Monolog Tak Terdengar

Monolog Tak Terdengar
Biarkan skizofrenia menjamah mewarnai mozaik-mozaik hidupku

Friday, January 22, 2016

Semar Mesem


Puisi Patah Hati
Oleh Kinanthi Putri Purbaningrum dari kelas XI IPS 2

Semangat seakan tercabut dariku
Menghabisi langkah semalam yang telah ku tertawai sendiri
Bisakah kita simpan saja semua tawa itu bersama
Atau tidak usah kita punyai sekalian sejak awal
Karena semua itu semakin sakit
Membuatku hilang akal, hilang pijakan
Dan menghadirkan gamang tak terpungkiri
Melihatmu menjauh memeluki keindahan lain
Aku hanya bisa terdiam sambil menerawang
Benarkah takdir sejahat itu
Padahal tanganku sudah terlanjur kurentangkan untukmu

Kuhitung kira-kira ada enam orang yang sedang berkerumun di hadapan puisiku yang tertempel di mading. Bel pulang sekolah sudah berbunyi kira-kira dua jam yang lalu. Tapi beberapa siswa masih banyak yang mengikuti ekstrakulikuler dan jam tambahan untuk kelas tiga karena sudah mendekati Ujian Nasional. Aku sendiri sedang menunggu jemputan yang tidak juga datang. Padahal sudah satu jam.

Di seberang kulihat Oltaf melambaikan tangannya kearahku. Dengan seragam bola yang masih kumplit menempel di badannya, dia berlari-lari kecil menghampiriku.

“Setia banget nungguin aku, Nan.” Canda Oltaf sambil tertawa-tawa mengibaskan keringat di tangannya ke arah mukaku.

Sepontan aku menghindar “Hih, jorok banget sih.” Sambil aku cemberut protes pada tingkah kekanakannya.

“Dih sok-sokan padahal juga biasanya malah dihirup-hirup bau kringatku.” Oltaf tertawa puas. Aku hanya diam tak menanggapi. Paham kalo aku sedang tidak ingin bercanda, kapten tim sepak bola tersebut kembali bertanya “Mas Dirjo belum datang jam segini?” Aku hanya menggeleng, sambil dia melihat ke arah lapangan memastikan bahwa tidak ada yang sedang mencarinya, dia menanggapi gelenganku “Wah minta dipecat tuh supirmu Nan, kebanyakan makan gaji buta. Aku anter aja yuh, langit mendung tuh bentar lagi magrib lagi.” Oltaf merogoh kantong celananya pasti mau mengambil HP, sebelum sempat dia meraih alat komunikasi tersebut, aku menolak tawarannya “Gak usah, tadi aku udah di SMS Mamaku kalo Mas Dirjo emang agak telat, jadi biar aku tunggu aja.”

“Wah kalo ini sih udah bukan agak telat lagi Nan, tapi telat banget. Udahlah aku anter aja lah, biar aku ganti baju dulu.” Paksa Oltaf lalu menggandeng tanganku mengajakku berdiri.

“Beneran gak usah Taf, aku juga gak enak sama Fiza kalo dia tau ntar cemburu.” Tolakku halus sambil kubuang pandang ke arah pintu gerbang sekolah.

Sebelum Oltaf kembali memaksaku kulihat sebuah mobil Avansa silver berhenti rapi di depan gerbang yang sudah sepi siswa. “Nah itu Mas Dirjo udah datang, aku duluan yah. Bye.”

Kudengar sayup dia menjawab dan berbicara entah apa, tapi aku tidak ingin menengok karena terasa air mataku segera jatuh. Bersamaan dengan itu rintik hujanpun juga jatuh. Hujan pertama di bulan November. Aku bergegas menghampiri mobil jemputanku. Memasukinya dengan perasaan nyeri yang tak seorangpun tau. Mas Dirjo yang mengatakan permintaan maaf tak kudengarkan. Sepanjang jalan aku hanya melamun. Bayangan seminggu yang lalu kembali terlintas.

Waktu itu aku duduk sambil serius mengerjakan tugas Sejarah yang berlembar-lembar belum juga selesai. Padahal soalnya hanya satu tapi jawabannya bagai menulis buku. Tiba-tiba Oltaf yang biasanya duduk di belakangku, memilih duduk di sampingku. Dengan wajah yang berbinar dia bercerita bahwa dia baru saja jadian dengan Fiza, murid kelas satu yang dulu pernah aku marahi saat Ospek karena memakai lipstik warna merah dan terlihat tidak pantas. Aku lihat mata Oltaf, karena aku memang memiliki kelebihan bisa melihat kebohongan atau kejujuran dari mata orang yang sedang berbicara denganku. Dari mata tersebut aku bisa mengetahui apakah orang tersebut sedang berkata dengan jujur atau tidak. Dan dari mata Oltaf aku lihat kejujuran kalau dia benar-benar sedang jatuh cinta.

Selanjutnya aku tidak mendengarkan lagi kata-kata yang diucapkan oleh seseorang yang sedang dilanda virus merah jambu tersebut. Aku menekuri buku tulisku seakan sedang serius mengerjakan padahal entah apa yang aku tuliskan tidak lagi jelas. Oltaf tetap menggebu-gebu bercerita sampai Guru Sejarah menegurnya dan menyuruhnya untuk kembali ke tempat duduknya.

Dari belakang Oltaf tetap memanggiliku dengan mengetuk-ngetuk ujung bulpennya ke punggungku. Tanpa memalingkan wajah aku hanya memberinya isyarat kepalan tanggan untuk meninjunya kalo dia tetap menggangguku. Dari belakang kudengar dia tertawa pelan. Padahal mataku sudah berkaca mencoba menahan air mata. Rasanya seperti ada sesuatu yang tercabut dari hatiku, lalu bagian yang kosong tersebut dilintasi ribuan angin yang berbentuk seperti pisau yang menyilet-nyiletnya. Nyeri.

Sejak masuk SMA memang teman terdekatku adalah Oltaf, awalnya kami bisa dekat adalah karena sama-sama suka klub sepak bola dari Inggis yaitu Chelsea. Konyol sebenarnya tapi dari situ ternyata kami punya banyak kesamaan, itulah mengapa kami bisa begitu dekat dan dari situ ternyata aku merasakan perasaan yang lebih dari hanya sekedar sahabat.

Kalo kata orang Jawa “tresno jalaran soko kulino” atau kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya cinta karena sering bersama. Mungkin itu yang membuatku jatuh hati pada Oltaf, tapi ternyata yang merasakan hal tersebut hanya aku. Sedangkan Oltaf hanya menganggapku tidak lebih dari seorang sahabat yang nyaman diajaknya cerita dan bercanda. Dia jugalah yang menjadi maksud dari puisi yang tertempel di mading sekolah. Tapi kupastikan tidak ada yang tahu.

Tanpa kusadari Mas Dirjo sudah membukakan pintu untukku, jadi tanpa dikomando aku keluar dari mobil yang akan segera diparkir. Rumah kulihat sangat sepi, hanya Mbok Laila pembantu rumah yang menyambutku.

“Yang lain kemana, Mbok?”

“Semua sedang di rumah sakit Non.”

“Keadaan nenek semakin memburuk ya, Mbok?”

“Loh Non belum diberitahu Mas Dirjo ya? Kalo Neneknya Non tadi sempat meninggal.”

“Mbok jangan bercanda, maksudnya gimana?”

“Mbok tidak bercanda Non, tadi memang rumah dapat kabar begitu tapi terus dikabari lagi kalau Neneknya Non tidak jadi meninggal.”

“Aku makin bingung Mbok. Udahlah aku mau nyusul ke rumah sakit aja.”

“Mau Magrib Non gak baik keluar. Sendyakala Non, banyak setan yang bermunculan kalo waktu seperti ini.”

“Yaelah Mbok masih aja percaya kaya gitu.”

“Aku mau mandi dulu, Mas Dirjo suruh siap-siap ya Mbok.”

“Rumah sakitnya kan jauh Non. Ibu tadi berpesan supaya Non tidak perlu menyusul, kan besok Non Kinanti juga harus sekolah tho?”

“Aku kan juga pengen tau keadaan Nenek Mbok, masak gak boleh. Mbok ini gimana.”

“Ya sudah Non biar Mbok ke Mas Dirjo dulu.”

Tak perlu waktu lama untuk bersiap-siap aku sudah berada diatas mobil. Perjalanan menuju rumah sakit tempat nenek dirawat memakan waktu selama dua jam. Karena berbeda kota. Setelah kakek meninggal, selama itu nenek memang lebih memilih tinggal dengan Om Anggoro, anak laki-laki satu-satunya, padahal nenek memiliki 4 anak perempuan yang semuanya berkecukupan termasuk salah satunya adalah mamaku. Mungkin karena Om Anggoro anak ragil alias anak terakhir sekaligus anak laki-laki yang katanya sudah sangat ditunggu-tunggu kelahirannya oleh nenek.

Sampai di rumah sakit, kulihat jam besuk pasien sudah di tutup. Tapi karena darurat dan nenek termasuk pasien VIP jadi pihak rumah sakit memperlonggar peraturan, sehingga aku diperbolehkan membesuk. Di dalam ruangan hanya ada mama dan Bulek Diah yang menunggui. Sedangkan papa dan Om Anggoro menunggui di luar. Aneh menurutku, karena kamar inap nenek termasuk VIP yang memiliki ruang tamu sendiri.

Kulihat wajah mama dan Tante Diah yang kuyu, kelelahan.

“Ma, mama udah makan?” sambil kusodorkan roti yang sempat kubeli di Alfamart saat menuju rumah sakit tadi.

Mama hanya menggeleng, lalu Bulek Diah yang menjawab, “Kita tadi udah makan Nan, kamu memang besok tidak sekolah?”

“Kinanthi bisa ijin sehari kog Bulek, ya kan Mah?” aku minta persetujuan mama. “Aku pengen nungguin Nenek.”

Kulihat mama hanya mengangguk. Mata mama terlihat seperti habis menangis tapi lebih dari itu kulihat mama seperti sedang memikul pikiran yang sangat berat. Jadi Bulek Diah istrinya Om Anggoro lagi yang berbicara seolah menjadi juru bicara dari mama. “Mama kamu sepertinya capek Nan, gimana kalo kamu sama papa mama kamu sekarang menginap ke rumah Bulek saja Nan, biar diantar Om kamu yah. Malam ini Bulek yang menjaga nenek.”

“Tapi Kinanthi pengen sama nenek Bulek, jadi biar Kinan yang malam ini jaga nenek. Bulek saja sama mama papa yang pulang. Sepertinya semua capek.”

Kulihat Bulek Diah sedikit berpikir, “kamu gak papa jaga nenek sendirian Kinan?”

“Iya Bulek gak papa.”

Mama tiba-tiba memegang tangan Bulek Diah. Lalu seolah mengisyaratkan untuk tidak membolehkan aku menunggui nenek di sini.

“Em biar Bulek temani saja ya Kinan.”

“Ya udah berdua juga gak papa kog Bulek.”

Bulek Diah tersenyum tipis, lalu aku berjalan keluar. “Loh kamu mau kemana Kinan?”

“Manggil papa sam Om Anggoro masuk, Bulek.”

Tiba-tiba saja mama berlari kearahku, tangan mama mencengkeram tanganku dengan sangkat keras, menghalangiku keluar kamar.

“Aduh sakit Mah.” Tak lama mama langsung melepas tangannya dari pergelangan lenganku.

“Tidak usah.” Kata mama dengan wajah datar.

Aku benar-benar merasa ada yang aneh dengan mama, kulihat mama yang keluar kamar tanpa berpamitan. Lalu aku kembali ke Bulek Diah meminta penjelasan tentang keadaan yang sebenarnya terjadi seperti apa. Selama ini aku memang paling dekat dengan Bulek Diah ketimbang saudari-saudari kandung mama. Pasalnya tiap aku sedang libur atau sekedar ingin membuang sumpek di kota aku pasti lebih memilih ke rumah Bulek Diah, selain itu juga karena ada nenek. Jika nenek anak laki-lakinya hanya satu, maka kebalikannya cucu nenek yang perempuan cuma satu, yaitu aku.

Bulek menatap nenek yang lelap dengan nafasnya satu-satu. Mata nenek berkantung hitam terlihat semakin cekung terkatup rapi seolah tak akan mampu terbuka lagi selamanya. Selang oksigen masih ditempatnya membantu pernafasan nenek yang entah tujuannya sampai mana. Aku melihat tubuh nenek yang begitu kurus terbaring tak berdaya, tak kuasa menahan air mata.

“Nenek masih terlihat cantik kan walaupun sudah setua ini?” tanya Bulek Diah tanpa melepas pandangnya pada nenek.

Aku hanya mengangguk meniyakan. Memang masih terlihat sisa-sisa semburat kecantikan diwajah nenekku ini. “Nenek pasti waktu masih muda dia sangat cantik.”

“Kamu tau Nan kenapa Mamamu tidak memperbolehkanmu memanggil papamu dan Om-mu masuk kesini?”

Aku menatap Bulek Diah, tidak mengerti.

“Iya semua karena kecantikan nenek ini.” Jawab Bulek Diah sendiri.

Aku semakin tidak mengerti dengan maksud kata-kata Bulekku ini.

“Kinan, dengarkan Bulek baik-baik, Bulek ingin bercerita tapi kamu harus bisa menjaga rahasia ini.”

“Sebenarnya ada apa Bulek?” Aku menatap Bulekku.

Sambil memegang tangan nenekku, Bulek seolah meminta ijin pada nenek. “Ibu, bolehkan Diah ceritakan semua pada Kinanthi. Kinan berhak tau.” Sambil tersenyum sedih bulek melanjutkan ceritanya kepadaku. “Sebenarnya papamu dan Om-mu tidak boleh mendekati nenek.

“Kenapa Bulek?”

“Bukan hanya mereka, tapi semua laki-laki tidak diperbolehkan mendekati nenek. Bahkan untuk dokter dan perawat nenek, Om Ang-mu sudah meminta untuk diganti dengan perempuan. Semua demi kelancaran nenekmu. Sebenarnya ini sudah menjadi batas hidup nenek, Kinan. Tapi nenek belum bisa meninggal.”

Aku hanya diam mendengarkan, berusaha tidak menyela cerita Bulekku, meskipun aku belum benar-benar paham maksudnya.

“Semua karena susuk pengasihan yang dipakai nenek.” Lanjut bulek sambil melihat nenek. “Kinan lihatlah dagu nenekmu, disitu terletak susuk yang dipakai nenek.”

Aku tersentak serasa tidak percaya dengan cerita bulek Diah. Aku tidak percaya nenekku memakai barang seperti itu, terlebih dijaman modern seperti ini masihkan hal semacam itu ada. Tapi jika kuamati wajah nenek yang cantik. Kecantikan diwajahnya, tapi lebih dari itu dagu nenek memang bagus. Aku bayangkan dulu pasti banyak yang menyukai nenek. Nenek terlihat manis dengan dagu yang lancip.

“Pada saat nenek masih muda, nenek juga seorang penari yang sangat terkenal. Nenekmu penari yang sangat laris dimanapun. Nenek memakai susuk memang agar dirinya menjadi penari yang sukses, banyak panggilan diberbagai tempat. Selain itu, karena susuk itu juga banyak laki-laki yang tergila-gila pada nenek.”

Aku terdiam masih tidak percaya dengan cerita bulek Diah. Tapi aku mencoba menanggapi “Apakah susuk itu tidak bisa diambil dari tubuh nenek, Bulek?”

“Kami sudah mendatangi orang pintar Kinan. Ada dua cara agar susuk itu bisa dihilangkan dari tubuh nenek. Yang pertama adalah orang yang memasangkannya yang bisa mengambilnya. Lalu yang kedua adalah memindahkan susuk tersebut kepada orang lain.”

“Lalu bagaimana Bulek? Kasihan nenek tidak bisa pergi dengan tenang.” Aku merasa sedih sekaligus tidak suka juga. Sedih karena kasihan melihat kondisi nenek, tapi benci kenapa nenek harus memakai hal semacam itu.

Kasihan sudah menderita sakit begitu lama. Bertahun-tahun hanya mampu tergeletak di ranjang rumah sakit dan berbulan-bulan ini sudah tidak dapat merespon apapun. Hanya tinggal nafas yang disokong oleh selang oksigen. Sepertinya hanya dari situ kehidupan nenek digantungkan.

Bulekku kembali berbicara, “Sayangnya orang pintar yang dulunya memasangkan susuk untuk nenekmu tersebut sudah meninggal, Kinan. Kami juga sudah mencoba memindahkan susuk tersebut ke orang lain yang memang ingin memakai susuk, tapi ternyata tubuhnya menolak. Sementara ini Om Anggoro masih mencoba mencari orang pintar lain yang bisa menghilangkan susuk tersebut dari tubuh nenekmu, Kinan. Semoga ada cara lain. Kasihan nenekmu harus menderita seperti itu.”

Jujur aku sendiri tidak begitu paham dengan hal semacam itu, tapi aku berusaha mencerna cerita bulekku. “Jadi karena itu nenek susah meninggal, Bulek?”

“Iya Kinan. Mamamu kaget mendengar cerita ini, dia juga baru tau. Aku harap kamu tidak membenci nenekmu, jaman dulu kehidupan begitu susah Kinan.”

Aku pandang wajah nenek begitu renta, ringkih hanya mampu memejam. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Lalu bergantian aku lihat wajah bulekku yang matanya mendakan sudah ingin terpejam. “Bulek ngantuk ya? Pasti bulek capek.”

Bulek tersenyum tipis “Kinanthi, kamu juga sebaiknya istirahat. Tidurlah di sofa sana.”

“Iya Bulek.” Kulirik jam di dinding sudah jam dua dini hari.

Paginya aku sudah terbangun dengan mama duduk disampingku. “Udah bolos sehari, sebaiknya hari ini kamu pulang Kinan.”

Kuikuti perintah mama, aku pulang sama Mas Dirjo dan papa. Karena besok papa juga harus kerja. Sampai di rumah hari sudah siang. Teman-teman banyak yang BBM menanyakan kenapa aku tidak masuk sekolah. Aku rebahkan tubuhku di kasur sambil membalas BBM temanku satu per satu. Dan esoknya seperti biasa kukenakan seragam putih abu-abuku. Dengan diantar supirku Mas Dirjo, aku berangkat sekolah.

Kulihat jam tanganku, kurang 15 menit bel sekolah akan berbunyi, mobil sudah berbelok di depan gerbang sekolah. Tanpa disuruh aku turun, dari kejauhan terlihat sosok Oltaf dan Fiza sedang berbicara berdua. Entah apa yang mereka bicarakan tapi tiba-tiba setelah melihat aku. Oltaf malah berjalan menghampiriku.

Aku sendiri berjalan menuju ruang kelas di lantai dua. Oltaf berusaha menjajari langkahku. “Selamat pagi Kinanthi Putri Purbaningrum.” Aku hanya mendengus, sambil tetap berjalan. Berusaha mengabaikan keusilan Oltaf. “Dih sombong amat tuan putri. Hehe.” Aku duduk di tempat dudukku, lalu Oltaf duduk di depanku tapi menghadap ke aku. “Kemarin kemana gak masuk sekolah, bolos gak ngajak-ngajak.”

Aku lihat dia dengan wajah memelas memohon untuk tidak menggangguku pagi-pagi, tapi dia malah tersenyum. Melihat wajahnya yang kemarin tidak aku temui sehari, seperti muncul rasa kangen. Aku coba halau perasaan itu, aku harus sadar diri lagipula dia sudah pacar orang. Tidak bisa kalau seakrab dulu, harus menjaga perasaan orang lain. Karena itu aku mulai menjaga jarak sejak tau dia sudah pacaran dengan Fiza. Selain itu juga karena aku berusaha untuk menghilangkan perasaanku pada Oltaf.

“Aku kangen sama kamu, Nan.”

Deg! Jantungku rasanya mau loncat keluar dari tempatnya. Aku tidak berani menatap Oltaf, tapi rasanya tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“Gak usah becanda. Dah sana! Ganggu aja pagi-pagi, Taf.”

“Aku gak becanda, Nan. Kamu beda ya sekarang?”

“Apa’an?”

“Gak tau, kamu tambah cantik aja.”

“Hemb.”

“Aku serius, Nan. Kayanya aku suka sama kamu.”

Deg! Kali ini jantungku bener-bener keluar dari tempatnya. Kutatap mata Oltaf, memastikan kejujuran di sana. Dan aku lihat dalam manik mata bening tersebut yang tergambar adalah wajahku. Dia jujur berkata begitu.

“Aku jatuh cinta sama kamu, Kinan.”

Jantungku sudah tidak karuan rasanya, berbarengan dengan itu, HP-ku bergetar. Telepon dari Mama. Karena bel masuk sekolah belum terdengar jadi kuangkat saja.

“Iya Mah.”

“Nenek meninggal, Kinan. Kamu ijin pulang yah.”

Belum sempat aku jawab, dibelakang terdengar suara Bulek Diah sedang berbicara entah dengan siapa. Tapi aku mampu menangkap pembicaraannya walaupun samar. 

“Semar Mesem hanya bisa dipindah pada keturunan perempuan yang sedarah. Tenanglah, nanti kita mencari jalan keluarnya.” Begitu kira-kira yang diucapkan Bulek Diah. Lalu telepon ditutup.

Kepalaku rasanya dipenuhi dengan teka-teki silang.

Nenek pakai susuk. Tiba-tiba Oltaf bilang cinta sama aku. Dan nenek meninggal. Lalu kata-kata samar Bulek Diah.

Apa maksudnya?

Ting...ting...tingggg..... bel tanda masuk sekolah berbunyi.







Wednesday, November 25, 2015

Selamanya Kawan

Beranjak kau pergi tinggalkan masa-masa bersama
Kau pergi berlari sesaat tinggalkan semua
Kawan perjalananmu akan sepi tanpa kawan
Langkahkan lah perlahan
Raihlah mimpimu dan rebut kemenangan
Aku tak akan pernah terhenti
Tuk terus semangati diri
Tetaplah berjalan dan tetaplah perlahan
Ku akan terus menunggumu
Hingga semua kan seperti dulu
Selamanya kawan*
*Selamanya Kawan lagu After School Before Sunset



Ada satu masa dimana semua yang selalu bersama tidak lagi bersama. Mencari jalan masing-masing atau harus berpisah karena suatu keadaan. Mungkin begitulah yang menggambarkan keadaan sekarang ini. Aku merindukan kalian, kawan-kawan seperjuanganku.

Mengingat kita sekarang harus mencari jalan masing-masing, mencari kesuksesan kita masing-masing. Aku hanya berharap semoga kalian tidak melupakan semua yang pernah kita lewati bersama. Malam-malam gila yang melelahkan, begadang main poker disela-sela tugas mengerjakan pembuatan video KKL. Tertawa bersama sampai perut benar-benar kaku, di malam-malam saat kalian berjoget di stand gila Bulan Pahlawan. Atau juga saat kita menghadapi masalah-masalah pelik. Tawa canda yang tak kan pernah terlupa. Semoga kalian masih menyimpan kenangan tersebut dalam ingatan kalian dengan baik. Masa-masa yang membuat masing-masing dari kita menjadi lebih dewasa dan semakin dewasa.

Jika terlupa, maka ingatlah kembali kawan. Ingatlah kita pernah bersama menempuh perjalanan-perjalanan yang jauh menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah sama sekali kita datangi. Ingatlah kita pernah bersama-sama bercanda dalam perjalanan tersebut, kita pernah kedinginan karena kehujanan bersama. Ingatlah kita pernah berebut jas hujan bersama, sampai-sampai aku harus membeli jas hujan baru di Wonosobo. Ingatlah juga saat kita tertidur di kursi taman depan Grand Mall Solo. Atau makan nasi kuning di pinggir alun-alun Blora. Ingatlah itu kawan, kita pernah merasakan itu semua bersama. Merasakan pantat-pantat kita panas karena menempel di atas motor dari Semarang melintasi Bali hingga keliling Pulau Lombok. Sungguh petualangan yang tak pernah kulupakan. Ingatlah bahwa kita sudah seperti saudara saat kita pergi pada suatu tempat dan kita pasti memiliki tempat berteduh atau sekedar makan gratis. Ingatlah kawan The Rampoxs J

Ingatlah juga saat menangis dan tertawaku menjadi satu dalam suatu keadaan yang sangat ingin aku skip dari sejarah kehidupanku. Tapi kalian jelas merekam semua itu dalam ingatan kalian masing-masing, jadi pahit manis semuanya akan tetap aku kenang dan tak mungkin bisa satu pun ku hapus. Bagiku semua yang pahit dulu, saat ini sudah menjadi cerita lucu walau juga memalukan. Ingatlah kalian kawan saat bercanda kalian sudah sangat keterlaluan, tapi aku tidak akan marah. Karena bully tanda sayang, iya kan kawan? Jadi, meskipun aku pernah sampai akan dipenjarakan oleh suatu kekonyolan, disitu kalian yang akan merubah tangis sedihku menjadi tangis haru biru bahagia. Dengan cara kalian masing-masing. Aku bersyukur memiliki kalian kawan, dan semoga juga sebaliknya. Terima kasih atas masa yang penuh bahagia, tawa maupun air mata akan menjadi kenangan yang membuatku kaya.

Ingatlah kawan, saat aku benar-benar terbuang karena satu kekonyolan yang dinamakan cinta. Saat aku benar-benar jatuh, selalu ada kalian yang rela mengajakku berdiri walau sambil memarahiku karena kebodohanku sendiri. Aku bersyukur atas itu semua, kalian kawanku, sahabatku, mBolank J

Semoga kalian tak pernah melupakan semua itu. Masa dimana kita pernah bersama-sama tidur dalam satu kamar yang sempit, karena kelelahan begadang membuat video KKL. Walau aku selalu menjadi cewek satu-satunya. Tapi tak menjadi penghalang kebersamaan kita kawan. Sampai perut terasa kembung dan paginya tetap harus bangun dengan badan yang remuk, ditambah ternyata video kita tidak dapat diputar. Disitu kita pernah sama-sama merasa tertusuk, merasa wajah tertampar oleh segala orang yang telah mengamanati kita tugas tersebut. Tetapi dengan rangkulan tangan kita masing-masing, kita berdiri bersama. Kita bersama menghalau galau dan berjanji bahwa suatu hari kesalahan tersebut akan kita tebus. Itu semua menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita.

Semua malam-malam yang pernah kita lewati dengan begadang bersama sampai pagi, masih tersimpan baik dalam stand-stand Bulan Pahlawan yang kita isi dengan canda tawa canda tawa dan begitu seterusnya. Dalam embun pagi yang menempel di rumput. Juga dalam lingkar bulan yang diarak awan-awan malam. Indah dalam bingkai ingatan. Ingatlah juga kawan, saat rapat-rapat membosankan mengembungkan perutku karena harus duduk di lantai yang dingin hingga malam menghampiri dini hari. Tapi ingatlah juga, saat kita berangkulan dan berjingkrak bersama hingga keringat yang mengucur menjadi satu. Bernyanyi hingga parau. Kita pernah merasakan semua itu kawan.

Mengingat kalian yang sampai dengan rajinnya memaksaku makan, menyeretku menaiki motor, kita bertiga melaju. Tak peduli orang-orang yang melihat akan mengatakan cabe-cabean, kita hanya tertawa. Buat kalian yang penting aku tidak lupa makan, mengajakku ke warung, agar asam lambungku yang biasanya naik tidak lagi naik. Kalian yang mengajarkanku serunya ruang karaoke, kalian yang mengajarkanku bahwa aku juga bisa berteman dekat dengan kawan-kawan sesama cewek. Dan kalian yang juga sering menyeretku menggosipkan segala hal tentang orang lain. Meskipun aku lebih sering hanya mendengarkan, tapi kalian yang mengajarkanku tentang banyak hal membuatku mengerti hidup tak hanya tentang hitam dan putih saja. Kalian yang menganggapku ada, memberikanku tempat diantara kalian. Kalian yang membelaku dan bersama menghadapi berbagai picik pandangan orang lain. Ingatlah kalian, Cocomers J

Ingatlah juga kawan, kalian yang pernah satu piring denganku. Kita masak bersama, lalu dengan tawa kita makan bersama. Kesederhanaan yang tak pernah ternilai dengan apapun. Meskipun lauk yang ada hanya ala kadarnya tapi tangan-tangan yang saling mengambil bersama menjadi penikmat yang kenangannya sampai sekarang masih sangat ingin bisa aku ulangi.

Ingatlah kalian yang pernah satu ruang denganku, bahkan duduk disampingku. Yang pernah aku coreti tangannya, karena bosan mendengarkan dosen memberikan materi Sejarah yang kalian balas dengan menguap. Atau terfoto wajahnya saat ketahuan tertidur. Yang membalas keusilanku dengan menyembunyikan sepatuku dilemari depan, atau buku binderku dibawah bangku, atau malah tasku yang kalian masukan ke dalam tas kawan yang lain. Ingatkah itu kawan? Semua itu masih terekam baik dalam ingatanku, bahkan dalam buku binderku pun masih banyak coretan-coretan usil kalian.


Aku akan mengenang semuanya baik-baik, kalian yang pernah akrab, kalian yang pernah mesra. Semoga tak akan pernah terlupa akan kebersamaan kita. Dan jika keberuntungan masih berada di pihakku aku juga berharap semoga kita bisa mengualangi semua itu dengan kebersamaan yang jauh lebih indah lagi. Semoga kita bisa menemukan kesuksesan kita masing-masing. Pada akhirnya kalian yang tidak mampu aku sebutkan satu per satu, semoga kalian selalu mengenang semuanya dengan baik.

Batang, 25 November 2015






Monday, November 23, 2015

Hidup Diantara Langit


Hidup diantara langit, dengan segala kemewahan. Sedangkan aku dengan pakaian oblong dan lumpur tanah yang menempel di sendal jepitku hanya bisa tersenyum. Mereka juga tersenyum menyapaku tulus sekali, aku bersyukur. Sungguh aku bersyukur atas senyum seramah itu walaupun mereka terlihat memakai jubah-jubah emas dan sepatu tinggi yang jika aku harus melihat wajah rupawan mereka aku harus mendongak.

Mereka putih, dan benar saja tebakanku, mereka bermandikan berliter-liter botol susu. Aku tersenyum lagi memandangnya. Lalu air hujan mengguyur, mereka berteduh dalam rumah beratap bintang-bintang keemasan yang tersusun membentuk lembayung indah sekali. Aku tetap berdiri di tempatku, kubiarkan air hujan membasahi tubuhku. Mereka heran memandangku sambil lekuk sabit manis tersusun di bibir mereka, mereka mengajakku ikut berteduh. Karena ini rumah kami bersama, aku juga tahu itu. Tapi mereka tidak tahu, bahwa dengan air hujan inilah caraku mandi. Lalu senyum manis itu berubah masam, mereka bukan lagi heran tapi mulai menganggapku aneh. Aku hanya tersenyum kecut, malu bercampur tidak enak hati. Tapi memang beginilah caraku mandi.

Setelah hujan, angin mengantarkan dingin yang gigil. Dalam rumah bintang-bintang itu, mereka menyalakan perapian. Lalu satu per satu menyumbangkan kayu bakar agar perapian itu tetap menyela. Aku juga harus menyumbang kayu bakar, mereka bilang ini demi kehangatan bersama. Aku mulai bingung, aku tidak memiliki kayu bakar. Mereka tersenyum memaklumi, tapi hati kecilku tersenyum mencibir itu tidak adil. Nuraniku mulai menceramahi, aku tidak ingin kalau sebentar lagi gantian pikiranku yang mencibir diriku sendiri. Jadi kuputuskan untuk mencabut salah satu tulang ditubuhku untuk perapian itu. Mereka hanya tersenyum kasihan dan bilang demi kehangatan bersama. Tapi aku bilang, ini demi kebersamaan yang hangat. Kami tersenyum bersama-sama.

Awan-awan putih membentuk jalan diantara toko-toko yang bercahaya. Sambil bercanda-tawa mereka memasuki tiap toko itu, lalu keluar dengan membawa kantung-kantung yang berisi berbagai jenis belanjaan. Aku yang tetap berjalan di belakang mereka pasti hanya akan berhenti di depan toko menunggui mereka keluar dari toko, berjalan sebentar lalu memasuki toko lain, begitu seterusnya dan aku tetap setia pada batasku yang hanya pada depan toko saja. Menunggui mereka. Bisa berjalan diatas jalan awan-awan putih saja sudah menjadi senyum tersendiri untukku meskipun kulalui hanya dengan sendal jepitku yang disudut-sudutnya berwarna coklat.

Setelah sampai kembali di rumah bintang-bintang, kami mengitari sebuah meja makan nan besar. Diatasnya berisi berbagai macam hidangan yang begitu kumplit. Sebelum makan mereka mengisi sebuah nampan dengan koin-koin emas. Tiba pada giliranku, nampan yang setengah penuh tersebut hanya mampu aku pandangi, lalu dengan tersenyum kucabut lagi tulangku untuk mengisinya. Kemudian kami menikmati berbagai macam hidangan tersebut bersama-sama.

Begitu setiap harinya, hingga kupandangi tulang di tubuhku hilang satu per satu. Aku mulai bingung, kuhitungi hari kapan aku akan dipulangkan kembali ke tempatku. Pada jalanan yang terik terpanggang matahari hingga hitam legam, pada nasi yang tergelar di selembar kertas namun dapat kumakan dengan nikmat tanpa harus mencabuti tulangku. Juga pada rangkulan tangan-tangan yang berwarna-warni mengajakku melonjak tanpa takut apapun. Tak perlu harus memikirkan berbagai ketinggian yang tak mampu kugapai. Disini. Aku sadar ada batasan yang tidak mungkin aku mampu lewati sekalipun aku hidup bersama mereka. Aku tetap saja tanah.




Saturday, November 7, 2015

Puasa Nulis


Statusku ini menjadi penanda bahwa aku sudah sangat ingin menulis blog, tapi entah rindu belum juga terumahkan.
Kesibukan mengajar merenggut segala niat untuk merumahkan segala rindu akan kata.
Tapi disela-sela jam mengajar kali ini kusempatkan untuk menuliskan segala entah yang antah brantah ini.

Sekedar mengisi kekosongan.


Friday, July 17, 2015

Tangan Ibu

Tubuhnya melayang tepat di atasku dan hampir membuatku memekik saking kagetnya. Tapi dengan sangat cepat dia menyentuh pipiku dengan tangannya yang sedingin es. Makhluk itu, iya aku mengingatnya. Rambutnya yang kusut dan tubuhnya yang bau anyir tak mungkin bisa aku lupakan. Sosok yang dulu begitu akrab denganku tiap hari, dengan wujud yang bisa mambuat anak kecil manapun akan menangis bahkan orang dewasa juga akan lari ketakutan. Tapi tidak untukku, karena aku memang mengenalnya. Dia ibuku.


Kenapa ibu menemuiku lagi, seingatku ibu tiba-tiba menghilang saat aku masuk bangku sekolah menengah pertama. Waktu itu aku benar-benar kehilangan sosok ibu, meskipun kenyataannya aku memang sudah kehilangan ibuku saat dia melahirkanku. Iya ibu memang meninggal saat melihirkanku, tapi sejak aku mulai di sekolahkan di taman kanak-kanak aku mulai bisa melihat wanita yang berdiri di pojok ruangan memperhatikanku. Dengan baju putihnya yang terkena bercak darah dan wajahnya yang pucat dia akan tersenyum tipis jika aku balik memandangnya. Wajah itu sangat mirip dengan foto yang ayah perkenalkan padaku bahwa dia ibuku. Meskipun dalam foto wajah ibu terlihat segar ceria dengan senyumnya yang mengembang lebar memeluk ayah. Tapi memang tidak salah lagi bahwa dia ibuku.

Hanya aku yang bisa melihatnya sehingga teman-temanku yang lain menganggapku aneh, bahkan ayah selalu memarahiku tiap kali aku berbicara tentang ibu. Jadi kusimpan sendiri rahasia bahwa aku bisa melihat ibu, karena aku tidak ingin dijauhi teman-temanku dan dianggap aneh oleh mereka. Aku juga tidak ingin dimarahi ayah dan ibu tiriku.

Ibu memang muncul hanya saat-saat tertentu saja, seperti saat aku pertama kali masuk sekolah, saat aku menangis dan saat aku sedang terkena masalah. Atau saat aku mendapat menstruasi pertamaku. Waktu itu kulihat ibu berdiri menghadap tembok sambil menjilati pembalutku, mulutnya penuh darah segar dan membuatku hampir memuntahkan seluruh isi perutku. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi membuang pembalut di tempat sampah kamar mandi, aku akan mencucinya bersih terlebih dahulu lalu membungkusnya untuk selanjutnya kubuang di kali. Kuanggap itu sebagai nasehat dari ibu agar aku tidak seenaknya membuang barang pribadiku. Ibu memang selalu memperingatkanku dengan caranya sendiri.

Ibu tidak pernah berbicara sedikitpun padaku. Saat aku menangis sedih, ibu akan menutup mataku dengan telapak tangan kirinya lalu membuatku seolah seperti bermimpi. Aku seperti tiba-tiba berada di tempat lain. Pernah saat itu, saat aku masih duduk dibangku kelas satu sekolah dasar. Aku benar-benar sedih karena teman sebangkuku marah padaku, berhari-hari dia menjauhiku dan saat kuajak bicara sama sekali tidak menjawabku malah melengos pergi. Lalu saat pulang dia sengaja melemparkan tasku ke tong sampah. Aku tidak tau apa salahku, aku benar-benar marah padanya tapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Sampai rumah aku menangis sejadinya, lalu ibu datang melayang mendekat kearahku, aku pikir dia akan menghapus air mataku karena kulihat tangannya menyentuh wajahku tapi ternyata dia hanya menutup kedua mataku. Beberapa detik gelap menyergapku, lalu kulihat aku seperti sedang berada pada tempat yang lain.

Di tempat itu kulihat temanku tersebut, dia sedang berlari keluar dari rumahnya dengan membawa buku gambar yang mirip dengan buku gambarku yang hilang. Di sudut kiri sampulnya terdapat nama yang sengaja dihapus dengan typex. Jadi selama ini dia yang mengambilnya, aku akan memarahinya jika besok bertemu. Kulihat temanku begitu senang sambil membuka buku gambarku dan menyebrang jalan menuju rumah temanku yang lain. Lalu dari arah kiri, tiba-tiba sebuah sedan melaju menghantam tubuh temanku tersebut. Tubuh kecilnya terlempar sebelum terguling menghantam aspal jalanan. Keadaan itu begitu cepat sampai aku tergagap lalu tersadar tersentak kubuka mataku, aku masih berada di dalam kamarku sendiri. Keringat menitik di dahiku dan aku mengigil. Di depanku sudah tidak ada ibu, dia menghilang. Dua jam setelah itu, aku mendapat kabar bahwa temanku tersebut meninggal karena kecelakaan.

Di lain waktu saat ayah sudah seminggu tidak pulang karena harus menunggui ibu tiriku yang sedang mengandung dan meminta tinggal di rumah orang tuanya selama menjelang persalinan. Padahal saat itu adalah Hari Natal, tapi aku harus kesepian, tiba-tiba ibu juga menemuiku. Awalnya dia hanya berdiri disudut ruangan sambil memperhatikanku. Aku sendiri hanya duduk sedih di depan TV sambil menonton acara yang menyiarkan film sebuah keluarga yang sedang merayakan natal bersama. Ibu lalu mendekatiku dan menutup kedua mataku dengan telapak tangannya yang dingin. Seperti mimpi, aku kembali dibawa kesebuah tempat yang tidak aku ketahui.

Di situ terdapat sebuah aula cukup besar, tempatnya seperti rumah bangunan belanda. Ada seorang anak kecil dengan rambut yang dikepang dua. Dia melihat keluar jendela, dimana di luar terdapat sebuah taman yang cukup luas dengan banyak permainan anak-anak lengkap dengan belasan anak-anak yang sedang bermain. Ada yang berayun di atas sebuah ayunan yang tergantung di sebuah cabang pohon besar yang menghuni taman tersebut. Ada juga yang sedang bermain petak umpet dan permainan lompat tali. Ada juga anak laki-laki yang meluncur dari sebuah perosotan yang terbuat dari bangunan beton. Sedangkan anak kecil berkepang dua itu hanya melihat semuanya dari jendela yang terbuka. Kalau kuperhatikan mungkin usianya seumuran denganku. Tangannya memegang sebuah foto separuh terbakar, dia tetap mematung menatap keluar jendela. Matanya dingin tanpa ekspresi dengan tatapan yang kosong.

Belakangan kuketahui dari nenek bahwa dulu ibuku yatim piatu, setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kebakaran rumah yang menghambiskan seluruh rumahnya beserta kedua orang tuanya. Sedangkan yang selamat dari peristiwa tersebut hanya ibuku. Warga sekitar menemukannya pingsan di dalam bak mandi. Lalu karena tidak memiliki keluarga lagi, ibu dititipkan disebuah panti asuhan. Jadi kusimpulkan bahwa anak kecil berkepang dua memegang foto setengah terbakar tersebut adalah ibuku.

Banyak yang ibu perlihatkan dengan tangannya yang dingin saat menutup kedua mataku. Namun itu semua berlangsung saat aku masih kanak-kanak. Dan saat aku sudah menginjak remaja ibu tidak pernah lagi menemuiku. Terakhir adalah saat kulihat ibu hanya duduk di ruang kerja ayah, rambutnya yang kusut dihiasi tanah liat menjuntai sampai lantai. Ibu tersenyum melihatku. Terkadang aku sangat ingin dipeluk ibu meski keadaan ibu seperti itu. Lalu sekarang setelah bertahun-tahun ibu menemui kembali. Apa yang membuat ibu menemuiku lagi?

Sosoknya menghilang berbarengan dengan suara bel dan pintu yang dibukakan oleh pembantuku. Mungkin itu suamiku yang pulang. Dan benar saja, dengan wajah yang kuyu dan penuh guratan lelah, Mas Nugroho langsung mengehempaskan badannya di sebelahku. Aku memeluknya dari samping lalu kutawarkan untuk memijitnya, tapi dia menolaknya sambil mencium keningku. Sepertinya dia memang sangat kelelahan, aku hanya tersenyum. Dia memiringkan badannya memunggungiku, lalu beberapa menit kemudian kudengar dengkuran halus. Dia pasti sangat kelelahan sehabis kerja.

Paginya kumasakan makanan kesukaan Mas Nugroho. Meskipun kami memang menyewa jasa pembantu tapi untuk urusan dapur semua aku sendiri yang mengurusi. Aku ingin menyenangkan hati suamiku, aku yang selalu memasak untuknya. Selama ini Mas Nugroho memang sangat baik sebagai suami, dia adalah adalah suami yang sempurna bahkan selama 5 tahun lebih pernikahan kami masih selalu mesra. Karena itu aku ingin dia merasa beruntung telah menikahiku serta selalu merindukanku dan masakanku. Aku selalu ingin menyenangkan hatinya dengan itu. Tapi untuk hari ini kulihat Mas Nugroho makan seperti tidak selera. Aku khawatir dia sakit, tapi setelah kutanyakan dia hanya menjawab bahwa dia sedang pusing dengan masalah pekerjaan.

Hari ini adalah hari minggu, tapi Mas Nugroho berpamitan untuk pergi untuk urusan kantor. Kulihat wajahnya memang seperti sedang memusingkan sesuatu. Dia pergi juga dengan terburu-buru. Mungkin memang masalah pekerjaannya sangat berat. Aku jadi kasihan melihatnya seperti itu.

Aku merapikan meja makan dari piring-piring kotor yang berada di atasnya, tapi melihat sisa ayam goreng aku merasa sangat mual. Hingga akhirnya kumuntahkan seluruh sarapanku. Beberapa hari terakhir ini memang aku sering sekali mual dan setelah kupikir memang aku sudah telat mestruasi selama satu bulan. Aku harus ke rumah sakit untuk mengeceknya.

Pulang dari rumah sakit keadaan sudah cukup sore dan hampir magrib, tapi aku merasa sangat bahagia. Surat keterangan yang kuterima setelah cek di dokter sangat menggembirakan untukku. Karena setelah 5 tahun lebih usia pernikahanku dengan Mas Nugroho, akhirnya kami akan memiliki anak. Selama ini meskipun aku tidak kunjung hamil tapi Mas Nugroho tidak pernah mempermasalahkan itu, dia tetap mencintaiku. Rumah tangga kami tetap utuh dan tidak pernah ada masalah yang berarti. Aku sangat beruntung mempunyai suami seperti dia yang mampu menerima aku apa adanya.


Dia pasti akan sangat senang mendengar kabar gembira ini, ku kirim pesan untuk menanyakan kapan dia pulang sambil kumasakkan nasi goreng untuknya. Setelah mendapat balasan bahwa dia sebentar lagi sampai rumah, kusiapkan nasi goreng yang sudah matang diatas meja makan sambil menungguinya. Tanpa kusadari sosok berbaju putih dengan rambutnya yang panjang telah berdiri di sampingku. Kakinya yang tidak menapak lantai rumahku, mengambang dan melayang semakin mendekatiku. Aku tersenyum menatapnya, inikah alasan kenapa ibu kembali menemuiku, karena aku juga sebentar lagi akan menjadi ibu.

Tangan ibu yang dingin menyentuh mataku. Menutupnya hingga gelap sesaat lalu setelah itu kulihat seorang laki-laki tergopoh-gopoh masuk ke dalam sebuah rumah. Ada seorang wanita cantik menyambutnya lalu menggandeng tangannya menuju sebuah kamar berwarna merah jambu, disitu seorang anak kecil mungkin berusia dua tahun sedang tertidur. Laki-laki itu menyentuh kening anak itu, lalu tersenyum. Sang wanita juga tersenyum lalu bergelayut mesra pada si laki-laki. Mereka keluar kamar merah jambu tersebut dan masuk ke kamar yang lain sambil berciuman.

Aku terengah-engah membuka mata. Air mata tanpa kusadari menetes membasahi pipiku. Dengan sangat jelas aku melihat adegan itu, laki-laki itu adalah suamiku dan wanita itu adalah adik tiriku. Aku hanya mematung ditempat dudukku dengan perasaan hancur. Suamiku dengan adik tiriku sudah berselingkuh bahkan memiliki anak berusia 2 tahun. Selama itu mereka berhubungan tapi aku sama sekali tidak tau, wanita macam apa aku? Aku harus bagaimana? Terlebih aku sedang mengandung, apa aku harus menceraikannya? Lalu bagaimana dengan nasib anakku? Tidak, mungkin saja yang diperlihatkan ibuku tadi salah atau itu hanya halusinasiku. Tapi selama ini ibu selalu menunjukanku tentang kenyataan dan itu pasti benar terjadi. Lalu apa yang harus aku lakukan? Pikiranku tiba-tiba tumpul, hatiku sudah hancur.

Bel berbunyi, pembantuku yang membukakan pintu, suamiku pulang. Dia menghampiriku dengan tersenyum padahal tadi pagi dia meninggalkanku dengan muka yang begitu sedih. Tapi sekarang dia bahagia. Air mata sudah kuhapus dari pipiku. Dia mencium keningku. Aku tersenyum untuknya. Yang terpenting kamu bahagia.