Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Monday, May 7, 2018

Omong Kosong Tentang Melupakan


Nihil sapa

Bahkan bayangamu dalam semu tak lagi ada
Hanya sepotong jejakmu
Yang diam-diam kucuri dari senjakala waktu, yang tertinggal, yang tertanggal
Dan doa-doa yang hanya padamu terarah
Ah sudah, biarkan aku menyerah
Pada rasa yang sempat kucicipi sejenak
Aku ingin mengucapkan selamat tinggal
Aku akan beranjak
Kembali meneruskan jarak
Tapi apakah itu mudah?
Sedang hati yang tak berhuni dulu
Masih pulas kau tidur disitu
Lalu bagaimana ini?


Dan kemudian semuanya

Hanya menjadi rencana yang kosong sia-sia
Kau memang sudah siap angkat kaki
Tapi hatiku masih belum bisa membiarkanmu pergi
Ah lagi-lagi


Sragen,  7 Mei 2018


Kamu Adalah Punggung Itu


Kenapa aku harus mengingatmu?
Menerbitkan rindu
Menyesakkan dadaku
Ketika siang semuanya bisa kutekan
Pada logika yang paling terang
Tapi malam lagi-lagi meruntuhkan segalanya
Menghanyutkan aku pada lekuk sabit bibirmu
Pada teduh telaga di matamu
Pada suaramu saat melagu
Juga pada diammu yang ditentang sapaku kala itu
Lalu pada segala yang menautkan kamu
Tak tahukah kamu?
Aku sesungguhnya membenci semua itu
Tapi tentu kamu lebih tahu
Bahwa benci dan cinta adalah sama dalam satu kutub
Dan hanya rinai tipis yang memisahkan hingga mudah ditembus
Tapi pada akhirnya
Akupun juga harus tahu
Kamu adalah punggung itu
Yang senantiasa menjauh dari jangkauku
Semakin jauh


Sragen, 7 Mei 2018


Tuesday, May 1, 2018

Kenangan Tak Berubah


Pagi dini hari; pagi pucat pasi
Aku merasa sungguh melancholic sekali
Seluruh kenangan meruah menghujaniku
Teman-teman yang kurindukan
Satu per satu menyapa dengan cara mereka masing-masing
Aku sungguh rindu masa-masa itu
Ketika semuanya terasa tak kan pernah berakhir
Rindu, aku sungguh rindu kalian
Dan kan kubiarkan kalian tetap hidup dalam kenanganku
Kalian yang tetap sama, tanpa dicederai oleh perpisahan
Aku tahu tiap kalian pasti telah berubah
Begitupun aku
Tapi kenangan kita, tak kan pernah berubah


Sragen, 29 April 2018
01:06 WIB


Narasi Cinta Yang Dungu


Singkat saja aku mengenalmu
Sesingkat tetesan itu
Yang sudah tidak di sana lagi
Menetes sudah
Tapi entah mengapa masih terasa telapak tanganmu yang hangatkan pipiku
Keduanya
Padahal raga kita saling jauh
Dan tak pernah saling menyentuh

Namun lekuk sabit di bibirmu itu
Manis menyentuh hati dan pikiranku
Aku terpaku, engkau bisu dan kaku
Diam dalam bayang mataku dikejauhan
Tapi hatiku terus tergerak padamu
Tanpa kusadari
Dan kau tetap diam
Sambil melemparkan labirin teka-teki luar biasa rumit
Penuh misteri
Aku harus bagaimana? 
Memecahkan segala kebisuanmu
Sedang aku disini terus disiksa rindu
Aku bisa apa?
Ketika jerat segala rasa ini meruah tercurah memasung hati dan pikiran
Untuk terus terfikir segala tentangmu

Haruskah kuhentikan segala kebodohan ini? 
Tapi aku pun masih belum tahu caranya
Maafkan aku
Yang begitu bimbang dan ragu, meraihmu
Kau mulai menakutkan dengan wajah masammu
Apakah itu tanda untukku berhenti? 
Lekuk sabit di bibirmu itu pun telah kau lenyapkan tanpa sisa
Itukah tanda untukku berhenti? 

Tapi itu tidak mudah
Terlebih akupun tidak tau caranya
Tolong maafkan
Dan aku tetap pada pendirianku yang dulu
Yang pernah ku nyatakan padamu dengan tanda seru
"Jangan menghardikku karena mengejarmu!!! Karena sesungguhnya ini kakiku sendiri. Aku punya hak penuh atasnya. Seperti juga kamu, berhak penuh untuk mematahkannya."
Lalu dengan wajah masam kau hanya bilang aku dungu
Ya, aku memang dungu
Maafkanlah orang dungu ini


Sragen, 25 April 2018


Friday, April 13, 2018

Diam Yang Kita Sepakati


Entahlah
Tersisa sedikit debar
Meski samar pikiranku tercemar
Oleh seletup bara dari dadamu yang gusar
Semalaman hatiku memar

Dan kau tetap pada diammu
Tak bergeming pada tiap panggilanku
Membuat hatiku makin karam
Aku takut
Akankah jemari takdir kembali menghitung kehilangan? 
Aku tak tahu
Aku lelah aku pasrah aku kalah
Aku menyerah
Pada diam yang akhirnya kupilih juga
Dalam diam yang diam-diam kita sepakati bersama
Aku berhenti meraihmu


Sragen, 6 April 2018

Kebetulan Kecil


Aku memang bukan siapa-siapa
Hanya kebetulan kecil dari skenario Tuhan pada sepenggal episode hidupmu
Tapi terima kasih
Karena telah membawaku serta
Mengajakku menjenguk kisi-kisi masa lalumu
Mungkinkah ada denyut rindu? 
Aku tidak tahu
Karena itu antara kamu dan kenanganmu
Sedang aku, hanya berhenti di depan pintu
Sambil mendengarkan lagu kirimanmu
Dan akhirnya yang aku tahu
Selamanya aku hanya semu bagimu


Sragen, 2 April 2018



Tuesday, March 13, 2018

Koma Dan Tunggu

Aku mulai lelah menunggu
Terpincang-pincang dalam ketidakpastian
Sendu bersandar dalam koma yang tak sesaat
Dan keputusasaan mendesak berjingkat-jingkat
Dalam ruang yang semua putih
Juga asing bau warna udara
Aku menyerah menunggu
Jarak yang terenggang retak-retak
Melumat jiwaku koyak

Sragen, 10 Maret 2018


Pada Kehendak-Mu


Kini aku berhenti menghitung waktu
Toh penyakit telah menjadi belukar yang mendekapku
Memasung langkah tubuh
Menyeringai perlahan tiap detik lapis detik
Dengan angkuhnya mengemasi asaku
Tapi sujud menyalakan lagi aku
Nyala kecil, fana dan ragu
Sepintas aku tersadar
Ada kehendak-Mu yang samar
Menyapih pedih nafas yang tersengal

Sragen, 9 Maret 2018



Monday, March 12, 2018

Kau Yang Menunggu Si Pengembara


Aku pengembara
Pada tiap-tiap cinta yang sementara;
palsu, semu dan penuh tipu
tapi aku bersedia tertipu

Derak-derak waktu semakin penat
Menggempal dalam usia yang semakin genap
Manggulirkan bias kabut khayal
Menjernihkan pikiranku yang bebal
Pada ujung, mengapa selalu ada kamu?
Kamu, mencanangkan kokoh hari mendatang
Kamu, merapikan egoku yang jalang
Kamu yang menatap lurus padaku
Sedang mataku masih saja menari kesana-kemari
Aku jadi malu, pada teduh rentang tanganmu yang menunggu
Hingga pada ceruk waktu
Aku menujumu


Sragen, 8 Maret 2018


Kau Yang Abu-abu


Untukmu yang menaut bisu
Aku rindu
Menyapa ragu diammu
Apakah kau memang selalu begitu?
Begitu abu-abu

Sragen, 6 Maret 2018

Tuesday, February 13, 2018

Pada Raut Kesunyian


Dan telah tiba pada suatu masa
yang teramat biasa
Pada suatu titik henti yang bukan koma
Pada itu
Hari berubah sepi
Semua terlihat muram
Sedang belum beranjak pada malam

Semua yang pernah akrab terasa asing
Bahkan pergi tak berpamit
Menggamit serta asa
Yang tertinggal hanya kenangan
di sudut ingatan
begitu dingin dalam gigil dan degil
Dan aku
Hanya terpaku pada raut kesunyian

Sragen, 13 Februari 2018


Friday, August 18, 2017

Aku Saat Ini


Hidup ini sepi sekali Tuhan? Tidakkah aku masih memiliki kisahku sendiri untuk bisa aku tulis. Terkadang aku lelah membaca kisah-kisah orang lain. Tapi jika yang kumiliki hanya terus-terusan rasa sepi dengan hari yang tiap harinya sama. Apa bedanya aku dengan mayat? Tak memiliki jalan keluar dari kebuntuanku sendiri. Tak mampu memiliki kertas baru dalam lembaran-lembaranku. Tiap hari adalah kertas yang sama. Lalu apa yang harus kutulis jika semua seragam?

Sungguh aku lelah Tuhan. Tak ada bedanya aku dari orang mati. Tak lagi memiliki arti tak lagi memiliki guna. Bagi siapapun.

Betapa menyedihkannya hidup semacam ini. Hilang dari orang-orang. Hilang dari hiruk pikuk manusia yang dulu pernah aku kenal. Masa-masa itu. Aku sebenarnya rindu. Masa saat tak ada sedetikpun waktu untuk aku bisa berpikir bahwa hidup ini sepi. Bahkan tak pernah terpikirkan aku akan mengalami masa sesepi ini. Aku harus mengalami masa dengan kesendirian yang sangat panjang. Masa dimana aku menjadi manusia yang tak memiliki arti dan guna sedikitpun bagi orang lain bahkan untuk diri sendiri sekalipun. Masa aku benar-benar menjadi sang pecundang. Sepi dan suwung.

Entah kapan aku akan keluar dari kebuntuanku sendiri. Entah kapan.

Tuhan, tolong kasihanilah aku.

Monday, June 12, 2017

Puisi Dalam Pulau Buru Tanah Air Beta




Puisi Oleh Hersri Setiawan

Dengan Tangan terikat
Dan geraham terkunci
Tidak lebih dari seorang bandit
Ketika ia diseret
Kedepan penguasa di bumi
Dengan dada telanjang
Tidak lebih dari bertaruh mati
Karena dia anak dewasa, anak dewasa
Di depan altar pengadilan dia disiksa, bukan diperiksa
Dia diperkosa, bukan ditanya
Bisa apa dia?
Selain bertahan
Di dalam mulut terkatup, sobekan koran dia telan
Melecut merobek tubuh darah mengucur
Bisa apa dia?
Selain bertahan
Dan berkata sepatah
Aku anak dewasa yang berjanji berani
Mengangkat sumpah
Ekor ikan pari
Gagang karabin
Cincin listrik
Gilir berganti
Dan ia rebah
Ujung telunjukmu bergetar
Terbayang menuding ke udara
Bersama suaramu, penghabisan
Aku anak kemenangan, anak kemenangan
Dia sudah bertahan
Dia sudah berlawan
Kemudian ia rebah
Pada kompas dalam nafas
Gelung bergulung dalam gugur
Ada amanat dalam maut
Kumandang nyaring dari gugur






Pantai Sanleko,
Aku mencium angin pantai
Asin laut berdebur mengusap bibir
Getaran sepi melibur datang besama
Gelombang bergulung
Bayangan seragam loreng
Mata tentara dendam kesumat
Bayangan gagang karabin
Bersambar di atas kepala
Oleh rasa sendiri
Basah tampuk mataku
Dua puluh tahun lalu
Delapan ratus lima puluh tapol-tapol tak berdaya
Merangkak dipanasnya pasir
Masing-masing hanya bisa mencoba bertahan
Angka-angka nomor deportasi
Hitam di dada dan pantat seragam
Seperti komunis-komunis dan yahudi
Musuh-musuh Hitler yang harus mati
Tangan-tangan dan kaki-kaki kurus
Melindungi dada dan kepala mereka
Dari sambaran gagang-gagang karabin
Kenangan dua puluh tahun
Kembali mengalir bersama tetes air mata









Ziarah,
Papan-papan mati
Berlumut sudah
Lebih hitam dari tanah
Tenggelam dalam sejarah
Tanah sejarah
Berjajar-jajar terpahat nama-nama
Di atas tanah
Tanda kematian
Tetanam tegak-tegak
Makin dipandang makin membisu
Makin terdiam
Makin berseru
Membisikan pesan
Papan-papan mati, tanda kehidupan
Orang-orang kalah kembali berpisah
Pantang menyerah, pantang menyerah