kubur yang dilakukan oleh tiga orang. Jadi, jika anak pertama menikah dengan anak ketiga, 'katanya' akan ada salah satu yang meninggal tidak lama setelah pernikahan, atau akan seret rejeki, mendapat banyak kesialan dan segala hal buruk yang akan mendatangi rumah tangganya. Sebagian sangat percaya akan hal tersebut karena telah mengalami atau sekedar mendengar cerita dari mulut ke mulut.
Mayeng Pekalongan Part 2
Hari itu bukan yang pertama kali aku ke Pantai Pasir Kencana Pekalongan, karena sebelumnya aku pernah kesana juga. Saat itu magrib menjelang dengan temaram senjanya, matahari ditelan batas langit dengan laut. Namun yang kedua ini ternyata malah sebaliknya, pagi dengan matahari yang hangat menyapa aku sudah berada dibatas pantai dengan daratan yang diisi oleh tumpukan batu-batu. Setelah semalam sebelumnya aku kumpul dengan Outsiders dan Kamtis Family Pekalongan, yang sebenarnya dengan kumpul dengan Kamtis itu tidak sengaja.
Itu lah potoku bersama Kamtis Family Pekalongan, yang jauh-jauh aku tancap gass dari Semarang sampai Pekalongan, sungguh bukan kenangan yang mudah dilupakan, boleh dibilang sangat mengesankan.
Sambutan yang sangat hangat aku terima dari teman-teman yang sebenarnya baru pertama itu berkenalan, namun dipersatukan dan diakrabkan oleh status yang sama yaitu sebagai Kamtis. Tiba-tiba aku sudah begitu dianggap keluarga oleh mereka. Ternyata lagu Long Live My Family milik Endank Soekamti bukan hanya sebatas lagu saja, tapi benar-benar kami hayati dan kami implementasikan dalam hidup kami. Sebenarnya sabutan yang begitu hangat dan 'welcome' dari teman-teman sesama Kamtis bukan hanya aku alami saat itu saja, tapi sudah sangat sering jika bertemu di jalan atau saat merapat nonton konser, tetapi malam itu cukup mengesankan bagiku. Dari situ aku sadar, bahwa karena aku menjadi kamtis jadi aku punya banyak teman bukannya karena biar banyak teman aku menjadi kamtis.
di Pekalongan 19 dan 20 Oktober 2013
dituliskan Semarang, 23 Oktober 2013
Pagi Begitu
"Masih sakit ya?" tanyamu sambil membetulkan letak kacamatamu. Dan pertanyaanmu hanya kubalas dgn senyuman, semoga itu cukup menjawab. Kamu yg duduk dipinggir ranjangku ikut tersenyum menatapku teduh. Lalu dinding putih yg bisu pun ikut membisukan kami beberapa menit ini. Dalam ruangan yg benar2 gagu ini, kami menyadari kecanggungan kami. Padahal telah semalaman tadi ruangan ini dipenuhi oleh desahan kami, dibasahi oleh cipratan nafsu yg entah datang dari belahan neraka mana. Lenguh suara2 laknat dan jalang dari mulut kami. Juga serakan baju2 kami dilantai, hingga seprai kasur yang berantakan kusut masai. Tak terasa sinar matahari pagi sudah mengintip dari celah jendela. Pagi kembali menyapa gang sempit SK, ya mereka menamai komplek ini Sunan Kuning.
Semarang, 18 September 2013
Semarang, 18 September 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)

+edit+ps.jpg)
.jpg)

.jpg)





.jpg)




.jpg)


.jpg)